
... ...
Sementara itu, merasakan ada udara dingin yang menerpa mereka, Roselia lantas memutar pandangannya ke arah hutan tempat Lia dan Rosetta bertarung sebelum terkejut menyaksikan apa yang terjadi di sana. Angin kencang bercampur salju memutari area tersebut menciptakan kubah badai yang membekukan seisi hutan di sekitarnya. Ekspresi Roselia seketika berubah pucat menyadari apa yang sedang terjadi di sana.
“(Ro, jangan katakan kau menggunakan sihir itu...!)” Ujar Roselia dalam hatinya cemas.
Merasa adiknya dalam bahaya, ia pun memutuskan untuk menyusul ke sana. Namun, tepat di saat yang bersamaan, Leo dengan serangan kuatnya menghentikan niatnya. Tendangan keras itu menghempaskannya jauh hingga membuatnya menghantam tanah dengan keras.
“Ugh...!”
Dalam keadaan tidak berdaya, Roselia melihat ke arah pusaran angin salju itu sambil memanggil nama adiknya.
“R-Ro...! Rosetta...!” Bisiknya dengan nada lemah.
Ia bangkit dengan harapan menolongnya, namun niatnya seketika hancur ketika Leo menyilangkan pedangnya pada lehernya.
“Langkah mati untukmu. Ini sudah berakhir.” Ujar Leo dengan nada dingin.
“Hgh...! Rosetta...! Jangan bertindak gegabah...!” Ujar Roselia masih melihat ke arah yang sama.
“Memalingkan matamu dalam pertarungan akan membunuhmu. Sepertinya kau tidak diajari hal itu...” Sambung Leo dengan nada sinis.
Leo sekilas melihat ke arah hutan yang menjadi perhatiannya. Ia melihat badai salju yang buruk berputar layaknya tornado membungkus area di sekitarnya dalam kubah putih yang beku. Kemungkinan besar di sana adalah tempat adiknya bertarung dengan Lia dan sihir itu adalah akibat dari pertarungan mereka.
“(Begitu ya. Kemungkinan besar Lia memojokkan adiknya hingga mengeluarkan sihir itu. Kurang lebihnya aku memahami situasi mereka...) Ujar Leo dalam hatinya menyimpulkan.
Entah bagaimana pertarungan mereka berlangsung, namun Leo memutuskan akan menyerahkannya hasilnya kepada Lia karena saat ini ia juga memiliki pertarungannya sendiri.
Kembali pada Lia yang berhadapan dengan Rosetta dalam wujudnya yang terlahap es sebagai akibat mengundang badai es, kini ia harus kembali berhadapan dengannya sambil menahan efek dari sihirnya yang perlahan mulai terasa. Selain udara dingin yang menusuk, Lia juga harus bertahan karena secara perlahan, es mulai membekukan tubuhnya. Terlihat jelas bagaimana ujung kain pada pakaiannya mulai membeku diikuti oleh bilah pedangnya yang mulai ditutupi oleh es.
“(Sihirnya bekerja dengan lambat, kemungkinan itu karena dia belum sepenuhnya menguasainya. Aku harus mengalahkannya sebelum pembekuan ini bertambah buruk...)” Ujar Lia dalam hatinya menguatkan tekad.
Dalam keadaan membeku sebagian, Rosetta memaksakan dirinya untuk bertarung meski tubuhnya perlahan terkikis oleh es. Ia mengayunkan pedangnya sesaat sebelum mulai melancarkan serangan.
“Haaa...!”
Dengan pedang yang diselubungi hawa dingin, Rosetta melancarkan serangannya meski nafasnya terlihat lebih berat dari yang sebelumnya. Lia menangkis serangan itu dengan mudah dan membalasnya, namun Rosetta masih belum menyerah. Ia masih mampu menghindar sebelum kembali membalas serangannya. Duel pedang itu pun terus berlanjut dengan mereka berdua saling membalas serangan. Dengan semangatnya yang tersisa, Rosetta masih terus mengayunkan pedangnya meski kini tubuhnya terlihat lebih parah dari yang sebelumnya.
“(Sampai berapa lama lagi pertarungan ini berlangsung...? Aku bisa merasakan refleks dan kecepatannya menurun drastis...)” Ujar Lia dalam hatinya curiga.
Meski mengalami efek yang sama, namun keadaan Lia masih terbilang normal dari pada keadaannya. Selain tubuhnya menggigil, gerakannya juga mulai tidak stabil. Ia terlihat seperti boneka tali yang terjerat oleh benangnya sendiri.
“Kenapa kau terus bertarung? Tubuhmu sudah hampir mencapai batasnya.” Ujar Lia menangkis serangannya.
“Itu... Bukan jawaban... Yang bisa... Kau dapatkan... Dengan.. Mudah...” Balas Rosetta terbata-bata.
“Kalau begitu, aku akan bertanya kepadamu. Jika kau tahu bahwa Northey akan menggunakan peninggalan kuno yang kalian cari untuk memicu perang, apa yang akan kau lakukan?” Balas Lia membalas serangannya.
“Hal itu... Tidak mungkin... Terjadi...!” Balas Rosetta marah dengan nada tercekik.
“Dan bagaimana jika itu semua benar?
“Northey-sama... Northey-sama bukan.. Orang seperti itu...!”
Rosetta menghempaskan Lia dengan kekuatan esnya sesaat sebelum ia melepaskan sihirnya untuk menyerangnya. Ia mengayunkan pedangnya menciptakan tebasan salju sesaat sebelum Lia menepisnya dengan pedangnya. Serangan itu tidak berarti apa-apa baginya yang dalam keadaan jauh lebih unggul darinya, namun...
“...?!”
Ketika menyadarinya, pecahan es yang menempel pada bilah pedangnya secara mengejutkan merambat dan meluas hingga membekukan tangan Lia yang memegangnya. Menyadari hal itu, Lia dengan segera mengalirkan sihirnya untuk menghilangkan efeknya, namun sayangnya usahanya sia-sia.
“(Ini aneh...! Dia tidak mau hilang...!)” Ujar Lia dalam hatinya terkejut.
Melihat ekspresi Lia, Rosetta pun mulai bicara mengetahui apa yang di pikirannya.
“Jangan kau kira... Aku hanya... Melancarkan serangan... Dengan putus asa... Es itu tidak akan... Hilang meski kau... Membakarnya...” Ujar Rosetta dengan nada terbata-bata.
“Begitu ya. Es ini tidak bisa hilang karena memakan sihir korbannya.” Balas Lia mengamati tangannya yang perlahan membeku.
“Itu benar... Aku tidak tahu... Kenapa kau... Menghilang dari publik... Dan alasan... Kenapa kau... Bisa ada di sini... Tapi, tidak akan... Kubiarkan kau... Menggagalkan rencana... Northey-sama...!” Balas Rosetta sambil mengacungkan pedangnya.
Sementara itu, Leo yang berhasil memojokkan Roselia memutuskan untuk menunda menghabisinya. Ada kemungkinan dia mengetahui rencana Northey dan apa yang sedang mereka cari di dalam reruntuhan kuno itu. Untuk itulah Leo memutuskan untuk menginterogasinya.
“Sekarang jawab pertanyaanku, Knight Order. Apa yang sebenarnya tuanmu cari di reruntuhan yang kau jaga?” Tanya Leo dengan nada mengancam.
__ADS_1
“Kenapa perampok makam sepertimu peduli? Meski aku mengatakannya sekali pun, kau tidak akan pernah mengerti. Itu pun jika kau bisa membuatku bicara.” Balas Roselia dengan nada angkuh.
“Aku belum pernah mencobanya kepada manusia, tapi kurasa caranya akan sama...” Balas Leo bergumam sambil perlahan menghampirinya.
“Itu tidak akan berhasil...! Aku sudah dilatih untuk menghadapi siksaan interogasi...!”
“Kalau begitu, mari kita coba teori itu. Aku harap tidak membunuhmu sama seperti aku melakukannya pada Orc...”
“Apa...? Kau ingin membunuhku...? Kalau begitu kau tidak akan dapat informasi yang kau inginkan, bodoh!”
“Kematian tidak selalu menjadi akhir, kau harusnya mengerti itu...”
“....?!”
Roselia segera memutar otak untuk menghindari hal itu. Ia berpikir keras dalam jeda waktu tersebut memikirkan segala kemungkinan yang bisa ia lakukan sebelum akhirnya mendapatkan sebuah ide. Tepat ketika Leo berniat menyentuhnya, Roselia menggunakan sihir airnya pada kaki dan telapak tangannya untuk mendorongnya menjauh darinya. Bersamaan dengannya meluncur, ia menciptakan cipratan air yang seketika membesar menjadi ombak untuk mengalihkan perhatiannya.
“....?!”
Terkejut menyaksikannya, Leo lantas berusaha mengejarnya dengan menembus langsung ombak tersebut. Ia memotong ombak itu dengan kekuatannya sebelum mengejar Roselia yang berniat melarikan diri darinya. Ia berlari mengejar Roselia yang meluncur di atas tanah memanfaatkan kemampuannya mengendalikan air bersiap menghentikannya. Namun, itu semua justru rencana Roselia demi mengalihkan perhatian Leo darinya. Yang Leo kejar bukanlah dirinya, melainkan bayangan air yang menyerupai dirinya. Ia menciptakannya tepat setelah ia menggunakan ombak besar itu untuk menyembunyikan aksinya. Sosok aslinya saat ini tengah mengendap-endap memutarinya menuju ke tempat badai salju itu berada untuk menolong saudarinya.
“(Meski kau memiliki mata sihir, bayangan airku bisa meniru sihir dan auraku dengan sempurna...! Tangkap dan bunuh sepuasmu jika kau bisa...!)” Ujar Roselia dalam hatinya angkuh.
Dengan ini, ia bisa menemui adiknya dan membantunya. Akan tetapi, itu semua tidak terjadi semudah itu. Tepat ketika Roselia berpikir ia telah lepas dari pandangan Leo, secara mengejutkan sebilah pedang melayang ke arahnya sesaat sebelum menancap dengan keras tepat di hadapannya menghentikan langkahnya. Seketika itu pula ia terkejut mengetahui bahwa pedang itu adalah milik Leo sesaat sebelum Leo secara mengejutkan datang ke arahnya. Ia seketika meraih pedangnya yang sebelumnya ia lempar sesaat sebelum menyerang Roselia yang panik akan kedatangannya.
“M-Mustahil...!” Ujar Roselia panik.
Ia mengayunkan serangan cepat padanya yang dapat ia hindari sebelum Leo mengayunkan tendangan memutar ke arahnya yang seketika mengenainya dengan sangat keras. Roselia terlempar akibat tendangan kuat itu mengenai tubuhnya sebelum sempat menangkisnya hingga menembus ke dalam sebuah bangunan kuno yang sebelumnya tidak ada di sana. Ia terhenti setelah menghantam dinding sebuah ruangan lebar yang berada di dalam bangunan itu sesaat sebelum ia jatuh terkapar dalam kondisi tidak berdaya setelah menerima serangannya.
“Ugh...! B-Bagaimana bisa.. Dia melihatku...! Harusnya perhatiannya teralihkan... Oleh bayangan airku...! Apa-apaan orang itu...!” Ujar Roselia dengan nafas berat bangun dari tempatnya jatuh.
Sambil menahan luka yang mengganggu keseimbangannya, Roselia mendapati dirinya berada di dalam reruntuhan kuno yang dijaga olehnya dan adiknya. Ia yang awalnya berniat merahasiakan tempat ini darinya terpaksa membongkarnya karena menerima serangan itu.
“Ini tidak bagus... Padahal Northey-sama... Telah menyembunyikan... Tempat ini dengan... Sihirnya... Aku terkesan seperti menunjukkan... Tempat ini untuknya...” Sambung Roselia mengeluh.
Meski memakai sihir untuk melindungi dirinya, tetapi Leo dapat dengan mudah menembusnya. Ia tidak mengira kemampuan Leo melebihi perkiraannya sebelumnya. Akan berbahaya baginya jika menerima serangan itu lagi, ia harus lebih waspada dari sekarang.
“Jadi tempat ini yang selama ini kau jaga, huh?” Ujar sesosok suara memasuki ruangan.
“...?!”
Mendengar suara itu, dugaan Roselia menjadi kenyataan. Tak lama kemudian Leo menyusulnya sampai ke tempat itu setelah membuatnya terlempar hingga ke sana. Ia akhirnya menemukan tempat yang selama ini ia cari.
“(Akhirnya aku menemukannya... Meski aku telah memakai kekuatan mata ini, aku masih kesulitan menemukannya... Tapi, setidaknya usaha kami tidak sia-sia...)” Ujar Leo dalam hatinya melihat sekitarnya.
Roselia lantas mengambil belatinya sebelum memasang posisi bertarung meski keadaannya tidak terlihat baik. Ia masih merasa gemetaran pasca menerima serangan telak Leo. Meski demikian, ia masih belum menyerah untuk melawannya.
“Ah. Sial, kau menemukannya. Sekarang aku harus membunuhmu demi membungkammu...” Ujar Roselia dengan nada mengancam.
“Hm. Begitu ya. Meski terkesan tua, tempat ini masih terbilang utuh dari pada reruntuhan lain di sekitar wilayah ini...” Gumam Leo mengamati ruangan di sekitarnya.
“Jangan abaikan aku sialan!” Sambung Roselia marah dengan nada tinggi.
“Kau masih ingin melanjutkan pertarungan ini?”
“Tentu saja! Karena aku sedang menjalankan tugasku melindungi penelitian Northey-sama!”
“Aku tidak tahu apa yang dia lakukan kepadamu, tapi apa kau tahu apa yang sebenarnya dia rencanakan?”
“Kenapa aku harus mengatakannya kepadamu? Kau hanya perampok makam licik yang hanya memikirkan diri sendiri!”
“Sudah kukatakan sebelumnya, aku bukanlah perampok makam.”
“Aku tidak peduli...! Aku akan menghabisimu sekarang juga...!”
“Aku meragukannya.”
Tepat ketika Leo mengatakannya, Roselia melemparkan belatinya ke arah pintu keluar sesaat sebelum ia merapalkan mantra.
“Arts Seal.”
Kedua belati yang menancap di dekat pintu keluar itu berubah menjadi lingkaran sihir yang menciptakan penghalang yang menutup satu-satunya jalan keluar dari ruangan tersebut. Entah apa yang dipikirkannya, namun Leo merasa ada sesuatu di balik tindakan nekatnya ini.
“Sekarang kau tidak bisa lari lagi...!” Ujar Roselia tersenyum menyeringai.
__ADS_1
“Bukankah kau juga sama?” Balas Leo menyiapkan kuda-kuda.
“Kita lihat bagaimana kau menikmati ini...!” Balas Roselia dengan nada tinggi.
Ia lantas menampar lantai sesaat sebelum ia kembali merapalkan mantra sihirnya.
“Wahai deburan ombak, tenggelamkanlah musuhku ke dasar samudra tempatmu berasal... Tidal Wave..!”
Lingkaran sihir biru tercipta sesaat sebelum ombak air raksasa muncul dan menelan seisi ruangan. Menyadari hal itu, Leo lantas melompat ke langit-langit ruangan guna menghindari datangnya ombak tersebut, namun sayangnya usahanya sia-sia karena ketinggian ombak melebihi tinggi ruangan. Ia pun tersapu oleh ombak hingga menghantam dinding di sisi lain ruangan sesaat sebelum arus air menyeretnya masuk ke dalam pusaran air raksasa.
“....!!”
Puing-puing bangunan pun ikut tersapu terbawa arus kencang itu bersama dengan Leo di dalamnya. Mencoba berenang percuma saja karena dengan arus sekuat ini mustahil baginya untuk bisa keluar.
“Sudah kukatakan sebelumnya, kemenangan ada di tanganku sejak kau memasuki ruangan ini...! Bagaimana rasanya terbawa arus dalam pusaran air raksasa, huh...!” Seru Roselia sambil tertawa angkuh.
Roselia tertawa melihat Leo tidak berdaya terbawa oleh arus kencang yang dibuat olehnya. Ini menjelaskan kenapa dia nekat menyegel pintu keluar. Bagi pengguna sihir air sepertinya, ruangan tertutup adalah senjata yang paling mematikan. Selain bisa memanfaatkan ruang gerak yang terbatas, dia juga bisa membatasi gerakan mereka dengan jauh lebih mudah. Mungkin inilah sumber percaya dirinya.
Di sisi lain, Leo yang mulai kehabisan waktu dan nafasnya berusaha keras memikirkan jalan keluar dari situasi tidak menguntungkan ini. Namun, sekeras apa pun ia berpikir, ia tidak mampu menemukan solusi yang dapat membuatnya keluar dari arus hebat itu.
“(S-Sial...! Berpikir...! Apa tidak ada yang bisa kulakukan untuk keluar dari sini...! Aku akan mati...!)” Ujar Leo dalam hatinya panik.
Kekuatan fisiknya saja tidak cukup untuk melawan sihir mematikannya. Jika keadaan ini terus berlanjut, maka Leo dipastikan akan mati.
“S-Sial...!!” Seru Leo dengan mulut penuh air.
Ketika Leo berteriak kesal, secara mengejutkan kilatan cahaya terlihat dari beberapa bagian tubuhnya. Tidak hanya sekali, kilatan cahaya itu terlihat menyambar beberapa kali sesaat sebelum cahaya itu menguat menciptakan kilatan listrik yang menyelimuti tubuhnya.
“....?!”
Begitu membuka matanya, Leo seketika terkejut mendapati sekujur tubuhnya memancarkan kilatan listrik. Ia yang merasa panik dengan segera meringkukkan dirinya guna melindungi diri berpikir bahwa ini adalah salah satu trik serangan milik Roselia.
“(S-Sial...! Dia bahkan menguasai sihir petir...! Ini berbahaya...! Aku pasti mati kali ini...!)” Ujar Leo dalam hatinya panik.
Namun, setelah beberapa saat menerima serangan itu, Leo masih baik-baik saja. Ia sama sekali tidak merasa tersengat meski tubuhnya dipenuhi oleh kilatan listrik. Merasa ada yang salah, ia pun memutuskan untuk melihatnya lebih teliti dengan menggunakan kekuatan matanya.
“(T-Tunggu, cahaya aneh ini berasal dariku...! Jangan-jangan...! Apa ini sihir...?! Aku bisa menggunakan sihir...?!)” Sambung Leo dalam hatinya terkejut.
Entah bagaimana hal itu bisa terjadi, namun ini mungkin saja bisa jadi kesempatan yang bagus untuk membebaskan diri dari sihirnya. Mengabaikan penjelasan mengenai dirinya yang secara tiba-tiba bisa mengeluarkan sihir, Leo menggunakan kemampuan barunya untuk membantunya membebaskan diri dari pusaran air mematikan tersebut. Ia mengeluarkan sejumlah besar sihirnya dan menyebarkan listrik ke setiap penjuru menciptakan pusaran air bertegangan tinggi. Akibat dari ulahnya itu, kilatan petir mulai menyambar ke pusat pusaran tempat di mana Roselia menyaksikan semua itu dengan ekspresi kebingungan.
“A-Apa itu...? Aku seperti baru saja melihat kilatan cahaya... Apa itu jangan-jangan sihirnya...?” Gumam Roselia dengan wajah heran.
Tepat ketika mengatakannya, kilatan petir menyambar hingga ke tempatnya seketika membuatnya terkejut dan panik. Ia seketika membatalkan sihirnya ketika mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
“(Gawat...! Dia adalah musuh alamiku...! Aku harus segera melenyapkan semua air ini...!)” Ujar Roselia dalam hatinya panik.
Roselia dengan panik segera merapalkan mantranya guna menghilangkan semua debit air yang menggenangi seluruh ruangan.
“Aqua Vaporize.”
Pusaran air itu perlahan mereda disusul dengan surutnya volume air yang mengisi ruangan. Air yang sebelumnya memenuhi ruangan itu diubah olehnya menjadi uap air dengan menggunakan sihirnya. Seketika itu pula seluruh ruangan tertutup oleh kabut akibat penggunaan sihir itu. Namun, pada saat hal itu terjadi, secara mengejutkan Leo datang dari atas ruangan bersiap menyerangnya. Dengan memanfaatkan situasi yang berkabut, Leo melancarkan serangan diam-diamnya ketika Roselia lengah akibat menggunakan sihir penguap itu.
“....?!!”
Roselia yang menyadari kehadirannya seketika terkejut mendapati Leo masih bertahan meski telah terbawa arus kuat itu dalam waktu yang terbilang lama.
“(M-Mustahil...! Bagaimana dia bisa bergerak normal setelah terbawa pusaran airku...!)” Ujar Roselia dalam hatinya terperanga.
Ia langsung menggunakan kemampuannya meluncur menggunakan air untuk menghindari Leo. Namun, Leo yang sudah memperkirakan hal itu sebelumnya.
“(Kau berniat lari, huh...? Tidak akan kubiarkan kau lari kali ini...!)” Ujar Leo dalam hatinya marah.
Ia lantas mengalirkan seluruh kekuatannya pada pedangnya. Seketika itu pula pedang miliknya menyala oleh kilatan petir yang mengerikan sesaat sebelum ia melempar pedangnya ke lantai dengan sekuat tenaga.
“Haaa...!!!”
Ketika menusuk pedangnya menusuk lantai, suara gemuruh petir menggelegar ke seluruh ruangan sesaat sebelum guncangan hebat terjadi. Bagaikan petir yang menyambar bumi, serangan Leo menimbulkan ledakan hebat yang menghancurkan lantai berserta seluruh ruangan tersebut.
“A—“
“....!!”
Seluruh bangunan itu berguncang akibat ledakan tersebut sesaat sebelum lantai retak dan amblas meruntuhkan seluruh tempat itu. Mereka berdua pun jatuh ke dalam lubang dalam yang berada tepat di bawah mereka selama ini bersama dengan puing-puing bangunan lainnya.
__ADS_1