Black Arc Saga

Black Arc Saga
Penyelidikan dan kejadian tak terduga


__ADS_3

Sementara itu, Leo dan regunya memutuskan untuk fokus menyelidiki bangunan kuno yang sebelumnya diduga sebagai tempat tinggal bangsa kuno tersebut. Walau sebagian besar bangunan kuno itu hancur dan tidak utuh, setidaknya mereka bisa melihat jejak-jejak sejarah darinya. Arsitektur bangunannya yang mirip dengan kota di permukaan adalah contohnya, struktur bangunannya yang menggunakan batu utuh yang diukir menjadikannya unik sekaligus mengandung kesan misterius.


 


“Meski dibilang kota, wilayah ini lebih pantas disebut sebagai pemukiman kelompok tertentu...” Ujar Wein mengamati sekitar.


 


“Apa memangnya leluhur kita punya tempat semacam ini...? Aku baru pertama kali melihat ini, kapten...” Balas Willem dengan wajah heran.


 


“Yah, kota kita memang sejak dulu terkesan misterius. Tapi, aku tidak menduga kalau akan ada sesuatu seperti ini...” Balas Wein menggaruk pipinya heran.


 


Selain jejak sejarahnya, kota Hilbern memang masih menyimpan banyak hal yang menarik perhatian. Pemukiman di bawah tanah ini juga mungkin menjadi salah satunya. Belum ada yang tahu mengapa pemukiman ini dibangun dan untuk tujuan apa membangunnya. Hal itulah yang hendak mereka selidiki guna mengungkap rahasia yang selama ini ada dalam benak mereka.


 


“Baiklah, kita berpencar dari sini. Kita coba telusuri setiap bangunan yang ada. Siapa tahu kita mendapat sesuatu dari reruntuhan tua ini...” Ujar Wein memberi perintah kepada regunya.


 


Mendengar perintah tersebut, masing-masing anggota mulai menyebar menelusuri bangunan dan tempat yang ada untuk mencari sesuatu yang menjelaskan kota tersebut. Dan pada saat yang sama pula, hal yang sama ikut dilakukan oleh regu kedua yang dipimpin oleh Gideon. Ia memutuskan untuk menyisir wilayah penyelidikannya guna menemukan petunjuk mengenai asal usul tempat tersebut dan semua Golem yang menyerang mereka sebelumnya.


 


“Kita bagi kelompok berjumlah 4 orang dan mulai menyelidiki reruntuhan ini. Ingat, jika kalian menemukan sesuatu yang mencurigakan, cepat hubungi kelompok yang lain, mengerti?” Seru Gideon memberikan perintah.


 


Mereka pun mulai membentuk kelompok sesuai dengan arahan Gideon. Dengan beranggotakan 4 orang, mereka mulai menelusuri reruntuhan kuno tersebut. Lia bersama dengan kelompok petualang yang sebelumnya ia selamatkan memutuskan untuk menelusuri bangunan menara yang ada di pusat kota sementara kelompok lainnya menyusuri area di sekitarnya.


 


Di dalam menara, Lia dan kelompoknya mengamati ruangan demi ruangan selagi menjelajahinya. Mereka juga menemukan beberapa buku dan catatan kuno mengenai tempat tersebut, namun mereka mendapatkan kesulitan ketika hendak membacanya.


 


“Ugh... Aku tidak mengerti... Aku sama sekali tidak mengerti apa arti tulisan-tulisan ini...” Ujar salah seorang penyihir dalam kelompok mereka.


 


“Bahkan untuk penyihir sepertimu saja tidak bisa membacanya apalagi kami... Memangnya seperti apa? Biar kulihat bukunya.” Balas temannya penasaran dengan buku yang dia baca.


 


Gadis penyihir itu pun memberikan bukunya kepada rekannya sebelum akhirnya ia mencoba membacanya. Namun, sama sepertinya, ia sama sekali tidak mengerti tulisan yang tertulis di dalamnya.


 


“Uh... Huruf apa ini...? Aku sama sekali tidak pernah melihatnya...” Ujar temannya kebingungan membacanya.


 


“Sudah kubilang... Aku saja tidak mengenali bahasanya apalagi kau.” Balas gadis penyihir menghela nafas angkuh padanya.


 


“Ya. Ya. Ya. Aku hanya ingin tahu seperti apa tulisannya...” Balasnya memalingkan wajahnya kesal.


 


Lia yang ada di dekat mereka ikut menemukan beberapa buku yang menarik perhatiannya. Ia mengambil salah satunya membersihkannya dari debu sebelum akhirnya membukanya.


 


“(... Seperti yang kuduga, aku tidak bisa membacanya. Tapi, ini mungkin akan menjadi petunjuk mengenai apa yang sebenarnya mereka lakukan...)” Ujar Lia dalam hatinya sambil membaca lembaran tersebut.


 


Saat membuka lembaran berikutnya, perhatian Lia tertuju pada sebuah gambar yang tertulis pada sudut bawah lembaran tersebut. Itu tampak seperti gambar lingkaran sihir, namun jauh lebih sederhana dan asing.


 


“(Simbol ini... Alkimia...? Ini lingkaran transmutasi alkimia...?)” Ujar Lia dalam hatinya heran.


 


Merasa menemukan sesuatu yang menarik baginya, ia pun melanjutkan membalik halaman berikutnya. Di setiap halaman, terdapat lingkaran transmutasi yang  berbeda-beda dan juga beberapa mantra yang tidak ia mengerti. Dari apa yang ditemukannya, akhirnya Lia menarik kesimpulan.


 


“(Begitu ya... Tempat ini adalah fasilitas penelitian milik ilmuan alkimia kuno. Dan semua buku ini adalah bukti penelitian mereka. Kemungkinan besar, mereka tengah mengerjakan sesuatu yang tidak aku mengerti...)” Ujar Lia dalam hatinya setelah selesai mengumpulkan petunjuk.


 


Ia meletakkan kembali buku tersebut pada tempatnya semula sebelum kembali merenungkan kesimpulannya. Untuk beberapa alasan, kota ini sengaja dibangun sebagai tempat tinggal sementara para ilmuan karena mereka tidak bisa meninggalkan tempat ini untuk alasan khusus. Dan yang membuat Lia merasa curiga adalah apa yang mereka kerjakan sampai harus merahasiakannya dari dunia luar. Ada sesuatu yang berniat mereka sembunyikan di kota ini.


 


“(Jika memang demikian, maka kerajaan pasti tidak akan tinggal diam setelah mendengar tempat ini, khususnya dia...)” Sambung Lia dalam hatinya serius.


 


Karena walikota telah melaporkan masalah ini kepada kerajaan, cepat atau lambat mereka akan segera menemukan tempat ini. Lia sudah bisa membayangkan apa yang terjadi selanjutnya. Ini akan menjadi masalah besar nantinya.


 


“Alicia-san, apa kau menemukan sesuatu di sana? Kami berniat menyelidiki ruangan lain...” Ujar petualang itu sebelum beranjak pergi.


 


“Ah. Mm. Aku akan ikut bersama kalian.” Balas Lia mengangguk setelah menenangkan pikirannya.


 


“Kalau begitu, mari kita pergi...” Balas gadis penyihir itu melambaikan tangannya.


 


“Mm.”


 


Sementara itu, regu Leo yang menyelidiki bagian luar kota secara tidak sengaja menemukan jejak Golem dan bekas pertarungan bersamanya. Beberapa kepingan kristal juga tampak berserakan disertai luka sayatan di tanah di sekitarnya.


 


“Kapten Wein, tolong lihat ini...” Seru salah seorang prajurit yang menemukannya memanggil Wein.


 


“Hm? Ada apa? Apa yang kau temukan?” Balas Wein bergegas menghampirinya.


 


“Ini... Aku menemukan petunjuk...” Jawabnya sambil menunjukkan apa yang ia temukan.


 


Wein mengamati potongan kristal dan beberapa luka sayatan di tanah itu sebelum prajurit itu kembali menjelaskan situasi yang berhasil ia pahami.


 


“Kemungkinan besar ini milik kelompoknya... Mereka pasti bertemu sekelompok Golem saat menjelajahi tempat ini sebelumnya.” Sambung prajurit tersebut mengutarakan kesimpulannya.


 


“Hm. Ya, aku juga berpikir demikian. Tapi yang menjadi pertanyaan adalah di mana mereka sekarang.” Balas Wein memegang dagunya berpikir.


 


“Mungkin jika kita mengikuti jejak yang mereka tinggalkan, kita akan menemukan mereka.” Balas prajurit tersebut melihat jauh ke depan mereka.


 


Wein memikirkan ulang keputusannya sebelum akhirnya memutuskan untuk melacak keberadaan kelompok yang ada sebelum mereka sampai. Meski jejak mereka masih samar, setidaknya masih ada cara untuk menemukan mereka.


 


“Baiklah, sampaikan ini kepada Willem, aku menunjuknya sebagai penanggung jawab sementara di sini. Dan panggilkan aku beberapa prajurit dan petualang bernama Leonard itu untuk bertemu denganku di sini.” Ujar Wein dengan nada tegas memberinya perintah.


 


“Dimengerti, kapten.” Balas prajurit tersebut tegas.

__ADS_1


 


Ia pun lantas melaksanakan tugas yang diberikan untuknya dengan memanggil Willem beserta beberapa prajurit yang ada dan Leo untuk menghadapnya. Mereka semua datang selang beberapa saat kemudian sebelum akhirnya Wein menjelaskan rencananya.


 


“Kalian sudah datang... Willem, aku rasa kau sudah mengerti pesanku, bukan?” Ujar Wein melihat ke arah Willem.


 


“Ya, aku akan menggantikanmu sementara di sini. Tetapi, jika aku boleh bertanya, apa yang kau rencanakan kapten?” Balas Willem bertanya kepadanya.


 


“Aku akan mencari kelompok Gald. Untuk itulah aku menunjukmu sebagai penanggung jawab sementara. Sampai aku kembali, pantaulah keadaan sekitar. Jika terjadi sesuatu, segeralah kirimkan pesan kepadaku.” Jawab Wein dengan nada yakin dan serius.


 


“Aku mengerti, kapten!” Balas Willem dengan nada tegas.


 


“Dan untuk rencana pencarian kelompok itu, aku mengharap bantuannya, khususnya kau, Leonard-kun. Sebagai satu-satunya petualang yang berpengalaman, aku harap kau mau meminjamkan pengetahuan dan kemampuanmu dalam usaha melacak party yang menghilang itu.” Ujar Wein melihat ke arah Leo dengan senyum percaya diri.


 


“T-Tentu saja, tuan Wein.” Balas Leo dengan nada gugup.


 


Meski dalam hatinya terdapat keraguan, setidaknya Leo akan berusaha semampunya untuk membantu menemukan kelompok yang hilang tersebut. Ia tidak tahu seperti apa mereka, namun kelihatannya mereka adalah petualang yang cukup berpengalaman hingga berani menjelajah tempat ini mendahului regu utama.


 


“(Begitu ya... Jadi mereka yang dimaksud oleh tuan Wein di awal. Semoga saja kami dapat menemukan mereka sebelum sesuatu yang buruk menimpa mereka...)” Ujar Leo dalam hatinya cemas.


 


Setelah itu, Leo bersama dengan kelompok yang dibentuk oleh Wein pergi mencari jejak mengenai kelompok yang dipimpin oleh seseorang bernama Gald itu. Dengan mengandalkan petunjuk berupa sisa-sisa bagian tubuh Golem yang tersebar, mereka mengikuti jalan yang sebelumnya ia tinggalkan.


 


Kembali pada Lia yang menelusuri bangunan menara di pusat kota, ia dan kelompoknya menemukan beberapa ruangan yang terlihat penting. Ruangan tersebut mencakup perpustakaan, ruang kerja, dan tangga yang menghubungkan ruang bawah tanah dengan menara. Awalnya mereka memutuskan untuk menyelidiki ruang kerja untuk mencari petunjuk mengenai apa yang sebenarnya para ilmuan itu kerjakan. Namun, sayangnya setelah menggeledah seisi ruangan, mereka sama sekali tidak menemukan petunjuk yang berarti.


 


“Sepertinya tidak ada hal lain yang tersisa di tempat ini...” Ujar petualang itu setelah selesai menggeledah ruangan tersebut.


 


“Sebaiknya kita menuju ke tempat berikutnya saja.” Balas gadis penyihir menurunkan bahunya kecewa.


 


“.... Mm.” Balas Lia mengangguk.


 


Mereka pun melanjutkan penyelidikan mereka menuju perpustakaan. Tidak seperti ruangan lainnya, perpustakaan tersebut masih dalam keadaan yang sangat baik. Semua benda yang ada di dalamnya terjaga dengan baik seperti seolah ada yang merawatnya.


 


“Perpustakaan...! Terlebih lagi, semua bukunya masih dalam keadaan utuh...!” Ujar gadis penyihir antusias begitu memasukinya.


 


“O-Oi. Jangan sembarangan masuk begitu! Kita tidak tahu apa yang ada di dalam sini...!” Balas kapten mereka mencoba menghentikannya.


 


“Sudahlah, kapten. Biarkan dia bersenang-senang sedikit. Lagi pula jarang sekali kita bisa melihatnya bersemangat seperti itu, bukan?” Balas pemanah itu menenangkannya.


 


“... Baiklah. Kita biarkan dia sejenak. Tapi, tetap saja aku merasa aneh mengenai tempat ini. Bagaimana bisa ruangan ini tetap dalam keadaan utuh dan rapi sementara ruangan lain dibiarkan berdebu dimakan usia...” Ujar sang kapten menghela nafas panjang sebelum menggerutu.


 


“Uh... Benar juga... Kenapa hanya ruangan ini saja yang tidak termakan usia...” Balasnya ikut kebingungan.


 


 


Perasaan yang sama ikut dirasakan oleh Lia ketika ia menginjakkan kakinya ke perpustakaan ini. Ia merasa ada yang janggal di tempat tersebut, hanya saja ia belum bisa memastikan apa yang sebenarnya mengganggunya.


 


“(Kenapa perasaanku jadi aneh setelah menginjakkan kaki di sini...? Sepertinya memang ada yang salah di tempat ini...)” Ujar Lia dalam hatinya curiga.


 


Gadis penyihir itu mengambil beberapa buku yang ada sebelum membacanya dengan riang. Tanpa sedikit pun merasa curiga, ia berlanjut mengambil buku lain sebelum membacanya lagi.


 


“Whoaa...! Kapten, lihat apa yang aku temukan...! Ini buku tentang sihir tingkat menengah...! Dan juga, buku teori sihir...!” Ujarnya menunjukkan buku-buku tersebut dengan antusias.


 


“Oi. Jangan sembarangan mengambil buku itu!” Balas sang kapten menghampirinya dengan wajah kesal.


 


“Tunggu, masih ada lagi...! Lihatlah semua buku dan Grimoire ini...!” Ujar gadis penyihir itu menunjuk ke rak yang ada di dekatnya.


 


“Tunggu, dia bisa membacanya?” Sambung pemanah itu terkejut menyadari apa yang dikatakannya.


 


Segera setelah sang kapten menghampirinya, ia lantas merebut semua buku itu darinya sebelum ia memarahinya.


 


“Kapten, apa yang kau lakukan...! Kembalikan itu...! Aku belum selesai membacanya...!” Ujar gadis penyihir itu merengek meminta bukunya kembali.


 


“Diamlah! Jangan mengambil benda sembarangan di tempat seperti ini...!” Balasnya marah.


 


“Eh...? Kenapa tidak...?” Ujar gadis penyihir itu mengeluh sambil meraih kakinya.


 


“.....”


 


“Entah kenapa aku jadi malu sendiri melihat kelakuan party-ku sendiri...” Gumam pemanah itu memalingkan pandangannya mencoba tidak ikut terlibat.


 


“....”


 


“Maaf karena membuatmu melihat hal ini, Alicia-san. Tolong maklumi tingkah mereka...” Bisik pemanah itu kepada Lia dengan wajah kecewa.


 


“....”


 


Sementara itu, kelompok Leo akhirnya menemukan jalur yang sebelumnya dilalui oleh party Gald. Mereka mengikutinya keluar dari kota menuju ke sebuah gua yang berada di bawah pilar kristal di sebelah ujung tempat tersebut. Itu adalah sebuah gua yang cukup lebar untuk dimasuki beberapa orang sekaligus, serta letaknya yang tersembunyi membuatnya sulit ditemukan.


 


“Di sana... Kemungkinan besar Gald dan teman-temannya ada di dalam gua itu...” Ujar Wein dengan tatapan tajam menunjuk pada gua tersebut.


 


“Sepertinya demikian...” Balas salah seorang prajurit yang menjadi pemandu.

__ADS_1


 


“Jangan membuang banyak waktu, ayo kita segera ke sana.” Sambung Wein dengan nada tegas.


 


Namun, tepat sebelum mereka menginjakkan kaki ke dalam gua tersebut, suara lengkingan logam terdengar dari dalam gua mengejutkan mereka dengan gemanya yang berdengung. Wein seketika memasang wajah panik begitu menyadari apa yang terjadi di dalam sana sebelum memerintahkan kelompoknya untuk bergegas menyusulnya.


 


“Cepat...! Firasatku mengatakan ini adalah berita buruk...!” Ujar Wein dengan nada lantang berlari memimpin mereka.


 


Sepertinya apa yang dikhawatirkannya benar-benar terjadi. Mereka tengah berhadapan dengan monster sama seperti yang ia pikirkan sebelumnya. Ia hanya bisa berharap mereka tidak tengah dalam situasi yang terdesak sebelum ia sampai di sana.


 


Semakin masuk ke dalam gua, suara pertarungan itu kian terdengar nyaring. Mereka pun mempercepat langkah kaki mereka sebelum akhirnya mereka dikejutkan dengan kemunculan kelompok Golem yang menghalangi jalan mereka.


 


“A-“


 


Wein seketika itu pula menghentikan langkahnya ketika kawanan Golem itu berpaling ke arahnya begitu menyadari kedatangannya dan kelompoknya.


 


“A-Apa-apaan ini...!” Gumam Wein panik.


 


“Dari mana datangnya mereka semua...!” Ujar salah seorang prajurit terkejut dengan kemunculan mereka.


 


“Kapten, apa yang harus kita lakukan...?” Tanya prajurit lain sambil menarik pedangnya.


 


“Tidak, tunggu dulu! Jangan gegabah! Kita kalah jumlah!” Jawab Wein dengan nada tinggi.


 


“Lalu apa yang harus kita lakukan?” Tanya prajurit lain dengan wajah panik.


 


Keraguan mulai menyerang pikiran Wein. Ia mulai kehilangan pendiriannya ketika tiba saatnya ia untuk mengambil keputusan. Namun, saat ia terdiam dalam bimbang, Leo melesat maju menghabisi Golem-Golem itu sebelum Wein sempat memberi perintah. Ia menghabisi semua Golem itu dengan cepat sebelum ia berseru padanya.


 


“Tuan Wein, sekarang bukan saatnya untuk bimbang! Aku akan membuka jalan-“ Ujar Leo dengan nada tinggi sebelum terpotong saat ia melihat sesuatu.


 


“Leonard-kun...! Ada apa...! Apa ada masalah...!” Balas Wein terkejut melihatnya terdiam panik.


 


Tanpa menjawab, Leo seketika berlari menuju ke dalam gua ketika Wein kebingungan dengan tindakannya. Ia pun lantas mengikutinya sebelum terkejut melihat apa yang ada di baliknya.


 


“T-Tidak mungkin...! Gald...!” Ujar Wein menghentikan langkahnya terkesima.


 


Saat ia menyaksikannya, terlihat seorang pemuda berambut pirang tertunduk lemah bersama ketiga rekannya yang terkapar tak berdaya di hadapan sesosok monster berwujud Golem dengan zirah berwarna perunggu. Dia adalah Gald, party yang sedang mereka cari selama ini. Namun, yang menjadi pertanyaan adalah apa yang telah terjadi dengan mereka dan siapa sosok Golem yang berhasil memojokkan mereka.


 


“(Ini buruk...! Aku sudah terlambat...!)” Ujar Wein dalam hatinya panik.


 


Di sisi lain, Lia yang tengah berada di perpustakaan, secara bersamaan dikejutkan dengan kehadiran sesosok asing yang mengganggu perasaannya ketika kedua rekannya tengah bertengkar.


 


“....! Ada yang datang!” Ujar Lia spontan menggenggam pedangnya.


 


“E-Eh...?!”


 


Mendengar hal itu, mereka bertiga seketika terkejut dan menjatuhkan buku-buku itu ke atas lantai saat suara langkah kaki yang aneh terdengar mendekati mereka.


 


“B-Bunyi apa itu...?!” Ujar gadis penyihir itu ketakutan sambil memeluk sang kapten.


 


“A-Aku juga tidak tahu...! T-Tapi, kedengarannya seperti... Ujung pisau yang menggores lantai...?” Balas kapten dengan nada gugup berlumuran keringat dingin.


 


“A-Alicia-san...!” Bisik pemanah itu ketakutan menyiapkan anak panahnya.


 


“... Kalian bertiga, bersiaplah bertarung!” Balas Lia dengan wajah serius.


 


Suara itu kian mendekat tiap detiknya. Ketegangan seketika mengguncang hati mereka saat perlahan sosok tersebut mulai menampakkan dirinya dari balik bayang-bayang.


 


“A-“


 


“....!”


 


Sepasang cahaya merah menyala dari balik kegelapan, saat suara menderit logam terdengar bersamaan dengan kemunculannya. Dia adalah makhluk aneh berwujud setengah manusia dan mesin berwarna keemasan dengan kaki yang terbuat dari bilah pedang.


 


“M-M-Monster...? T-Tidak, bukan...! M-M-Makhluk apa itu...!” Ujar gadis penyihir ketakutan melihatnya.


 


“A-Apa-apaan makhluk itu...!” Ujar sang kapten ikut kebingungan menyaksikannya.


 


Makhluk itu melihat ke arah mereka berdua dengan gerakan kaku layaknya boneka sebelum ia mengangkat tangan logamnya ke udara. Secara mengejutkan, tangannya berubah menjadi bilah pedang sebelum akhirnya ia mengayunkannya ke arah mereka berdua tepat ketika Lia yang menyadari niatnya segera menghentikannya.


 


“... Nh!”


 


Suara benturan logam yang keras terdengar tak berselang setelahnya. Lia berhasil menahan serangan makhluk tersebut, namun pada saat yang bersamaan, makhluk itu menggunakan segenap kekuatannya untuk mendorong Lia.


 


“Mnh...!”


 


Alhasil, Lia terdorong mundur ketika perhatian makhluk itu tertuju kepadanya. Ia tidak tahu apa pun mengenai makhluk tersebut, namun ia tahu dia adalah makhluk yang berbahaya. Kemungkinan besar, dia adalah makhluk yang diciptakan oleh para ilmuan kuno untuk menjaga tempat ini.


 


“(Dia cukup kuat... Aku bisa merasakan kekuatannya jauh lebih besar dari makhluk itu...)” Ujar Lia dalam hatinya serius.


 

__ADS_1


Kemunculan makhluk menyerupai manusia mesin itu menambah kecurigaan Lia mengenai tempat ini. Jika semua kejadian itu ditarik kesimpulan, semuanya menjadi masuk akal sekarang. Tidak salah lagi bahwa kecurigaan Lia selama ini benar.


__ADS_2