Black Arc Saga

Black Arc Saga
Misteri Olivia


__ADS_3

... ...


Setelah selesai melakukan kontraknya dengan Olivia, mereka bertiga pun melanjutkan perjalanan menyusuri hutan menuju perbatasan utara kerajaan. Meski masih ragu akan keputusannya, namun Leo tidak merasakan adanya ancaman dari Olivia setelah ia membuat kontrak dengannya. Bagaimana pun juga, dia adalah makhluk buatan orang-orang kuno itu yang diciptakan untuk tujuan tertentu. Ia mungkin saat ini belum mengetahuinya, namun sebisa mungkin ia ingin menyelidiki lebih jauh tentang dirinya.


 


“Apa ada masalah, master?” Tanya Olivia melihat ke arahnya bingung.


 


“... Tidak. Bukan apa-apa.” Balas Leo memalingkan pandangannya.


 


Leo cukup terkejut bahwa Olivia bisa menyadari tatapannya. Ia padahal menyembunyikannya dengan sangat baik yang bahkan Lia sendiri kesulitan menyadarinya.


 


“(Di luar dugaanku, indranya sangat tajam... Walau dia makhluk buatan, dia memiliki intuisinya sendiri... Dia bisa menyadari kalau aku sedang mengamatinya diam-diam...)” Ujar Leo dalam hatinya terkejut.


 


Entah itu bakat alaminya atau memang dia sengaja dibuat seperti itu, namun sepertinya akan sulit bagi Leo untuk mengamatinya secara langsung. Ia memerlukan cara lain untuk mengamatinya agar bisa mengelabui kewaspadaannya.


 


Sementara itu, melihat Leo yang terlihat tertarik dengan Olivia membuat Lia tidak begitu senang. Sejak mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan, ia beberapa kali mendapati Leo berusaha diam-diam mengamatinya. Entah mengapa, itu membuat Lia tidak senang.


 


“Leo, ada apa...? Kenapa kau terus mengamati gadis itu...?” Bisik Lia bertanya padanya.


 


“Hm? Tidak, aku hanya masih penasaran dengannya. Aku ingin tahu sejauh mana dia bisa meniru manusia.” Balas Leo dengan nada datar.


 


“Begitukah? Aku kira kau sedang menatap hal yang membuatmu tertarik padanya.” Balas Lia memalingkan pandangannya.


 


“Tunggu, apa maksudmu?”


 


“... Bukan apa-apa.”


 


Lia lantas memalingkan wajahnya dari Leo setelah mengatakannya. Ia tidak tahu mengapa, namun sepertinya ada yang membuat Lia tidak senang.


 


“(Apa aku membuatnya marah...? Apa aku mengatakan sesuatu yang menyinggungnya...?)” Tanya Leo dalam hatinya bingung.


 


Mungkin saja ia melakukan hal yang secara tidak sengaja membuatnya marah. Ia pun menghela nafas panjang berusaha untuk tidak kembali melakukannya dan kembali fokus pada perjalanan.


 


Di sisi lain, Lia yang merasa cemburu karena mendapati Leo mengamati Olivia hanya bisa mendiamkannya. Satu hal yang ia tangkap dari perilakunya adalah Leo tertarik kepada Olivia.


 


“(Dia melihatnya, tidak salah lagi Leo tadi melihat tubuhnya. Bagaimana pun juga Leo adalah seorang pria. Meski harus aku akui bahwa miliknya lebih besar dariku dan itu membuatku iri... Dan sepertinya, Leo suka yang besar...)” Ujar Lia dalam hatinya cemburu.


 


Memang wajar bagi Leo merasa tertarik dengannya. Parasnya yang menawan dengan tubuhnya yang menggoda sudah pasti membuat Leo menaruh perhatian padanya. Meski tidak ingin mengakuinya, namun Olivia lebih unggul darinya.


 


Perjalanan mereka terus berlanjut. Menyusuri hutan yang panjang, mereka akhirnya bertemu dengan lembah yang memisahkan hutan. Karena terlalu terjal dan dalam, keadaan ini memaksa mereka untuk mencari jalan lain.


 


“Leo, bagaimana menurutmu? Apa kita bisa melewatinya?” Tanya Lia melihat ke dasar lembah.


 


“Hm... Kurasa ini akan sangat sulit. Tebingnya terlalu curam dan terjal, ini akan sangat berbahaya melewatinya...” Balas Leo menimbang risiko yang mungkin mereka hadapi.


 


“... Kalau begitu, kita harus mencari jalan lain memutarinya.” Balas Lia mengalihkan pandangannya dari jurang itu.


 


“Ya, meski memakan waktu yang lebih lama, kurasa hanya itu satu-satunya cara yang bisa kita lakukan.”


 


“Mm.”


 


Karena medan yang terlalu sulit, mereka pun memutuskan untuk mengambil jalan memutar tepat ketika Olivia terlihat terdiam menatap ke arah jurang yang menjadi jalan masuk lembah. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu sambil mengamati jurang yang ada di hadapannya ketika Leo yang menyadarinya menghentikan langkahnya sebelum bicara dengannya.


 


“Ada apa, Olivia..? Kau akan tertinggal.” Ujar Leo melihatnya dari kejauhan.


 


“Master, jika dalam jarak ini, Olivia masih bisa menjangkaunya. Jika berkenan, Olivia bisa membawa kita melewati lembah ini.” Balas Olivia sebelum kembali melihat ke dasar jurang.


 


“Tunggu, apa maksudmu?” Balas Leo dengan ekspresi bingung.


 


“Olivia bisa membawa kita turun ke dasar sana dengan selamat.”


 


“Kau bisa melakukan itu...?!”


 


“Ya. Seizin master tentunya.”


 


Mendengar hal itu membuat Leo tertarik. Jika mereka bisa turun ke jurang itu, mereka dapat memotong jalan dan menghemat waktu perjalanan mereka. Namun...


 


“Tunggu, apa kau yakin bisa melakukannya? Bagaimana caramu melakukannya?” Tanya Lia meragukannya.


 


“Lia...?” Ujar Leo melihat ke arahnya.


 


“Nona Lia, apa maksud anda?” Balas Olivia dengan wajah cemas.


 


“Memang kukakui bahwa kau memiliki sihir yang hebat, namun bagaimana kami bisa yakin bisa mempercayaimu.” Sambung Lia dengan ekspresi curiga.


 


“Tunggu, Lia... Kurasa itu agak berlebihan...” Ujar Leo mencoba menenangkannya.


 


Sepertinya Lia masih belum bisa melepaskan kecurigaannya dari Olivia. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa Leo juga masih merasa curiga dengannya, namun tetap saja kecurigaan Lia terbilang berlebihan. Dengan ekspresinya yang tajam membuat Leo semakin kebingungan dengan perubahan sikapnya yang mendadak ini.


 


“(Entah kenapa Lia tidak seperti dirinya yang biasa kukenal...)” Gumam Leo dalam hatinya cemas.


 


Olivia lantas tersenyum membalas tatapan tajam Lia sebelum ia kembali bicara kepadanya.


 


“Tentu saja, Olivia bisa membuktikannya. Olivia tidak akan pernah menghianati master yang telah memberinya nama dan orang-orang yang dianggap berharga olehnya...” Jawab Olivia dengan senyum polos.


 


“O-Oi. Mendengarmu mengatakannya rasanya terdengar agak...” Balas Leo dengan nada canggung.


 


“Ara, apakah Olivia salah...? Master dan nona Lia saling terikat satu sama lain. Olivia sudah bisa melihatnya sejak pertama bertemu, anda berdua memiliki ikatan yang sangat kuat satu sama lain layaknya—“


 


“B-Baiklah...! Aku mengerti...! Aku percaya padamu...!”


 


Tepat sebelum Olivia menyelesaikan kalimatnya, Leo seketika memotongnya dengan nada tingginya ketika Olivia terlihat kebingungan dengan sikapnya. Sambil memalingkan wajahnya tersipu, Leo dibuat diam olehnya saat Lia yang mendengarnya tersenyum sayu melirik ke arahnya sebelum memutuskan setuju dengan usulan Olivia.


 


“Baiklah, aku akan mempercayaimu kali ini.” Ujar Lia dengan sikap tenang.


 


“Terima kasih banyak atas kepercayaannya. Kalau begitu, master, silahkan keputusannya...” Balas Olivia sebelum mengalihkan pandangannya ke arah Leo.


 


“Y-Ya. Terserah kau... Aku mengizinkannya...” Balas Leo mencoba menyembunyikan ekspresinya.


 


“Kalau begitu, sesuai kehendak master...” Ujar Olivia membungkukkan badannya.


 

__ADS_1


Ia lantas menghampiri tepian tebing curang itu sesaat sebelum ia mengarahkan tangannya ke dasar jurang tersebut. Tak berselang lama, belasan hingga puluhan lingkaran sihir emas tercipta berjajar tepat di hadapannya membentuk susunan yang mirip dengan tangga. Leo dan Lia yang menyaksikannya seketika terkejut sesaat sebelum Olivia kembali melihat ke arah mereka sambil tersenyum.


 


“Dengan begini kita semua dapat menuruni jurang dengan aman. Bagaimana menurut anda, master?” Ujar Olivia tersenyum manis.


 


“M-Menakjubkan...” Gumam Leo terkesima.


 


“Aku belum pernah melihat ada orang yang melakukan hal seperti ini sebelumnya...” Sambung Lia ikut terpukau olehnya.


 


“Kau menggunakan sihirmu untuk menciptakan semua itu...? Bagaimana caramu melakukannya...?” Tanya Leo dengan wajah takjub.


 


“Olivia hanya mengubah wujud sihirnya membentuk rangkaian dengan mantra tertentu...” Jawab Olivia menjelaskannya singkat.


 


“Mantra...? Kau bahkan sama sekali tidak merapalkannya...” Balas Lia dengan wajah curiga.


 


“Olivia tidak bisa menjelaskan hal itu, sepertinya...” Balas Olivia tersenyum gugup.


 


“Tunggu, apakah ini aman untuk dipijak...?” Tanya Leo dengan melihat ke arah tangga sihir ragu.


 


“Tidak perlu khawatir, master. Itu adalah sihir yang dapat disentuh secara fisik walau yang menyentuhnya tidak memiliki kekuatan sihir.” Balas Olivia meyakinkannya.


 


Meski agak ragu, namun Olivia setidaknya membuatnya merasa lebih baik. Bagaimana pun juga, ia juga pernah menyelamatkannya dari sihir jebakan yang hampir merenggut nyawa mereka. Kemampuan sihirnya seharusnya tidak dapat diragukan.


 


“Aku tidak tahu bagaimana harus mengatakannya, tapi kurasa tidak masalah...” Ujar Leo sambil menghela nafas.


 


“Jika master masih merasa ragu, Olivia akan berjalan bersama untuk memastikan bahwa semuanya aman. Bagaimana menurut master?” Balas Olivia menawarkan sarannya.


 


“....”


 


Leo melihat ke arah Lia untuk sejenak sebelum ia mengangguk membalasnya. Lia setuju dengan saran Olivia sebelum akhirnya Leo memutuskan untuk menerimanya.


 


“Baiklah, kurasa itu cara yang paling aman...” Ujar Leo menyetujuinya.


 


“Terima kasih banyak, master. Kalau begitu, izinkan Olivia memandu...” Balas Olivia menundukkan kepalanya sebelum mengajak mereka bersamanya.


 


Bersama dengan Olivia, mereka berdua pun menguatkan tekad mereka untuk melalui tangga sihir itu. Mereka berdiri tepat di bibir tebing yang menghadap langsung ke jurang terjal itu yang membuat jantung berdegup kencang. Hembusan angin yang datang menerpa mereka dari bawah semakin menambah ketegangan sesaat sebelum Olivia memberi aba-aba kepada mereka.


 


“Master, nona Lia, kalian sudah siap...?” Ujar Olivia melihat ke arah mereka.


 


“Ya.”


 


“Mm.”


 


“Kalau begitu...”


 


Secara bersamaan, mereka menapakkan kaki mereka di atas lingkaran sihir itu sebelum mulai melangkah maju berjalan di atasnya ketika Leo dan Lia dibuat takjub olehnya. Meski terlihat rapuh, lingkaran sihir itu benar-benar kokoh layaknya batu ketika mereka menginjaknya.


 


“(Menakjubkan... Rasanya sama sekali tidak berubah meski kami berdiri tepat di atas ketinggian... Kami seperti masih menginjak tanah yang sesungguhnya...)” Ujar Leo dalam hatinya takjub.


 


Seperti layaknya terbang di udara, ia bisa melihat semua yang ada di bawahnya melalui sela-sela Rune yang membentuk pijakannya. Hal ini semakin menambah rasa takjubnya akan Olivia. Perasaan ragunya kini telah menghilang, Leo kini bisa melangkah mengikutinya tanpa khawatir lagi.


 


 


“Senang mendengarnya, sekarang master tidak perlu khawatir lagi tentang keamanannya...” Balas Olivia tersenyum kepadanya.


 


“Ya. Dengan begini, kita bisa turun dengan cepat.” Balas Leo dengan perasaan senang.


 


Setelah beberapa saat, mereka akhirnya sampai di dasar jurang yang merupakan pintu masuk menuju lembah. Berkat Olivia, mereka bisa sampai dengan selamat tanpa perlu membuang banyak waktu dan tenaga. Selang setelahnya, mereka pun kembali melanjutkan perjalanan mereka melewati lembah menuju perbatasan utara kerajaan.


 


Waktu pun berlalu, matahari mulai menunjukkan bahwa hari mulai sore ketika mereka berhasil melewati lembah. Setelah memakan waktu hampir setengah hari perjalanan, mereka akhirnya berhasil mendaki kembali keluar dari lembah itu ketika matahari mulai tenggelam. Melihat waktu yang mendekati malam, mereka pun memutuskan untuk beristirahat dan melanjutkan perjalanan mereka esok harinya.


 


“Kurasa di sini tempat yang cukup bagus... Baiklah, kita akan bermalam di sini malam ini...” Ujar Leo menghampiri sebuah tempat di dekat mereka.


 


Setelah memastikan keadaan di sekitar, Leo akhirnya menandai tempat itu sebagai area perkemahan mereka. Ia lantas membersihkan area di sekitarnya sebelum mulai menyiapkan api unggun untuk mereka.


 


“Master, izinkan Olivia membantu...” Ujar Olivia menghampirinya.


 


“Ah. Tentu, tolong kumpulkan ranting dan kayu bakar di sekitar.” Balas Leo sambil mengerjakan tugasnya.


 


“Dimengerti.” Balas Olivia sebelum akhirnya melaksanakan tugasnya.


 


“Leo, aku juga ingin membantu.” Ujar Lia antusias mengajukan diri.


 


“Ah. Tidak apa-apa Lia, aku bisa mengurusnya sendiri.” Balas Leo tidak menoleh sedikit pun.


 


“Begitu ya.” Balas Lia dengan nada sedih.


 


“Ya, duduklah dan istirahatlah. Kau telah menempuh perjalanan yang panjang...” Balas Leo tersenyum kepadanya.


 


Lia hanya bisa terdiam setelah mendengarnya mengatakan itu. Dengan ekspresi sedih ia hanya bisa melihat ke arah Leo yang tengah membuat perapian tak berselang ketika Olivia datang membawa kayu bakar untuknya. Entah kenapa, Leo membiarkan Olivia membantunya sementara dirinya tidak diperkenankan. Ia seperti merasakan kembali jarak di antara mereka sama seperti ketika mereka pertama kali bertemu.


 


“(Tidak...! Itu pasti hanya perasaanku saja...!)” Ujar Lia dalam hatinya berusaha mengalihkan pikiran negatif.


 


Bagaimana pun juga, ia percaya kepadanya. Meski Leo menjadi tidak banyak bicara, namun ia tetap bisa merasakan kepeduliannya. Dia tetap memperhatikannya meski terkadang ia terkesan tidak mampu menyampaikannya sama seperti dirinya yang selama ini ia kenal.


 


Setelah berhasil menyalakan api unggun, Leo lantas mengambil pedangnya sebelum bicara kepada Olivia.


 


“Olivia, kau tinggal di sini bersama Lia, aku akan pergi ke dalam hutan untuk berburu.” Ujar Leo mengenakan pedangnya di punggungnya.


 


“Jika berkenan, bolehkah Olivia ikut bersama master? Olivia bisa membantu master berburu.” Balas Olivia menawarkan diri ikut bersamanya.


 


“Tidak, itu tidak diperlukan. Aku sudah terbiasa berburu sendiri. Kau tinggal di sini dan jaga Lia selagi aku pergi, apa kau mengerti?” Balas Leo menolaknya.


 


“Baiklah jika master berkata demikian...”


 


“Kuserahkan Lia kepadamu...”


 


“Dimengerti.”


 


Leo pun lantas pergi meninggalkannya ketika Lia yang penasaran melihatnya mencoba bertanya kepadanya.


 

__ADS_1


“... Ke mana Leo pergi? Apa yang dia katakan?” Tanya Lia kepada Olivia penasaran.


 


“Ah. Master berkata akan berburu hewan untuk makan malam. Apa ada masalah, nona Lia...?” Jawab Olivia dengan nada ramah.


 


“... Kenapa dia tidak memberitahuku mengenai hal itu?” Gumam Lia dengan nada geram.


 


“Kalau soal itu, master berkata ia sudah terbiasa berburu sendiri. Master juga tidak mengizinkan Olivia untuk mendampinginya.”


 


“... Begitu ya. Rupanya dia menolakmu juga.”


 


“Eh...? Mohon maaf, tapi apa maksud anda?”


 


“... Bukan apa-apa.”


 


Lia lantas kembali ke tempat duduknya semula membiarkan Olivia yang kebingungan begitu saja. Entah apa yang Leo pikirkan, namun membiarkannya berdua dengannya membuat keadaan mereka semakin canggung melebihi sebelumnya. Lia yang masih belum bisa menerima keberadaan Olivia hanya terdiam memberikan sikap dingin kepadanya ketika ia perlahan duduk di dekatnya. Di bawah pohon itu, mereka saling terdiam tanpa mengucapkan apa-apa ketika angin berhembus meniup dedaunan di sekitar mereka. Suasana di antara mereka terasa bertambah berat ketika Olivia berusaha mengatakan sesuatu namun tidak dapat ia utarakan.


 


“....”


 


“....”


 


Keadaan itu tertahan untuk beberapa sesaat sebelum tanpa sengaja sebuah daun jatuh tepat di tangan Olivia. Ia yang melihatnya lantas mengambilnya ketika ia mengingat beberapa kenangan masa lalunya.


 


“Eikenblad... Sudah lama sekali sejak terakhir kali melihatnya...” Gumam Olivia mengamati daun yang gugur di tangannya.


 


“... Kau masih menggunakannya, huh?” Balas Lia melihat ke arahnya acuh.


 


“Maksud anda...?” Balas Olivia dengan wajah bingung.


 


“... Bahasa itu. Kau masih menggunakan bahasamu itu. Kau masih bisa menggunakannya walau kau menyerap bahasa kami.”


 


“Itu disebut sebagai bahasa Old Migra, bahasa yang paling umum di kerajaan. Apa ini kali pertamanya anda mendengarnya?”


 


“... Old Migra, huh? Aku belum pernah mendengarnya.”


 


“Ya. Dulunya itu adalah bahasa yang resmi digunakan sampai Olivia mendengar bahasa baru kalian. Sepertinya banyak yang telah berubah sejak terakhir kali Olivia bisa mengingatnya.”


 


Mendengar hal itu, Lia merasa mendapatkan petunjuk yang mungkin bisa membantunya mengungkap asal usulnya. Ia memutuskan untuk bicara lebih banyak dengannya sambil mengambil informasi darinya.


 


Sementara itu, Leo yang tengah mencari hewan buruan terhenti sejenak ketika ia merasa khawatir dengan mereka berdua. Ia merasa cemas pada Lia yang kurang akrab dengan Olivia. Ditinggalkan sendiri dengan orang asing tentunya membuatnya merasa cemas.


 


“(Aku harap tidak terjadi sesuatu di antara mereka berdua sampai aku kembali...)” Gumam Leo dalam hatinya khawatir.


 


Bagaimana pun juga, hubungan mereka berdua akan terus berlanjut sepanjang perjalanan yang akan mereka tempuh nantinya. Ia hanya bisa berharap mereka bisa menjadi lebih dekat satu sama lain meski masih banyak misteri yang menyelimuti keberadaan Olivia.


 


Sementara itu, dengan pendekatan yang hati-hati, Lia mencoba menguak lebih banyak informasi dari Olivia melalui percakapan mereka. Dengan perlahan namun tenang, Lia mulai kembali bicara dengannya.


 


“... Memangnya apa yang membuatmu berpikir kalau banyak hal sudah berubah?” Tanya Lia dengan wajah penasaran


 


“Kalau soal itu... Mungkin yang paling jelas adalah bahasa yang digunakan dan juga kondisi wilayah...” Balas Olivia sambil memikirkannya.


 


“... Menurutmu apa yang berubah dari wilayah ini?” Balas Lia kembali bertanya kepadanya.


 


“Uh... Sejauh yang Olivia ingat, sebelumnya ada jalan utama yang menghubungkan ibu kota kerajaan dengan benteng utara kota Haggen. Tapi sejauh perjalanan, Olivia tidak bisa lagi melihatnya karena perubahan kontur hutan...”


 


“Benteng di kota Haggen...? Ibu kota kerajaan...? Apa maksudmu...?”


 


“Eh...? Bukankah kita meninggalkan ibu kota kerajaan dan menuju ke utara...?”


 


“... Tidak, kita dari kota Winsberg menuju perbatasan utara kerajaan.”


 


“Tolong tunggu sebentar, jadi kota yang ada di dekat kita sebelumnya bukan ibu kota Northedam?”


 


“... Bukan.”


 


“Aneh sekali, Olivia yakin bahwa tempat isolasi itu berada di bawah kota Northedam...”


 


Merasa ada yang salah, Lia mencoba mencari tahu lebih lanjut mengenai tempat yang dikatakannya sebelumnya.


 


“... Itu bukanlah kota Northedam. Kota itu sekarang bernama Winsberg yang berada di bawah kekuasaan kerajaan Rushford.” Ujar Lia menjelaskan kepadanya.


 


“E-Eh...? Rushford...? Belum pernah mendengar nama itu sebelumnya...” Balas Olivia terkejut.


 


“... Kurasa wajar bagimu tidak pernah mendengarnya.” Balas Lia sambil menghela nafas.


 


“Olivia minta maaf karena tidak mengetahuinya... Seingat Olivia, dulu belum pernah ada nama kerajaan itu sebelumnya...”


 


“... Memangnya Northedam itu seperti apa? Kau mengatakan bahwa dulu tempat itu adalah ibu kota kerajaan.”


 


“Ya. Dahulu kota itu dikenal sebagai pusat kerajaan alkimia terbesar yang dikenal sebagai Astarion...”


 


Lia seketika terdiam dalam keheningan begitu mendengar nama kerajaan itu. Tidak salah lagi bahwa nama itu pernah ia dengar di dalam sebuah buku sejarah tua ketika Lia masih berada di akademi. Ia tidak mengira akan mendengar nama itu secara langsung.


 


“Astarion...?” Gumam Lia dengan ekspresi serius.


 


“Ada apa, nona Lia...?” Balas Olivia bingung.


 


“... Tidak, lanjutkan saja ceritamu. Aku jadi sedikit tertarik.” Balas Lia sebelum kembali bersikap tenang.


 


“Kalau begitu, Olivia akan melanjutkannya. Kota Northedam adalah tempat berkumpulnya para cendekiawan alkimia. Dan berkat mereka pula, kerajaan Astarion menjadi dikenal sebagai kerajaan alkimia agung karena alkimia adalah dasar kerajaan berdiri. Kami hidup bersama dengan alkimia dalam kehidupan keseharian kami. Semua hal di kerajaan memanfaatkan alat atau tehnik alkimia...”


 


“... Kau terdengar sangat mengenalnya. Dari mana kau tahu semua itu?”


 


“Walau tidak lama, saya memang pernah tinggal dan hidup sebagai warganya.”


 


“....?!!”


 


“Meski banyak hal yang telah Olivia lupakan, tetapi Olivia masih ingat jelas bagaimana penampilan kota Northedam...”


 


Lia seketika terkejut mendengar pernyataan Olivia mengenai masa lalunya. Ia tidak mengira bahwa dia pernah hidup dan tinggal ketika kerajaan kuno itu masih berdiri. Atau dengan kata lain, Olivia telah hidup ratusan tahun dan menjadi saksi hidup keruntuhan kerajaan Astarion.

__ADS_1


__ADS_2