
Troll muncul di hadapan mereka tanpa terduga. Pertanda buruk Leo menjadi kenyataan, Troll itu datang mengejar Roff hingga sampai ke tepian hutan. Ia tidak tahu bagaimana dan kenapa dia sampai ke tempat ini, tetapi ini adalah masalah yang serius.
“(Hidung yang jauh lebih besar dan lebar itu... Dia tidak salah lagi Elder Troll... Ini akan jadi masalah jika dia sampai ke desa atau kota...)” Ujar Leo dalam hatinya dengan wajah serius.
Tepat seperti yang Leo katakan, Elder Troll adalah ras Troll yang telah tumbuh dengan ditempa oleh ratusan atau bahkan ribuan pertarungan. Mereka telah menjalani sebagian besar hidup mereka dengan melalui pertarungan hingga pada akhirnya mereka sampai pada tingkat di mana mereka siap menjadi pemimpin suku. Tentunya mereka sangat berbahaya.
“Grrrr....”
Troll itu melihat ke arah Lia sesaat sebelum hidungnya mengendus baunya yang menarik perhatiannya. Itu adalah kebiasaan Troll, mereka sangat suka memburu wanita untuk mereka makan hidup-hidup. Tentunya Leo tidak bisa membiarkan hal tersebut terjadi.
“Lia...! Pergilah dari sana...!” Ujar Leo berlari ke arahnya sambil menarik pedangnya.
“Grrrr....”
Ia menggerakkan kaki besarnya yang membuat pepohonan di sekitarnya berguncang sesaat sebelum Leo datang kepadanya untuk mengalihkan perhatiannya. Troll yang melihatnya berusaha mengganggunya pun lantas menginjakkan kakinya dengan kuat ke arahnya hingga meninggalkan lubang besar di sekitarnya. Namun, sayangnya serangan itu meleset dan kini Leo yang berbalik menyerangnya.
“Haaa...!”
Dengan memanfaatkan posisi lutut Troll yang sedikit condong setelah berusaha menginjaknya, Leo melompat ke udara menebas hidung sekaligus satu matanya sebelum akhirnya Lia datang dari belakangnya.
“Tehnik pedang: Flow of Maple.”
Pedangnya seketika diselubungi cahaya merah tua membara sesaat sebelum ia mengayunkan tebasan cepat yang tak terhitung jumlahnya yang seketika mengenai seluruh tubuh Troll yang kesakitan itu.
“Rrrrrrr...!!!”
Seketika darahnya berhamburan ke udara menghujani sekitarnya dengan warna merah sesaat sebelum ia jatuh di atas lututnya sambil menggeram kesakitan.
“Grrrr...! Rrrrr....!”
Leo sejenak merasa takjub melihat kemampuan Lia. Namun, untuk saat ini tidak ada waktu untuk melamun. Meski serangannya barusan terbilang kuat, tetapi itu belum mampu menghasilkan luka berat bagi Troll itu. Tubuh Troll jauh lebih kuat dari Orc, serangan yang dapat membunuh Orc belum tentu dapat membunuh mereka. Untuk itulah, butuh serangan yang jauh lebih kuat untuk membunuhnya.
“Lia, mungkin ini akan sedikit sulit, tetapi kita harus membunuhnya di sini. Jika dia masuk ke desa, maka itu akan menjadi masalah besar. Maka dari itu, aku butuh bantuanmu.” Ujar Leo kepada Lia dengan wajah serius.
“Mm.” Balas Lia mengangguk.
“Aku akan membuat celah, saat itu tiba, kau bunuh dia dengan serangan terkuatmu.” Sambung Leo melihat ke arah Troll itu.
“... Serahkan kepadaku.” Balas Lia singkat dan yakin.
Meski mengatakan begitu, Troll bukanlah monster yang bodoh. Jika dia sampai tahu kalau Lia yang berusaha mengakhirinya, dia pasti akan mengincarnya. Meski kurang mengenakkan bicara seperti ini kepada Lia, sepertinya ia tidak punya banyak pilihan.
“Dan juga, Lia... Bisakah kau maju bersamaku untuk mengecohnya? Troll bukanlah makhluk bodoh, dia akan sadar rencana kita jika tidak memakai siasat.” Sambung Leo dengan nada sedikit canggung.
“... Mm. Aku mengerti.” Balas Lia singkat.
“Sebisa mungkin, tahan kekuatanmu untuk serangan terakhir.”
“... Mm.”
“Baiklah, ini dia...!”
Leo mulai berlari menuju ke arah Troll yang perlahan bangkit itu disusul oleh Lia di belakangnya. Troll lantas mengangkat batang kayu yang merupakan senjatanya ke arah mereka berdua dan menghantamnya dengan kuat hingga meninggalkan lubang besar di tanah di sekitarnya. Namun, sayangnya serangan itu dapat mereka hindari dengan mudahnya sebelum akhirnya mereka mulai melancarkan serangan mereka.
Serangan beruntun Lia lancarkan kepada Troll itu mengarah langsung pada bagian vitalnya, sementara Leo melancarkan serangannya pada bagian tubuh geraknya. Gerakan mereka begitu serasi, hingga membuat Troll itu kesulitan untuk menghentikannya.
“Rrrr....”
Berulang kali, ia berusaha menampar atau pun memukul salah satu dari mereka. Tetapi sayangnya, gerakan mereka yang begitu cepat dan terorganisasi membuatnya kewalahan. Ditambah dengan satu matanya yang terluka akibat ulah Leo membuatnya kehilangan pandangan pada sisi kirinya.
“Grrr... Rrrrrrraaarrrrhhh....!”
Dengan marah, ia memukul tanah dengan kedua tangannya menciptakan guncangan dahsyat yang mengangkat seluruh tanah yang ada di sekitarnya ke udara bersama dengan pepohonan yang berada di sekitarnya. Sontak mereka berdua terkejut lalu kemudian ikut terhempas ke udara bersama dengan puing-puing tanah sesaat sebelum Troll itu mengambil pemukulnya.
“(Jangan bilang...!)” Ujar Lia terkejut dalam hatinya.
“(Gawat...!)” Sambung Leo panik dalam hatinya pada saat yang bersamaan.
Dengan keadaan mereka yang melayang, menghindari serangan tersebut sangatlah mustahil. Meski dapat menahannya sekali pun, mustahil bagi mereka bertahan tanpa terluka melawan ayunan kuatnya.
“Rrrr... Rrraaa...!!”
Dengan sekuat tenaga, Troll itu mengayunkan pemukulnya menghancurkan satu persatu puing-puing yang terbang dalam jalurnya. Serangannya kian mendekat saja, namun dalam keadaan ini, tidak ada yang bisa mereka lakukan.
“Leo...!”
Tepat sebelum serangannya mengenai Leo, secara mengejutkan Lia melompat ke arahnya memanfaatkan batang kayu yang terbang di dekatnya sebagai pijakan sebelum akhirnya membawa Leo untuk jatuh menghindari serangannya. Mereka jatuh bersamaan sesaat sebelum puing-puing tanah menghujani mereka saat hancur terkena serangan kuat Troll tersebut. Mereka berhasil menghindarinya berkat reaksi cepat Lia.
“Ugh... Maaf merepotkanmu, Lia...” Ujar Leo mengusap keningnya yang lecet akibat terbentur tanah.
“Mhn... Mm. Dia sangat berbahaya. Tidak bisa dibiarkan...” Balas Lia menahan nafas sambil melihat ke arah Troll.
“Kau benar. Kita harus menghentikannya sekarang juga.”
“Mm.”
Akibat memukul puing-puing tanah dengan kuat, seisi tempat menjadi tertutup oleh kepulan debu. Hal tersebut membuat Troll itu kehilangan keberadaan mereka berdua mengingat hidung dan satu matanya sudah tidak lagi mampu dipakai. Ini menyulitkannya sekaligus membuatnya kesal.
“Rrraa...!”
Dengan mengayunkan pemukulnya, ia menghempaskan debu yang menutupi pandangannya guna mencari mereka berdua. Namun, saat debu yang menghalangi pandangannya telah hilang, kini giliran mereka berdua yang lenyap.
“....?!”
Troll itu pun kebingungan menyadari mereka berdua tidak berada di sekitarnya. Itu membuatnya semakin marah dan seketika menghentakkan kakinya ke tanah dengan sekuat tenaga hingga seluruh tempat yang ada di sekitarnya hancur dan terangkat ke udara. Tanah, bebatuan, pepohonan dan semak belukar semuanya ikut terangkat, namun ia tidak mendapati Leo mau pun Lia di antaranya.
“....!”
Secara mengejutkan, Leo datang dari balik benda dan puing yang terbang menyerang Troll itu saat perhatiannya lengah. Ia menebas pergelangan serta otot kakinya yang membuatnya seketika jatuh berlutut sebelum akhirnya ia berlari ke sisi lain tubuhnya dan mendaratkan serangan lainnya.
“Haa...!”
Leo menebas paha kirinya lalu dilanjutkannya dengan menyayat perut bagian bawahnya dengan memanfaatkan puing yang berjatuhan sebagai pijakan. Sontak hal itu membuat Troll itu kesakitan dan marah sebelum ia melancarkan serangan kepadanya.
__ADS_1
“Rrrrr...!!!”
Ia mencoba memukul dan menampar Leo, tetapi sayangnya itu semua gagal karena gerakannya yang gesit memanfaatkan situasi di sekitarnya sebagai pengalih. Ia pun segera menjauh saat secara mengejutkan Lia datang melancarkan serangan ke arahnya.
“Tehnik pedang: Falling Leaves.”
Cahaya kemerahan menyelubungi pedang dan tubuhnya sesaat sebelum ia melancarkan sebuah tebasan yang sangat kuat ke arahnya. Menyadari serangan berbahaya itu, Troll itu pun mengambil pemukul kayunya untuk menangkis serangan itu.
“Rrrr...!”
Serangan Lia ditangkis dengan sempurna oleh Troll itu. Namun, serangan Lia belum berakhir sampai di sana saja. Saat bilahnya menghantam kayu itu, sebuah gelombang sihir merah meledak dan membelah semua yang ada di sekitarnya.
“Raaaghh...!!”
Sontak Troll itu terkejut begitu menyaksikan senjatanya terpotong-potong oleh serangan lanjutan Lia. Serangan itu bahkan sampai menyayat lengannya hingga membuatnya berlumuran darah.
“(Menakjubkan... Aku belum pernah melihat tehnik pedang semacam itu... Bahkan di antara pejuang Thearian tidak ada yang pernah melakukannya...)” Ujar Leo dalam hatinya terpukau menyaksikan kejadian itu.
Tanpa senjata dan dengan kondisi kaki dan tangannya yang terluka, Troll itu sudah terdesak. Dengan begini, sisanya hanya tinggal menghabisinya saja. Akan tetapi, semuanya tidak semudah yang dibayangkan.
Tepat ketika Lia hendak berniat menghabisinya dengan serangan lainnya, Troll itu menarik nafas dalam sedalam yang ia bisa hingga menyedot seluruh udara yang ada di sekitarnya.
“Jangan katakan...!” Seru Leo spontan panik.
Leo yang menyadari niat Troll itu segera berteriak kepada Lia untuk memperingatinya.
“Lia, tutup telingamu dan menja-“
Namun, sayangnya ia terlambat. Troll itu meraung sekuat tenaga hingga menyakiti pendengaran semua yang mendengarnya.
“Nh...!”
“Urgh....! S-Sial...!” Bisik Leo menutupi telinganya yang kesakitan.
Itu adalah salah satu cara licik Troll ketika mereka merasa terpojok. Mereka akan berteriak sekuat tenaga untuk membuat lawannya lumpuh sementara. Cara ini dapat berarti dua hal, yaitu pertama untuk memanggil bantuan atau yang kedua, teriakan kemarahan. Untuk kemungkinan kedua, Troll tersebut akan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menghancurkan lawannya. Tidak peduli bagaimana kondisinya, dia akan terus menyerang hingga musuhnya tewas. Baik keduanya, itu sama-sama pertanda buruk. Leo harus melakukan sesuatu sebelum kedua kemungkinan tersebut terjadi.
“(Aku harus segera membawa Lia menjauh darinya...!)” Ujar Leo dalam hatinya dengan tekad bulat.
Saat teriakan itu berakhir, Leo lantas bangkit mengabaikan rasa sakit yang memenuhi kepalanya dan menuju ke tempat Lia berada. Namun sayangnya, saat ia membuka matanya ke arahnya, ia seketika terhenti terperanga menyaksikan apa yang terjadi.
“L-Lia... T-Tidak mungkin...!” Ujar Leo dengan wajah pucat syok.
Lia sudah berada di genggaman Troll itu dengan wajah lemas. Troll itu pasti menangkapnya saat suara teriakannya melumpuhkannya. Ini tidak bagus, Lia sekarang benar-benar dalam bahaya.
“Nhn...! Hngh...!”
Dalam kondisi tak berdaya, Lia mencoba bertahan semampunya meski cengkraman Troll itu semakin kuat setiap kali ia menggeram. Jika keadaan ini berlanjut, maka Lia akan mati sebelum sempat melepaskan diri.
“Nhn...! L-Leo....!” Bisik Lia dengan nada tercekik.
Leo berlari ke arah Troll itu sambil memikirkan cara untuk melepaskan Lia dari genggamannya. Troll yang menyadari niat Leo lantas melancarkan serangan ke arahnya. Dengan memukul tanah, ia menciptakan rentetan hujan batu dari hasil gesekan tinjunya dengan tanah. Hal itu membuat langkah Leo terhambat untuk mendekatinya karena ia terpaksa harus menghindari semua serangan yang datang kepadanya.
“(Cih! Seperti yang bisa diharapkan dari Elder Troll... Dia memang jauh berbeda dari yang lainnya...)” Ujar Leo dalam hatinya kesal sambil berusaha menghindar.
“...!”
Tepat saat menyadarinya, bayangan besar telapak tangan Troll itu menutupinya sesaat sebelum tamparan kuat menghantam tanah. Seketika area di sekitarnya retak menyisakan lubang besar di bawahnya.
“L-Leo...!” Ujar Lia dengan nada lemah terkejut menyaksikannya.
Namun, saat Troll itu mengangkat telapak tangannya, Leo tidak berada di sana seperti yang ia perkirakan. Ia yang kebingungan lantas menoleh kiri kanannya mencarinya sesaat sebelum Leo muncul di antara kakinya menebas pahanya dari bawah sebelum berlanjut ke atas hingga berhasil menyayat rahangnya.
“Rrraaaghhh...!!
Terkejut dengan serangan mendadak itu, Troll itu pun lantas mengambil langkah mundur untuk menjaga jarak, namun sayangnya otot kaki kanannya sudah putus setelah Leo memotongnya sebelumnya sehingga membuatnya jatuh terpelanting dan melepaskan Lia dari genggamannya.
“Mhn...! Nh....!”
Leo segera menghampiri Lia yang terkapar lemah untuk membawanya menjauh selagi Troll itu terbaring kesakitan.
“Lia, bagaimana keadaanmu? Apa kau terluka...?” Tanya Leo dengan wajah cemas.
“Mhn... L-Leo...? Apa yang terjadi...?” Balas Lia dengan nada lemah.
“Maaf, tapi aku tidak punya waktu untuk menjelaskannya kepadamu. Aku punya permintaan untukmu.” Jawab Leo dengan wajah serius.
“E-Eh...? A-Apa maksudmu...?” Balas Lia dengan wajah bingung.
“Aku akan menahannya di sini, kau pergilah ke kota untuk memanggil bantuan. Aku tahu ini permintaan yang kasar mengingat bagaimana keadaanmu sekarang, tetapi kita tidak bisa mengalahkannya!”
“E-Eh...?!”
Troll itu perlahan bangkit dengan wajah murka sesaat sebelum Leo menarik pedangnya dan meyakinkan Lia untuk segera pergi.
“Lia, kumohon...! Pergilah sekarang...!” Ujar Leo dengan nada tinggi.
Troll itu mulai melancarkan serangan sebelum Lia sempat menjawabnya. Dengan satu kakinya yang masih utuh, Troll itu mengibaskan tendangan yang membuat seluruh benda yang ada di sekitarnya beterbangan menuju ke arah Leo dan Lia. Melihat hal itu, Leo lantas mendorong Lia sekuat tenaga untuk menjauh dari sana sebelum akhirnya ia menghindar saat Troll itu sepenuhnya bangkit.
“Lia...! Cepat pergilah dari sini...!” Seru Leo sebelum akhirnya ia berlari ke arah Troll itu.
Leo memutuskan untuk menahannya seorang diri dan membiarkan Lia pergi untuk memanggil bantuan. Namun, yang menjadi masalah adalah apakah dia mampu bertahan sampai bantuan datang. Mengingat bagaimana pertarungan berjalan selama ini, rasanya mustahil bagi Leo untuk menahannya seorang diri.
“(Tidak...! Aku tidak akan lari...! Leo membutuhkan bantuanku...!)” Ujar Lia dalam hatinya dengan tekad bulat.
Mana mungkin ia meninggalkan Leo seorang diri melawannya. Setelah apa yang terjadi, Lia perlahan mulai mengenal siapa Leo. Ia tidak bisa membiarkannya bertarung seorang diri.
“Mnh...!”
Saat Leo mencoba untuk bangkit, ia seketika kembali terjatuh. Kemungkinan besar itu karena ia masih memerlukan waktu untuk pulih sepenuhnya setelah dibekam olehnya.
“Hah...! Hah...! L-Leo...! Aku harus membantunya...!” Ujar Lia dengan nafas berat berusaha bangkit sekuat tenaganya.
__ADS_1
Sementara itu, pertarungan sengit tengah terjadi antara Leo dengan Troll itu. Serangan beruntun terus dilancarkan sang Troll kepada Leo, namun dengan ketangkasannya ia mampu menghindari setiap serangan Troll tersebut dengan sempurna.
“Grrrr...! Rrraaaagghhh...!!”
Kesal karena setiap serangannya tidak pernah mengenainya, Troll itu pun menggempur tanah dengan kedua tangannya hingga mengguncang area di sekitarnya. Tanah seketika amblas menyisakan kawah besar sesaat sebelum Troll itu melihat kepada Leo. Serangan itu mencakup area yang luas, setidaknya itu pasti akan melukainya.
“Haaa!!!”
Secara mengejutkan, Leo muncul dari balik kepulan debu melompat ke arah Troll itu dengan melancarkan serangan langsung ke wajahnya. Ia memotong hidung besarnya sepenuhnya. Hidungnya putus meninggalkan darah yang bercucuran deras membasahi wajahnya sebelum akhirnya Leo kembali melompat dan menggorok lehernya.
“....!”
“Grrrr....!!”
Namun, usahanya gagal karena Troll itu melindungi dirinya dengan tangannya sehingga serangan Leo hanya menyayat lengannya saja.
“Rrrrrr...!!”
Troll itu membalas serangannya dengan mendorongnya sekuat tenaga hingga membuat Leo terhempas jauh sejauh puluhan meter darinya.
“Ugh...! Hngh...!”
Leo sampai terguling beberapa kali sambil terseret dia atas tanah sebelum akhirnya ia memperbaiki posisinya dan menggunakan pedangnya sebagai pasak untuk membantu mengurangi dampaknya. Kekuatan Troll itu memang jauh di atasnya, tetapi jika hanya mendorongnya belum cukup untuk melukai Leo. Ia pun segera bangkit dan melancarkan serangannya saat Troll itu melempar tanah yang hancur di sekitarnya ke arahnya untuk menghentikannya.
“Rrr...!”
Meski demikian, Leo mampu menghindari semua serangan itu sebelum pertarungan mereka kembali berlanjut. Troll itu melancarkan serangannya yang berskala besar kepada Leo, namun keadaan masih sama karena ia dapat menghindarinya dengan mudah sebelum ia melancarkan serangan balasan. Leo berhasil melukai Troll itu setiap kali ia membalas serangannya. Keadaan jadi terlihat berubah seketika saat Lia terkesima menyaksikan pertarungannya.
“(Hebat... Leo mampu melukainya tanpa sedikit pun terkena serangannya. Apakah ini kekuatan bangsa Thearian yang pernah mereka singgung sebelumnya...?)” Ujar Lia dalam hatinya takjub.
Leo mampu mengimbangi lawannya yang ukurannya bahkan puluhan kali lebih besar darinya. Tetapi, ada yang mengganjal pikiran Lia selama ia menyaksikan pertarungan tersebut.
“(Harus kuakui, kemampuan fisik Leo jauh di atasku, tetapi kenapa dia tidak memakai Skill miliknya..? Apakah itu gaya bertarungnya atau memang dia berusaha menyembunyikannya...?)” Ujar Lia dalam hatinya bingung.
Terlepas dari kemampuan Leo dalam mengimbangi lawannya, dia terlihat kesulitan dalam melawan balik. Jika ia bisa menghindar dengan sempurna, maka itu artinya peluang menyerangnya juga harusnya sama. Namun, dalam kasusnya, dia justru tidak memanfaatkan situasi tersebut dan hanya melancarkan serangan ringan saja kepadanya. Itu membuat Lia bertanya-tanya sekaligus heran mengenainya.
“Grrrr...!”
Kesal karena Leo selalu berhasil melukainya, Troll itu pun berniat menggunakan teriakan kemarahan untuk melemahkannya. Ia membuka mulutnya lebar-lebar sebelum ia mulai menarik nafas dalam menghisap seluruh udara yang ada di sekitarnya.
“(Datang lagi...! Dia akan kembali berteriak...!)” Ujar Lia dalam hatinya terkejut.
Namun, secara mengejutkan, sesaat sebelum Troll itu berhasil meneriakkannya, Leo melemparkan pedangnya tepat ke lehernya yang sontak menembus ke tenggorokannya. Teriakannya terhenti bahkan sebelum bisa dimulai sesaat sebelum Leo melompat menggapai pedangnya yang tertancap lalu menggorok lehernya dengan pedangnya.
“Haaa...!”
Darah berhamburan menghujani sekitarnya bersamaan dengan jatuhnya Troll itu. Ia berlutut memegangi lehernya yang sobek dan berlumuran darah sambil menggeram kesakitan melihat apa yang Leo lakukan kepadanya.
“Urghh...!! Grrrr....!”
Dengan nafas berat, Troll itu mencoba tetap berdiri meski luka yang diterimanya cukup berat. Ia tidak mungkin kalah oleh seorang manusia biasa seperti Leo.
“Rrrrrr....!”
Dengan penuh amarah, Troll itu meraung menunjukkan kekuatannya saat Leo kembali datang menyerangnya. Ia datang langsung dari arah depan menuju ke arahnya. Troll itu pun mengayunkan tangan besarnya, tetapi Leo dengan cepat meluncur di atas tanah menghindari serangannya. Troll itu meleset, namun tak lama berselang Leo melancarkan serangannya dengan menebas kakinya yang tersisa hingga membuat Troll itu berlutut sesaat sebelum ia mendaki tubuhnya dari belakang untuk mengakhirinya.
Dengan berpijak pada punggung Troll itu, Leo melompat ke udara bersiap menikam kepala Troll itu memanfaatkan gaya jatuh dari lompatannya sebelumnya.
“Haaa...!!”
Troll yang menyadari niatnya seketika berbalik dan lantas melindungi dirinya dengan tangannya. Leo melesat jatuh sambil memutar tubuhnya tepat ketika Troll itu menggunakan tangannya untuk melindungi kepalanya. Namun sayangnya, usaha Troll itu sia-sia ketika Leo secara mengejutkan mampu menebas lengannya.
“....!”
Lia yang menyaksikannya seketika terkesima melihat Leo memotong lengan Troll raksasa itu hanya dengan kekuatan fisiknya. Tanpa sihir maupun Skill, dia mampu menundukkan Troll itu seorang diri.
“(L-Luar biasa... Dia bertarung tidak mengandalkan apa pun selain dirinya dan apa yang ada di sekitarnya, tetapi dia mampu mengunggulinya...)” Ujar Lia dalam hatinya terpukau.
Namun, rasa takjub itu seketika berubah ketika Troll itu melancarkan serangan balik. Tepat setelah Leo memotong lengannya, Troll itu mengayunkan pukulannya dengan tangan lainnya hingga membuat Leo terjatuh menghantam tanah dengan kuat.
“Ugh...!”
“Leo...!”
Pukulan barusan membuat luka pada beberapa tubuhnya hingga mengalirkan darahnya. Namun, meski begitu, Leo masih belum sepenuhnya kalah. Ia menancapkan pedangnya sebagai tumpuan sebelum akhirnya bangkit tepat ketika Troll itu datang dengan serangan kejutan.
“....!!”
Secara mengejutkan, Troll itu mengayunkan tendangan kerasnya ke arah Leo yang baru saja bangkit. Leo yang terkejut lantas menggunakan pedangnya sebagai perisai, namun sayangnya itu percuma saja karena tendangannya yang terlampau kuat membuat pedang miliknya seketika patah dan hancur.
“Guh...!”
Tulang rusuk Leo seketika hancur bersama dengan organ dalamnya begitu menerima tendangan itu secara langsung. Darah melonjak keluar dari mulutnya sesaat sebelum ia terlempar dengan kuat masuk ke dalam hutan menghancurkan pepohonan yang dilaluinya sebelum akhirnya ia terhenti setelah menghantam sebuah pohon besar.
“Leo...!!”
Pohon besar itu seketika tumbang tak lama setelah Leo menghantamnya. Tendangannya yang begitu kuat mampu merobohkan pepohonan dengan mudahnya dengan Leo sebagai objeknya penghancurnya.
“Ugh...! Guh...!! Hah...! Hah...!”
Ia kembali memuntahkan darah dari mulutnya saat ia dengan samar melihat Troll itu berjalan menyeret kakinya menuju ke arahnya. Dia berniat mengakhiri Leo setelah apa yang ia lakukan kepadanya.
“(Ah... Perasaan yang sangat familiar ini... Setelah sekian lama aku akhirnya merasakannya kembali...)” Ujar Leo dalam hatinya kecewa.
Ia kembali mengingat masa saat ia menjadi pejuang di tempat tinggalnya di selatan. Ia selalu menjadi umpan untuk monster karena ia tidak memiliki Skill. Ia selalu berakhir terluka parah karena sering menjadi bulan-bulanan monster. Ini bukan lagi yang pertama baginya, tetapi untuk kali ini berbeda.
“(Setidaknya... Kali ini aku melakukannya bukan karena terpaksa, tetapi karena aku ingin melakukannya... Aku hanya ingin melindunginya...)” Ujar Leo dalam hatinya sambil berusaha tersenyum.
Ia melakukan semua ini hanya untuk satu hal, yaitu melindungi Lia. Ia sudah berjanji kepada Zille untuk melindunginya, karena menepati janji adalah satu-satunya hal yang bisa ia lakukan bagi seorang pecundang sepertinya. Ia tidak menyesalinya, ia justru senang karena sampai pada akhirnya, ia masih memegang teguh janjinya.
“(Mungkin inilah yang terbaik... Lia, maafkan aku karena tidak bisa menemanimu lebih lama lagi... Tetapi, semoga kau menemukan apa yang kau cari tanpaku...)” Sambung Leo dalam hati tersenyum pahit.
Kesadaran Leo semakin memudar saat suara langkah kaki Troll itu makin terdengar jelas. Ini adalah akhirnya, akhir bagi dirinya, seorang pecundang yang ditolak oleh dunia.
__ADS_1
“S-Sela.. mat... Tinggal... Lia....”