
Melihat kobaran api hitam datang menuju ke arahnya, Lia membulatkan tekadnya sambil berdiri dengan kuda-kudanya bersiap untuk menghadapinya. Ia tahu bahwa tindakannya ini tidak logis, tetapi ia tidak punya pilihan lain lagi.
“(Kerahkan seluruh kekuatanmu...! Kerahkan semuanya dalam satu serangan...!)” Ujar Lia dalam hatinya membakar semangatnya.
Aura merah tua seketika menyelimuti tubuh serta bilah pedangnya saat Lia mengangkat pedangnya ke udara. Sambil menelan rasa takutnya, Lia mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menghadapi serangan tersebut tepat ketika Leo datang dari belakangnya menghampirinya.
“Kau memang.. gadis yang keras kepala...” Bisiknya sambil tersenyum pahit.
“....?!”
Dalam sepersekian detik, mereka berdua menghilang sesaat sebelum api hitam itu menyapu seluruh area. Semuanya hangus tanpa sisa ketika Leo dan Lia secara mengejutkan muncul kembali di tempat lain yang berada tak jauh dari sana. Mereka berdua terlempar hingga jatuh berguling-guling di atas tanah sebelum akhirnya Lia yang menyadari kejadian tersebut terperanga dan kebingungan.
“U-Ugh...! Aku berpindah tempat...? Sejak kapan...?” Gumam Lia perlahan mengangkat tubuhnya yang bermandikan debu.
Ketika pertanyaan itu mengalihkan perhatian Lia, tanpa ia sadari Leo yang jatuh tak jauh darinya secara mengejutkan memuntahkan darah dari mulutnya saat ia berusaha bangun dari tempatnya. Lukanya terlihat kembali terbuka membuat keadaannya kembali memburuk.
“(Ugh...! Aku sudah menduga hal ini sebelumnya... Aku tidak punya pilihan lain lagi selain menggunakan kemampuan ini untuk menyelamatkan Lia...)” Ujar Leo dalam hatinya sambil menahan sakit.
Kejadian ini bisa terjadi tidak lain karena kemampuan Leo. Tepat sebelum semburan api itu menyapu mereka, Leo menggunakan kecepatan kilatnya untuk membawa Lia bersamanya menjauh dari jalurnya. Alhasil, dalam sekejap mata, mereka bisa menghindari ombak api itu meski Leo harus mengorbankan diri untuk mengaktifkan kemampuannya. Luka gigitan naga itu kembali terbuka membuatnya kini dalam keadaan yang tidak berdaya.
“Ugh...! Kuh...!”
“...?! Leo...!”
Melihat Leo yang mendadak jatuh berlumuran darah membuat Lia yang menyaksikannya panik. Ia dengan segera menghampirinya untuk memeriksa keadaannya.
“Leo...! Lukamu.. jangan katakan kalau lukamu itu karena menggunakan kemampuanmu...!” Ujar Lia dengan ekspresi cemas.
“Ugh...! Y-Ya. Begitulah...” Balas Leo dengan nada lemah.
“Kenapa kau melakukannya...? Padahal aku sudah menyuruhmu untuk lari...” Balas Lia dengan nada marah.
“K-Kurasa.. kau sudah.. tahu apa.. jawabannya, bukan...?”
Leo tersenyum dengan darah yang masih membasahi bibirnya membuat Lia yang mendengarnya tidak bisa membantahnya.
“... Kau memang nekat seperti biasanya.”
“Harusnya.. aku yang mengatakan.. itu.. padamu...”
“... Aku tidak bisa membantah untuk itu. Maaf.”
Melihat Leo dan Lia berhasil selamat dari semburan apinya, sang naga lantas memutar arah sebelum akhirnya kembali terbang menuju ke tempat mereka sambil melancarkan serangan. Kekuatan hitam mulai berkumpul di dekat sayapnya membentuk anak panah sihir saat naga itu terbang mendekati mereka sesaat sebelum ia menembakkannya.
“L-Lia...!”
“...?!”
Lia yang melihat kedatangannya lantas melancarkan serangan balasan guna menghalau mereka. Dengan sihirnya, ia melancarkan belasan tebasan sihir menghalau mereka sebelum mencapai tempatnya dan Leo berada. Ledakan beruntun seketika menghiasi langit saat serangan balasan Lia menghancurkan anak panah sihir sang naga menimbulkan getaran udara yang dapat dirasakan dari kejauhan. Ia berhasil menghalau serangannya, atau setidaknya itulah yang ia pikirkan.
“....?!”
“...!!”
Tepat ketika mereka berpikir serangan darinya telah berakhir, secara mengejutkan naga itu muncul di hadapan mereka bersiap menyambar mereka dengan tubuh raksasanya yang diselimuti oleh kabut hitam mematikan. Jika dia sampai mendarat, maka seluruh kabut yang menyelimuti tubuhnya akan menyebar dan mengenai mereka berdua. Dengan kata lain, naga itu telah membaca situasi mereka.
“(Tidak mungkin...! Dia menyelimuti tubuhnya sendiri dengan kabut hitam...! Dia benar-benar membunuh langkah kami...!)” Ujar Lia dalam hatinya panik.
“(Sial...! Aku tidak bisa menghindar dengan lukaku yang sekarang...!)” Sambung Leo dalam hatinya terkejut.
Melarikan diri mungkin adalah cara untuk menghindari serangan tersebut. Namun, dengan keadaan Leo yang terluka parah, mereka akan kesulitan melakukannya. Keadaan ini tepat seperti yang Lia katakan, langkah mereka telah dibunuh olehnya.
Akan tetapi, sesaat sebelum naga itu sempat mendarat, secara mengejutkan lingkaran sihir raksasa muncul tepat di atasnya. Naga itu seketika ditarik jatuh oleh tekanan yang diciptakannya membuat niatnya menyerang mereka gagal. Ia tertahan di atas tanah tidak bisa bergerak mengingatkannya pada seseorang yang sebelumnya telah ia kalahkan.
“Grrrrr...! Rrrrrr...!”
__ADS_1
Ia mencoba meronta dengan segenap kekuatannya, namun sayang usahanya sia-sia. Hal ini sontak membuat Leo dan Lia yang menyaksikannya membeku terkesima begitu mengetahui bahwa sihir tersebut sama dengan miliknya.
“Sihir itu...! Jangan katakan...!” Ujar Lia dengan ekspresi tercengang.
Tepat ketika Lia mengatakannya, secara mengejutkan sesosok misterius muncul dari balik asap hitam yang menyelimuti kawah lahar tempat sebelumnya pertarungan terakhir sang naga terjadi. Suara mendesis terdengar darinya bersamaan dengan munculnya sepasang cahaya merah darah sesaat sebelum akhirnya ia menunjukkan diri.
“T-Tidak mungkin...!”
“O-Olivia...?!”
Benar, sosok itu adalah Olivia yang bangkit dari kematiannya. Keadaannya terlihat sangat mengerikan dengan hampir separuh tubuh bagian kanannya hangus terbakar dengan luka bakar serius serta berlumuran darah. Entah bagaimana ia bisa selamat, namun sepertinya ia masih menganggap pertarungannya masih belum selesai. Ia menatap ke arah sang naga yang terjerat sihirnya sesaat sebelum ia berjalan perlahan menuju arahnya.
“Target kembali ditemukan, memulai fase penghancuran...”
Secara perlahan, luka yang ada di tubuhnya sembuh setiap kali ia melangkahkan kakinya. Wajahnya yang sebelumnya separuh terbakar kini perlahan kembali seperti semula diikuti oleh lengan dan bagian tubuh lainnya. Dalam sekejap, ia telah kembali seperti sediakala dengan kondisi yang sempurna tanpa adanya bekas luka atau goresan yang tertinggal.
“(Dia bisa beregenerasi...?! Makhluk apa sebenarnya dia...!)” Ujar Lia dalam hatinya terperanga menyaksikannya.
Selain kekuatan sihir yang hebat, Olivia juga diberkati oleh kemampuan regenerasi yang luar biasa. Entah sampai batas mana kemampuan regenerasinya, namun dengan adanya kemampuan itu, membunuhnya akan menjadi perkara yang sulit.
Dengan tubuhnya yang telah sembuh, Olivia kini sudah kembali siap untuk menghadapinya. Ia mengumpulkan sihirnya sesaat sebelum ia menyerang sang naga yang terjerat oleh mantranya. Ia menghujaninya dengan serangan sihir yang tidak terhitung jumlahnya menyebabkan rentetan ledakan yang hebat. Suara raungannya menggema ke seluruh lembah sebelum akhirnya Lia memanfaatkan kesempatan tersebut untuk membawa Leo menjauh dari area pertempuran.
“Leo...! Kita pergi dari sini...!” Ujar Lia menghampiri Leo sebelum akhirnya merangkulnya pergi.
Olivia yang menyaksikan hal itu untuk sejenak menaruh perhatiannya pada Lia. Dengan ekspresi tajam ia mengamatinya membawa Leo menjauh dari pertarungan sesaat sebelum perhatiannya kembali tertuju pada sang naga yang menjadi lawannya.
“Rrrrrrr...!!!”
Naga itu masih berusaha melawan jeratan sihir selagi dihujani oleh serangan. Ia meronta sambil sesekali menyemburkan apinya ke segala arah mencoba meloloskan diri saat Olivia menghentikan serangan sihirnya sesaat sebelum ia memanggil kembali senjata-senjata logamnya.
“Datanglah, Shard of Chaos...”
Mereka semua berteleportasi langsung ke hadapannya begitu ia memanggil mereka. Ia lantas menyelimuti mereka dengan sihir sebelum akhirnya melancarkan serangan.
Senjata-senjata Olivia melesat dengan kecepatan tinggi menuju ke arah sang naga yang tertunduk di atas tanah. Mereka datang secara bersamaan layaknya rentetan anak panah langsung menuju ke arahnya siap untuk mengoyak kulit dan dagingnya. Akan tetapi, sang naga yang mengetahui serangan tersebut telah menyiapkan langkah pencegahan.
Ia memancarkan kekuatan sihir dari seluruh tubuhnya sesaat sebelum ia berubah menjadi kabut hitam tepat ketika senjata logam Olivia menghampirinya. Semua serangannya menembus tubuhnya begitu saja tanpa meninggalkan luka sedikit pun membuat Lia yang menyaksikannya terkesima.
“(Dia bisa merubah dirinya sendiri menjadi kabut hitam itu...?!)” Ujar Lia dalam hatinya terkesima.
Memanfaatkan keadaan tubuhnya, naga itu meloloskan diri dari jeratan sihir Olivia sesaat sebelum ia melepaskan lebih banyak kabut hitam yang seketika menutupi seluruh area di sekitarnya. Sebagai akibatnya, keberadaannya kini sepenuhnya lenyap bercampur menjadi satu dengan kabut hitam yang perlahan bergerak menuju arah Olivia.
Dalam keadaannya sekarang, sang naga menjadi kebal dari segala macam serangan. Tidak hanya itu, keberadaannya yang sepenuhnya bersatu dengan lingkungan di sekitarnya membuatnya sulit dideteksi yang mana berarti serangannya tidak dapat ditebak. Ini mungkin akan menjadi masalah serius bagi Olivia yang melawannya, namun tidak untuk yang kali ini. Ia tidak akan melakukan kesalahan yang sama untuk ketiga kalinya.
“Memulai fase penangkapan...”
Olivia melancarkan senjata logamnya satu persatu menuju posisi masing-masing yang telah ia tetapkan. Secara berurutan, mereka sampai di masing-masing titik yang menjadi tujuan mereka sesaat sebelum akhirnya Olivia merapalkan mantranya ketika kabut hitam itu hampir mencapainya.
“Enchant: Hexagon Field.”
Secara bersamaan, semua senjata miliknya yang tersebar memancarkan cahaya keemasan membentuk segi enam sempurna sesaat sebelum medan sihir raksasa mengurung kabut asap itu di dalamnya. Gerakan kabut hitam itu seketika terhenti ketika ia berniat menembus penghalang tersebut.
“...?!”
Ia yang terjebak terpaksa kembali ke wujud aslinya sebelum akhirnya ia kembali berusaha menembus penghalang tersebut menggunakan kekuatannya. Ia melancarkan berbagai serangan dimulai dari serangan fisik hingga serangan sihir, namun pada akhirnya hasilnya tetap sama. Ia tetap tidak bisa menghancurkan medan sihir itu. Hal itu memberikan Olivia cukup kesempatan untuk menghabisinya.
“Grrrr...!”
Melihat Olivia hendak merapalkan mantra, naga itu menjadi lebih ganas. Dengan brutal ia melancarkan serangan acak pada penghalang itu hingga menyebabkan tanah di sekitarnya berguncang. Namun sekuat apa pun ia berusaha, medan sihirnya sama sekali tidak bergeming membuatnya semakin panik oleh keadaan. Ia yang kehabisan pilihan memutuskan untuk terbang setinggi mungkin berharap bisa melompatinya, akan tetapi, ketika ia baru saja melompat, medan sihir yang sama menahan niatnya. Ia pun terjatuh setelah menghantamnya tepat ketika Olivia mulai merapalkan mantranya.
“O licht van de grote strafdrager, toon je figuur, geef straf aan de zondaars die op deze aarde zijn, vernietig de vuile ziel van deze catastrofe met je grootheid...”
Lingkaran sihir raksasa tercipta tepat di bawah medan sihir itu mewarnainya dengan cahaya yang jauh lebih terang. Menyadari bahaya itu, sang naga kembali bangun dan berusaha keluar dari dalam medan sihir itu dengan mengerahkan seluruh kekuatannya. Ia mengerahkan seluruh kekuatannya, memusatkannya pada mulutnya sesaat sebelum ia menembakkannya langsung ke arah penghalang tersebut.
“....!!”
__ADS_1
Serangan itu menyebabkan seluruh tempat yang ada di sana berguncang. Kekuatan yang dilepaskannya sangat kuat hingga membuat medan sihir yang menahannya bergetar saat menerimanya. Secara perlahan serangan itu mengikis penghalang itu membuat Olivia yang merapalkannya ikut menerima dampaknya.
“Hngh...!”
Dari mulutnya mengalir darah sebagai akibat terlalu banyak menggunakan sihir. Selain digunakan untuk merapalkan sihir yang hendak ia lancarkan, kekuatan sihirnya juga terus terkuras akibat mempertahankan penghalang tersebut. Hal inilah yang menyebabkan keadaannya tiba-tiba memburuk. Meski ia mempunyai kemampuan regenerasi, tetapi sepertinya kemampuan itu tidak cukup untuk mengimbangi kerusakan yang ditimbulkan oleh sihirnya.
Penghalang sihir itu mulai menunjukkan tanda-tanda kehancurannya. Retakan mulai terlihat di beberapa sisinya saat naga itu makin mendesak serangannya. Jika hal ini berlanjut, maka sang naga akan bebas dan membunuhnya sebelum ia sempat menyelesaikan mantranya. Ini jelas keadaan yang tidak menguntungkan baginya. Meski keadaannya memburuk, Olivia menolak untuk menyerah. Dengan mulut berlumuran darah, ia mengangkat suaranya menyelesaikan mantranya tepat ketika sang naga mengerahkan seluruh kekuatannya menghancurkan penghalangnya.
“... Enchant: Heaven Fall.”
Cahaya yang sangat terang seketika menelan seluruh tempat yang ada di sana termasuk sang naga yang berada dalam penghalang sihir. Hanya sesaat setelah ia berhasil menghancurkan penghalang sihirnya, ledakan dahsyat menghapusnya beserta dengan seluruh eksistensinya. Ledakan itu turut menciptakan gelombang kejut yang cukup kuat untuk menyapu seluruh area lembah, membuat seluruh tempat yang ada di sana porak-poranda diterjangnya. Kota Zivalor yang berada tak jauh dari sana juga ikut terkena imbasnya. Guncangan yang hebat itu menghancurkan beberapa bangunan dan fasilitas umum yang ada di dalamnya ketika gelombang kejut dari ledakan itu datang menyapunya.
Dalam sekejap, lembah beserta tebing yang menghimpit di sisi kanan kirinya lenyap menyisakan kawah raksasa yang tidak memiliki dasar. Olivia tidak hanya memusnahkan sang naga, namun juga seluruh kehidupan yang ada di dataran tersebut. Hal ini menunjukkan betapa mengerikannya kekuatan Olivia bahkan bagi manusia itu sendiri yang merupakan penciptanya.
“Nhn...! Leo, kau baik-baik saja...?” Tanya Lia bangun dari balik puing-puing yang menimbunnya.
“Hah... Hah... Ya...” Balas Leo sambil menahan lukanya.
Dalam kondisi setengah sadar, Leo menyaksikan apa yang telah Olivia lakukan terhadap lingkungan di sekitar mereka. Tebing-tebing batu indah yang sebelumnya menghimpit lembah ini kini telah musnah tergantikan oleh pemandangan mengerikan dari kawah raksasa. Ia seperti layaknya bencana alam yang hidup.
“(Jadi ini kekuatan sebenarnya Olivia...?! Ini mungkin yang menyebabkannya berada di sana...!)” Ujar Leo dalam hatinya terkejut.
Meski harus mengorbankan dirinya sendiri, kekuatannya masih terbilang cukup menakutkan. Mungkin itulah alasan khusus mengapa ia diciptakan ke dunia ini. Sihir yang digunakannya jelas merupakan sihir tingkat tinggi yang tidak bisa dijangkau oleh manusia. Bahkan jika bisa, manusia biasa tidak akan sanggup menahan efek samping dari penggunaanya. Ini menjelaskan mengapa Olivia memiliki kemampuan unik seperti regenerasi karena untuk mengimbangi kerusakan tubuh akibat efek melancarkan sihir berskala besar. Meski terdengar mengerikan, tetapi inilah kenyataannya.
Pertarungan telah berakhir, ancaman telah berhasil dilenyapkan. Meski demikian, tugas Olivia masih belum usai. Walau sang naga telah berhasil ia lenyapkan, ia masih merasakan ancaman yang membuatnya waspada. Ia menoleh ke arah Leo dan Lia berada sesaat sebelum ia berjalan menghampiri mereka.
“Master terdeteksi dalam keadaan kritis, protokol pengamanan diaktifkan... Eliminasi semua kemungkinan ancaman...!”
Dalam keadaan terluka, Olivia tetap memaksakan dirinya untuk bergerak menuju ke arah mereka sebelum ia memanggil kembali senjata logamnya. Hanya selang beberapa saat setelah senjatanya kembali padanya, seluruh luka yang ada di tubuhnya mulai beregenerasi ketika Lia mulai curiga dengan maksud kedatangannya.
“(Aku merasakan tatapan tajam darinya... Firasatku mengatakan ini bukan pertanda yang baik...)” Ujar Lia dalam hatinya curiga.
Ia menaruh tangannya pada pedangnya saat Leo yang kebingungan dengan sikap Lia mencoba bicara dengannya.
“Lia...?” Ujar Leo dengan nada bingung.
“....”
“Lia, ada.. apa...?” Sambungnya dengan wajah cemas.
“...”
Lia sama sekali tidak memberikan jawabannya meski ia telah berulang kali bertanya kepadanya. Pandangannya hanya tertuju pada Olivia yang perlahan menghampirinya dengan penuh waspada.
“(Kenapa Lia bersikap seperti itu kepada Olivia...? Tidak, tunggu dulu, yang sebenarnya menjadi pertanyaan adalah mengapa Olivia menghampiri kami dengan mode bertarungnya... Jangan katakan...!)” Ujar Leo dalam hatinya berpikir sebelum akhirnya sadar.
Hanya selang beberapa saat setelah Leo menyadarinya, secara mengejutkan Olivia melancarkan salah satu senjata logamnya menuju ke arahnya.
“...?!”
“A—“
Leo seketika terkejut sementara Lia yang telah memperkirakan serangan tersebut dengan sigap merangkul Leo sebelum akhirnya membawanya menghindar bersamanya. Senjata itu menghantam tanah dengan kuat menyebabkan area di sekitarnya amblas sesaat sebelum Olivia melancarkan kembali serangannya ke arah mereka.
“...!”
Tidak seperti sebelumnya, ia kini mengerahkan semua senjatanya untuk menyerangnya memaksa Lia untuk melepaskan Leo dari genggamannya untuk menghadapinya. Dengan menggunakan pedangnya yang diperkuat dengan sihir, Lia menangkis setiap serangan yang datang ke arahnya selagi membuat jarak dengan Leo. Lengkingan suara logam berbenturan mendengung di udara setiap kali Lia menangkis serangan itu, percikan api mewarnai setiap ayunan pedangnya saat ia berusaha melawan.
“(Kuat sekali...! Kekuatannya setara dengan ayunan tangan langsung...!)” Ujar Lia dalam hatinya terkejut sambil terus bertahan.
Setiap kali Olivia mendekat ke arahnya, ayunannya semakin cepat dan kiat hingga membuat Lia semakin kewalahan melawannya. Leo yang menyaksikannya mencoba untuk melerai, akan tetapi tepat ketika ia hendak melakukannya, Olivia berhasil menyudutkan Lia. Ia berhasil membuatnya kehilangan pedangnya sesaat sebelum ia menahannya di atas tanah dengan medan gaya miliknya.
“Hngh...!”
“Lia...!”
__ADS_1
Lia seketika terkapar jatuh sesaat sebelum senjata-senjata itu mengepungnya dari segala arah mencegahnya untuk melakukan pemberontakan ketika Olivia sampai di hadapannya. Dengan tatapan dingin, ia mengarahkan tangannya ketika aura membunuh menyelimutinya. Nyawa Lia kini tengah berada dalam bahaya.