
... ...
Sontak Gald dan yang lainnya terkejut melihat selama ini mereka berdiri di atas sebuah lingkaran sihir besar yang membentang di seluruh lantai yang mereka pijaki selama ini. Dengan ekspresi panik, mereka sebisa mungkin berusaha menjauh darinya sebelum sihir itu melakukan sesuatu kepada mereka.
“I-Ini... Sihir...! Sejak kapan...!” Ujar Chrea terkejut dan panik.
“Jangan-jangan ini jebakan...! Semuanya segera tinggalkan tempat ini...!” Sambung Gald memberi perintah.
Namun, saat mereka hendak berniat menuju tangga, Leo menghentikan mereka.
“Tunggu...! Ini bukan sihir aktif... Ini hanya lingkaran sihir yang diukir...” Ujar Leo mencoba menenangkan mereka.
“T-Tunggu, apa...? Apa yang barusan kau katakan...?” Balas Zen terkejut dan bingung.
“Ini bukan sihir aktif, meski aku tidak tahu ini jebakan atau bukan, tetapi tenang saja, ini adalah sihir yang belum diaktifkan...” Balas Leo menjelaskan kepada mereka.
“B-Benarkah..? Apa kau yakin ini aman...?” Sambung Gald bertanya.
“Ya. Buktinya aku masih baik-baik saja, lihat.” Jawab Leo meyakinkannya.
Meski mengatakan itu, Leo sebenarnya juga ragu mengenai sihir apa sebenarnya yang terukir di bawah kakinya ini. Tidak seperti kebanyakan sihir yang pernah ia lihat, lingkaran sihir ini menggunakan huruf sihir yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Namun, untuk berjaga-jaga dari yang hal buruk yang mungkin terjadi, Leo menyuruh mereka semua berada di tempat untuk sementara waktu sampai ia dan Lia memastikan keamanannya.
“Baiklah, kami akan kembali...” Ujar Gald menuruni tangga.
“Tidak, tunggu di sana. Untuk berjaga-jaga, tetaplah di sana. Kita tidak tahu sihir macam apa ini, namun jika terjadi sesuatu aku akan menyerahkan sisanya kepadamu.” Balas Leo mencegahnya turun.
“Tunggu, apa maksudmu...? Jangan katakan...!” Balas Gald sebelum terkejut menyadari maksud Leo.
“Ya. Aku akan mencoba mengaktifkannya.” Jawab Leo dengan wajah serius.
Mendengar hal tersebut, Gald dan yang lainnya mencoba menghentikan niatnya.
“Leonard-san, jangan lakukan itu...! Itu terlalu berbahaya...!” Ujar Kirishima dengan wajah cemas.
“Oi. Oi. Apa kau bercanda? Karena ini tidak lucu...” Sambung Zen dengan nada panik.
“Ya. Aku tahu itu, tapi kita tidak akan tahu sampai kita mencobanya.” Balas Leo menunduk melihat lingkaran sihir di bawah kakinya.
“Apa kita harus melakukan ini...? Pasti ada cara lain, bukan?” Ujar Gald mencoba mengurungkan niat Leo.
“Leonard-san, kami tidak bisa membiarkanmu melakukannya!” Sambung Chrea berusaha menghentikannya.
Saat semua berusaha menghentikannya, Leo tetap berpegang teguh pada keputusannya. Mamang benar jika hal yang akan dilakukannya terlalu berbahaya, namun jika hanya sebatas bahaya saja, ia sudah mengalaminya sejak ia masih kecil. Ia telah mengalami semua hal berbahaya saat ia bertarung sebagai Thearian di kampung halamannya. Hal ini masih belum seberapa dibandingkan dengan pengalaman buruknya yang sering bertugas sebagai umpan monster.
“Lia, maaf tapi, aku juga harus menyuruhmu menyingkir. Ini adalah pekerjaan yang berbahaya...” Ujar Leo melihat ke arah Lia.
“Eh...? Kenapa...?” Balas Lia dengan wajah sedih.
“Aku... Aku tidak ingin kau ikut terluka... Jika benar ini adalah jebakan, maka kau akan terkena imbasnya jika masih berada di sini. Sebaiknya kau ikut bersama mereka...” Balas Leo dengan nada serius.
“....”
“Jangan khawatir, aku sudah terbiasa menerima tugas semacam ini. Aku akan berhati-hati, jadi pastikan kau selalu mengawasiku, mengerti?” Sambung Leo berusaha meyakinkannya.
Lia terdiam sejenak sebelum akhirnya memutuskan untuk percaya dengannya. Ia pun menganggukkan kepalanya setuju dan menuruti ucapannya.
“... Mm. Aku mengerti. Tapi, tolong berhati-hatilah.” Ujar Lia mengangguk sebelum memberi Leo peringatan.
“Ya. Aku tahu. Dan sebelum itu, bolehkan aku meminta sedikit bantuan...?” Balas Leo yakin sebelum meminta kepadanya.
“...?”
“Mungkin agak memalukan mengatakan ini, tapi... Sebenarnya aku tidak bisa menggunakan sihir sama sekali. Jadi, bisakah kau mengaktifkan lingkaran sihir ini untukku...?” Sambung Leo dengan nada gugup.
Leo memang menyembunyikannya selama ini, namun sebenarnya ia tidak bisa menggunakan sihir. Umumnya, semua orang memiliki kekuatan sihir di dalam tubuh mereka meski bukan seorang penyihir. Hanya saja, tidak semua orang bisa dengan mudah mengendalikan sihir yang ada di dalam tubuh mereka sepenuhnya, namun setidaknya mereka masih dapat menggunakan sebagian kecil dari kekuatan sihir itu untuk hal-hal sederhana. Lain halnya dengan Leo, ia sama sekali tidak bisa menggunakan kekuatan sihir yang ada di dalam tubuhnya. Bahkan untuk hal paling sederhana seperti mengaktifkan mantra atau menyalurkan sihirnya pada objek tertentu ia tidak bisa. Ia tidak tahu mengapa hal itu bisa terjadi, meski ia sudah berlatih dan belajar, hal itu sama sekali tidak membuahkan hasil. Dan itulah mengapa ia meminta bantuan Lia untuk mengaktifkan lingkaran sihir tersebut.
“.... Mm. Baiklah.” Jawab Lia mengangguk.
“Terima kasih banyak, Lia... Aku mengandalkanmu...” Balas Leo tersenyum lega.
Setelah setuju, Lia akhirnya mengaktifkan sihir itu menggunakan kekuatan sihirnya. Perlahan, lingkaran sihir itu mulai menyala ketika mereka semua takjub dibuatnya. Obor kristal yang ada di sekeliling ruangan perlahan berkedip menunjukkan adanya sihir lain yang mengganggu kestabilannya. Leo pun ikut takjub menyadari kekuatan sihir besar yang Lia kerahkan untuk mengaktifkannya.
“(Luar biasa... Kekuatan sihir Lia sangat kuat sama seperti mereka...)” Ujar Leo dalam hatinya terkesima.
Kekuatan sihir yang Lia miliki bisa dikatakan setara dengan seorang Ksatria Suci. Meski ia tidak tahu cara menggunakan sihir, ia tetap bisa merasakan seberapa kuat kekuatan sihir seseorang hanya dengan merasakannya. Itu semua berkat latihan dan lingkungan kerasnya yang memaksanya mengembangkan kemampuan ini guna melawan monster yang senantiasa menyerang desanya.
Bersamaan dengan aktifnya sihir tersebut, seisi ruangan seketika berubah. Dinding yang semula hanya kosong tanpa ada yang mewarnainya kini berubah dipenuhi dengan ornamen kuno. Dan pada saat yang sama pula, sebuah pintu dari besi muncul tepat di hadapan mereka ketika secara perlahan cahaya dari lingkaran sihir itu meredup menyisakan mereka terperanga dengan pemandangan yang berubah drastis dari yang mereka lihat sebelumnya.
“R-Ruangannya... Berubah!” Ujar Zen terkesima.
“Sihir itu merubah tempat ini...! Tidak, kurasa bukan...!” Sambung Gald mengamati perubahannya tercengang.
“H-Hebat...!” Gumam Chrea terpukau.
“Seperti sihir ilusi saja...” Ujar Kirishima ikut terpukau.
Dari apa yang Leo lihat, sihir itu tidak merubah rupa ruangan, melainkan menunjukkan wujud aslinya kepada mereka. Sepertinya orang-orang kuno itu sengaja menyembunyikannya guna mengelabui orang-orang yang berniat menyelidiki rahasia mereka.
“Begitu ya, jadi mereka memang sengaja menyembunyikannya...” Gumam Leo sambil menghela nafas singkat.
Setelah semuanya berakhir, Lia pun mengambil nafas dalam sebelum menghembuskannya secara perlahan sebelum perlahan membuka matanya dengan anggun ketika Leo menghampirinya.
“Terima kasih atas bantuanmu, Lia... Bagaimana keadaanmu...?” Tanya Leo tersenyum lembut menghampirinya.
“... Mm. Aku baik-baik saja. Ini bukan masalah besar.” Balas Lia mengangguk.
__ADS_1
“Meski begitu, aku tidak mengira kau memiliki kekuatan sihir sebanyak itu... Jika kau tidak belajar pedang, mungkin kau bisa jadi penyihir...” Balas Leo memujinya.
“....”
“Yah, berkatmu kita bisa mengetahui bahwa sihir itu bukanlah jebakan. Sekarang sisanya...” Sambung Leo melihat ke arah pintu besi itu.
Saat Leo berusaha membuka pintu besi tersebut, secara mengejutkan lingkaran sihir menahan tangannya untuk menyentuhnya. Tangannya terlempar begitu ia berusaha menggapainya sesaat sebelum Lia menghampirinya dengan wajah cemas.
“Leo...! Kau baik-baik saja..?” Ujar Lia spontan menghampiri.
“Uh... Ya, aku baik-baik saja. Aku hanya terkejut, tidak kusangka ada sihir pelindung yang melindungi pintu ini...” Balas Leo mengibaskan tangannya.
“Masih ada sihir yang lain...?” Gumam Lia dengan wajah bingung.
Bersamaan dengan hal itu, sebuah sihir muncul pada pintu tersebut sebelum Leo merasakan perasaan yang aneh pada udara di sekitarnya.
“(Tunggu...! Perasaan apa ini...! Aku merasakan ada sesuatu yang buruk akan datang...!)” Ujar Leo dalam hatinya panik.
Tepat ketika Leo mengatakannya, sebuah lingkaran sihir pemanggil muncul tepat di bawah kakinya. Sontak semua yang menyaksikannya terkejut sesaat sebelum sebuah tangan mekanik sebesar tubuh manusia keluar dari dalam sihir tersebut berusaha menangkapnya.
“Leo...!” Seru Lia panik.
“Leonard...!” Ujar Gald terkejut menyaksikannya.
Menyadari hal itu, Leo seketika melompat mundur sebelum tangan mekanik itu berhasil menyentuhnya ketika ia menarik pedangnya dan berbalik mengayunkan serangan kepadanya.
“Haaa...!”
Ia mengerahkan segenap kekuatannya untuk memotongnya dengan satu serangan, namun tepat ketika pedangnya menghantam lengan itu, serangannya hanya tertahan tanpa mampu menembusnya. Seketika itu pula suara benturan logam menggelegar ke seluruh ruangan menggetarkan telinga yang mendengarnya.
“(Tch. Ini bukan sekedar logam biasa...!)” Ujar Leo dalam hatinya kesal.
Serangan Leo sama sekali tidak menggoresnya, menandakan bahwa materialnya jauh lebih keras dari yang terlihat. Ia pun memikirkan kembali rencananya yang semula berniat memotong lengannya sebelum makhluk itu sepenuhnya menunjukkan diri.
“Tehnik pedang: Leaves Slash.”
Selang beberapa saat, Lia ikut melancarkan serangan sihirnya pada lengan mekanik tersebut. Dengan pedangnya yang menyala merah tua, ia berniat memotong lengan itu sama seperti yang Leo rencanakan awalnya.
“....!”
Akan tetapi, tepat sebelum pedang Lia menyentuhnya, secara mengejutkan sebuah medan sihir tercipta di sekitar lengannya dan menghalau serangan Lia. Sontak ledakan tercipta begitu sihir Lia menyentuh medan sihir tersebut hingga membuat mereka berdua terhempas ke dinding yang masing-masing berada di belakang mereka.
“Alicia...! Leonard...!” Seru Gald dan Zen bersamaan.
“Alicia-san...! Leonard-san...!” Ujar Kirishima dan Chrea bersamaan.
Mereka terjatuh ke lantai setelah menghantam dinding sesaat sebelum makhluk mekanik itu menunjukkan tubuh aslinya.
“B-Benar-benar mengerikan...!” Sambung Chrea sambil panik menutupi mulutnya.
“Apa-apaan... Itu...!” Gumam Zen terkesima.
Mereka semua terkejut melihat penampilan makhluk tersebut. Dibalik lengan mekaniknya yang menakutkan, tersimpan tubuh asli yang jauh lebih mengerikan. Manusia, atau setidaknya kurang dari sepertiga tubuhnya adalah tubuh manusia asli yang dijadikan satu dengan mesin. Hampir seluruh tubuhnya adalah mesin, kecuali kepala, lengan kiri dan jantungnya yang sengaja ditutup menggunakan kaca agar dapat dilihat secara langsung. Jelas saja pemandangan mengerikan ini membuat mereka berempat ketakutan, bahkan nyaris pingsan menyaksikannya.
“S-Shima...! B-Bertahanlah...!” Ujar Chrea panik menangkap Kirishima yang mendadak ingin jatuh.
“A-Ada apa dengannya...! Kirishima, apa yang terjadi padamu...! Kau baik-baik saja..?!” Tanya Gald panik melihat ke arah Kirishima.
Kirishima yang lemas berusaha untuk mengabaikan pandangannya dari makhluk tersebut, namun sayangnya ia gagal karena Leo dan Lia masih di sana. Ia cemas kepada mereka berdua, namun ia pada akhirnya ia tidak mampu berbuat banyak karena keadaannya sendiri.
“L-Leonard-san...! Alicia-san...! K-Kita... Harus membantu... Mereka...!” Bisik Kirishima dengan nada lemah.
“...! Benar juga...! Kita harus segera membantu mereka...!” Balas Gald terkejut melihat ke arah mereka berdua.
Makhluk itu perlahan memerhatikan sekitarnya ketika Leo perlahan bangun dari posisi awalnya. Pandangannya seketika tertuju kepadanya yang baru saja bangkit sebelum akhirnya melancarkan serangan.
“....!”
Jari-jari mekaniknya bertransformasi menjadi bilah-bilah pisau ketika ia mengayunkannya ke arahnya. Leo yang menyadarinya lantas menghindar sebelum makhluk itu kembali menyerangnya dengan cara yang sama. Dia menyerang dengan ganasnya hingga membuat Leo tidak mampu berbuat hal lain selain menghindar.
“(Sial...! Serangannya sangat cepat dan tidak menyisakan sama sekali celah untuk melawan balik...!)” Ujar Leo dalam hatinya selagi menghindari setiap serangan yang ditujukan padanya.
Lia yang menyadari keadaan Leo lantas bangkit mengambil kembali pedangnya sebelum melesat ke arahnya berniat menolong. Dengan gesit ia mempersingkat jarak di antara dirinya dengan makhluk itu dengan mempertimbangkan celah yang akan dimanfaatkannya untuk menyerang sebelum akhirnya ia melancarkan serangan. Dengan sihirnya, Lia mengincar bagian kaki mesinnya tepat ketika makhluk itu berniat menyerang Leo.
“Tehnik pedang: Flow of Autumn.”
Lia mengayunkan pedangnya yang membawa sihirnya dan menciptakan tebasan sihir yang melesat mengarah pada makhluk itu. Namun, sama seperti sebelumnya, sebuah medan sihir menghalau serangan sihir Lia yang berusaha melukainya.
“....?”
Menyadari serangan Lia, makhluk itu pun menoleh ke arahnya sebelum ia melakukan sesuatu terhadap punggungnya yang secara mengejutkan membuatnya memunculkan duri-duri tajam seukuran pisau. Lia yang menyadarinya lantas kembali melancarkan tebasan sihirnya tepat ketika makhluk itu menembakkan duri yang ada di punggungnya ke arah Lia.
“Mhn...!”
“....”
Adu tembak terjadi antara Lia dengan makhluk itu untuk beberapa saat. Lia menangkis setiap serangan yang ditujukan padanya dengan tebasan sihirnya sesaat sebelum makhluk itu mengakhiri adu tembak itu dengan melompat ke arahnya. Lia menghindar sesaat sebelum makhluk itu menghantam lantai dengan cakar besinya hingga menciptakan luka sayatan dalam.
“Lia...!” Seru Leo.
“Alicia...!” Teriak Gald panik.
__ADS_1
“Alicia-san...!” Sambung Zen dan Chrea bersamaan.
Dari balik debu yang berhamburan itu terlihat makhluk tersebut menarik bongkahan lantai yang menancap di jarinya sebelum akhirnya menggenggamnya hingga hancur ketika Lia yang berada di hadapannya memasang kuda-kudanya. Serangan sihirnya tidak berpengaruh pada makhluk itu, keadaan ini jelas tidak menguntungkan Lia. Ditambah dengan fisik yang keras membuat keadaan mereka semakin sulit.
“(Sial...! Aku harus segara melakukan sesuatu...!)” Ujar Leo dalam hatinya panik.
Bersamaan dengan itu, Gald yang menyadari keadaan Lia mencoba memutar otaknya untuk membantunya. Meski harus ia akui bahwa dirinya tidak mampu turun dan bertarung langsung menolongnya setelah melihat kemampuan mengerikan makhluk tersebut, tetapi ia masih belum menyerah. Pasti ada cara lain untuk menolong mereka berdua dalam pertarungan ini meski ia tidak bisa langsung turun tangan.
“(Ayo berpikir...! Berpikir...! Temukan cara untuk membantu mereka berdua...!)” Ujar Gald dalam hatinya sambil memeras otak.
Tak berselang, sebuah ide muncul di kepalanya ketika ia melihat Chrea yang berada di sisinya.
“Benar...! Itu dia caranya...!” Gumam Gald antusias.
Jika tidak mampu bertarung dalam jarak dekat, maka ia hanya harus menyerang dari kejauhan. Chrea adalah satu-satunya orang yang memenuhi kriteria tersebut. Dengan busurnya, ia pasti bisa membantu mereka berdua di bawah sana.
“Chrea, busurmu...! Incar kepala atau jantungnya...!” Ujar Gald dengan nada lantang.
“B-Benar...! Akan kulakukan...!” Balas Chrea panik sambil menyiapkan busurnya.
Chrea pun menarik sebuah anak panah dari punggungnya sebelum mulai membidik makhluk tersebut. Namun, sesaat sebelum ia berniat melepaskan jarinya dari anak panah itu, Leo berseru menghentikannya.
“Tidak, jangan lakukan itu, Chrea...! Jangan lepaskan anak panah itu...!” Ujar Leo dengan nada tinggi.
“E-Eh...?! Leonard-san... Kenapa...?” Balas Chrea bingung.
“Dia benar...! Kita harus segera membantu Alicia...!” Sambung Gald bersikeras.
“Jangan lakukan itu...! Atau dia akan menyerang kalian sebagai gantinya...!” Jawab Leo dengan wajah serius.
Mereka lantas terkejut mendengar pernyataan Leo. Memang benar apa yang Leo katakan, makhluk itu akan menyerang siapa pun yang melancarkan serangan kepadanya. Akan berbahaya jika mereka yang menjadi target sasaran mengingat keadaan mereka yang kurang siap menghadapi situasi saat ini.
“K-Kakak....!” Ujar Chrea menatap pada Gald ragu.
“.... Dia benar. Lupakan saja perintahku barusan. Akan berbahaya jika kita yang menjadi sasaran menggantikan Alicia.” Balas Gald dengan nada berat.
“T-Tapi...!” Balas Chrea mencoba melawan.
“Meski aku juga tidak mau mengakuinya, tetapi pikirkanlah tentang Kirishima! Aku tahu kau ingin menolong mereka, tapi lihatlah keadaan kita sendiri! Kita tidak berdaya! Kita hanya akan menghalangi mereka!” Ujar Gald dengan nada tinggi.
Chrea seketika terdiam dengan ekspresi kecewa setelah mendengar ucapan Gald. Dengan perasaan bersalah, ia hanya bisa menyaksikan Leo dan Lia bertarung melawan makhluk tersebut tanpa bisa berbuat apa-apa.
Makhluk itu pun mulai menyerang ketika Leo berlari ke arahnya untuk mengalihkan perhatiannya dari Lia yang mulai kerepotan dibuatnya. Ia menyerang bahu kanannya tepat pada sambungan lengannya sesaat sebelum makhluk itu mengarahkan serangannya kepadanya.
“....!”
Dengan mengayunkan lengan besarnya, ia mengibaskan Leo menjauh darinya sebelum Leo kembali menyerangnya bersamaan dengan datangnya Lia untuk membantunya dari belakang.
“Haaa..!!”
Setelah menghindari serangan yang datang, Leo pun mengerahkan serangannya tepat bersamaan dengan saat Lia melakukannya. Leo menghunuskan pedangnya tepat pada jantungnya bersamaan dengan Lia yang menusuk punggungnya melalui lubang yang searah dengan posisi jantungnya. Namun, meski serangan Leo tepat sasaran, kaca pelindung yang melapisi jantungnya jauh lebih keras dari yang ia duga hingga mampu menahan serangannya.
“Tch!”
Melihat serangan mereka gagal, makhluk itu pun berniat membalas serangan mereka. Namun, sesaat sebelum hal itu terjadi, Leo berseru memberikan tanda kepada Lia.
“Sekarang, Lia...!”
Lia mengerahkan segenap kekuatan sihirnya pada pedangnya yang membuat jangkauan pedangnya jauh lebih panjang hingga menembus jantungnya. Seketika itu pula makhluk itu merintih kesakitan, darah melonjak keluar dari mulutnya sebelum akhirnya Lia menarik pedangnya bersamaan dengan jatuhnya makhluk tersebut ke atas lantai.
“B-Berhasil...! Mereka berhasil melakukannya...!” Ujar Zen terkesima.
“Mereka melakukannya... Mereka mengalahkannya...” Ujar Chrea dengan wajah pucat terkejut.
Suasana seketika berubah menjadi hening setelah mereka berdua berhasil mengalahkan makhluk itu ketika Gald menghela nafas lega menyaksikannya.
“Lihat? Kita hanya perlu menyerahkannya kepada mereka...” Ujar Gald melihat ke arah Chrea tersenyum lega.
“Y-Ya. Kakak benar... Mereka lebih dari cukup untuk melawannya...” Balas Chrea dengan senyum senang.
Baik kerja sama maupun kekuatan mereka tidak perlu diragukan lagi. Mereka mampu melawan makhluk itu bahkan tanpa terluka sedikit pun. Sudah jelas bahwa nama mereka bukan hanya sekedar gelar saja.
“Kau menyelamatkanku, Lia... Untung saja kau mengerti apa yang kurencanakan...” Ujar Leo menghela nafas panjang.
“... Mhm. Kau juga menyelamatkanku. Kau tahu betul waktu yang tepat untuk membuat celah.” Balas Lia menggelengkan kepalanya tersenyum.
“Yah, kita sama-sama tertolong berkat satu sama lain...” Balas Leo tersenyum lega membalasnya.
Namun, saat mereka mengira semua telah selesai begitu saja, secara mengejutkan darah yang keluar dari tubuh fisiknya tiba-tiba menguap bersamaan dengan keluarnya cahaya dari beberapa segmen tubuhnya. Gald dan teman-temannya yang menyaksikan hal tersebut lantas terkejut sebelum akhirnya memperingatkan mereka berdua secepat mungkin.
“Alicia....! Leonard...! Makhluk itu...! Dia... Ada yang salah dengannya...!” Seru Gald menunjuk ke arah makhluk itu.
“....?!”
Dengan wajah panik, Leo dan Lia lantas berbalik sebelum pandangan mereka dikejutkan dengan bangkitnya makhluk itu dari kematiannya.
“A-Apa...?!” Ujar Leo terperanga.
“.... Mustahil!” Sambung Lia ikut terkesima.
Makhluk itu kembali bangkit meski Leo dan Lia telah menghancurkan jantungnya.
“#*?*!#...”
__ADS_1
Makhluk itu seperti mengatakan sesuatu sebelum akhirnya menggeram layaknya seekor monster ketika tangan besinya menyala oleh cahaya merah yang mengerikan. Panik dan kebingungan, hanya itulah yang ada pada wajah mereka semua. Namun, satu hal yang jelas adalah pertarungan yang sebenarnya baru saja dimulai.