
Berhadapan dengan Bull yang serius, Leo terpaksa harus ikut serius. Meski ia ragu bisa mengimbangi kecepatan dan kekuatannya sekarang, setidaknya dengan pengalaman yang pernah ia dapatkan ketika memburu monster akan berguna dalam situasinya saat ini.
“(Baiklah, aku harus fokus... Kekuatannya mungkin menyamai Orc petarung dalam hal menyerang dan kecepatannya mungkin bisa dibandingkan dengan Hurricane Drake... Tetapi, dia adalah manusia...)” Ujar Leo dalam hatinya berpikir.
Dengan mempertimbangkan kemungkinan bahwa Bull akan mengerahkan seluruh kekuatannya pada pertarungan ini, maka Leo mendapatkan cara untuk mengalahkannya. Ia meneguhkan hatinya menghadapi Bull dalam wujud terkuatnya. Meski rencananya akan menjadi pedang bermata dua baginya, setidaknya itu layak untuk dicoba.
Ia menatap Bull dengan konsentrasi penuh tepat sebelum pandangannya mulai berubah. Ia dapat melihat angin dan udara yang menyelimuti tubuhnya yang tertarik oleh sihirnya sesaat sebelum Bull mulai menyerang. Bull melesat secepat angin menuju ke arahnya dengan serangannya yang siap dilancarkan. Namun, Leo yang terlebih dahulu menyadarinya lantas menghindar sesaat sebelum pukulan yang keras dilancarkan olehnya.
“Haaaa...!!!”
Pukulannya menciptakan gelombang udara kuat yang menghempaskan semua yang ada di jalurnya. Seketika itu pula tanah dan rerumputan di sekitarnya terbang terbawa pukulannya tepat ketika Leo datang berusaha menyerang balik.
“Haa!”
“Lambat...!”
Tepat sebelum Leo berhasil melancarkan serangannya, Bull seketika berpindah di belakangnya. Ia lantas mengayunkan pukulannya, namun sesaat sebelum ia melancarkannya, Leo secara mengejutkan berbalik dan mengayunkan tendangan keras ke arahnya.
“....”
Namun, sama seperti sebelumnya, tendangan Leo sama sekali tidak berpengaruh kepadanya. Angin dan udara yang menyelubungi tubuhnya menepis serangan miliknya layaknya baju besi. Keadaan ini memang menyulitkan bagi Leo.
“Dasar bodoh...! Kau tidak akan bisa menyentuhku dalam mode ini...!” Seru Bull dengan wajah angkuh.
Bull lantas memanfaatkan kesempatan tersebut untuk membalas. Ia menggerakkan tangannya naik sesaat sebelum sapuan udara yang kuat menerbangkan Leo ke udara.
“Ugh...!”
Ia terlempar puluhan meter ke udara tepat sebelum Bull menembakkan peluru udara ke arahnya. Belasan peluru udara melesat ke arahnya yang tengah mengudara membuat Leo seketika panik begitu melihatnya.
“(Sial...! Ini menjadi lebih buruk...!)” Ujar Leo dalam hatinya panik.
Ia mulai memperbaiki posisinya sesaat sebelum peluru-peluru itu berdatangan. Ia mengambil posisi mengelak di udara, namun sayangnya usaha itu tidak berjalan dengan baik. Ia berhasil menghindari sebagian peluru udara itu, namun sebagai gantinya ia menerima beberapa peluru yang tidak bisa ia hindari. Ia menangkis peluru udara itu, namun karena tekanan yang begitu kuat ia terpaksa terluka saat berusaha menahannya.
“Arghh...!”
Dengan lengan yang penuh luka dan darah, ia perlahan jatuh tepat ketika Bull yang telah merencanakan semua itu telah menunggunya. Ia mengumpulkan segenap kekuatannya pada tinjunya menyebabkan udara di sekitarnya seketika bergetar dan berkumpul pada tangannya.
“Musnahlah pemilik mata sihir...!” Ujar Bull dengan nada tinggi.
Namun, tepat sebelum Bull melepaskan serangannya, secara mengejutkan, sebilah pedang melayang menuju ke arahnya ketika ia hendak mengakhiri Leo dengan serangan terkuatnya.
“(A-Apa...?!)” Ujar Bull terkejut dalam hatinya.
“(Pedang itu...! Jangan-jangan...!)” Ujar Leo dalam hatinya ikut terkejut.
Sebilah pedang secara tidak terduga melayang menuju ke arah Bull, hingga akhirnya memaksanya untuk membatalkan serangannya guna menyelamatkan dirinya. Ia seketika melepas kekuatannya sebelum akhirnya menghindar tepat sebelum pedang itu menancap ke tanah bersamaan dengan saat Leo mendarat. Ia berhasil selamat dari serangan mematikan Bull berkat pedang tersebut.
“Hah...! Hah...! Hah...! Ugh...!”
“....”
Dengan wajah kebingungan, Bull melihat pedang itu sambil bertanya-tanya dari mana datangnya benda itu. Dengan kesal ia melihat ke arah karavan itu sebelum menyadari pedang itu berasal dari salah seseorang di sana. Terlihat bahwa seorang gadis berambut coklat gelap berdiri dengan posisi seperti baru saja melempar sesuatu bersama dengan wanita petualang yang sebelumnya ia lihat berada di sisinya.
“Pedang itu... Jadi dia, huh...? Ada yang berani mengganggu pertarunganku...!” Gumam Bull dengan ekspresi marah.
Benar, tidak lain dan tidak bukan pedang itu adalah milik Lia. Ia selama ini menyaksikan pertarungan Leo ketika sedang diobati hingga pada satu titik pertarungan di mana Leo dalam bahaya. Ia dengan sigap menolongnya dengan melemparkan pedang miliknya ke arah Bull guna menggagalkan niatnya membunuh Leo menggunakan serangan pamungkasnya. Alhasil, ia berhasil melakukannya, namun sebagai gantinya ia harus menanggung rasa sakit yang luar biasa dari lukanya yang terbuka akibat memaksakan diri untuk bergerak ketika sedang diobati.
“Hah...! Hah...! Hah...!”
Ia pun terduduk tidak berdaya setelah melakukannya ketika wanita petualang yang bersamanya terkejut dengan tindakannya.
“Nona kau berhasil, t-tapi lukamu...!” Ujar wanita itu dengan wajah cemas.
“Ugh...! Hah...! Hah...!”
“J-Jangan khawatir...! Aku ada di sini...! Aku akan menyembuhkanmu lagi...!” Sambung wanita itu menghampirinya tergesa-gesa.
Tak berselang setelahnya, Lia tergeletak tidak sadarkan diri dengan lukanya yang semakin memburuk. Setidaknya ia berhasil menggagalkan serangannya mengenai Leo. Sisanya hanya tergantung kepada Leo untuk menentukan nasibnya sendiri.
“L-Leo...” Ujar Lia dengan nada lemah sebelum akhirnya pingsan.
Di sisi lain, setelah kejadian tersebut, Leo akhirnya sadar akan apa yang terjadi. Ia awalnya merasa tidak senang mengetahui Lia telah sadar dan mengikutinya sampai ke sini. Namun setelah melihat apa yang dia lakukan untuknya, Leo mulai berubah pikiran. Ia pun lantas bangkit dan bergerak ke arah pedang Lia yang sengaja ditinggal untuknya sebelum akhirnya mengambilnya.
“Lagi-lagi kau menyelamatkanku... Lia, aku kembali berhutang kepadamu...” Gumam Leo sambil menarik pedang itu dari tanah.
Dengan menggunakan pedang itu, Leo kini bisa melawannya dengan lebih baik. Bull yang melihatnya mengambil pedang itu lantas bicara kepadanya dengan nada angkuh ketika Leo mengacungkan pedang itu ke arahnya sebagai isyarat mengajaknya bertarung.
“Apa yang kau lakukan tidak ada gunanya. Dalam wujud ini, pedang apa pun tidak bisa menyentuhku.” Ujar Bull dengan nada angkuh.
“Sayang sekali, aku tidak berniat menyentuhmu dengan pedang ini...” Balas Leo dengan ekspresi datar.
“Aku sudah cukup mendengar omong kosongmu. Aku akan menghabisimu terlebih dahulu, lalu aku akan menghabisi mereka yang berani mengganggu pertarunganku.” Balas Bull menaruh kuda-kudanya.
“Aku rasa tidak semudah itu...” Ujar Leo bersiap bertarung.
Leo mengganti kuda-kudanya setelah menerima pedang Lia. Ia yang semula hanya bertahan kini memutuskan untuk berbalik menyerang. Meski itu tidak akan mudah, namun setidaknya kini ia bisa menyerang dengan lebih efektif.
“(Selama aku bisa melihat gerakannya, aku bisa mengimbanginya...!)” Ujar Leo dalam hatinya membakar semangatnya.
Pertarungan kembali berlangsung dengan Bull yang memulai serangan. Ia seketika melesat ke arah Leo dengan kecepatan tinggi tepat ketika mata Leo kembali bertransformasi. Pandangannya berubah menjadi jauh lebih tajam sesaat sebelum ia menarik nafas dalam memulai gerakannya.
“Haaa...!!”
__ADS_1
Tepat ketika Bull melancarkan tinjunya, Leo mengayunkan pedangnya menangkisnya. Seketika itu pula tanah di sekitar mereka bergetar dan amblas begitu serangan mereka bertemu. Leo berhasil menghentikan pukulan Bull dengan pedangnya yang membuatnya terkejut.
“(Dia menahan tinjuku yang kuperkuat hanya dengan pedang dan kekuatan fisiknya...! Orang macam apa dia ini...!)” Ujar Bull dalam hatinya terkejut.
Meski sulit dipercaya, tetapi itulah kenyataannya. Leo menahan serangannya hanya berbekal kekuatan fisiknya. Itu menjelaskan alasan mengapa ia dapat bertahan menerima pukulannya.
Merasa terungguli, Bull kembali melancarkan serangannya. Namun, sekali lagi Leo dapat menangkis serangan itu meski ia telah mengerahkan seluruh kekuatannya pada serangan itu. Ia tidak tahu bagaimana, namun kekuatan Leo seperti jauh berbeda dari yang sebelumnya. Ia bahkan mampu mengimbanginya dalam mode bertarung terkuatnya.
“....!”
Secara mengejutkan, Leo mengubah arah pedangnya yang menyebabkan perbedaan arah di antara mereka. Bull yang menekan kekuatannya maju kini ikut terdorong jatuh akibat Leo sebagai penopangnya mengubah kekuatannya. Ia mulai kehilangan keseimbangannya ketika Leo menyambutnya dengan serangannya yang telah direncanakan. Ia mengayunkan pedangnya tepat mengincar tengkuknya ketika Bull dalam keadaan nyaris tersungkur.
“(Meski kekuatannya mengesankan, serangan semacam itu tidak mungkin bisa melukaiku—)
Tepat ketika Bull mengira serangan Leo tidak akan berdampak kepadanya, ia secara mengejutkan menghantam tanah dengan keras ketika menerima serangan itu. Seketika, tanah di sekitar mereka amblas bersamaan dengan guncangan hebat menerbangkan puing-puing tanah ke udara. Bull hanya bisa terkesima mengetahui bahwa ia dipaksa jatuh oleh Leo yang bahkan tidak mampu melukainya.
“(M-Mustahil...! Dia menjatuhkanku hanya dengan ayunan pedangnya...! Apa-apaan kekuatannya itu...!)” Ujar Bull dalam hatinya tersentak.
Menyaksikan hal tersebut, wanita itu hanya bisa terperanga melihat Leo berhasil menjatuhkannya. Hal yang mustahil dilakukan ia dan rekan party-nya dapat dilakukan Leo hanya berbekal pedang pemberian Lia.
“L-Luar biasa...! Dia mampu menyaingi- tidak, bahkan mampu melampaui kekuatannya...!” Gumam wanita itu terkesima menyaksikan pertarungan mereka.
Arah pertarungan mereka telah berubah dari semula Leo yang tidak berdaya kini mengunggulinya. Ini menjadi pertanda yang baik, namun sekaligus menyisakan pertanyaan di benaknya mengenai siapa sebenarnya Leo.
Leo yang berusaha memenggal kepala Bull tertahan oleh perisai udara yang menahan bilahnya. Meski ia unggul dalam kekuatan, namun ia masih belum mampu menembus pertahanan miliknya. Ia berusaha keras untuk menekan kekuatannya melawan perisai itu, namun sayangnya usahanya tidak berhasil.
“(Berat sekali...! Dia memusatkan kekuatannya untuk pertahanan...!)” Ujar Leo dalam hatinya kerepotan.
Bull yang terdesak lantas mengerahkan seluruh kekuatannya untuk melepaskan diri dari cengkraman Leo. Ia melebarkan jangkauan perisai anginnya yang mana membuat pedang Leo terdorong mundur hingga akhirnya memaksanya untuk mundur sesaat sebelum Bull kembali bangkit dan menyerang. Ia mengerahkan seluruh kekuatannya untuk melancarkan serangannya, namun sama seperti sebelumnya, Leo dapat menangkisnya dengan pedangnya.
“Aaaarghhh...! Sialan...! Sialan...! Kenapa kau tidak mati juga...!” Seru Bull sambil terus menyerang Leo.
“Kau mulai kehilangan ketenanganmu. Ada apa? Apa ini pertama kalinya kau terdesak?” Balas Leo mengejeknya.
“Kau...! Aku dasar pengguna mata sihir terkutuk...! Aku tidak akan pernah memaafkanmu...!” Balas Bull marah.
Suara logam berbenturan terdengar di setiap kali mereka saling melancarkan serangan. Dentuman demo dentuman terdengar keras mewarnai duel mereka. Namun, tidak seperti sebelumnya, serangan Leo kini bertambah kuat di setiap ayunannya menyebabkan Bull kewalahan mengimbanginya.
“(K-Kuat sekali...! Setiap ayunan pedangnya terasa sangat berat...! Apa-apaan kekuatan ini...! Ini tidak masuk akal...!)” Ujar Bull dalam hatinya kewalahan.
Pada titik tersebut Bull mulai merasa berada di ujungnya. Ia mulai kehabisan kekuatan sihir untuk mempertahankan wujud zirah anginnya. Dan pada saat itu pula Bull sadar bahwa selama ini telah masuk dalam rencana Leo.
“(Tunggu dulu, dia bukannya yang bertambah kuat, tapi akulah yang melemah...! Dia selama ini sengaja menerima semua seranganku agar menguras kekuatanku...!)” Sambung Bull dalam hatinya kesal.
Benar, itulah yang selama ini Leo lakukan. Ia sengaja menghindar dari pada menyerang demi menguras tenaganya sedikit demi sedikit. Strategi ini memang bisa menjadi pedang bermata dua baginya karena selain harus terus menghindari serangan mematikan yang di arahkan padanya, ia juga harus bisa menjaga staminanya untuk membalas serangan di akhir nanti. Inilah alasan utama Leo tidak banyak menyerang Bull meski ia bisa mengimbanginya dalam hal kekuatan.
“Kau...! Jadi selama ini kau merencanakan ini...!” Ujar Bull dengan nada marah.
“Dasar pecundang licik...!” Balas Bull marah.
Tepat ketika Leo berniat mengayunkan pedangnya, Bull menyerangnya terlebih dahulu dengan kekuatan penuh. Ia mengerahkan seluruh kekuatannya pada serangan tersebut.
“Haaa....!”
Seluruh kekuatannya terpusat pada tinjunya hingga tanpa ia sadari zirah angin yang melindunginya menghilang akibat terlalu memusatkan kekuatannya pada serangan tersebut. Tanah dan udara di sekitar mereka seketika bergetar sebelum akhirnya tinju Bull menghempaskan semua yang ada di hadapannya. Tekanan udara yang dihasilkannya menerbangkan tanah dan rerumputan di jalurnya hingga menyisakan kawah sedalam puluhan meter. Itu adalah serangan penuhnya sebelum akhirnya ia kehilangan kekuatannya. Namun setidaknya, ia berhasil mengenai Leo tepat sebelum ia kehilangan wujud anginnya, atau setidaknya itulah yang Bull pikirkan.
“....?!”
Secara mengejutkan, lengan Bull terpotong ketika sebuah kilatan cahaya terlihat bergerak menembus awan debu itu. Bull seketika panik menyadari bahwa lengannya telah putus tepat setelah ia mengerahkan serangannya sesaat sebelum Leo muncul tepat di sampingnya dengan tatapan mata biru tua yang menyala sambil menyilangkan pedangnya pada lehernya.
“Dan orang yang kau sebut pecundang sekarang yang mengalahkanmu.” Ujar Leo dengan nada dingin.
“K-K-K-Kau...! B-B-Bagaimana bisa—“
Namun, tepat sebelum Bull menyelesaikan kalimatnya, Leo memenggal kepalanya dengan sekali ayunan sebelum akhirnya Bull tewas terkapar bersimbah darah. Pertarungan itu telah usai dengan menyisakan Leo sebagai pemenangnya ketika petualang wanita yang menyaksikannya tersenyum gembira menyaksikannya.
“B-Berhasil... D-Dia berhasil...! Dia berhasil mengalahkannya...! Dia mengalahkan bos perampok itu...!” Ujar wanita itu bersorak gembira.
Leo akhirnya mengalahkannya meski tanpa bantuan mereka berdua. Dia menyelesaikan apa yang tidak bisa ia dan rekan petualangnya lakukan. Ini memang benar-benar di luar dugaan.
“(Dia melakukannya... Dia membalaskan dendam teman-temanku... Sesuatu yang tidak bisa kulakukan sebelumnya... Dia yang awalnya terdesak kini membalikkan keadaan dan berhasil menang...)” Ujar wanita itu dalam hatinya terpukau.
Di sisi lain, tepat setelah Leo mengalahkannya, ia mendadak kehilangan keseimbangan hingga memaksanya berlutut dan bertumpu pada pedangnya ketika ia membuang nafas keras terengah-engah.
“Hah...! Hah...! Hah...! A-Aku berhasil...! Aku berhasil... Bertahan tepat... Pada waktunya...!” Gumam Leo dengan nafas berat.
Meski terkesan mendominasi pada pertarungan akhir, sebenarnya Leo juga berada pada keadaan yang sama dengan Bull ketika pertarungan mendekati akhir. Ia juga telah kehilangan banyak tenaga untuk menghindar dan menerima serangan. Ia sempat berpikir bahwa ia tidak akan berhasil, namun beruntung, Lia sempat membantunya hingga ia dapat mengungguli Bull pada saat-saat terakhir. Dan sebagai hasilnya, ia berhasil memenangkan pertarungan.
“(Meski begitu, aku tertolong berkat pandanganku yang tiba-tiba berubah ini... Aku bisa melihat semua serangannya dan meminimalisir dampak serangannya, walau aku tidak tahu apa yang menyebabkannya...)” Ujar Leo dalam hatinya memikirkan perubahan aneh padanya.
Pertanyaan mengenai perubahan mendadak penglihatannya memang menimbulkan misteri bagi Leo. Ia mulai memikirkan apa yang sebelumnya Bull katakan mengenai dirinya saat tengah bertarung.
“(Mata sihir, huh...? Apa benar aku membangkitkan Skill...? Ini terkesan tidak masuk akal sama sekali... Tetua pernah mengatakan kepadaku bahwa aku bukan pembawa berkah maupun penerima berkah...)” Sambung Leo memikirkan kembali anggapan awalnya.
Aneh, namun Leo merasa perubahan dalam dirinya bukanlah akibat dari membangkitkan Skill. Hal ini didasari oleh kenyataan bahwa Leo bukanlah pembawa maupun penerima berkah dewa. Dalam keadaan tersebut, harusnya mustahil bagi Leo dapat membangkitkan Skill. Hal ini memang terasa janggal dan membingungkan, namun Leo untuk saat ini tidak terlalu mempermasalahkannya. Ada hal yang jauh lebih penting untuk diperhatikan dari pada berdebat dengan diri sendiri saat ini.
Setelah terdiam sejenak, Leo akhirnya kembali bangkit dan menghampiri kereta karavan tempat Lia dan petualang wanita itu berada. Ketika sampai, Leo dikejutkan dengan keadaan Lia yang memburuk dengan luka di tubuhnya kembali terbuka.
“Lia...!” Ujar Leo panik melihat keadaannya.
“Ah. Tuan berambut putih, jangan khawatir. Aku sedang mengobatinya dengan sihir penyembuhku.” Balas wanita itu dengan nada serius.
“Bagaimana bisa lukanya kembali terbuka? Bagaimana dia bisa ada di sini? Bukankah aku menyuruhmu untuk mencari bantuan?” Balas Leo dengan nada marah.
__ADS_1
“Kalau masalah itu, sebenarnya...”
Wanita itu mulai menjelaskan bagaimana ia bisa bertemu dengan Lia di jalan sebelum akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke sini setelah melihat jasad rekannya.
“Jadi begitulah... Saat aku sampai, nona ini sedang bertarung melawan anak buah yang tersisa sebelum akhirnya aku datang untuk membantunya...” Ujar wanita itu menceritakan kejadian sebelumnya.
“Begitu ya... Lagi-lagi dia berbuat nekat hanya demi menolongku...” Balas Leo bergumam melihat ke arah Lia yang pingsan.
“Ya. Lukanya bertambah parah setelah ia mencoba menolongmu dengan memberikan pedangnya kepadamu. Aku sendiri terkejut melihat kekuatannya yang bahkan dalam keadaan terluka parah masih mampu melempar pedang sejauh ratusan meter. Benar-benar kekuatan yang mengesankan...” Balas wanita itu dengan perasaan kagum kepadanya.
“Yah, dia memang luar biasa walau sesekali bisa berbuat di luar dugaan...” Balas Leo sambil menghela nafas.
Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa Leo berhasil memenangkan pertarungan itu berkatnya. Walau tindakannya terkesan gegabah, setidaknya ia tertolong berkat tindakan gegabahnya.
Setelah beberapa saat merapalkan sihirnya, wanita itu selesai mengobati Lia. Luka yang terbuka kini kembali tertutup dengan rapi tanpa meninggalkan bekas sebelum wanita itu menghela nafas sambil menyeka keringat di keningnya.
“Kurasa sudah beres... Dengan begini luka dan pendarahannya akan berhenti. Sisanya hanya tinggal membiarkannya istirahat hingga kembali sadar...” Ujar wanita itu tersenyum masam.
“Terima kasih. Aku sangat terbantu.” Balas Leo dengan ekspresi gembira.
“Dan ngomong-ngomong soal luka, lukamu terlihat cukup parah, biarkan aku mengobatinya untukmu...” Balas wanita itu melihat luka Leo.
“Ah. Jika hanya ini aku masih baik-baik saja. Aku sudah terbiasa menerima luka.”
“Tidak, itu harus diobati sebelum terlambat. Anggap saja ini sebagai balas budi karena telah menyelamatkanku.”
“... Baiklah jika kau memaksa.”
Wanita itu kembali merapalkan mantra sihirnya untuk mengobati luka di lengan dan wajah Leo. Secara perlahan, luka yang ada di tubuhnya sembuh sebelum akhirnya Leo kembali seperti sedia kala.
“Sekarang sudah selesai. Bagaimana perasaanmu?” Tanya wanita itu sambil tersenyum.
“Ya. Jauh lebih baik. Terima kasih.” Balas Leo sambil memeriksa lukanya.
“Senang mendengarnya. Kalau begitu...” Balas wanita itu sebelum memasang ekspresi sedih.
“Apa yang akan kau lakukan? Apa kau akan kembali ke kota asalmu?” Balas Leo dengan ekspresi serius.
“Mungkin saja... Tapi setelahnya, aku tidak tahu lagi harus berbuat apa. Aku rasa aku tidak bisa menjadi petualang lagi...” Balas wanita itu memalingkan wajahnya sedih.
Leo turut prihatin dengannya yang telah kehilangan rekan petualangnya. Dalam keadaan tersebut, Leo tidak bisa berkata apa-apa lagi untuknya karena mungkin saja itu bisa menambah kesedihannya.
Wanita itu melihat sesaat pada mayat para pedagang yang gagal ia lindungi dan kereta karavan yang telah kehilangan kudanya sebelum ia menghela nafas panjang kembali berbicara dengan Leo.
“Aku gagal menjalankan tugasku dan juga, aku telah kehilangan rekan-rekanku... Kurasa akan sulit untuk kembali berkarier sebagai petualang dengan kondisi seperti ini...” Sambung wanita itu dengan ekspresi kecewa.
“Lantas, apa yang akan kau lakukan?” Balas Leo bertanya.
“Jika boleh jujur, aku juga tidak tahu. Awalnya aku menjadi petualang karena ingin mengembangkan diriku karena aku bisa menguasai sihir. Tapi ternyata itu tidak berjalan baik seperti yang aku kira pada awalnya...” Balas kembali wanita itu tersenyum pahit.
“Aku tidak bisa berkomentar mengenai itu.”
“Hey, tuan berambut putih, kau petualang juga, bukan? Apa alasanmu menjadi petualang?”
“Alasanku?”
“Benar, aku yakin kau punya beberapa hal yang membuatmu menjadi petualang, bukan?
Leo terdiam begitu mendengar pertanyaan itu. Alasan sebenarnya menjadi petualang awalnya karena ia terpaksa menuruti keinginan Lia. Namun, saat ini ia kembali berpikir alasan mengapa ia memutuskan untuk meneruskan menjadi petualang.
“... Pada awalnya aku hanya terpaksa, mungkin singkatnya begitu.” Jawab Leo memalingkan wajahnya.
“Terpaksa?” Balas wanita itu dengan wajah bingung.
“Begitulah. Aku awalnya hanya mengikuti keinginan seseorang. Tetapi sekarang, aku hanya mengikuti alurnya saja.” Balas Leo kembali menatapnya.
“Mengikuti alur? Jadi, kau hanya mengikutinya saja?”
“Entahlah. Aku juga tidak terlalu mengerti. Tetapi yang jelas, aku belajar lebih banyak mengenai dunia ini melalui sudut pandang baruku sebagai petualang. Mungkin, itulah alasan utamaku saat ini.”
Wanita itu terdiam setelah mendengarkan ucapan Leo sebelum akhirnya ia tersenyum setelah menyadari sesuatu.
“Begitu ya. Itu alasan yang paling menarik dari setiap orang yang pernah aku temui. Terima kasih banyak, berkatmu aku kini tahu apa yang harus kulakukan setelah kembali nanti.” Ujar wanita itu tersenyum manis kepadanya.
“Begitu ya. Senang mendengarnya.” Balas Leo tersenyum kecil membalasnya.
“Boleh aku tahu siapa namamu?” Balas wanita itu menundukkan badannya.
“Leo, Leonard Ansgred.”
“Leonard Ansgred... Mm. Nama yang bagus. Senang mengenalmu, Leonard-san, namaku Airith. Aku tidak akan pernah melupakanmu...”
“Airith...”
“Benar, itulah namaku. Aku akan selalu mengingat kebaikanmu, Leonard-san.”
Airith menjabat tangan Leo sebelum akhirnya ia pergi setelah menundukkan badannya dengan sopan kepadanya.
“Sampai jumpa lagi, Leonard-san. Aku tidak akan pernah melupakanmu.” Seru Airith melambaikan tangannya
“Ya. Sama-sama.” Balas Leo ikut melambaikan tangannya.
Dan dengan begitu, Airith pergi kembali menuju ke tempat asalnya sebelum Leo menggendong Lia di punggungnya melanjutkan perjalanannya kembali.
__ADS_1