
... ...
Beberapa menit telah berlalu sejak mereka mulai perjalanan, namun suasana antara Leo dan Margo masih saja dipenuhi oleh canda tawa serta suasana yang riang. Mereka terlihat sangat akrab meski hanya bertemu selama beberapa saat. Mereka membicarakan banyak hal, dimulai dari pengalaman pribadi hingga beberapa masalah kecil yang biasa mereka temui sebagai sesama pengelana.
“... Dan begitulah bagaimana aku sampai di pelabuhan Afrey. Aku sempat berpikir akan kehilangan profesiku sebagai pedagang...” Ujar Margo sambil tertawa.
“Pasti berat untuk anda. Aku juga pernah mengalami hal semacam itu ketika ingin melintasi wilayah pesisir barat. Aku secara tidak sengaja melintasi wilayah konflik dan nyaris dituduh sebagai pasukan perlawanan.” Balas Leo menceritakan sedikit mengenai pengalaman pribadinya.
“Lalu, apa yang terjadi padamu selanjutnya?” Balas Margo penasaran.
“Yah, aku sempat dipenjara selama 3 hari sebelum akhirnya dilepaskan setelah dinyatakan tidak bersalah. Pada akhirnya aku bisa melintasi wilayah tersebut tanpa masalah...” Balas Leo dengan senyum pahit.
“Nasibmu sungguh malang. Yah, kita sama-sama tidak jauh berbeda. Menjadi pengelana memang keras...” Balas Margo sebelum menghela nafas panjang.
“Anda memang benar. Tapi, entah mengapa itu menjadi pengalaman tersendiri bagiku...”
“Seperti yang kau katakan, semua itu memang bisa menjadi pengalaman yang tidak terlupakan. Sebagai misalnya aku bisa mengenal lebih banyak mengenai dunia ini. Aku juga mendapat banyak barang-barang menarik yang bisa kujual. Itulah sebabnya aku masih menekuninya sampai saat ini...”
“Begitu ya. Kedengarannya menyenangkan untuk anda...”
“Awalnya aku tidak berpikir demikian. Tetapi, aku perlahan-lahan mulai menyukainya, walau terkadang ada perasaan rindu terhadap kampung halaman...”
“...”
Mendengar hal itu, Leo menjadi teringat mengenai kampung halamannya di Valley of Tomb. Meski merupakan tempat terburuk yang pernah ia ketahui, namun bagaimana pun tempat itu adalah rumah tempat asalnya di mana semua kenangan indahnya pernah terbentuk. Ia memang sudah meninggalkannya untuk waktu yang lama, namun entah mengapa ia masih belum bisa melupakannya.
“(Rumah, huh? Sudah lama sekali sejak aku mengingatnya. Meski sudah tidak ada lagi yang tersisa, tetap saja aku masih merasa rindu dengannya...)” Gumam Leo dalam hatinya kecewa.
Sementara itu, di sisi belakang, tidak terlihat banyak interaksi antara Lia dengan Olivia. Mereka berdua hanya terlihat duduk terdiam sibuk dengan perhatian mereka masing-masing. Meski duduk berhadapan satu sama lain, namun suasana canggung membuat mereka berdua tidak mampu membuka percakapan.
“(Nona Lia terlihat sedang termenung larut dalam pikirannya. Perasaannya juga terlihat stabil dan tenang, mungkin bukan keputusan yang bagus untuk mengganggunya...)” Ujar Olivia dalam hatinya cemas.
“(Perjalanan masih cukup jauh, tetapi apakah akan cukup bagi Aston untuk mencari tahu semua rencananya? Di samping itu...)” Gumam Lia dalam hatinya berpikir sambil diam-diam mengamati Olivia.
Memang benar jika keadaan di antara mereka masih canggung untuk memulai percakapan. Tidak seperti Leo yang dapat dengan mudah akrab dengan Margo, hubungan Lia dan Olivia bisa terbilang cukup rumit untuk bisa dikatakan dekat. Ia masih belum bisa melepaskan kecurigaannya darinya hingga saat ini. Hal itu tidak melepas kemungkinan bahwa Lia waspada terhadapnya.
“U-Uh... Apa ada sesuatu, nona Lia?” Tanya Olivia dengan wajah cemas.
“... Tidak. Bukan apa-apa.” Balas Lia singkat sebelum kembali memalingkan pandangannya.
“Maaf mengganggu anda kalau begitu. Saya tidak akan mengulanginya lagi...”
“....”
Setelah meminta maaf, keadaan di antara mereka berdua kembali hening. Sulit bagi Olivia untuk mencairkan suasana saat ia sendirian, terlebih setelah mereka mengetahui kenyataan bahwa ia bukanlah manusia.
“(Entah kenapa nona Lia jadi terlihat lebih dingin dari pada saat bersama master. Mungkin sebaiknya saya diam dan tidak mengganggunya...)” Ujar Olivia dalam hatinya kecewa.
Hal ini membuatnya sedikit mengingat tentang masa lalunya ketika ia masih hidup di jaman kerajaan Astarion. Meski ia dibiarkan bebas, namun ia hanya boleh pergi atas seizin tuannya. Di masa itu, ia selalu dibatasi ketika ingin melakukan sesuatu hingga berdampak pada kepribadiannya yang dapat terlihat sampai sekarang.
Kembali pada Leo dan Margo di depan, setelah sebelumnya sempat bersenda gurau, kini nuansa di antara mereka mulai kembali seperti sedia kala. Sambil menikmati pemandangan ladang rumput yang membentang, Leo kembali memikirkan tentang tujuan mereka.
“(Kira-kira butuh waktu berapa lama untuk sampai ke kerajaan Borealis? Aku harap semuanya berjalan dengan baik tanpa masalah...)” Gumam Leo dalam hatinya termenung.
Ia mulai kembali mengingat bagaimana pertemuan mereka sebelumnya yang membawanya pada perjalanan ini. Meski singkat, ia tidak mengira hubungan mereka akan berjalan sejauh ini walau awalnya ia tidak berniat terlibat dengan masalahnya. Ia juga tidak pernah mengira Lia akan menyatakan cintanya.
“(Lia... Aku masih belum bisa membalas perasaanmu padaku... Aku juga masih bertanya-tanya, apakah yang kulakukan ini atas dasar kemauanku sendiri ataukah karena beban tanggung jawab yang dilimpahkan kepadaku...)” Sambung Leo dalam hatinya ragu.
Ia memang setuju untuk menolong Lia menyelamatkan rumah dan tempat tinggalnya. Akan tetapi, setelah semua itu berakhir, apa yang akan ia lakukan selanjutnya? Apakah Lia masih mau menerimanya? Pertanyaan itu selalu saja menghantui Leo setiap kali ia memikirkan tentang dirinya.
“Hey, anak muda. Ada apa dengan raut wajah itu? Apa ada masalah?” Tanya Margo melihat pada Leo yang termenung.
“A-Ah. Bukan apa-apa. Apa aku melewatkan sesuatu?” Balas Leo dengan senyum pahit.
“Hey, aku tidak suka dengan raut wajah itu. Sepertinya kau ada masalah, benar?”
“Tidak juga... Bukan masalah yang serius...”
“Ayolah ceritakan pada pak tua ini. Walau aku tidak lagi muda, setidaknya aku pernah muda. Katakan saja apa masalahmu, mungkin aku bisa membantumu...”
Setelah memikirkannya sejenak, Leo memutuskan untuk mengungkapkannya kepada Margo.
“Bagaimana mengatakannya... Aku hanya sedang ragu mengenai beberapa hal yang sedang kulakukan... Aku seperti bertanya-tanya apakah yang kulakukan ini atas dasar terpaksa atau memang secara sukarela...” Ujar Leo dengan ekspresi ragu.
__ADS_1
“Hm. Hm. Kurang lebihnya aku mengerti apa yang ingin kau katakan. Intinya, kau ragu apakah yang kau lakukan ini atas dasar apa, begitu?” Balas Margo setelah mencerna ucapannya.
“Mungkin bisa dibilang begitu.” Balas Leo sambil memalingkan pandangannya bimbang.
“Sekarang aku akan bertanya kepadamu. Apakah kau senang saat melakukannya?”
“...? Senang?”
“Maksudku, apakah kau merasa dipaksa saat melakukannya, atau justru merasa senang begitu melakukannya?”
“Kalau soal itu... Aku tidak terlalu memikirkannya sebelumnya...”
“Nah, tidak peduli bagaimana hatimu meragukannya. Selama kau merasa senang, maka itu bukan lagi terpaksa. Kau melakukannya karena ingin melakukannya.”
“Aku melakukannya karena ingin melakukannya...?”
Leo memikirkan sejenak ucapannya sebelum merenungkannya dalam-dalam. Memang benar bahwa ia melakukan perjalanan ini bersama Lia karena ia sendiri ingin melakukannya. Namun, ini adalah perasaannya pribadi. Lantas, apakah Lia juga berpikir demikian?
“Bagaimana? Apa kau masih ragu?” Tanya Margo kepadanya sambil tersenyum.
“... Mungkin.” Balas Leo masih belum yakin.
“Ah. Aku tahu, ini pasti masalah itu bukan? Masalah wanita..?” Balas Margo sambil menyeringai sambil menepuk bahunya.
“T-Tunggu, aku tidak mengatakan itu...!”
“Hahaha... Tentu saja. Wanita adalah sumber dari kegelisahan. Mereka menggunakan bahasa yang jauh lebih sulit dari bahasa mana pun yang bisa kita ketahui. Aku tahu itu temanku, sebagai sesama pria aku juga tahu perasaanmu.”
“U-Uh...”
“Jadi siapa dia? Apa jangan-jangan dia yang berambut coklat di belakang sana?”
“Ugh...”
“Hahaha...! Jadi dia, huh? Seleramu tidak buruk juga kawan! Dia memang sangat menawan untuk gadis seusianya. Jika aku seusiamu, aku pasti tertarik padanya!”
“A-Aku tidak mengatakan kalau itu dia. Lagi pula... D-Dia adalah adikku...”
“Yang benar...?! Dia adikmu...?!” Seru Margo tidak percaya.
“U-Uh... Y-Ya. Begitulah...” Balas Leo memalingkan pandangannya canggung.
“Tapi kalian sama sekali tidak mirip...! Aku masih percaya dengan nona yang satunya, tetapi aku ragu kalau gadis berambut coklat itu adalah adikmu!”
“B-Bagaimana mengatakannya... Walau kami bersaudara, kami tidak terikat darah...”
“Ah! Aku mengerti! Cinta terlarang, huh?”
“Tunggu, apa...?!”
“Hahaha...! Tidak mengapa, kawan, cinta memang terkadang rumit. Kejar saja dia selama kau yakin bisa mengejarnya.”
“H-Huh...?”
“Entah mengapa itu membuatku merasa nostalgia. Aku ingat ketika aku mengejar istri pertamaku...”
“Istri pertama...?! Berapa istri yang pernah kau miliki...?!”
“Coba kuingat-ingat... Kurasa ada empat kalau tidak salah...”
“Empat...?!”
“Yah, sebagian dari mereka memutuskan menceraikanku setelah tahu bahwa aku adalah pedagang pengelana. Mereka tidak tahan dengan kebiasaanku yang sering bepergian ini...”
“B-Begitu ya.”
Entah mengapa, pembicaraan ini berubah menjadi tidak jelas ke mana arahnya. Meski demikian, ia merasa sedikit lega setelah mencurahkan isi hatinya pada Margo. Dia mengingatkannya pada sosok ayahnya yang tegas namun periang dalam mengajarinya.
“(Kurasa aku mengerti sekarang. Aku hanya terlalu cemas memikirkannya. Terkadang itu semua hanya ada dalam benakku saja...)” Gumam Leo dalam hatinya lega.
Waktu pun berlalu hingga tanpa terasa sudah mendekati sore ketika mereka mulai mendekati kota. Barisan lembah mulai menyapa mereka dengan pemandangan perbukitan. Margo lantas menghentikan laju keretanya pada sebuah persimpangan jalan sesaat sebelum ia bicara dengan Leo dan lainnya.
__ADS_1
“Baik, kurasa aku hanya bisa mengantar sampai di sini. Aku harus mengambil jalan yang berbeda dengan kalian.” Ujar Margo dengan nada tinggi.
“Jadi, kau tidak akan menuju ke arah timur?” Balas Leo bertanya dengan wajah kecewa.
“Maaf, anak muda. Aku hendak ke selatan, jadi aku tidak bisa menemanimu sampai ke tujuan kalian. Kita akan berpisah sampai di sini.”
“Begitu ya. Kalau begitu terima kasih atas tumpangannya.”
“Sama sekali bukan masalah, kawan.”
Leo pun turun dari tempat duduk kusir itu menghampiri Lia dan Olivia yang sudah menunggunya. Namun, sebelum ia pergi menemui mereka, Margo menghentikannya.
“Ah. Benar juga, anak muda! Tunggu sebentar, ada hal yang ingin kuberikan untukmu!” Seru Margo kepadanya sebelum turun ke sisi lain kereta.
“...??”
Ia lantas bergegas menuju bagian kereta untuk mengambil sesuatu sebelum akhirnya ia kembali menghampirinya membawa sesuatu untuknya.
“Ini, aku berikan untukmu.” Ujar Margo sambil terengah-engah.
“Uh... Anda tidak perlu repot-repot.” Balas Leo sungkan mencoba menolaknya.
“Anggap saja ini sebagai ucapan terima kasihku karena telah menyelamatkan daganganku dari para perampok itu. Sekaligus sebagai permintaan maafku karena tidak bisa mengantarmu sampai tujuan.”
Karena Margo bersikeras, akhirnya ia memutuskan untuk menerima benda pemberiannya. Itu adalah sebuah pedang hitam tua tanpa sarung yang terbalut oleh kain. Meski terlihat cukup tua, namun bilahnya sama sekali tidak berkarat yang menandakan bahwa kualitasnya masih terjaga dengan baik.
“Pedang ini... Kelihatannya cukup mahal. Apa anda benar-benar ingin memberikan ini padaku?” Ujar Leo dengan wajah ragu menerimanya.
“Ya. Meski cukup bagus, pedang itu tidak pernah laku terjual. Banyak orang yang mengatakan tidak suka dengan warnanya dan beratnya yang di atas rata-rata. Jadi, kuberikan saja untukmu karena kupikir kau pasti bisa menggunakannya.” Balas Margo menurunkan bahunya sambil menghela nafas panjang.
“Memang agak berat dari pedang yang biasa kupakai...” Balas Leo bergumam sambil mencoba mengayunkannya.
“Intinya aku tidak memerlukannya. Jadi, ambil saja dan semoga bisa membantumu. Sampai jumpa lagi, anak muda.”
“Kalau begitu terima kasih dan semoga perjalananmu lancar.”
“Haha... Semoga kau juga beruntung, kawan. Jangan sampai dia direbut orang lain sebelum kau.”
“A—“
Setelah mengucapkan perpisahan, Margo pun pergi menempuh jalannya sendiri meninggalkan mereka bertiga di belakangnya. Meski pertemuan mereka terbilang sangat singkat, Leo mulai merasa ia dan Margo bisa menjadi teman yang akrab. Ia hanya bisa berharap mereka berdua bisa bertemu lagi suatu hari nanti.
“Pria yang aneh, tapi aku tidak membencinya...” Gumam Leo sambil melihat pada pedang hitam pemberiannya.
Ia pun kembali membungkus pedang hitam itu dengan kainnya ketika secara tidak sengaja ia melihat pedang itu memancarkan aura hitam keunguan yang pekat. Ia seketika terkejut dan menjauhkan pedang itu darinya ketika Lia dan Olivia yang melihatnya merasa kebingungan dengan tindakannya.
“Leo...? Apa ada masalah dengan pedang itu...?” Tanya Lia dengan wajah heran.
“Apa ada yang mengganggu anda, master?” Sambung Olivia ikut bertanya mengenai sikapnya.
“A-Ah... Tidak, bukan apa-apa. Kurasa...” Balas Leo dengan ekspresi gelisah.
Ketika ia melihat kembali pada pedang itu, aura yang sebelumnya ia lihat menghilang seperti seolah tidak pernah ada. Hal ini menimbulkan pertanyaan di benaknya mengenai apa yang sebelumnya dilihat olehnya.
“(Apa yang barusan itu hanya perasaanku saja..? Aura mengerikan itu apakah hanya bagian dari imajinasiku saja..?)” Tanya Leo dalam hatinya kebingungan.
Ia mencoba fokus dan menyingkirkan semua hal negatif itu untuk kembali melanjutkan perjalanan. Ia tidak ingin masalah ini sampai mengganggu perjalanannya nanti. Setelah selesai membungkus pedangnya, ia lantas mengikatnya di punggungnya dan kembali melanjutkan perjalanan bersama Lia dan Olivia.
Perbuktian pinus menyambut mereka ketika mereka mendekati kota tujuan mereka. Hingga pada akhirnya, setelah menempuh perjalanan dengan berjalan kaki melewati jalan menanjak, mereka akhirnya sampai di pintu masuk lembah yang menjadi gerbang menuju kota Zivalor.
“Kita sudah sampai. Itulah Zivalor.” Ujar Lia melihat jauh ke depan.
“Indah sekali...” Gumam Olivia terpukau.
“Akhirnya...” Gumam Leo sambil menghela nafas panjang.
Di bawah lembah itu, berdirilah sebuah kota indah dengan hamparan padang rumput hijau yang menghiasi sekelilingnya. Dikelilingi oleh tebing-tebing batu yang menjulang tinggi di kedua sisinya, membuat kota Zivalor biasa dikenal sebagai permata di dasar lembah.
Tanpa membuang banyak waktu, mereka pun menuruni lembah itu untuk menuju kota ketika tanpa sadar pedang hitam yang Leo bawa kembali memancarkan aura yang sama seperti sebelumnya. Pancaran auranya membuat makhluk yang berada tak jauh dari lembah itu seketika terkejut begitu merasakannya. Ia lantas membuka matanya melihat ke arah di mana aura itu berada sesaat sebelum ia melangkah keluar dari tempatnya untuk memastikannya.
“....”
Di antara kabut tebal yang tertiup oleh angin, ia menampakkan wujudnya yang perkasa. Pupil keemasannya yang berbentuk garis menatap ke bawah lautan awan itu sesaat sebelum ia memutuskan pergi mencarinya.
__ADS_1