
Sementara itu, Gideon yang memimpin regu kedua kini telah sampai di kota bawah tanah setelah mendengar pesan dari kelompok Gald. Bersama dengan Willem, Wein dan petualang lain, mereka akhirnya kembali menginjakkan kaki mereka di kota tersebut. Terlihat beberapa bangunan menjadi korban setelah gempa yang mengguncang beberapa hari yang lalu membuat pemandangan kota sedikit berubah.
“Kita kembali lagi, walau aku ingin mengatakan itu tapi kurasa ini bukan saat yang tepat...” Ujar Willem menghela nafas melihat keadaan sekitar.
“Tempat ini masih ada, meski tidak semua yang kita lihat sebelumnya utuh. Gempa itu pasti membuat beberapa bangunan kuno di sini menjadi hancur.” Sambung Gideon memeriksa keadaan kota.
Memang harus dikatakan suatu keajaiban kota ini tidak terkubur setelah diguncang oleh gempa tempo hari yang lalu. Berkat hal itu, mereka bisa melanjutkan kembali penyelidikan mereka yang sebelumnya tertunda.
“Baiklah, kita akan membagi kelompok menjadi dua regu. Satu regu bertugas melanjutkan penyelidikan di sini dan regu kedua akan menelusuri jalan baru yang ditemukan oleh kelompok Gald sebelumnya.” Ujar Gideon kepada mereka berdua.
“Kenapa kita tidak mengerahkan semua anggota untuk menyelidiki jalan rahasia yang kau maksud? Bukankah itu akan menjadi lebih cepat?” Balas Willem mengajukan pertanyaan.
“Untuk saat ini kita belum bisa melakukannya. Saat ini, mereka berdua tengah bersama kelompok Gald menyusuri suatu tempat di kota ini. Jadi, aku ingin kalian membantu mereka sekaligus mencari lebih banyak petunjuk mengenai peninggalan ini.” Jawab Gideon melihat ke arah Willem.
“Jadi begitu, kau berusaha mengantisipasi adanya kemungkinan monster lain muncul. Kurasa ini langkah yang tepat.” Sambung Wein memuji ide Gideon.
“Mereka berdua, huh? Memang benar, tanpa mereka kita mungkin saja terpojok sama seperti sebelumnya...” Ujar Willem merenung sambil mengingat kejadian sebelumnya.
“Ya. Karena mereka berdua adalah ujung tombak kita. Sampai mereka selesai dengan urusan mereka, sebaiknya jangan sampai kejadian yang sama kembali terulang. Aku ingin menyelesaikan masalah ini hari ini juga.” Balas Gideon dengan ekspresi serius.
“Ah. Itu pasti karena walikota terus saja mengeluh mengenai masalah ini, bukan?” Balas Willem tersenyum sinis.
“Kau tahu sendiri bagaimana sifatnya... Jika bukan karena kita di dalam sini, aku tidak akan mungkin menyinggung tentangnya...” Balas Gideon dengan nada pasrah.
“Aku juga sering mendengar keluhan pimpinan saat minum... Kurasa itu membebaninya, terlebih dengan sikapnya yang angkuh itu membuat siapa pun pasti tidak tahan dengannya... Berkat hal itu, dia mendesak kita untuk menyelesaikan masalah ini secepatnya.” Ujar Wein ikut menceritakan keluhannya.
“Yah, begitulah...” Balas Gideon menghela nafas panjang.
Mereka sejenak melupakan pandangan pribadi mereka mengenai walikota sebelum akhirnya melanjutkan tugas mereka. Gideon lalu membagi kelompoknya menjadi dua regu sesuai dengan tujuan awalnya. Satu untuk menjelajahi jalan yang ditemukan oleh Gald serta sisanya akan berjaga di kota sambil mencari keberadaan kelompok Leo.
“Baiklah, untuk regu pertama yang akan menjelajahi jalan yang ditemukan baru-baru ini, aku menunjuk Wein sebagai pemandu untuk menyelidiki tempat itu bersamaku. Sisanya, akan tinggal di sini untuk berjaga-jaga jika ada sesuatu yang terjadi kepada kami, sekaligus akan menjadi penghubung kontak dengan pihak luar. Aku menunjuk Willem sebagai yang bertanggung jawab. Apa kalian sudah paham?” Ujar Gideon di hadapan mereka semua.
“Jika tidak ada pertanyaan, kami akan mulai memilih orang untuk ikut dalam regu kami untuk ikut dalam penyelidikan.” Sambung Wein menambahkan.
Mereka semua tampak mendengarkannya dengan sangat baik. Meski terlihat beberapa orang yang cemas dan khawatir, namun itu tidak dipermasalahkan untuk saat ini.
“Baiklah, kita akan mulai pembagiannya...” Ujar Gideon dengan nada tegas.
Gideon pun mulai memilih orang untuk ikut bersamanya dalam regu penjelajah. Dibantu dengan Wein, mereka memilih prajurit dan petualang yang hadir di sana. Mereka fokus memilih mereka yang baik dalam hal pengintaian karena tujuan awal mereka bukan untuk mengeksplorasi, melainkan untuk mencari petunjuk dan memastikan apa yang ada di ujung jalur tersebut. Untuk saat ini, tujuan utama mereka adalah memetakan tempat tersebut dan menghindari pertarungan sebisa mungkin.
Setelah menemukan orang yang dirasa cukup, akhirnya Gideon dan Wein memutuskan untuk berangkat. Ia menyerahkan sisanya kepada Willem untuk berjaga di kota.
“Kuserahkan tempat ini kepadamu. Jika terjadi sesuatu, kami akan segera mengirimkan pesan.” Ujar Gideon menepuk bahu Willem sebelum berangkat.
“Ya. Aku tahu. Pastikan kau kembali dengan selamat bersama semuanya.” Balas Willem balik menepuk bahunya.
“Tentu saja. Kali ini kami tidak akan melakukan kesalahan yang sama.” Balas Gideon tersenyum percaya diri.
Dengan begitu, akhirnya Gideon pergi menuju gua yang ditemukan oleh Gald untuk menyelidikinya. Bersama dengan petualang dan anak buahnya, ia berharap dapat menemukan sesuatu yang dapat menjawab semua pertanyaan yang ada di pikiran semua orang mengenai keanehan selama di bawah sana.
Sementara itu pada waktu yang bersamaan, Leo dan teman-temannya tengah menuruni tangga melingkar yang membawa mereka menuju ke dasar bangunan menara tersebut. Sebelumnya, ketika Leo dihadapkan dengan dua pilihan antara memilih tangga naik dan turun, Lia merencanakan sesuatu yang di luar dugaannya.
“U-Uh... Alicia, ada apa? Kenapa kau menatap kami seperti itu?” Tanya Gald dengan wajah gugup ketika Lia menatapnya tajam.
“Apa ada masalah, Alicia-san...?” Sambung Zen dengan wajah bingung.
“... Maaf sebelumnya, tapi aku berpikir untuk melanjutkan penelusuran bersama Leo. Hanya berdua.” Jawab Lia dengan nada serius.
Semua yang mendengar hal itu seketika terkejut. Leo bahkan tidak mengira Lia akan mengatakan hal itu kepada mereka.
“(Apa yang dia katakan...?!)” Ujar Leo dalam hatinya terkejut.
Ini tidak seperti dirinya saja. Pasti ada alasan dibalik ucapannya kepada mereka. Jika tidak, maka hal ini bisa menjadi masalah bagi kerja sama mereka dengan Gald.
“U-Uh... Apa maksudnya, Alicia. Kenapa kami tidak boleh ikut bersama kalian?” Tanya Gald dengan wajah bingung.
“... Aku memperingatkan kalian. Jika kalian menuruti ucapanku, maka setidaknya tidak akan menyesal.” Balas Lia membalikkan badannya.
“Uh... Maaf, tapi aku tidak mengerti... Bisa tolong katakan dengan lebih sederhana?” Balas Gald mencoba membujuk Lia
“A-Ah. Maaf untuk itu... A-Aku yakin dia tidak bersungguh-sungguh mengatakannya...” Sambung Leo mencoba meluruskan kesalahpahaman ini.
“Apa kami hanya mengganggu kalian?” Ujar Kirishima dengan nada sedih.
“Ternyata memang benar kalau kami hanya mengganggu kalian berdua...” Sambung Chrea dengan wajah kecewa.
“A-Apa itu benar, Leonard...?” Tanya Gald dengan wajah kecewa.
__ADS_1
Leo seketika terdiam mendengar pertanyaan itu. Memang benar jika mereka kurang dalam pengalaman, namun bukan itu yang menjadi masalah sekarang. Leo yakin bahwa terdapat sebuah kesalahpahaman di antara mereka, atau setidaknya itulah yang Leo harapkan. Ia juga tidak mengerti kenapa Lia mengatakan hal seperti itu kepada mereka, namun hal ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Ia pun akhirnya memutuskan untuk bicara dengan Lia mengenai hal ini.
“A-Ah. A-Aku permisi sebentar...” Ujar Leo tersenyum gugup sambil menarik lengan Lia menjauh dari mereka.
Ia membawa Lia menjauh dari mereka berempat sebelum ia mulai bicara empat mata dengannya.
“Lia, apa kau sadar apa yang baru saja kau katakan kepada mereka?” Tanya Leo dengan ekspresi tegang.
“... Tentu saja. Aku tahu betul apa yang kukatakan.” Balas Lia memalingkan matanya dari Leo.
“Kalau begitu, harusnya kau juga tahu bagaimana perasaan mereka setelah mendengar kalimat itu darimu.” Balas Leo menggenggam bahunya.
“....”
“Kau harusnya sadar bahwa ucapanmu bisa melukai hati mereka. Kenapa kau melakukan itu... Kenapa, Lia kenapa kau melakukan itu kepada mereka...?”
“.....”
Lia hanya diam tidak menjawab ucapannya. Hal ini membuat Leo semakin bingung dengan maksud dan tujuannya.
“Lia, kita sudah sampai sejauh ini juga karena mereka. Mungkin saja, jika kita tidak ikut bergabung dengan mereka, kita akan terjebak menjadi regu penjelajah tanpa bisa bertindak sendiri. Kau juga harusnya tahu apa artinya itu, bukan?” Ujar Leo berusaha menyadarkannya.
“....!”
“Benar, tepat seperti yang kau pikirkan. Kita akan berpisah sesuai dengan regu yang sudah ditentukan. Dan tentu saja, penyelidikan kita hanya akan terbatas pada tempat yang ditunjuk oleh pemimpin regu.” Sambung Leo menebak isi pikiran Lia.
Menyadari hal itu, Lia seketika menggenggam tangan Leo sebelum ia membalasnya dengan wajah sedih.
“... Aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak ingin menjauh darimu.” Ujar Lia menatapnya sedih.
“Kalau begitu, beritahu alasanmu memutuskan hal itu kepadaku. Aku yakin, jika kita bisa menjelaskannya, maka kesalahpahaman ini bisa dihindari...” Balas Leo berbalik menggenggam tangan Lia.
“.....”
Lia terdiam sejenak sebelum akhirnya memutuskan untuk memberitahu Leo alasannya yang sebenarnya.
“... Aku tidak ingin... Aku hanya tidak ingin melibatkan mereka dalam masalah kita...” Ujar Lia memalingkan wajahnya kecewa.
“....”
“... Aku telah melihatnya, aku telah melihat bagaimana wujud makhluk itu. Dan aku tidak ingin mereka melihatnya dan kenyataan yang disembunyikan dibalik keberadaannya...” Sambung Lia kembali menatap Leo dengan wajah serius.
“E-Eh...?”
“Tapi, di sini kita adalah sebuah kelompok. Kita tidak boleh bertindak sendiri tanpa sepengetahuan yang lain. Lain kali, tolong jangan gunakan kata-kata tajam seperti itu...”
“Eh...?”
Leo mengelus kepalanya ketika Lia tersipu sebelum akhirnya ia kembali bicara dengannya.
“Kau memang pintar, tetapi terkadang kau juga bisa bersikap gegabah seperti anak kecil. Kurasa aku tidak punya pilihan lain selain meluruskan masalah ini dan bertanggung jawab menjelaskan semua kepada mereka...” Ujar Leo tersenyum lembut padanya.
“.....”
Lia hanya bisa tersipu mendengar hal itu sebelum akhirnya Leo meyakinkannya untuk menyerahkan sisanya kepadanya. Ia pun mengajaknya kembali kepada mereka berempat sebelum akhirnya mulai menjelaskan semuanya dari awal.
“Maaf untuk sebelumnya, semuanya. Aku harap kalian mau mendengarkan penjelasanku mengenai ucapan Lia sebelumnya kepada kalian...” Ujar Leo kepada mereka berempat.
“U-Uh... T-Tentu. Kami tidak keberatan.” Balas Gald dengan wajah bingung.
Leo melirik ke arah Lia sejenak melihatnya dengan tatapan ramah sebelum akhirnya mulai menjelaskan semuanya kepada Gald dan tema-temannya.
“Sebenarnya, alasan kenapa kami menerima alasan kalian adalah untuk menyelidiki lebih lanjut petunjuk yang kami temukan pada penyelidikan pertama kita, sekaligus ingin memastikan teori dan anggapan kami terhadap latar belakang dibangunnya kota ini serta rahasia yang disimpannya...” Ujar Leo mengatakan niat aslinya.
“Melanjutkan penyelidikan...?” Gumam Chrea dengan wajah heran.
“Memastikan teori...? Apa maksudmu...?” Balas Gald bertanya.
“Singkatnya, kami ingin memastikan apakah kemunculan Golem tempo hari itu berhubungan dengan sesuatu yang ada di dalam kota ini, atau memang karena hal lain. Sekaligus, kami ingin mencari tahu dari mana asalnya makhluk aneh yang Alicia temukan sebelumnya.” Jawab Leo menjelaskan lebih rinci.
“... Karena berbahaya, aku terpaksa mengatakan hal itu kepada kalian. Mungkin saja, sesuatu di bawah sana lebih mengerikan dari yang kalian bayangkan.” Sambung Lia melengkapi penjelasan Leo.
Mereka berempat terdiam setelah mendengarkan penjelasan Leo dan Lia sambil saling menatap satu sama lain. Awalnya mereka terlihat kebingungan dan ragu, hal itu wajar karena yang Leo dan Lia katakan mungkin terdengar tidak masuk akal bagi mereka. Namun, setidaknya Leo berharap penjelasan itu bisa membantu mengatasi kesalahpahaman ini.
“Terdengar aneh mungkin... Tapi, itulah tujuan utama kami.” Sambung Leo dengan wajah serius.
“... Maaf jika ucapanku menyinggung kalian.” Ujar Lia menundukkan kepalanya meminta maaf.
__ADS_1
“Tepat seperti yang dikatakannya, apa yang ada di dalam sana masih belum diketahui, bisa jadi itu hal yang sangat berbahaya. Untuk itulah mengapa Alicia sengaja mengatakan itu. Aku harap kalian mau memaafkannya...” Sambung Leo ikut menundukkan kepalanya.
Gald tersenyum sebelum yang lainnya ikut tersenyum mendengar penjelasan mereka. Reaksi mereka di luar dugaan, saat mereka berdua mengira bahwa mereka akan kecewa ternyata itu semua salah.
“Ternyata begitu, huh? Kenapa tidak katakan sejak awal?” Ujar Gald tertawa singkat menanggapinya.
“Tentu saja kami memaafkan kalian, Leonard-san. Kami hanya sedikit terkejut karena kalian tiba-tiba bicara dengan gaya yang berbeda. Kami mengerti apa maksud kalian, tidak perlu khawatir tentang hal itu.” Sambung Chrea tersenyum hangat.
“Kalian tidak kesal atau marah?” Balas Leo dengan wajah terkejut.
“Tentu saja tidak. Kalian tidak perlu cemas, kami juga tidak terlalu memikirkannya.” Jawab Gald dengan senyum lebar di bibirnya.
“Meski Alicia-san mengatakan sesuatu dengan nada tajam, kami tahu kalau ada alasan dibalik hal itu. Karena kami yakin bahwa kalian berdua adalah orang yang dapat kami percaya.” Ujar Kirishima menundukkan pandangannya sambil menggenggam tangannya layaknya sedang berdoa.
“Ya. Itu benar! Lagi pula, bisa ceritakan lebih banyak apa yang sedang kalian selidiki? Aku tertarik untuk mendengarnya!” Sambung Zen dengan antusias.
“Kalian sudah dengar, bukan? Tidak ada yang membenci kalian hanya karena hal sepele itu. Jadi, bagaimana kita bisa membantu kalian? Apa yang bisa kami lakukan?” Ujar Gald dengan nada yakin sebelum akhirnya bertanya.
Meski tidak tahu harus bagaimana menanggapinya, namun sepertinya Leo dan Lia telah mendapatkan kepercayaan mereka. Untuk sejenak Leo merasa senang sekaligus gembira bisa bergabung bersama dengan Gald dan teman-temannya yang baik. Ia sebelumnya belum pernah merasakan berburu dengan perasaan bahagia di hatinya mengingat bagaimana perlakuan penduduk desanya kepadanya di masa lalu. Ini pertama kalinya ia merasa diperlakukan sebagai anggota perburuan, bukan sebagai barang atau sebagainya yang bisa dibuang kapan saja.
“(Begitu ya... Aku tidak mengira jika aku yang seperti ini bisa merasakan bagaimana senangnya berburu bersama orang lain...)” Gumam Leo dalam hatinya senang.
Sepertinya percuma saja menghentikan mereka dan pada akhirnya ia dan Lia setuju untuk membawa Gald beserta teman-temannya untuk ikut menyelidiki ruang bawah menara tersebut. Dan begitulah bagaimana semua ini bermula. Itulah bagaimana penelusuran ini bermula. Meski Gald tahu bagaimana bahaya yang mungkin akan mereka hadapi, ia tidak mempermasalahkannya. Ia tahu akan hal itu dan memilih untuk menghadapinya karena itulah tugas seorang petualang. Tekadnya itulah yang akhirnya mampu meyakinkan Leo dan Lia.
“Gelap sekali... Aku bahkan belum melihat tanda-tanda anak tangga ini membawa kita ke dasar...” Gumam Zen dengan wajah khawatir.
“Ada apa? Apa kau takut? Mana sikap beranimu sebelumnya?” Balas Chrea meledeknya.
“Berisik...! Aku akan menendangmu jatuh ke dalam lubang itu...!” Balas Zen marah.
“Kalian berdua... Apa kalian ingat apa yang kita bicarakan sebelumnya?” Ujar Gald dengan nada mengancam.
“Ugh...! Ya. Ya. Aku minta maaf. Tapi, sampai berapa lama lagi kita turun? Kakiku mulai terasa lelah...” Balas Zen sebelum menggerutu.
Sudah cukup lama sejak mereka menapaki anak tangga ini, namun mereka masih belum menemukan tanda-tanda mencapai dasar. Di samping itu, meski tangga ini adalah bagian dari bangunan kuno, tangga ini sama sekali tidak mengalami pelapukan dan bahkan sama sekali tidak mengalami kerusakan meski telah diguncang oleh gempa yang sempat menerjang wilayah ini beberapa kali. Entah itu karena keajaiban atau yang lain, tetapi tetap saja itu bukanlah hal yang wajar.
“Kurasa tangga ini lebih panjang dari yang kuduga... Sudah lebih dari 10 menit sejak kita menuruninya, namun tetap saja kita masih belum menyentuh dasarnya...” Ujar Leo dengan nada mengeluh.
“... Mm. Aku juga tidak merasakan sihir. Kurasa ini memang jalannya yang panjang.” Balas Lia dengan perasaan heran.
“Kurasa pilihan kita hanya harus terus berjalan dan bertahan sampai mencapai ujungnya...” Balas Leo menghela nafas panjang.
Pada akhirnya mereka hanya bisa pasrah menuruni anak tangga itu tanpa bisa berbuat banyak. Meski melelahkan, mereka masih belum menyerah untuk mencari tahu apa yang sebenarnya ada di bawah sana.
Setelah beberapa saat, secercah cahaya terlihat pada bagian bawah lubang yang memisahkan sisi tangga dengan dinding. Dengan wajah terkejut, mereka sadar bahwa cahaya tersebut merupakan obor penerangan yang menerangi lantai yang ada di dasar.
“Lihat, ada cahaya...! Itu pasti lantai dasar...!” Seru Zen dengan wajah antusias.
“Dia benar...! Itu benar-benar cahaya...! Itu artinya kita sudah dekat dengan dasar...!” Balas Gald dengan wajah senang.
Begitu melihatnya, mereka bergegas menuruni tangga mengikuti cahaya tersebut hingga pada akhirnya mereka mencapai lantai dasar yang selama ini mereka tuju. Sesampainya di dasar, mereka disambut dengan pemandangan menakjubkan dari arsitektur kuno yang jauh lebih oriental. Tidak seperti bangunan di permukaan, arsitektur ruang bawah tanah ini jauh lebih kuno atau mungkin terkesan seperti bangunan dari era para dewa.
“Di mana kita...? Aku seperti merasa seperti masuk ke tempat lain saja...” Ujar Zen melihat sekeliling terpukau.
“Sulit dipercaya... Kita seperti melangkah masuk ke jaman yang berbeda...” Sambung Gald terkesima.
“Rasanya seperti masuk ke kuil kuno dari jaman sebelum perang besar...” Gumam Chrea ikut takjub.
Saat mereka terpukau dengan arsitektur yang menyambut mereka, Leo menyadari sesuatu pada lantainya yang membuatnya terlihat mencurigakan. Di antara debu yang menutupinya, ia seperti melihat huruf dan simbol tertentu sebelum akhirnya ia memeriksanya tepat ketika Lia yang menyadarinya menghampirinya.
“... Leo, apa yang kau lakukan?” Tanya Lia melihat Leo yang tiba-tiba berlutut menatap ke lantai.
“Ada sesuatu di lantai ini...” Balas Leo sambil mencoba mencari tahu.
Ia mengusap debu dengan tangannya sebelum akhirnya menemukan serangkaian huruf sihir yang tampak asing baginya.
“Ini... Apa ini huruf sihir...?” Gumam Leo dengan wajah bingung.
“Huruf sihir...?” Tanya Lia terkejut.
“Aku tidak yakin, tapi sepertinya begitu... Sepertinya ada lingkaran sihir yang terkubur di bawah debu ini...” Jawab Leo dengan wajah curiga.
Merasa curiga, Leo pun menarik pedangnya sebelum akhirnya mengayunkan pedangnya secara vertikal ke bawah dengan kekuatan penuh. Sontak ayunan pedang Leo menciptakan hempasan angin yang luar biasa yang menerbangkan seluruh debu yang menutupi lantai di sekeliling mereka.
“A-Apa yang terjadi...!” Ujar Kirishima terkejut dengan angin kencang bercampur debu yang menerpanya.
“Dari mana asalnya aliran angin yang kuat ini...!” Sambung Gald terkejut sambil berusaha melindungi dirinya.
__ADS_1
Angin menerbangkan semua debu itu dan menyebabkan seisi ruangan menjadi hujan debu sebelum akhirnya Leo dan Lia terkejut menemukan apa yang ada di atas lantai.