
Keesokan harinya, utusan Guild kembali mendatangi Leo dan Lia di rumah sakit guna mengusut misteri yang melatarbelakangi insiden di tambang itu. Leo dan Lia sepakat untuk menutupi kejadian yang sebenarnya agar mencegah pihak kerajaan memanfaatkan informasi dari mereka untuk kepentingan beberapa pihak yang Lia curigai ada terlibat dalam upaya pembunuhannya. Mereka mengarang cerita untuk menutupinya dengan beberapa kebohongan untuk membuatnya cukup meyakinkan.
“... Jadi begitu, aku mengerti sekarang. Kalian menemukan fasilitas penelitian rahasia dari kerajaan kuno. Sekarang semua informasi yang kami dapatkan menjadi lengkap.” Ujar staf Guild mempertimbangkan cerita mereka.
“Apa saja yang kalian temukan di sana? Apa yang disembunyikan oleh orang-orang dari kerajaan kuno itu?” Sambung staf Guild kedua bertanya.
“Kemungkinan besar, sihir kuno... Namun, saat kami berusaha menyelidikinya, kami secara tidak sengaja mengaktifkan sihir berbahaya yang ada di sana yang seketika meledakkan seluruh tempat itu beserta peninggalan lainnya...” Jawab Leo berbohong.
“Dan kalian berdua adalah korban yang selamat dari ledakan tersebut... Itu pasti menjadi kenangan yang sangat tragis bagi kalian...” Balas staf Guild pertama dengan wajah prihatin.
“Begitulah...” Balas Leo memalingkan pandangannya dengan ekspresi kecewa.
Setelah merasa semua informasi yang mereka butuhkan terkumpul, mereka berdua pun memutuskan untuk kembali ke Guild.
“Kami turut berduka atas gugurnya rekan-rekan petualang kalian. Mereka telah bertugas dengan sangat baik, kami berjanji akan mengenang jasa-jasa mereka. Terima kasih atas waktu kalian...” Ujar staf pertama berbelasungkawa.
“Semoga lekas sembuh, nona Alicia. Kami pihak Guild dan pemerintah kota akan menanggung seluruh biaya perawatan anda.” Sambung staf kedua melihat kepada Lia.
“... Mm. Terima kasih atas perhatiannya.” Balas Lia mengangguk.
“Kalau begitu, kami pamit. Sampai jumpa...” Balas staf pertama menundukkan kepalanya berpamitan diikuti rekannya.
Mereka berdua lantas meninggalkan ruangan sesaat sebelum Leo menghela nafas lega mengetahui bahwa rencana mereka berjalan dengan baik.
“Akhirnya mereka pergi juga...” Gumam Leo menghela nafas panjang.
“Kerja yang bagus, Leo. Dengan ini rencana kita berjalan dengan mulus...” Balas Lia tersenyum di sisinya.
“Yah, itu akan menjauhkan mereka dari kita...” Balas Leo dengan wajah datar.
“Dengan ini informasi mengenai penelitian mereka tidak akan sampai ke pihak kerajaan. Meski kita belum tahu siapa yang akan datang ke sini, namun selama dia Ksatria Suci kerajaan, kita patut waspada terhadapnya.” Balas Lia dengan wajah serius.
“Menurut informasi, dia akan datang dalam beberapa hari lagi. Bagaimana menurutmu, Lia? Apa yang akan kau lakukan?”
Lia terdiam untuk sejenak memikirkan rencananya selanjutnya. Jika ia tetap berdiam diri di kota menunggu kesembuhannya, maka kemungkinan besar Ksatria Suci itu akan menemukannya. Sebagai perwakilan dari pihak kerajaan, dia pasti akan menyelidiki kasus ini dan hal itu akan mengarahkannya kepada Lia sebagai satu-satunya korban selamat sekaligus saksi mata yang tersisa. Akan menjadi masalah untuknya jika hal itu sampai terjadi.
“Aku tidak yakin... Aku ingin meninggalkan kota ini tanpa meninggalkan jejak sedikit pun. Tapi, aku masih punya beberapa masalah yang harus kutangani di sini...” Ujar Lia dengan wajah ragu.
“Masalah? Apa yang kau maksud?” Balas Leo bertanya dengan perasaan curiga.
“... Mm. Mungkin ini bukan tindakan yang tepat dengan keadaanku saat ini, tapi aku ingin menolong mereka...” Balas Lia dengan ekspresi sedih.
“Mereka...? Maksudmu...”
“Benar. Anak-anak di gereja Gald. Aku ingin menolong mereka.”
“Aku tidak yakin... Tapi, ada alasan kau melakukan itu, bukan?”
“... Mm.”
Lia melihat ke luar jendela sejenak sebelum ia melanjutkan kalimatnya.
“Mereka mengingatkanku ketika aku masih kecil... Melihat raut kebahagiaan mereka lenyap dari wajah mereka membuatku selalu ingat akan apa yang terjadi saat itu... Aku tidak ingin mereka juga merasakan hal yang sama denganku, tidak untuk kesekian kalinya...” Sambung Lia dengan perasaan sedih mengingat kejadian di masa lalunya.
“Lia, kau...” Bisik Leo dengan wajah prihatin.
“Dan juga, aku ingin membalas Gald karena telah mengorbankan dirinya untuk menyelamatkanku dari serangan waktu itu. Sekaligus, aku juga ingin memastikan keadaan di ibu kota...” Balas Lia kembali melihat ke arahnya.
“Tapi... Apa kau yakin melakukannya? Bukankah kau sedang menyembunyikan dirimu dari orang yang berniat membunuhmu? Bahkan kau belum tahu siapa yang mengirim para Ksatria Suci itu untuk membunuhmu...” Balas Leo dengan ekspresi ragu.
“Tidak, aku sudah tahu siapa pelakunya. Aku ingin tahu apakah berita kematian palsuku ini berhasil mengelabuinya dan juga aku ingin tahu apa yang direncanakannya selanjutnya...”
“Alasan yang cukup masuk akal. Lalu, apa hubungannya menolong mereka dengan semua rencanamu?”
“Aku belum mengatakannya kepadamu, keluarga Zille telah melayani keluargaku selama generasi ke generasi. Aku mengenal baik keluarganya dan mereka dapat dipercaya. Aku yakin mereka mau mengasuh anak-anak dari gereja Gald.”
“... Aku mengerti. Jadi, apa yang bisa kubantu?”
“Mungkin sebaiknya kita pergi saat hari menjelang sore... Sampai saat itu, maukah kau menemaniku?”
Dengan senyum sayunya, Lia meminta kepada Leo dengan nada lembutnya. Leo menghela nafas sebelum tersenyum masam menyanggupi permintaannya.
“Memangnya apa yang selama ini aku lakukan? Kau memang nona muda yang merepotkan...” Ujar Leo mengeluh sambil tersenyum.
“Fufu... Ini adalah sisi buruk gadis bangsawan. Aku selama ini menahannya, tapi aku tidak perlu melakukannya jika bersama denganmu.” Balas Lia tertawa anggun menggoda Leo.
“Dan mengenai tujuan kita selanjutnya... Aku tidak yakin aku tahu mau ke mana setelah semua kejadian ini...” Balas Leo sebelum termenung memikirkan masalahnya.
“Mengenai hal itu... Maukah kau mendengarkan satu permintaanku lagi...?” Balas Lia bertanya dengan wajah serius.
__ADS_1
Hari berlalu dan akhirnya matahari mulai menunjukkan waktu sore. Ini adalah saatnya Leo dan Lia menjalankan rencana mereka. Secara diam-diam mereka berdua pergi dari rumah sakit melalui jendela guna menghindari meninggalkan jejak. Sambil menggendongnya, Leo membawa Lia di punggungnya sambil menyelinap meninggalkan rumah sakit. Dengan tubuh Leo yang sepenuhnya pulih, membawa Lia sambil bergerak bukan masalah besar baginya.
Pada akhirnya, mereka berhasil meninggalkan rumah sakit tanpa diketahui sebelum akhirnya mereka berdua secara diam-diam pergi menuju gereja di sebelah tenggara kota tempat anak-anak yatim itu berada.
“Kita sudah sampai. Sebaiknya kita bergerak cepat sebelum ada yang menyadari kita.” Bisik Leo kepada Lia.
“... Aku mengerti.” Balas Lia berbisik singkat.
Mereka pun masuk ke dalam gereja sambil memastikan bahwa tidak ada yang mengikuti atau menyadari keberadaan mereka.
Sesampainya di dalam aula, mereka dikejutkan dengan kehadiran anak-anak itu yang tengah dalam keadaan menyedihkan. Mereka terlihat tengah duduk berkumpul di sebuah bangku jamaah dengan keadaan kelaparan dan kelelahan. Entah apa yang terjadi pada mereka, namun sepertinya mereka masih sedih atas kabar duka yang menimpa mereka.
“....? K-Kakak... Kakak Alicia...? Dan kakak Leonard...?” Gumam Lilia menyadari kedatangan mereka berdua.
“Eh...?! Maksudmu... Kelompok kakak Gald yang itu...!” Balas anak lain dengan ekspresi terkejut.
Mereka berdua lantas menunjukkan diri di hadapan mereka semua sebelum akhirnya mereka bergegas menghampirinya.
“Itu benar mereka! Mereka berdua benar-benar selamat seperti yang kudengar!” Ujar salah seorang anak dengan raut wajah gembira.
“Kakak Alicia...! Kakak Leonard...!” Sambung yang lain dengan ekspresi sedih.
“Kalian semua... Apa yang kalian lakukan di sini....?” Balas Lia dengan wajah cemas.
Mereka semua terdiam untuk sejenak melihat satu sama lain ketika mendengar pertanyaan Lia sebelum akhirnya Lilia mengajukan diri untuk bicara kepada mereka.
“S-Sebenarnya... Sebenarnya kami sedang menunggu kepulangan kakak Gald dan lainnya... Kami belum menerima kabar dari mereka sejak kemarin...” Jawab Lilia dengan wajah sedih.
“....”
“K-Kami juga mencoba mencari kabar tentang mereka dari petualang dan penjaga kota... Tapi, mereka semua menolak memberitahu mengenai mereka atau kejadian yang terjadi kemarin... Mereka bilang hal itu bukan masalah yang harus diketahui oleh anak-anak...” Sambung Lilia menceritakan kejadian yang mereka alami.
“Dan juga... Ketika kami berniat mengunjungi rumah sakit, perawat di sana melarang kami karena tidak didampingi oleh orang dewasa...” Sambung anak lain menambahkan.
“Kami tidak tahu harus berbuat apa lagi... Jadi kami menunggu di sini saja sampai mereka kembali...” Ujar Louise ikut menjelaskan situasi mereka.
Keadaan mereka memang memprihatinkan. Dalam penantian penuh harapan, mereka tidak mengetahui bahwa selama ini mereka menunggu Gald dan kakak-kakak mereka yang telah tiada. Ini memilukan sekaligus menyedihkan mengingat apa saja yang telah mereka alami beberapa hari ini. Hanya Gald dan ketiga temannya yang bisa menjadi tempat anak-anak itu bersandar. Tanpa kehadiran mereka, anak-anak ini tidak berbeda dengan anak terlantar di jalanan.
Leo dan Lia saling menatap untuk beberapa saat ketika Leo berbisik kepadanya untuk memberitahu mereka tentang kejadian yang sebenarnya.
“Lia... Jika kau tidak mampu menyampaikannya, biar aku saja...” Bisik Leo kepada Lia.
“Baiklah, jika itu kemauanmu.” Balas Leo berjalan mundur memberinya kesempatan.
Meski Lia ragu mereka bisa menerimanya, namun hal ini harus dilakukan. Ini mungkin akan menjadi perlakuan yang kejam, tetapi Lia siap menerima konsekuensinya.
“Mengenai Gald dan kakak kalian yang lain... Mereka semua sudah tiada... Mereka semua tidak selamat ketika peristiwa itu terjadi... Hanya kami berdua saja yang selamat seperti yang bisa kalian lihat saat ini...” Ujar Lia dengan berat hati.
Mereka seketika terdiam mendengar ucapan Lia. Ia sadar betul reaksi mereka dan semua itu dapat dipahami mengingat bagaimana hubungan mereka selama ini. Memang sulit untuk menerimanya, ditambah dengan usia mereka yang masih muda membuat Lia paham betul perasaan mereka.
“J-Jadi berita itu ternyata benar... Jadi kakak semuanya telah...” Balas Louise meneteskan air mata.
“... Maafkan kakak, tapi sayangnya itu benar. Mereka sudah tiada...” Balas Lia dengan ekspresi sedih.
Namun, reaksi mereka justru di luar dugaan. Mereka hanya menangis biasa seperti sudah merelakan kepergian kakak-kakak mereka. Ini cukup mengejutkan, Lia awalnya mengira mereka akan menangis kencang dan meratapi kepergian Gald dan kakak lainnya. Sepertinya keadaan memaksa mereka untuk dewasa melampaui usia mereka sendiri.
“Mhm... Itu bukan salah kakak Alicia dan kakak Leonard. Semua ini memang sudah takdirnya. Kami sudah sepenuhnya merelakan kepergian mereka semua...” Ujar Lilia menggelengkan kepalanya sambil menyeka air matanya.
“Kakak-kakak kami mengajarkan bahwa kematian bukanlah hal yang harus ditakuti dan diratapi, begitulah hidup. Itulah yang mereka semua katakan ketika ibu tiada...” Sambung anak lain dengan ekspresi rela.
“Benar, selama kita tidak melupakan mereka, mereka semua akan selalu hidup bersama di dalam hati kita. Itulah yang Gald-nii katakan.” Ujar Louise dengan senyum pahit di wajahnya.
Mereka lebih tangguh dari yang Leo dan Lia kira sebelumnya. Terkadang pengalaman hidup memberikan pelajaran bahkan kepada anak-anak untuk bersikap tabah menghadapi kematian orang-orang yang mereka sayangi. Meski tidak mengatakannya secara langsung, namun Leo yang memperhatikan mereka secara diam-diam mengakui bahwa Gald telah membesarkan mereka semua dengan sangat baik.
“(Kau memang sosok kakak yang luar biasa, Gald temanku... Meski kita baru saja mengenal satu sama lain, tapi aku mengakuimu bahwa kau telah mendidik adik-adikmu dengan baik...)” Ujar Leo dalam hatinya mengingatnya.
Lia yang terkesan dengan ketabahan dan kelapangan hati mereka lantas memberikan mereka sebuah surat. Dengan wajah kebingungan, mereka pun bertanya-tanya apa maksud Lia memberikan surat itu kepada mereka.
“Ambilah ini. Ini untuk kalian.” Ujar Lia menunjukkan secarik surat kepada mereka.
“Ini...? Apa ini, kakak Alicia...?” Balas Lilia bertanya kepadanya.
“Apa isi kertas itu...?” Sambung Louise penasaran dan bertanya.
“Anggap saja ini sebagai balas budi kepada kakak kalian. Gald, kakak kalian pernah menyelamatkanku ketika dalam bahaya...” Jawab Lia dengan senyum pahit di wajahnya.
“Kakak Gald pernah menyelamatkan kakak...?” Balas anak lain dengan wajah antusias.
“Ya. Dia benar-benar petualang yang hebat. Dia menjadi perisai bagi rekan-rekannya dan tanpa kenal takut maju melawan para monster. Hingga di akhir hayatnya, dia tetap melindungi teman-temannya...” Balas Lia dengan senyum lembut di wajahnya.
__ADS_1
“L-Lalu bagaimana dengan kakak Shima...?” Balas Lilia dengan ekspresi antusias.
“Dan... Dan kakak Rea dan Zen...! Bagaimana dengan mereka berdua...? Apa mereka juga menjadi petualang yang hebat...?” Sambung yang lain ikut bertanya.
“Benar, mereka semua adalah petualang yang baik dan juga party yang hebat. Kami berdua beruntung bisa bertarung bersama mereka...” Jawab Lia dengan senyum manis di bibirnya.
Mereka semua takjub dan bangga mendengarkan cerita Lia mengenai Gald dan ketiga kakak mereka yang lain. Sepertinya, kisah mereka berempat adalah obat yang dibutuh oleh anak-anak itu untuk mengobati kesedihan mereka. Lia merasa lega, meski mereka tidak akan bersama lagi, setidaknya mereka akan baik-baik saja selama keyakinan itu ada di dalam hati mereka.
“Kalau begitu, kalian ambilah ini dan dengarkan kakak baik-baik...” Sambung Lia mengeluarkan sekantung uang dari sakunya.
“Ini...? Ini uang...?!” Balas Louise yang menerimanya terkejut.
“B-Banyak sekali...! Ini hampir semuanya koin emas...!” Sambung yang lain ikut tercengang.
“Ya, anggap saja ini hadiah perpisahan dari kami. Gunakanlah uang itu untuk membeli keperluan kalian dan sisanya untuk menyewa kereta kuda...” Balas Lia sambil menjelaskan.
“Menyewa kereta...? Kenapa menyewa kereta kuda...?” Balas Lilia bertanya dengan wajah bingung.
“Apa kita akan pergi dari sini...?” Sambung Louise dengan wajah sedih.
“Aku khawatir iya. Di sini sudah tidak ada lagi yang akan mengurus kalian. Meski berat, namun kalian harus meninggalkan kota ini...” Balas Lia dengan wajah sedih.
“L-Lalu... Ke mana kami harus pergi...?” Balas anak lain bertanya.
“Ingat surat yang kuberikan? Bawalah surat itu menuju kota Linderfell, di sana kalian carilah kediaman keluarga yang bernama Willtern. Sebisa mungkin berikanlah surat itu langsung kepada kepala keluarga Willtern itu sendiri, kalian mengerti?” Balas Lia menjelaskan lebih rinci tujuan mereka.
“Keluarga Willtern...?” Ujar anak lain dengan wajah ragu.
“Kenapa kami harus ke sana? Dan siapa mereka?” Tanya Lilia dengan ekspresi cemas.
“Jangan takut, mereka adalah orang baik. Bisa dibilang mereka punya beberapa hubungan dengan kakak. Kalian akan baik-baik saja di sana asalkan kalian memberikan surat itu kepada mereka...” Balas Lia membelainya.
Meski terlihat ragu dan khawatir, mereka memutuskan untuk percaya kepada Lia karena mereka tidak punya pilihan lain lagi. Ini mungkin akan menjadi perjalanan yang jauh bagi mereka, namun selama mereka bersama, Lia yakin mereka akan baik-baik saja.
“Kalian mengerti...?” Tanya Lia dengan nada lembut.
“Mm... Kami mengerti. Terima kasih banyak, kakak Alicia.” Balas Louise dengan senyum senang.
“Lalu, apa yang akan kakak berdua lakukan selanjutnya?” Sambung anak lain bertanya.
“Sama seperti kalian, kami berdua akan melakukan perjalanan... Perjalanan yang sangat panjang...” Balas Lia membelainya.
“J-Jadi, kita akan berpisah...? Ke mana kalian berdua akan pergi...? Lalu bagaimana dengan kami?” Balas Louise bertanya dengan wajah sedih.
“Sshhh... Semuanya akan baik-baik saja. Selama kalian menjaga satu sama lain. Jaga diri kalian baik-baik dalam perjalanan.” Balas Lia membelainya untuk menenangkannya.
Anak-anak itu memeluk Lia sebagai salam perpisahan sebelum akhirnya Lia berpamitan pada mereka.
“Kalau begitu, kami berdua pergi dulu. Sampai jumpa lagi...” Ujar Lia melambaikan tangannya anggun.
“Kakak Alicia, kakak Leonard, apa kita bisa bertemu lagi...?” Balas Lilia dengan wajah sedih.
“Tentu saja. Jaga diri kalian sampai kita bertemu lagi... Ah, dan satu hal lagi... Jika kalian tidak bisa meyakinkan tuan Willtern, katakan saja ini, “bunga Cecilia memiliki kelopak merah tua”. Ingat itu baik-baik...” Balas Lia menaruh jari di bibirnya mengedipkan matanya.
“Bunga Cecilia memiliki kelopak berwarna merah tua... Kami mengerti...! Kami akan mengingatnya...!” Balas Lilia dengan wajah serius.
Setelah menyampaikannya, Leo dan Lia pergi meninggalkan gereja tepat ketika matahari terbenam. Meski terasa berat melepas kepergian mereka berdua, namun anak-anak memutuskan untuk membulatkan tekad mereka untuk memenuhi permintaan Lia.
“Kakak Alicia telah memberikan kita bantuan! Kita tidak boleh menyia-nyiakannya!” Ujar Lilia kepada anak lain.
“Itu benar, kita harus pergi ke Linderfell apa pun yang terjadi! Kalian ikut bersama kami?” Sambung Louise dengan wajah serius.
“T-Tapi... Linderfell itu di mana...? Apakah itu jauh...? Balas seorang anak dengan wajah cemas.
“Ingat kakak Shima dan kakak Zen...? Mereka berasal dari sebrang samudra di timur sana. Bila dibandingkan dengan mereka berdua, jarak ini bukan apa-apa!” Balas Lilia meyakinkannya.
“Lilia benar. Kalau ingin mengharapkan kebaikan dari orang lain, inilah saatnya! Kita harus memanfaatkannya karena inilah satu-satunya pilihan kita agar tetap bisa hidup! Orang seperti kakak Alicia dan kakak Leonard itu sangat jarang! Dan aku yakin mereka tidak akan berbohong kepada kita!” Ujar Louise dengan nada yakin.
Dengan ucapannya, Louise berhasil meyakinkan hatinya dan dengan demikian mereka memantapkan hati mereka untuk pergi ke kota Linderfell seperti yang Lia pinta.
“Aku berharap mereka baik-baik saja dalam perjalanan ke Linderfell...” Bisik Lia dalam gendongan Leo.
“Kau mencemaskan mereka?” Balas Leo menoleh padanya.
“Aku cemas terhadap apa yang akan menanti mereka di sana karena Linderfell berada di bawah kepemimpinan Ksatria Suci.” Balas Lia mengungkapkan kecemasannya.
“Jadi walikota di sana adalah seorang Ksatria Suci, begitu? Kukira mereka petinggi di kalangan militer saja...”
“Ya, kerajaan terkadang memberikan gelar kehormatan untuk memimpin suatu wilayah. Itulah kenapa mereka bisa berkuasa.”
“Begitu ya. Aku tidak terlalu tertarik dengan politik, tapi kurasa ini bisa jadi informasi yang berguna untuk perjalanan nantinya...”
__ADS_1
Dengan membawa Lia di punggungnya, Leo berlari melintasi malam menuju tempat tujuan mereka selanjutnya.