Black Arc Saga

Black Arc Saga
Akhir dari kerja sama


__ADS_3

Melihat monster yang semakin ganas, Leo dan Roselia semakin dipaksa masuk ke dalam situasi yang sulit. Meski mereka telah memenggal dua kepala yang menjadi masalah, namun pada akhirnya hal itu tidak banyak membantu. Dengan sisa tenaga mereka yang terbatas, mereka dipaksa mengambil pilihan sulit antara bertahan atau terbunuh.


 


“Hey, perampok makam, ada ide? Sepertinya makhluk itu bertambah marah sekarang. Kau tahu apa artinya, bukan?” Bisik Roselia pada Leo dengan ekspresi pucat.


 


“Jika aku punya, aku tidak hanya diam seperti sekarang.” Balas Leo dengan nada kesal.


 


“Jujur saja, aku sudah hampir kehabisan kekuatan sihir akibat bertarung melawanmu dan aku tidak ingin mati di sini...” Balas Roselia dengan nada pahit.


 


“Sekarang kau menyalahkanku?”


 


“Mungkin jika tidak dalam keadaan ini, iya. Tapi sekarang, berdebat mengenai hal itu tidak ada gunanya, bukan?”


 


“Cukup mengejutkan, sekarang kau terdengar seperti wanita dewasa...”


 


“Aku berharap itu pujian, karena saat ini aku sedang tidak punya waktu untuk bertengkar denganmu. Kita harus fokus pada apa yang ada di hadapan kita sekarang...”


 


“Ya. Kau benar.”


 


Tak selang beberapa saat setelahnya, monster itu mulai menggeram dengan perilaku yang aneh. Selagi menggeram, ia seperti meringkuk dalam kesakitan ketika aura yang ada di tubuhnya perlahan membara dengan kekuatan yang luar biasa. Auranya bahkan jauh lebih kuat dari yang sebelumnya hingga dapat terasa di kulit mereka. Entah apa yang terjadi padanya, namun sepertinya itu bukan pertanda yang baik.


 


“(Apa pun itu, aku harus waspada...!)” Ujar Leo dalam hatinya menguatkan diri.


 


Setelah mengamuk beberapa saat, aura itu perlahan mereda kembali ke dalam dirinya. Suara geramannya yang sebelumnya menggema kini menghilang bersama dengan hilangnya aura yang menyelimuti tubuhnya.


 


“Apa yang terjadi...? Aku tidak merasakan auranya lagi... Apa mungkin dia pingsan...?” Ujar Roselia dengan ekspresi curiga.


 


“Aku tidak yakin, tapi kurasa dia terdiam karena membiasakan diri...” Balas Leo dengan ekspresi ragu.


 


“Kalau begitu, ini adalah kesempatan yang bagus untuk menghabisinya!” Balas Roselia dengan nada semangat.


 


Namun, ketika Roselia berniat menyerang, secara mengejutkan suara aneh terdengar dari tubuh monster itu. Ia lantas menghentikan niatnya begitu menyadarinya sesaat sebelum monster itu bangkit mengejutkan mereka berdua.


 


“Grrrr...!”


 


“....!!”


 


“...?!”


 


Ketika monster itu bangkit, terlihat perubahan aneh pada tubuhnya. Kulit pada kedua cakar bagian depannya perlahan mengelupas tergantikan oleh sisik bersamaan dengan tumbuhnya cakar baru yang jauh lebih panjang dan besar. Bersamaan dengan hal itu, sepasang tanduk mirip dengan tanduk kambing tumbuh tepat di antara kedua telinganya menjadikannya jauh lebih aneh.


 


“T-Tanduk itu...! Jangan katakan itu tanduk kambing...!” Ujar Roselia dengan ekspresi terkejut menunjuknya.


 


“Dan cakar itu... Tidak salah lagi itu adalah cakar Wyvern... Dengan kata lain, dia menyerap ciri fisik kepala hewan yang dipenggal darinya...” Balas Leo dengan ekspresi sinis.


 


“Bagaimana mungkin hal itu terjadi...!” Balas Roselia melihat ke arah Leo pucat.


 


“Jika aku tahu, aku tidak akan diam terperanga sepertimu.”


 


Dengan wujud barunya, monster itu meraung dengan suara yang keras hingga membuat seluruh tempat itu berguncang. Tidak hanya menyerap wujud fisik binatang yang sebelumnya menjadi bagian tubuhnya, ia juga turut menyerap kekuatan mereka. Itulah alasan mengapa dia bisa menyemburkan api dan menggunakan medan sihir meski kedua kepala pemilik kemampuan itu telah dipenggal. Dengan wujud barunya ini, kini masalah mereka menjadi bertambah rumit.


 


“Grrrrr....!”


 


“H-Hey, perampok makam, perasaanku tidak enak... Apa yang harus kita lakukan sekarang...?” Tanya Roselia dengan ekspresi pucat.


 


“.....”


 


“Grrrrr...! Rrrrr....!”


 


“O-Oi! Pikirkan sesuatu atau kita berdua akan terbunuh...!” Sambung Roselia dengan nada putus asa.


 


Dalam keadaan itu, Leo pada akhirnya mengambil keputusan berat untuk bertarung serius menggunakan seluruh kekuatannya. Demi mengalahkannya, ia terpaksa mengerahkan kekuatan penuhnya meski ia tahu hal itu tidak akan mudah. Mungkin ia akan kehabisan tenaga ketika membuka pintu itu, namun jika ia mati sebelum bisa membukanya sama saja dengan mati sia-sia.


 


“(Aku awalnya tidak ingin melakukan ini, tapi sepertinya aku tidak punya pilihan lain saat ini...)” Ujar Leo dalam hatinya mematangkan keputusannya.


 


Ia akan mengambil risiko sama seperti cara bertarungnya yang biasa karena itu satu-satunya yang bisa ia lakukan saat ini. Meski sempat khawatir Roselia akan mengingkari perjanjian mereka, namun setelah melihat perilakunya selama ini, ia yakin bisa mempercayainya. Setidaknya sampai mereka berdua keluar dari sini, dia adalah rekan yang biasa diandalkan.


 


“H-Hey...! Lakukan sesuatu...! Aku mulai takut...!” Ujar Roselia putus asa dengan nada tinggi.


 


“Aku punya rencana, tapi mungkin ini tidak akan mudah...” Balas Leo melihat ke arahnya dengan ekspresi serius.


 


“E-Eh...?”


 


“Meski kita adalah musuh, tapi aku perlu bantuanmu. Maukah kau membantuku?”


 


Roselia terdiam untuk beberapa saat mendengar ucapannya. Ia memikirkan sejenak tawaran Leo sebelum akhirnya setuju untuk membantunya.


 


“.... Tentu saja! Aku tidak ingin mati di tempat seperti ini!” Jawab Roselia dengan nada yakin.


 


“Baguslah. Sekarang, kita yang akan menyerang...” Sambung Leo sebelum menatap monster itu.


 


“Y-Ya! Aku menyerahkannya kepadamu!” Balas Roselia dengan ekspresi gugup.


 


Leo memberitahukan rencananya kepadanya ketika monster itu perlahan menghampiri mereka.


 


“... Jadi, apa kau mengerti?” Tanya Leo berbisik kepadanya.


 


“Uh... Aku tidak yakin itu akan berhasil, tapi saat ini kita tidak punya pilihan lain...! Ayo kita lakukan...!” Balas Roselia dengan nada tinggi.


 


Monster itu melompat ke udara menyemburkan apinya sambil mencoba menerkam mereka. Melihat hal itu, Leo dan Roselia lantas berpencar menghindari serangan itu sebelum memulai rencana mereka. Cakar monster itu mengoyak lantai ketika ia melihat mereka berdua berhasil menghindari serangan pembukanya.


 


“Grrrr...!”


 


Tak berselang, Leo kembali ke hadapannya dan menyerang secara langsung ketika Roselia dari kejauhan mencoba membantunya. Dengan mudahnya monster itu menghindari serangan Leo ketika ia melihat Roselia mulai melemparkan belati airnya. Ia menghindari kedua serangan itu sekaligus dengan mudahnya sesaat sebelum ia menyerang balik dengan menyemburkan apinya ke arah Roselia.


 


“....?!”


 


Api dengan cepat menuju ke arahnya, namun ketika semburan apinya nyaris mencapainya, Leo secara mengejutkan menghentikannya dengan mendaratkan tendangan tepat di kepalanya yang mana membelokkan arah nafasnya. Api itu seketika berbelok sesaat sebelum monster itu kembali berhadapan bertatapan dengan Leo yang kini mendesaknya.

__ADS_1


 


“Lawanmu ada di sini...!” Ujar Leo marah.


 


Leo kembali melayangkan tendangannya yang mana membuat monster itu terpukul mundur hingga perhatiannya kembali padanya. Kesal karena Leo menghalanginya, monster itu pun melancarkan seluruh serangannya berfokus padanya sekaligus melepaskan perhatiannya dari Roselia.


 


“(D-Dia melindungiku...! Ini adalah kesempatanku...!)” Ujar Roselia dalam hatinya semangat.


 


Tepat ketika perhatian monster itu kembali pada Leo, ia lantas melemparkan belati terakhirnya sesaat sebelum ia menghampiri Leo untuk membantunya. Dengan pedang airnya, ia melesat dari samping mengacaukan serangan monster itu ketika ia hendak menyerang Leo.


 


“Haaa...!”


 


Pedangnya menusuk tubuh monster itu ketika ia terkejut oleh serangannya. Sambil meraung kesakitan, monster itu berusaha melawan dengan mengibaskan ekor ularnya, namun sebelum hal itu terjadi, Leo sekali lagi menghempaskannya mundur dengan tendangannya.


 


“Grrrr...!! Rrrr...!!”


 


Ia terseret mundur sejauh beberapa meter dari mereka tepat masuk ke dalam formasi belati yang Roselia ciptakan sebelumnya seperti yang telah mereka rencanakan.


 


“Sekarang...!” Seru Leo serentak.


 


Tepat ketika Leo mengatakannya, Roselia merapalkan mantranya.


 


“Arts Seal...!”


 


Belati-belati air itu menyala secara bersamaan sesaat sebelum mereka saling terhubung menciptakan sebuah penghalang yang menjebak monster itu di dalamnya.


 


“Rrrrr....!!”


 


Terkejut karena masuk dalam jebakan mereka, monster itu lantas berusaha melepaskan diri dengan menyerang penghalang itu dengan kekuatannya. Ia mencakar dan menyemburkan apinya dengan harapan dapat menghancurkannya, namun sayang semua usahanya sia-sia karena penghalang itu lebih kuat dari yang ia pikirkan.


 


“Grrrr...!! Rrrrrr...!!!”


 


“Dia sudah masuk, sekarang saatnya...!” Ujar Leo memberi sinyal kepada Roselia.


 


“Ya...!”


 


Roselia kembali merapalkan mantranya ketika Leo bersiap di posisinya.


 


“Dari kedalaman lautan, aku memanggilmu wahai denyut samudra, berikanlah kekuatanmu kepadaku...”


 


Lingkaran sihir tercipta tepat di bawah kakinya ketika monster itu terkejut menyadarinya. Ia lantas mengerahkan seluruh kekuatannya untuk membebaskan diri dari kurungan tersebut sebelum Roselia menyelesaikan mantranya.


 


“Rrrrrr...!!!”


 


“Roselia...!!”


 


“Aqua Gravitia.”


 


Namun, monster itu sudah terlambat. Air bah secara mengejutkan datang menimpanya dari atas menyiramnya dengan kekuatan yang luar biasa. Monster itu seketika tertunduk menghantam lantai ketika menerima siraman air sekuat itu. Ia bahkan tidak mampu bergerak karena penghalang itu menghalangi jalan keluarnya air sehingga menjebaknya bersama dengan semua air itu di dalamnya. Dengan kata lain, dia telah masuk dalam jebakan kedalaman laut.


 


 


Dengan sekuat tenaga, monster itu mencoba menggerakkan tubuhnya melawan tekanan arus yang kuat itu. Namun, karena terlalu kuat, ia akhirnya tidak mampu berbuat banyak.


 


“G-Giliranmu, perampok makam...!” Ujar Roselia dengan nada berat.


 


Leo lantas berlari menuju arahnya setelah Roselia memberikan tanda kepadanya. Di saat yang sama, ia memusatkan sihirnya pada bilah pedangnya menciptakan kilatan cahaya yang seketika menerangi ruangan menyertai suara gemuruh petir yang menggelegar. Kekuatannya bertambah besar setiap kali ia mendekatinya hingga membuat Roselia yang menyaksikannya terkesima dibuatnya.


 


“(H-Hebat...! Selama ini dia menyimpan sihirnya...! Kekuatan sihirnya bahkan lebih besar dari yang kukira...! Dengan serangan itu, aku yakin dia bisa membunuhnya...!)” Ujar Roselia dalam hatinya yakin kepadanya.


 


Ketika Leo memasuki jarak serangnya, Roselia melepaskan penghalang dan mantra sihirnya untuk memberinya ruang untuk menyerang. Seketika itu pula, air yang ada di dalam penghalang itu lenyap menjadi kabut asap bersamaan dengan belati air yang menjadi titik penyekatnya menyisakan monster itu dalam keadaan tidak berdaya sesaat sebelum Leo mengerahkan serangannya.


 


“Haaa...!!!”


 


Leo mengayunkan pedangnya yang mana menciptakan kilatan cahaya yang membutakan pandangan sesaat sebelum suara gemuruh petir menggelegar ke seluruh ruangan. Ledakan kuat dari petir seketika menelan monster itu ketika Leo mengayunkan pedangnya padanya. Seluruh tempat itu berguncang oleh ledakan itu hingga membuat Roselia yang menyaksikannya ikut terkena imbasnya.


 


“Hgnhh...!!”


 


Ia terhempas jatuh akibat tekanan udara yang dihasilkan oleh ledakan itu hingga memaksanya untuk meringkuk dan bertahan. Serangan Leo memang sangat kuat, namun ketika Roselia membuka matanya, ia seketika terkejut menyaksikan kenyataan di depan matanya.


 


“A—“


 


Serangan Leo tertahan oleh medan sihir yang melindungi tubuhnya. Roselia hanya bisa terperanga menyaksikan hal itu ketika Leo bertahan dengan serangannya.


 


“Hnghh...! Haaa...!!”


 


Meski serangannya tertahan, Leo masih belum menyerah. Ia mengerahkan segenap kekuatannya pada bilah pedangnya untuk menghancurkan medan sihirnya. Kilatan petir menyambar ke segala arah ketika Leo perlahan kehilangan kekuatannya hingga membuat Roselia yang menyaksikannya terdiam takjub akan perjuangannya. Ia menolak untuk menyerah meski kekuatan yang dimilikinya berbalik melukai dirinya sendiri akibat penggunaan sihir yang berlebihan.


 


“(Sial...! Aku belum pernah memakai sihir sebanyak ini sebelumnya...! Tubuhku seperti mati rasa...! Aku tidak bisa merasakan tanganku lagi...!)” Ujar Leo dalam hatinya menahan sakit.


 


Meski begitu, ia masih belum menyerah. Sampai ia bisa menghancurkan medan sihirnya, ia tidak akan menyerah meski harus mengorbankan tubuhnya sendiri untuk melakukannya.


 


“Rambut putih...! Hentikan...! Kau akan melukai dirimu...!” Seru Roselia dengan ekspresi cemas.


 


“Haaaaa...!!!”


 


Leo mengerahkan seluruh tenaganya yang mana perlahan mengikir medan sihirnya. Pedang Leo perlahan-lahan menembus pertahanannya ketika monster itu menggeram marah menyaksikannya. Ia mulai merasakan kilatan petir menyambar masuk mengenai tubuhnya ketika Leo hampir menjangkaunya.


 


“Grrrrr...!!”


 


“Haaaa...!!!”


 


Hingga pada akhirnya, setelah mengerahkan segenap kekuatannya, Leo berhasil menembus medan sihirnya dengan pedangnya sesaat sebelum ia secara tiba-tiba terhenti karena merasakan sakit yang luar biasa pada tubuhnya.


 


“Ugh...!!”


 


Darah mengalir keluar dari mulutnya sebagai dampak dari penggunaan sihirnya yang berlebihan ketika ia berniat mendaratkan serangannya pada monster itu. Rasa sakit yang luar bisa menyerang tubuhnya hingga membuatnya membeku di tempat ketika Roselia yang melihatnya kebingungan dengan tingkah Leo yang mendadak berubah.


 


“(Apa yang dia lakukan...! Dia hanya tinggal mendaratkan pedangnya pada monster itu...!)” Ujar Roselia dalam hatinya geram.

__ADS_1


 


Entah apa yang ada di pikirannya, namun karena hal itu, kini monster itu yang mendapatkan keuntungan. Setelah bersusah payah menembus pertahanan sihirnya ia pasti kelelahan dan kehilangan sebagian kekuatannya. Dengan kata lain, ini adalah saat yang tepat untuk menyerangnya. Ia lantas mengayunkan cakarnya pada Leo tepat ketika dia tidak bisa menghindarinya.


 


“Ugh...!!”


 


“Rambut putih...!!”


 


Leo terlempar sejauh beberapa meter sebelum akhirnya menghantam lantai dengan sejumlah luka sayatan di tubuhnya akibat cakar tajamnya. Ia lantas menghampirinya yang dalam keadaan tidak berdaya berniat menghabisinya ketika Roselia yang menyaksikannya mencoba menyelamatkannya. Dengan pedang airnya, ia berlari ke arah mereka berniat menyerang monster itu ketika dia lengah. Akan tetapi...


 


“....?! Roselia, hentika—“


 


“Haaaa...!!”


 


Tepat ketika ia hendak berniat menghunuskan pedangnya ke arah monster itu, ekor ularnya menyemburkan bisa ke arahnya yang tepat mengenai matanya. Seketika itu pula Roselia terjatuh ke lantai sambil merintih kesakitan memegangi matanya.


 


“Kyaaah...!! M-Mataku...!! Mataku terbakar...!! T-Tolong aku...!! Siapa pun tolong aku...!! Lepaskan ini dariku...!!” Seru Roselia berteriak kesakitan.


 


Melihat hal itu, Leo berusaha untuk membantu, namun sayangnya akibat menggunakan sihirnya yang berlebihan ia tidak bisa banyak bergerak. Efek samping sihirnya membuat tubuhnya kaku dan mati rasa hingga sulit untuk digerakkan. Sementara itu, pada saat yang sama, monster itu perlahan menghampiri Roselia yang tidak berdaya berniat mengakhirinya ketika Leo berusaha sekuat tenaga menggerakkan tubuhnya untuk mencegahnya.


 


“(S-Sial...! Aku tidak bisa bergerak...! Jika terus seperti ini, aku yang akan selanjutnya mati...!)” Ujar Leo dalam hatinya kesal.


 


Monster itu menangkap Roselia dengan cakarnya, menahannya di atas lantai ketika Leo perlahan mendapatkan kembali indra perasanya.


 


“Ugh...! B-Bergeraklah...! Arghhh...!!” Ujar Leo dengan nada tercekik perlahan menggerakkan tangannya.


Roselia yang panik seketika terdiam menyadari bahwa monster itu sudah menangkapnya. Wajahnya langsung berubah pucat ketika hembusan nafas monster itu menyentuh kulit lehernya menandakan bahwa ia berada dalam cengkramannya.


 


“T-T-Tolong...! R-Rambut putih tolong aku...! Aku tidak mau mati...! Aku tidak mau mati seperti ini...! Tolong aku...! Kumohon tolong aku...!” Ujar Roselia putus asa dengan nada lemah.


 


“Grrr....”


 


“K-K-Kumohon...! Kumohon...! Kumohon...! Tolong aku...! Tolong aku..! Tolong aku...! Rosetta tolong aku...!!” Sambung Roselia berteriak histeris.


 


Leo akhirnya berhasil menggerakkan tubuhnya dan mengambil pedangnya. Akan tetapi, ketika ia berhasil melakukannya, ia sudah terlambat. Monster itu mengoyak lehernya ketika Roselia berteriak putus asa meminta pertolongan sesaat sebelum akhirnya ia tewas dalam gigitannya. Suara teriakannya seketika terhenti sebelum akhirnya kesunyian menelannya dalam kegelapan ketika monster itu melempar sisa bagian tubuhnya ke arah Leo yang menyaksikannya. Dengan ekspresi panik, Leo hanya bisa terdiam membisu melihat potongan kepalanya yang tewas dalam ekspresi ketakutan ketika monster itu perlahan menghampirinya.


 


“Grrrr....”


 


“....!!”


 


Sambil menjilat darah di mulutnya, monster itu menghampiri Leo yang hanya tinggal seorang diri. Dengan kondisinya sekarang, rasanya akan sangat mustahil melawannya yang kini telah sepenuhnya menguasai kemampuannya.


 


“(Ini tidak bagus... Dengan kondisiku sekarang, aku tidak yakin bisa kembali bertarung... Aku juga belum bisa memakai sihirku lagi...)” Ujar Leo dalam hatinya panik.


 


Ini adalah keadaan terburuknya. Dengan kekuatan fisiknya yang terbatas dan kehilangan kemampuan sihirnya, ia sudah berada di ujung. Jika monster itu menyerangnya, ia ragu bisa bertahan menerimanya.


 


Selagi monster itu berjalan mengintimidasinya dengan suara geramannya yang mengerikan, Leo memikirkan cara untuk bisa melawannya meski ia dalam keadaan terpuruk. Ia mencoba mengingat kembali kejadian ketika ia masih menjadi bagian dari pemburu Thearian dengan harapan menemukan cara yang dapat membantunya.


 


“(Berpikir...! Ayo berpikir...! Tidak ada waktu untuk putus asa sekarang...! Pasti ada yang bisa kulakukan untuk melawan balik...!)” Ujar Leo dalam hatinya mengerahkan segenap pikirannya.


 


Namun, pada saat yang sama, monster itu melompat ke arahnya mengayunkan cakarnya ketika Leo dengan cepat mengambil pedangnya dan menyerangnya sebelum dia mendaratkan serangannya. Namun, sayangnya, serangannya terpaksa gagal karena monster menangkisnya menggunakan medan sihirnya yang membuatnya terlempar bersama pedangnya hingga terpisah satu sama lain.


 


“Ugh...! S-Sial...!” Gumam Leo dengan nada kesal.


 


Ia pun mencoba mengambil kembali pedangnya ketika monster itu mencoba mencegahnya melakukannya. Monster itu menerkamnya ketika Leo nyaris menggapai pedangnya hingga membuatnya berada dalam kondisi mematikan berada tepat di hadapan mulutnya yang terbuka siap mengoyak tubuhnya. Monster itu menahannya dengan satu kakinya ketika Leo menahan rahangnya yang terbuka dengan lengannya.


 


“Grrrrr...!”


 


“Arghh...!!”


 


Leo tidak punya pilihan lain selain mengorbankan lengannya sendiri sebagai penahan rahangnya. Meski hal itu menyebabkan lengannya terluka cukup parah, namun setidaknya ia berhasil menghindari gigitannya yang mematikan mengenai dirinya.


 


“(S-Sial...! Gigitannya bahkan setara Drake...! Jika terus seperti ini, aku akan kehilangan lenganku...!)” Ujar Leo dalam hatinya panik.


 


Monster itu semakin menutup rahangnya yang mana membuat lengan Leo semakin tersiksa. Darah mulai mengucur keluar membasahi lengan bajunya ketika monster itu mulai mengibaskan kepalanya berniat melepaskan lengannya.


 


“Arghhh..!! Aaaaahhhh...!!”


 


Sambil menahan rasa sakit yang luar biasa, Leo mencoba tetap bertahan meski monster itu bersikeras menyiksanya. Hal itu membuatnya marah dan memutuskan mengambil jalan tengah dengan menggunakan salah satu dari kemampuan serapannya.


 


“....?!!”


 


Leo seketika panik mengetahui bahwa monster itu tengah menarik nafas dalam berniat mengerahkan nafas apinya. Ini akan berbahaya baginya jika mengenainya dalam jarak ini. Ia sudah dipastikan akan tewas jika menerimanya.


 


“(Ini yang terburuk dari yang bisa kupikirkan...!)” Ujar Leo dalam hatinya panik.


 


Percikan api disertai suhu panas mulai terasa di lengannya, hal ini menandakan bahwa monster itu siap membakarnya. Melihat hal ini, Leo berusaha menggapai pedangnya sebelum dia melepaskan nafas apinya. Dengan bersusah payah ia berusaha menggapai pedangnya yang hanya berjarak beberapa senti dari jarinya.


 


“Grrrrr....”


 


“....!!”


 


Kobaran api mulai terlihat dari kerongkongannya tepat ketika Leo panik menyaksikan. Namun, tepat sebelum api itu keluar, Leo berhasil mendapatkan pedangnya sesaat sebelum ia menggunakannya untuk menusuk lehernya yang mana membuat nafasnya seketika terputus.


 


“....!!”


 


“Haaa...!!”


 


Dengan sisa tenaganya, Leo menghunuskan pedangnya lebih dalam ke lehernya. Di sisi lain, monster yang merasa kesakitan lantas mencengkram tubuh Leo dengan lebih kuat menggunakan cakarnya hingga membuatnya seketika memuntahkan darah. Namun, meski begitu, ia masih belum menyerah dan terus menghunuskan pedangnya.


 


Hingga pada akhirnya, pedang Leo menembus sisi lain leher monster itu membuatnya meraung kesakitan sesaat sebelum akhirnya dia tewas akibat pendarahan pada saluran pernafasannya. Monster itu akhirnya kehilangan kekuatannya ketika Leo perlahan mencabut pedangnya dari lehernya sesaat sebelum monster itu tumbang berlumuran darah menyisakan Leo seorang diri tertimbun mayatnya.


 


“Hah...! Hah...! Hah...!”


 


Dengan nafas berat, Leo mencoba melepaskan diri dari jasadnya. Dengan sisa tenaganya, ia akhirnya dapat melepaskan diri meski dalam keadaan berlumuran darahnya. Ia bangkit pun bangkit tak lama setelahnya dengan kondisi sempoyongan sesaat sebelum ia melihat ke arah jasadnya yang terkulai tidak berdaya sambil menghela nafas panjang.


 


“Sudah... Berakhir... Semuanya sudah... Berakhir...” Gumam Leo dengan nada lemah.


 


Ia akhirnya mengalahkannya. Meski itu bukan pertarungan yang mudah, pada akhirnya ia berhasil mengalahkannya. Bersamaan dengan terbunuhnya monster itu, segel yang menahan pintu raksasa itu menghilang sesaat sebelum pintu itu terbuka menyisakan jawaban atas pertanyaannya selama ini.

__ADS_1


__ADS_2