
... ...
Mendengar suara pertarungan dan percikan api di depan sana memancing rasa penasaran Roselia memutuskan untuk melihatnya. Dengan perlahan ia berjalan menghampiri sumber suara tersebut sesaat sebelum ia menyadari bahwa Leo tengah bertarung dengan sesosok asing yang terlihat samar. Ia tidak bisa merasakan dengan jelas makhluk apa yang tengah ia lawan, namun satu hal yang jelas adalah Leo ikut terperosok ke bawah sini bersamanya.
“(Dia juga terjatuh juga... Aku tidak tahu makhluk apa yang dilawannya, namun sepertinya itu bukanlah monster yang biasa aku lihat...)” Ujar Roselia dalam hatinya curiga.
Ia tidak tahu sebab mereka bertarung, namun ia memilih untuk tidak ikut terlibat. Karena mereka berdua tengah bermusuhan, membiarkan lawan menghadapi musuh baru merupakan tindakan yang paling menguntungkan. Ia memutuskan menyembunyikan keberadaannya sampai pertarungan ini selesai dan ia akan mengurus masalah mereka yang belum selesai setelahnya.
“(Terserah apa itu, yang jelas aku tidak peduli. Selama mereka tidak mengejarku, aku tidak peduli. Ini bisa jadi kesempatan yang bagus menghabisinya setelah dia kewalahan menghadapi mereka...)” Sambung Roselia dalam hatinya dengan nada angkuh.
Tepat ketika Roselia tersenyum licik dengan idenya, secara mengejutkan suara lengkingan keras menghantam telinganya. Dan selang di waktu yang hampir bersamaan, cahaya terang bersinar mengungkap apa yang sedang Leo lawan bersama dengan jawaban tempat mereka sekarang berada.
“(Makhluk itu...! Tunggu, tempat ini...! Jangan katakan...!)” Ujar Roselia dalam hatinya terkejut.
Selang beberapa saat setelahnya, makhluk itu meledak dan mengguncang lorong itu hingga membuat beberapa langit-langitnya runtuh. Roselia yang ikut menerima dampaknya mencoba bertahan dengan berlutut di tanah untuk menjaganya tidak jatuh. Ledakan itu perlahan berlalu, namun meski demikian, pertarungan di antara mereka berdua masih saja berlangsung.
“S-Sial...! Aku kira aku akan kembali tertimbun puing-puing bangunan...! Aku harus menghentikannya membunuh penjaga reruntuhan itu...!” Gumam Roselia bangkit dengan ekspresi kesal.
Ia yang awalnya tidak berniat ikut campur akhirnya harus mengubah rencananya. Setelah menyadari tempat ini, ia memutuskan untuk ikut bertarung membantunya guna mencegah hancurnya tempat ini.
Sementara itu, setelah berhasil menghabisi beberapa patung itu, Leo mulai menyadari sesuatu mengenai mereka. Golem berbentuk patung itu bukan ditujukan sebagai mekanisme pertahanan, melainkan mereka adalah mekanisme penghancuran. Mereka memang sengaja dibuat dengan tubuh yang keras agar menyulitkan penyusup dalam membunuhnya. Apabila berhasil membunuhnya, mereka akan meledak dan mengubur mereka bersama dengan tempat ini. Leo menyadari hal tersebut setelah melihat perbedaan kekuatan ledakan antara patung pertama dengan yang barusan ia kalahkan. Ini membuatnya menyadari tujuan mereka diletakkan di sini.
“(Jika mereka berusaha merobohkan tempat ini bersama dengan penyusup, maka itu artinya ada sesuatu yang seharusnya tidak boleh dilihat oleh orang luar. Dengan kata lain, ada peninggalan berbahaya di tempat ini...!)” Ujar Leo dalam hatinya curiga.
Melawan mereka bisa membuatnya kehilangan kesempatan menemukan peninggalan itu. Meski begitu, menghindari mereka juga menjadi hal yang mustahil. Mereka selalu menghalangi Leo ketika ia berniat meloloskan diri dari mereka. Ia mau tak mau harus menghabisi mereka sebelum melanjutkan penelusurannya. Meski ia tidak yakin apakah tempat ini masih bertahan atau tidak menghadapi ledakan demi ledakan yang akan terjadi nanti.
Mereka mulai kembali menyerang, namun kini tidak hanya sendiri. Mereka menyerang secara bersamaan dengan pola yang teratur. Secara bergantian, mereka menyerang Leo sebelum kembali mundur menjaga jarak darinya dan mengulanginya. Hal ini tentu menyulitkannya karena jika ia salah membunuh mereka, maka ia sudah dipastikan akan mati terkubur bersama reruntuhan ini. Ia pun terpaksa bertahan sambil memikirkan cara untuk menghadapi mereka.
“(Sial...! Meski dengan sihir, aku justru lebih kesulitan untuk mengalahkan mereka tanpa menghancurkan tempat ini...!)” Gumam Leo dalam hatinya kesal.
Serangan demi serangan ia terima tanpa bisa berbuat banyak. Ia hanya bisa menghindar atau menangkis serangan mereka selagi menahan dirinya untuk tidak gegabah menyerang mereka. Hingga pada akhirnya, tiba ketika giliran menyerang salah satu patung, Leo melihat ada peluang.
“(Dia...! Dia pasti si nomor 3...! Tidak salah lagi...!)” Ujar Leo dalam hatinya spontan.
Tepat ketika patung nomor 3 berniat menyerang, Leo dengan cepat mendahuluinya dengan menebas tubuhnya membelahnya menjadi dua. Dan sama seperti sebelumnya, patung itu bercahaya sesaat sebelum meledak dengan kekuatan yang jauh lebih kuat dari kedua patung sebelumnya. Leo dengan sigap menjauh sebelum ledakan itu meluas, namun pada saat yang bersamaan, secara mengejutkan gelembung udara raksasa muncul dan menjebak patung itu beserta ledakan yang diciptakannya. Seketika itu pula ledakan itu terbungkam oleh gelembung itu ketika Leo yang menyaksikannya terkesima.
“A-Apa yang terjadi...?! Ledakannya diredam...?!” Gumam Leo terkejut.
Bersamaan dengan menghilangnya ledakan, gelembung udara itu juga ikut lenyap menyisakan cipratan air layaknya gelembung pada umumnya. Selang beberapa saat, secercah cahaya terlihat datang menghampirinya ketika suara yang dikenalnya mulai bicara kepada Leo dari balik kegelapan.
“Rupanya kau sedang kesulitan, tuan perampok makam...” Ujarnya terkikik sambil berjalan mendekat.
“Kau... Jadi kau sudah sadar, huh?” Balas Leo melihat ke arahnya dengan mata sihirnya.
“Kukira aku terjatuh dalam perangkap, tapi ternyata ini di luar dugaanku. Aku tidak mengira akan menemukannya akibat kebodohan seseorang...” Balasnya menunjukkan sosoknya.
Suara itu tidak lain adalah Roselia yang kini telah sadar dari pingsannya. Sepertinya dia bangun setelah mendengar suara pertarungannya melawan patung-patung itu. Leo saat ini sudah kerepotan dengan patung-patung ini dan sekarang harus melawannya.
“(Sial, harusnya aku mengikatnya sebelum dia bangun...)” Ujar Leo dalam hatinya kesal.
Untuk saat ini, ia tidak punya waktu meladeninya karena patung-patung itu masih belum berhenti menyerang meski ia telah membunuh salah satu dari mereka. Ia hanya bisa mengandalkan strategi yang sama demi menghindari ledakan yang mungkin bisa meruntuhkan tempat ini.
Di sisi lain, melihat Leo yang kewalahan bertarung melawan mereka, Roselia pun turun tangan membantunya. Ia melemparkan sebuah kristal kebiruan ke udara sesaat sebelum meledak menciptakan cahaya terang layaknya obor sesaat sebelum ia melancarkan serangan. Ia melumuri belatinya dengan sihir airnya sesaat sebelum melemparnya ke arah mereka.
“Tidal Blast.”
Tepat ketika belati itu menancap di tubuh mereka, seketika itu pula belati itu berubah menjadi air bertekanan tinggi. Gerakan mereka seketika terganggu akibat serangan itu, namun sepertinya Roselia tidak terlalu senang dengan hasilnya.
“T-Tidak mungkin...! Harusnya sihirku dapat membelah batu dengan mudah...! Kenapa mereka tidak terpotong...!” Ujar Roselia terkejut dengan ekspresi kesal.
“Mereka bukan terbuat dari batu. Mereka dari baja, tentu saja sihirmu tidak bisa melukai mereka.” Balas Leo bertahan melawan salah satu dari mereka.
“Hah...?! Kau meremehkanku...! Jangan kau pikir aku tidak bisa membelah baja dengan airku...!” Balas Roselia marah.
Tidak terima dengan ucapan Leo, ia lantas mengubah rencananya untuk menyerang dengan kekuatan penuh demi memberi bukti kepadanya. Ia mengambil belatinya sesaat sebelum merapalkan mantra padanya.
“Wahai air pembawa keadilan, berikanlah hukuman pada musuhku...”
Cahaya terang mulai menyelimuti tubuhnya bersama dengan buih-buih air yang perlahan menyatu pada belatinya. Buih-buih air itu menyelimuti belatinya sesaat sebelum mengubahnya menjadi pedang sesaat sebelum ia menggunakannya untuk menyerang mereka.
__ADS_1
“Sword of jugdment...!”
Roselia menerjang mereka dengan marah ketika Leo yang melihat niatnya terkejut oleh tindakannya. Ia lantas mencoba menghentikannya membunuh mereka secara sembarangan.
“Hentikan...! Jangan lakukan itu...! Kau akan menghancurkan tempat ini...!” Seru Leo berusaha mencegahnya.
Namun, peringatan itu tidak dihiraukan olehnya. Roselia tetap menyerang mereka sekuat tenaga dengan tehnik sihirnya. Ia menebas patung itu dengan pedang airnya dalam satu kali ayunan sesaat sebelum ia menggunakan sihir airnya untuk memperluas efek serangannya.
“Spread of Judgment...!”
Secara bersamaan, jalur tebasan pedangnya menyebar ke seluruh tempat dan mengenai seluruh patung yang ada. Dinding yang ada di sekitarnya pun tidak luput menjadi korban, sayatan demi sayatan memenuhi lantai dan dinding ketika Roselia mengubah kembali belatinya ke wujud awalnya bersamaan dengan hancurnya patung-patung itu. Dengan ekspresi angkuh, ia berbalik melihat ke arah Leo sebelum ia berkata kepadanya.
“Sekarang siapa yang lemah, hah...?” Ujar Roselia dengan nada tinggi.
Namun, bukannya merasa terkesan, Leo justru merasa panik melihat apa yang telah diperbuatnya. Dia menghancurkan semua patung itu bersamaan tanpa mendengarkan peringatannya.
“(Celaka...! Mereka akan meledak...! Tempat ini akan runtuh...!)” Ujar Leo dalam hatinya panik.
Dan seperti yang Leo katakan, tepat setelah inti mereka hancur, tubuh mereka mulai bercahaya bersiap untuk meledak ketika Leo yang menyaksikannya dengan panik berlari secepat mungkin menjauh dari mereka. Ia berlari maju menyusuri lorong itu mengabaikan konsekuensi yang ada ketika Roselia yang melihat tindakannya sadar atas apa yang baru saja ia perbuat.
“O-Oi. J-Jangan katakan...!” Gumam Roselia panik menyadarinya.
Roselia yang panik seketika berlari mengikuti Leo sesaat sebelum ledakan dahsyat mengguncang tempat itu. Api seketika meluas melahap lorong itu bersama dengan runtuhnya langit-langit yang menopang tempat itu. Dengan wajah panik, Roselia hanya bisa menyesali perbuatannya ketika ledakan itu nyaris menelannya.
“Hiiiii...!!! A-Aku tidak ingin mati..! Aku tidak ingin mati...! Aku tidak ingin mati...!” Seru Roselia berlari panik.
“Sialan...! Lihat apa yang kau lakukan...! Kau mau membunuh kita berdua, hah...!” Balas Leo dengan nada tinggi.
“Maafkan aku...! Maafkan aku...! Aku mohon maafkan aku...!”
Ledakan itu bahkan sampai menyebabkan getaran yang terasa hingga ke permukaan hutan tempat di mana Lia yang kebingungan tengah mencari Leo.
“...?! Gempa bumi...? Tidak, kurasa bukan...” Gumam Lia terhenti langkahnya.
Meski sekilas, ia seperti merasa tanah di sekitarnya berguncang. Karena merasa curiga, ia pun memutuskan untuk kembali menyisir area hutan untuk mencari penyebab guncangan itu karena kemungkinan besar Leo ada di sana.
“Hngh...!!”
“Tch...!!”
Guncangan hebat mengguncang ruangan tersebut sebagai dampak ledakan. Lorong yang sebelumnya mereka lalui pun akhirnya runtuh tak lama berselang setelah ledakan itu berakhir dan mengurung mereka di dalam ruangan itu tanpa ada jalan keluar.
“A-Apa sudah berakhir...? Kita masih selamat...?” Gumam Roselia dengan nada takut menggenggam tangan Leo.
“Guh... Kurasa masih ada keberuntungan bagiku. Jika saja tidak ada ruangan ini, maka aku pasti sudah tewas oleh ledakan itu...” Gumam Leo bangun mengusap kepalanya yang sempat terbentur.
“I-Itu benar...! Kita masih hidup...! S-Syukurlah...!” Balas Roselia mendengar ucapan Leo.
“Huh...?”
“Eh...?”
Suasana itu terhenti ketika Roselia menyadari bahwa ia berpegangan pada tangan Leo layaknya anak kecil. Wajahnya seketika memerah sesaat sebelum ia berteriak dan menendangnya menjauh darinya dengan ekspresi marah.
“Kyaaa...! A-Apa yang kau lakukan...! B-Beraninya kau mengambil kesempatan di saat seperti ini dasar binatang...!” Seru Roselia marah.
“Ugh...! Hey, yang memegang tanganku adalah kau. Jadi itu salahmu sendiri...” Balas Leo bangun setelah menerima tendangannya.
“T-Tidak masuk akal...! Hanya karena kau memiliki mata sihir, jangan harap kau bisa melecehkanku dalam kegelapan, dasar binatang buas...!” Balas Roselia dengan nada tinggi.
“Maaf saja, aku tidak tertarik dengan bocah sepertimu.”
“B-Bocah...?! B-Beraninya kau mengatakan itu...! Meski tidak sebesar milik adikku, tapi usiaku sudah dewasa kau tahu...!”
“Ternyata memang benar, kau masih bocah.”
“A-Apa...?! I-Ini tidak bisa diterima...!”
__ADS_1
Meski Roselia masih terlihat marah, Leo sama sekali tidak menghiraukannya. Ia hanya fokus pada situasi mereka sekarang yang terjebak tanpa ada jalan keluar. Dengan runtuhnya lorong itu sebagai satu-satunya tempat penghubung ke permukaan, kini mereka terpaksa mencari cara lain untuk keluar dari tempat itu.
“(Sekarang, apa yang harus kulakukan..? Jalan utama menuju permukaan telah runtuh oleh ledakan itu, sekarang bagaimana caraku keluar dari sini...?)” Ujar Leo dalam hatinya berpikir.
Selagi berpikir, Leo memeriksa ruangan itu dengan mata sihirnya berharap bisa menemukan jalan keluar lain dari tempat ini. Namun, meski ia telah memeriksanya dengan teliti, ia tidak menemukan apa-apa selain pintu besar di sebrang ruangan. Itu adalah pintu yang sangat besar setinggi belasan hingga puluhan meter layaknya sebuah gerbang. Untuk sekilas pintu itu mirip dengan reruntuhan yang berada di bawah kota Hillbern. Dan sama sepertinya, pintu tersebut juga disegel dengan sihir yang bahkan terlihat jauh kuat dari yang ada di kota Hillbern. Entah apa yang ada di balik sana, namun jika boleh menebak, kemungkinan besar itu adalah senjata atau makhluk rekayasa yang sama seperti naga bertubuh mesin itu.
“(Jadi ini yang Northey cari, huh? Kelihatannya dia juga disegel sama seperti naga itu untuk beberapa alasan yang serupa. Meski berisiko, tapi aku harus melihatnya dan menghancurkannya jika memungkinkan...!)” Ujar Leo dalam hatinya meneguhkan tekadnya.
Leo lantas berjalan menuju pintu raksasa tersebut untuk memeriksanya ketika Roselia yang penasaran memutuskan untuk mengikutinya.
“H-Hey...! Kau mau pergi ke mana...?” Tanya Roselia dengan nada gelisah.
“....”
“H-Hey...! Aku bicara denganmu...! Apa kau tidak dengar...!” Sambung Roselia berteriak kepadanya.
Meski ia berulang kali memanggilnya, Leo terlihat tidak menghiraukannya. Ia yang kesal lantas berlari mendahuluinya sebelum berhenti tepat di hadapannya dan menghadang jalannya.
“Tunggu dulu! Jangan kau kira bisa mengabaikanku karena kita—“
Namun, tepat ketika Roselia berniat memarahi Leo, secara mengejutkan lantai yang ada di bawah mereka menyala membentuk lingkaran sihir raksasa yang menjangkau seluruh lantai di ruangan tersebut.
“....!!”
“E-Eh...?! A-Apa yang terjadi...?!”
Leo yang terkejut lantas menarik pedangnya dari sarungnya begitu menyadari sihir itu aktif. Dengan penuh waspada, ia lantas memasang posisi bertarung bersiap untuk menghadapi kemungkinan terburuk.
“(Bagaimana mungkin aku melewatkannya...! Padahal dengan mata ini harusnya aku dapat melihat rangkaian sihir itu sebelumnya...! Sial, memang benar harusnya aku membungkamnya...!)” Ujar Leo dalam hatinya kesal.
Berbekal pengalamannya sebelumnya, kemungkinan besar sihir itu adalah sihir pemanggil yang akan memanggil makhluk penjaga. Dalam situasi saat ini, bertarung melawan penjaga akan memperburuk situasi mereka. Mungkin Leo bisa mengalahkan penjaga yang terpanggil oleh sihir itu, namun kemungkinan besar ia akan kehilangan sebagian besar kekuatannya setelah melawannya. Ia tidak bisa bertarung maksimal melawan monster yang ada di balik gerbang itu dan meningkatkan kemungkinan terbunuh dan terjebak di dalam sini.
“Hebat, sekarang kita dalam masalah. Terima kasih atas bantuanmu, nona...” Ujar Leo menyindir Roselia dengan nada kesal.
“A-Apa maksudmu...! B-Bukan salahku jika sihir ini aktif...! Kau harusnya memberitahuku sebelumnya...!” Balas Roselia membantah dengan ekspresi marah.
“Terserah bagaimana kau menyangkalnya, sebaiknya kau bersiap dengan apa yang akan datang.” Balas Leo kembali fokus pada pertahanannya.
“A—“
Tak lama berselang, lingkaran sihir itu memunculkan sesosok monster tepat seperti yang Leo perkirakan sebelumnya. Ia sudah tahu bahwa hal ini akan terjadi, namun tidak dengan Roselia. Dia terlihat panik dan ketakutan begitu menyaksikan sosok monster itu perlahan menampakkan diri dari lubang dimensi itu.
“A-A-Apa itu...?! A-Auranya benar-benar kuat dan tidak wajar...!” Ujar Roselia dengan ekspresi panik.
“.....”
Monster itu perlahan menampakkan wujudnya ke hadapan mereka bersamaan dengan terkejutnya Leo dan Roselia melihat penampilannya.
“Grrrrrr....”
Dari balik suara geramannya yang menggema, terlihat sesosok singa dan Wyvern menampakkan dirinya secara bersamaan sebelum akhirnya seekor kambing dan ular kobra datang mengiringinya.
“H-Hewan-hewan itu... B-Bagaimana bisa mereka ada di sini...?” Tanya Roselia dengan ekspresi gelisah.
“Lihat lebih baik makhluk itu.” Balas Leo dengan ekspresi serius.
“E-Eh...? A-Apa maksudmu...?” Balas Roselia bingung ketakutan.
“Aku tidak akan menyebutnya sebagai hewan...”
Dalam pandangan Roselia, mereka terlihat seperti hewan-hewan yang berjalan beriringan satu sama lain. Namun, tidak bagi Leo yang telah melihat wujudnya dengan jelas. Mereka bukan sekelompok hewan, melainkan hewan itu sendiri. Dengan kata lain...
“M-Mustahil...! M-M-Mereka adalah satu...?!” Ujar Roselia panik terkesima.
Tepat seperti yang Roselia katakan, empat makhluk berbeda itu bergabung dalam satu tubuh menciptakan makhluk campuran yang mengerikan. Terlihat kepala singa, Wyvern dan kambing menyatu di tubuh seekor singa dengan kobra sebagai ekornya. Hanya ada satu kata yang menjelaskan penampilan mereka.
“Mengerikan. Sungguh penampilan yang mengerikan.” Gumam Leo dengan ekspresi sinis.
Dalam kondisi mereka terjebak di bawah tanah, kini mereka harus menghadapi makhluk aneh hasil percobaan yang menjaga tempat itu. Hal ini sekali lagi memaksa Leo untuk menghadapinya agar bisa mencari tahu apa yang tersegel di balik pintu tersebut.
__ADS_1