Black Arc Saga

Black Arc Saga
Menuju kedalaman


__ADS_3

Keadaan canggung bercampur tegang menjadi satu ketika Lia menantikan jawaban Leo. Keraguan mulai menyelimuti hati Lia yang mulai memikirkan tujuan awal Leo yang berniat pergi melakukan pekerjaan misterius yang dimaksudnya saat hendak melakukan perjalanan ke kota ini. Apakah kegelisahannya selama ini memang sengaja Leo sembunyikan darinya, itulah yang mengganggunya sejak memutuskan ikut pergi bersamanya.


 


“(Leo... Apa itu benar...? Apa kau berniat melupakanku dan pergi untuk selamanya...?)” Ujar Lia dalam hatinya sedih.


 


Entah apa yang dipikirkannya saat ini, semuanya masih abu-abu. Tidak banyak yang bisa ia tebak hanya dengan melihat punggungnya meski ia telah memegangi tangannya.


 


“Lia...” Balas Leo mengangkat wajah sebelum akhirnya berbalik.


 


“....?!”


 


“Kenapa kau mengatakan sesuatu seperti itu? Apa jangan-jangan kau takut kegelapan dan kedalaman?” Sambung Leo melihat ke arahnya dengan wajah khawatir.


 


“E-Eh...? Aku tidak...” Balas Lia kebingungan.


 


“Wajahmu terlihat pucat... Bagaimana kalau kita istirahat sejenak?” Balas Leo meraih pipinya dan memeriksa kondisinya.


 


“B-Bukan itu...! Aku... Apa kau tidak dengar yang kukatakan barusan...?” Balas Lia menatapnya sungguh-sungguh.


 


“....”


 


Leo terdiam sejenak sebelum memberikan sebotol air kepadanya dan mengubah alur pembicaraan.


 


“Maaf memaksamu... Harusnya kita tidak langsung menerima pekerjaan ini saat baru saja sampai...” Ujar Leo memberikan botol itu kepadanya.


 


“....”


 


“Mengenai ucapanmu tadi... Apa yang kau tanyakan? Maaf, tapi aku kurang memperhatikan sebelumnya...” Sambung Leo tersenyum sambil menggaruk rambutnya.


 


“....”


 


“Beristirahatlah, aku akan menunggumu sampai kau siap.” Sambung Leo meninggalkannya sejenak.


 


Leo pergi meninggalkannya di belakangnya untuk membiarkannya pulih sejenak. Lia tidak mengerti kenapa Leo melakukannya, tetapi ia sadar bahwa pertanyaannya barusan pasti menyakiti hatinya. Ia pasti secara tidak sadar mengingatkan Leo pada sesuatu yang tidak ingin diingat olehnya.


 


“(Ternyata benar... Meski kau tersenyum, kau juga menelan rasa pahit pada saat yang sama... Ini adalah salahku membuatnya menjadi seperti itu...)” Ujar Lia dalam hatinya menyesal.


 


Di sisi lain, Leo yang menjauh dari Lia hanya bisa tertunduk kesal atas apa yang ia katakan kepadanya. Ia tahu bahwa suatu saat ia harus memberitahu kebenarannya kepada Lia, tetapi entah kenapa hatinya masih belum mampu mengutarakannya. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding lorong sambil menyesali perkataannya.


 


“(Ah... Aku melakukannya lagi... Lagi-lagi aku membohongi diriku sendiri dan orang di sekitarku... Sungguh menyedihkan sekali...)” Ujar Leo dalam hatinya kecewa.


 


Bagaimana pun juga, Lia harus tahu mengenai masalah ini. Hanya saja, ia merasa situasi mereka saat ini belumlah tepat untuk mengatakannya. Ia hanya bisa menunggu waktu yang sesuai untuk mengungkapkan semuanya kepada Lia dan saat di mana ia akan mengucapkan selamat tinggal dengannya.


 


“(Maafkan aku, Lia... Tapi, saat itu tiba pasti akan kukatakan semuanya kepadamu... Kau boleh membenciku, aku juga tidak akan menyalahkanmu... Jadi, sampai saat itu tiba, aku akan selalu berbohong...)” Ujar Leo dalam hatinya bangun dari tempatnya sambil menguatkan hatinya.


 


Dalam hatinya Leo tetap merasa bersalah, Leo akan tetap menjaga janjinya kepada Zille meski itu artinya harus membohongi Lia. Meski akan berakhir dibenci olehnya, Leo akan tetap menjalankan tugas terakhir yang dibebankan untuknya.


 


Setelah beberapa saat, akhirnya Leo kembali menghampiri Lia untuk memeriksanya. Meski perasaan Lia terlihat belum membaik, ia akhirnya memutuskan untuk menghiburnya agar setidaknya merubah suasana hatinya.


 


“Apa kau sudah merasa lebih baik? Aku sempat menelusuri area di depan sana dan menemukan jejak regu yang sebelumnya dikirim.” Ujar Leo menghampiri Lia yang termenung.


 


“.... Mm.” Balas Lia mengangguk.


 


“Ah, benar juga. Berhubung kita sampai di sini, mungkin ada baiknya kau membeli pakaian baru. Mungkin agak memalukan mengatakan ini, tetapi sesekali aku ingin melihatmu dalam penampilan yang berbeda...” Sambung Leo mencoba mengubah topik.


 


“Eh...?”


 


“Sejujurnya... Aku hanya membelikan baju tanpa tahu seleramu... Mungkin setelah ini kita bisa membeli yang baru, atau semacam itu...”


 


“....”


 


Lia kembali terdiam merenung mendengar ucapannya. Sepertinya Leo telah salah bicara lagi kepadanya. Ia sejujurnya tidak tahu bagaimana menghibur hatinya, ia hanya mengatakan apa yang sering dilakukan orang-orang saat ia mengunjungi kerajaan atau kota yang pernah ia lalui sebelumnya.


 


“(Ini bukan pertanda baik... Apa aku membuatnya marah...? Lagi pula aku juga tidak tahu apa kesukaan gadis kalangan atas...)” Ujar Leo dalam hatinya panik.


 


Lia melihat ke arahnya saat itu terjadi, namun reaksi Lia tidak seperti yang ia duga sebelumnya.


 


“Aku bukan bangsawan... Aku hanya kebetulan lahir sebagai anak yang menerima gelar itu...” Ujar Lia menyembunyikan wajahnya di balik bayangannya.


 


“....?!”


 


“Ibuku hanya seorang wanita dari kalangan biasa... Aku bukan murni seorang bangsawan... Kami hanya menerimanya dari ayahku...” Sambung Lia menceritakan mengenai latar belakangnya.


 


“Lia...” Bisik Leo prihatin melihatnya.


 


“Semua orang memperlakukanku berbeda... Semua memandangku karena nama keluargaku... Tidak ada yang benar-benar melihatku sebagai diriku sendiri...”


 


“....”


 

__ADS_1


Leo perlahan mengerti bagaimana perasaan Lia saat ini. Lahir dalam keluarga bangsawan memang suatu anugerah, tetapi di sisi lain, ia juga harus menanggung beban dan tanggung jawab yang berbeda dari orang biasa. Hidup dengan layak dan memiliki status sosial yang tinggi, tidak serta merta membuat Lia bahagia. Setidaknya, itulah yang Leo pahami saat mendengar ucapannya.


 


“(Begitu ya... Lia, kau pasti kesepian, bukan...?)” Ujar Leo dalam hatinya melihat ke arahnya yang tengah bersedih.


 


Dengan sedikit memahami perasaannya, Leo mulai berpikir untuk mengubah cara pikirnya. Selama ini ia berkelana dengannya hanya demi memenuhi janjinya, tetapi ia tidak pernah sekali pun memikirkan bagaimana perasaan Lia.


 


“Tentu saja tidak. Kau adalah dirimu sendiri... Meski kau jarang bicara, tetapi kau selalu memperhatikan semua yang ada di sekitarmu dengan baik. Lemah lembut namun juga kuat, itulah Lia yang selama ini kukenal...” Ujar Leo tersenyum kepadanya.


 


“Eh...?” Balas Lia spontan terkejut mengangkat wajahnya.


 


“Mungkin karena aku terbiasa sendiri, aku agak canggung saat berada di dekatmu... Tetapi, aku tidak pernah memandangmu seperti itu... Lia adalah Lia, seorang gadis berambut coklat gelap panjang dengan mata berwarna biru safir yang menawan... Atau kurasa seperti itu... Aku memang payah dalam bicara dengan perumpamaan...” Sambung Leo sambil menggaruk rambutnya gugup.


 


“....”


 


Leo yang terlanjur gugup hanya bisa ikut terdiam saat Lia menatapnya terkesima. Ia hanya mengatakan apa yang terlintas di benaknya tanpa memikirkan apa akibatnya.


 


“(Apa yang barusan kukatakan...! Lia saat ini pasti tengah memikirkan apa yang barusan kukatakan padanya...!)” Ujar Leo dalam hatinya panik kebingungan.


 


Lia tersenyum sebelum akhirnya ia bangun dari tempatnya membalas ucapan Leo.


 


“... Terima kasih, Leo. Maaf atas pertanyaanku sebelumnya.” Ujar Lia tersenyum senang sambil berjalan berlalu mendahuluinya.


 


“Uh... Apa?” Balas Leo terdiam kebingungan.


 


“Kau benar, kita masih punya pekerjaan untuk kita selesaikan.” Ujar Lia berhenti tepat di hadapannya sambil mengulurkan tangannya.


 


“.....”


 


Senyuman Lia justru membuat Leo kebingungan dengannya. Ia yang semula mengira Lia akan marah karena salah paham mengenai ucapannya, kini justru tersenyum sambil mengulurkan tangan padanya. Ia tidak tahu mengapa, tetapi sepertinya ia berhasil mengubah suasana hati Lia. Ia pun menghela nafas lega sebelum akhirnya kembali berjalan bersamanya.


 


“Ya. Kau benar. Kita masih punya pekerjaan di sini.” Ujar Leo tersenyum membalasnya.


 


Mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka menyusuri lorong galian panjang tersebut mengikuti peta yang ada. Setelah menempuh waktu yang cukup lama, akhirnya mereka tiba di tangga penghubung menuju ke lantai selanjutnya tepat ketika beberapa prajurit terlihat berjaga di sana. Namun, sepertinya keadaan mereka tidak terlihat baik-baik saja.


 


“Hm? Apa kalian petualang yang diutus Guild petualang?” Tanya salah seorang prajurit yang berdiri di dekat seorang prajurit yang terbaring lemah.


 


“Ya, apa terjadi sesuatu kepadanya?” Balas Leo menghampiri mereka.


 


“Singkatnya, dia korban dari serangan makhluk tambang misterius itu...” Jawab prajurit itu melihat kondisi temannya yang terluka.


 


 


“Awalnya kami regu yang ditugaskan memetakan jalan, tetapi tiba-tiba saja makhluk itu berdatangan dan menyerang kami... Alhasil, kami memutuskan mundur serta sisanya akan ikut bersama regu penjelajah.”


 


“Begitu ya. Kurang lebihnya kami paham. Lalu, bagaimana keadaan di bawah sana saat ini?”


 


“Sebelum kami mundur, para petualang dan pasukan kami berhasil menghabisi mereka. Sekarang, mereka memutuskan melanjutkan penyelidikan menuju daerah yang belum terpetakan.”


 


Leo mengambil peta ketiga sebelum akhirnya menyadari bahwa peta tersebut masih belum selesai. Ada beberapa bagian yang belum selesai digambar dan hanya menyisakan lembaran kosong. Kini semua penjelasannya jadi masuk akal.


 


“Benar juga, apa kalian hanya berdua? Kukira yang datang akan lebih banyak lagi.” Ujar prajurit itu melihat ke arah mereka dengan wajah bingung.


 


“Bisa dibilang begitu... Di kota asal, hanya kami yang diutus. Hanya itu saja yang kutahu.” Balas Leo singkat.


 


“Sejujurnya kami kekurangan orang... Kalau masalah kekuatan tempur, mungkin kami masih cukup, tetapi untuk membuka jalur dan yang lainnya kami masih butuh tenaga... Maka dari itu kami menyewa petualang dan menyerahkan masalah pertahanan kepada mereka.” Sambung prajurit itu melipat tangannya menjelaskan masalah yang tengah melanda mereka.


 


“Jadi begitu...”


 


“Ah, benar juga. Aku terlalu banyak bicara sampai menahan kalian di sini. Aku mungkin khawatir dengan jumlah kalian, tetapi aku tidak meragukan kemampuan kalian. Jadi, mohon bantuannya. Kami serahkan rekan-rekan kami kepada kalian.”


 


“Ya, serahkan kepada kami.”


 


“Mm. Aku mengandalkan kalian.”


 


Setelah memberi perintah, Leo dan Lia akhirnya turun menggunakan elevator dibantu dengan salah seorang prajurit rekannya. Perjalanan turun mereka kali ini terasa lebih lama dibandingkan dengan ketika mereka hendak menuju ke lantai dua. Kemungkinan, kedalaman lantai ketiga lebih dalam dari lantai lain.


 


Setelah beberapa menit, mereka akhirnya tiba di lantai dasar tempat elevator menginjak dasarnya. Di sana, mereka disambut dengan kemah sederhana dan beberapa orang prajurit yang bersiaga di sana. Terlihat pula prajurit yang terluka yang sebelumnya dikatakan oleh prajurit di atas.


 


“Luka mereka cukup parah juga... Sepertinya kita tidak bisa meremehkan lawan kita kali ini...” Gumam Leo melihat pada para prajurit yang terluka di kemah.


 


“... Mm. Kita informasi mengenai mereka juga samar-samar.” Balas Lia berbisik kepada Leo.


 


“Kau benar. Kita sebaiknya waspada.”


 


“... Mm.”


 


Mereka pun menghampiri salah seorang prajurit yang berjaga untuk mendapatkan informasi terbaru di baris depan penelusuran.


 


“Regu dibagi menjadi tiga kelompok saat ini. Mereka masing-masing bertugas menelusuri cabang jalan yang kami duga merupakan bekas-bekas tambang kuno.” Ujar prajurit itu menjelaskan secara singkat.

__ADS_1


 


“Begitu ya. Apakah ada regu yang kekurangan orang? Kami mungkin bisa membantu mereka.” Balas Leo bertanya sekali lagi.


 


“Coba kuingat dulu... Kurasa regu ketiga sempat kehilangan beberapa prajurit pengawal karena diserang monster tambang itu... Benar, mereka membutuhkan bantuan di sana. Mereka sedang menelusuri jalur paling kiri.” Jawab prajurit itu menaruh jari pada dagunya berpikir.


 


“Terima kasih atas informasinya, paman. Kami akan segera ke sana.”


 


“Ya. Berhati-hatilah dan ingatlah selalu bawa penerangan. Di depan sana nyaris tidak ada penerang cahaya.”


 


“Kami mengerti.”


 


Setelah menerima informasi itu, Leo dan Lia pun pergi melanjutkan perjalanan mereka guna mengejar regu ketiga yang memerlukan bantuan. Lorong gelap menyambut perjalanan mereka, kesunyian seketika membekuk telinga saat mereka melangkahkan kaki mereka maju menuju ke kedalaman. Pengap bercampur lembab, itulah yang menyelimuti seluruh tempat itu. Tidak seperti lantai kedua, tekanan udara terasa jauh lebih besar di lantai ini hingga membuat perasaan yang kurang menyenangkan saat menghirup nafas.


 


“(Akhirnya terasa juga... Udara terasa lebih berat di bawah sini... Ini akan menyulitkan jika saat menghadapi musuh...)” Ujar Leo dalam hatinya sambil menghela nafas panjang.


 


Kondisi ini tentu akan merugikan pertarungan mereka nantinya jika tidak terbiasa dengan keadaan saat ini. Dengan aliran udara yang nyaris tidak ada, pastinya akan menjadi masalah tersendiri. Sekarang Leo mengerti kenapa dibutuh petualang dengan peringkat menengah ke atas.


 


Dalam perjalanan, secara tidak sengaja mereka menemukan bekas-bekas pertarungan di lantai lorong. Itu adalah pecahan batu dan mineral yang berserakan di sekitar mereka. Kemungkinan besar, pecahan batu dan mineral ini adalah milik makhluk tambang yang sebelumnya bertemu dengan regu penjelajah.


 


“... Tidak salah lagi ini pasti kepingan tubuh monster itu.” Ujar Leo mengambil salah satu pecahan kristal.


 


“Itu artinya kita semakin dekat dengan mereka.” Balas Lia melihat kegelapan di depan mereka.


 


“Ya. Sebaiknya kita bergegas sebelum ada kejadian buruk lainnya.” Balas Leo bangkit dari posisinya sebelum kembali melanjutkan perjalanan.


 


Dengan obor kristal, mereka dapat melihat sedikit lebih baik dalam kegelapan dan melangkah maju melanjutkan perjalanan mereka. Leo juga sempat mencium bau yang busuk namun samar di sekitar mereka, kemungkinan itu adalah bau gas yang pernah prajurit itu peringatkan sebelumnya.


 


“Lia, tutup hidungmu... Aku rasa kita sampai tempat yang dikatakan pandai besi sebelumnya...” Ujar Leo sambil menutup mulut dan hidungnya dengan tangannya.


 


“... Mm.”


 


“Meski samar, kita harus tetap berhati-hati...”


 


“... Mm.”


 


Mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka melewati celah tempat keluarnya gas tersebut. Dalam kondisi tertutup dan tekanan udara yang tinggi, gas itu bisa saja meledak secara tiba-tiba meski tidak terpicu oleh percikan api. Maka dari itu, mereka mengamati sekitar agar tidak terjadi hal yang diinginkan.


 


Setelah menyusuri lorong gelap yang dipenuhi gas, mereka akhirnya tiba di percabangan yang sebelumnya disebutkan oleh prajurit di kemah. Terlihat beberapa obor kristal diletakkan di depan pintu masuknya sebagai penanda bahwa regu sebelumnya telah mencapai tempat tersebut dan tengah menyelidikinya. Leo melihat pada petanya untuk memastikan bahwa apa yang dikatakan prajurit itu benar atau tidak.


 


“Kita sampai... Di depan kita terdapat tiga jalur yang belum pernah dipetakan maupun dijelajahi...” Ujar Leo melihat petanya sambil mengoreksinya dengan apa yang ia lihat.


 


“.... Dengan kata lain, salah satu dari jalan ini merupakan jawaban dari semua kejadian di tempat ini.” Balas Lia melihat ketiga jalan di hadapannya.


 


“Ya. Tapi saat ini tugas kita adalah menolong dan melengkapi regu yang membutuhkan bantuan.” Balas Leo melihat ke arahnya sambil menyimpan kembali petanya.


 


Saat mereka baru saja hendak melangkahkan kaki, mereka mendengar suara memekik logam menggema dari salah satu lorong di depan mereka.


 


“Kau  dengar itu, Lia...!” Ujar Leo memusatkan perhatiannya pada suara tersebut.


 


“Mm. Itu suara pertarungan!” Balas Lia mengangguk dengan sikap waspada.


 


“Itu pasti mereka...! Para monster tambang...!”


 


“Aku juga berpikir demikian!”


 


Namun, yang menjadi masalahnya adalah dari mana sumber suara tersebut. Saat menyentuh telinga mereka, suara tersebut merupakan pantulan gema dari suara aslinya yang tersebar akibat bersentuhan dengan dinding gua. Ini membuat mereka berdua kesulitan menemukan sumber suara tersebut.


 


“(Dari mana suara itu...? Apakah dari regu ketiga...? Atau dari regu yang lain...? Ini buruk, aku tidak bisa menemukan dari mana suara itu bersumber....!)” Ujar Leo dalam hatinya kebingungan.


 


Ia pun mendekati salah satu lorong untuk memeriksanya diikuti Lia yang memeriksa lorong lainnya. Seketika itu pula ia mendengar suara itu menguat dari lorong di ujung kiri yang merupakan tempat regu ketiga berada.


 


“Lia...! Asalnya dari sini...! Mereka dalam masalah...!” Ujar Leo dengan nada panik.


 


“Di sini juga! Aku mendengar suara pertarungan dari ujung lorong ini!” Balas Lia dengan nada cemas.


 


“Apa...?!”


 


Regu ketiga dan regu lain yang berada di lorong tengah sedang dalam masalah pada saat yang bersamaan. Hal itu sontak membuatnya dan Lia menjadi bingung dan panik. Jika terus dibiarkan, ada kemungkinan nyawa mereka dalam bahaya.


 


“(Sial...! Sepertinya tidak ada pilihan lain...!)” Ujar Leo dalam hatinya kesal.


 


Leo menatap Lia pada saat ia menatapnya secara bersamaan. Lia juga sepertinya tahu bagaimana pikiran Leo dan bersama mereka menganggukkan kepala sebelum akhirnya berlari menuju ke masing-masing lorong.


 


“Lia, kuserahkan di sana kepadamu...!” Seru Leo berlari masuk ke dalam lorong melemparkan obornya kepada Lia.


 


“Mm...!”


 


Leo mengambil obor yang ada di mulut gua sebelum akhirnya berlari masuk ke dalam guna mencari tahu apa yang terjadi, disusul oleh Lia yang menyelidiki lorong di sampingnya. Dengan demikian, dimulailah pertarungan yang memaksa mereka berdua untuk berpisah.

__ADS_1


__ADS_2