
Bara meminum kembali minuman yang baru di tuangkan Vero pada gelas Bara.
"Lalu rencana kamu apa?" Tanya Vero.
"Apa kamu akan melepaskan nya begitu saja? Kamu sudah lama mencari dia Bar. Saat kamu sudah mendapatkan nya apa kamu akan melepaskan nya begitu saja?" Ucap Vero.
"Entah lah. Aku belum bisa berfikir jernih sekarang" Jawab Bara.
Malam ini Bara dan Vero habis kan di klub malam tersehut. Ria yang mendapat kabar dari anak buah nya mengenai keberadaan Bara ingin memberi tau Leta.
Tapi dia takut jika Leta akan ke sana dan membuat Bara tambah marah.
"Kalian awasi terus tuan. Jika dia mabuk bawa ke apartemen saja" Pinta Ria.
"Baik bu" Jawab anak buah Ria
Ria mematikan ponsel nya yang tadi di hubungi oleh anak buah nya. Dia kembali ke kamar nya untuk istirahat.
"Besuk saja aku akan bicara dengan pak Bara" Guman Ria.
Ke esokan hari nya.
Leta yang semalam terus menangis kini berada di depqn cermin. Dia melihat wajah nya yang berantakan dengan mata sembab nya.
"Aku jelek sekali" Ucap Leta.
Leta masuk ke dalam kamar mandi. Dia membersihkan diri lalu berganti pakaian. Setalah nya Leta ke luar dari kamar menuju ke dapur.
"Ria ambilkan kantung es. Aku ingin mengompres mata ku" Pinta Leta.
"Baik nona" Jawab Ria.
Ria mengambilkan kompre es dan memberikan nya pada Leta.
"Hari ini aku akan ke kantor Bara. Kamu tolong antarkan aku" Pinta Leta.
Ria tersenyum karena Leta mengambil inisiatif nya untuk bertemu dengan Bara lebih dulu.
"Baik nona saya akan mengantar anda" Jawab Ria
Siang hari nya.
Bara yang sedang sibuk dengan pekerjaaan nya dan di tambah dengan perasaan yang buruk membuat semua karyawan nya mendapat kan marah nya.
"Sesa kamu gimana sih kerja nya. Kalau kamu sudah bosan bekerja di sini ya bilang. Biar aku cari pengganti kamu yang lebih baik" Ucap Bara marah.
Karena Sesa sudah tidak bisa menahan amarah nya juga karena mendapat teguran terus dari Bara padahal dia sudah bekerja dengan sangat baik.
"Kamu kalau sedang ada masalah jangan di bawa ke kantor dong Bar. Semua kamu marahin emang nya kamu bisa mengerjakan semua nya jika mereka semua mengundurkan diri" Ucap Sesa marah.
"Kok kamu malah marah sama aku. Ini di kantor Sa dan ini masih jam kerja jaga sikap kamu" Ucap Bara marah.
"Aku nggak peduli. Memang nya kenapa kalau aku marah sama kamu? Kamu mau pecat aku? Pecat saja aku nggak takut" Jawab Sesa marah.
__ADS_1
Sesa keluar dari ruangan Bara dan menutup pintu ruangan Bara dengan keras.
Brack.
Sesa menutup pintu ruangan Bara. Bara sampai terkejut dengan tingkah Sesa saat ini.
"Dia beneran marah sama aku? Aku bos nya lho kok malah dia yang marahin aku sih" Guman Bara.
"Argh" Bara mengusap kepala nya dengan kasar.
Sesa yang keluar dari ruangan Bara berpapasan dengan Leta dan Ria.
"Kak Sesa kenapa?" Tanya Leta .
"Tauk tuh si Bara. Seharian ini semua kena marah nya dia. Dia pikir karena dia bos bisa seenak nya saja apa" Jawab Sesa.
"Ria tolong kamu tenangkan kak Sesa dulu. Aku akan menemui Bara dulu" Bisik Leta pada Ria.
"Baik non" Jawab Ria.
Ria mengajak Sesa masuk ke dalam ruangan Sesa. Ria mengajak Sesa mengobrol di dalam ruangan Sesa.
Sedangkan Leta masuk ke dalam ruangan Bara tanpa mengetuk pintu dulu.
"Kalau masuk ketuk pintu dul......lu" Ucap Bara terkejut dengan kedatangan Leta.
"Maaf aku kira kamu nggak akan marah kalau aku masuk tanpa mengetuk pintu dulu. Aku ulangi lagi deh" Ucap Leta.
Leta kembali menutup pintu ruangan Bara. Namun dia terkejut ketika tangan nya di cekal oleh Bara.
"Nanti kamu marah lagi sama aku" Ucap Leta tertunduk.
"Aku nggak marah. Aku kira tadi Sesa yang masuk makan nya aku teriak seperti itu tadi" Jelas Bara.
Namun Leta tetap tertunduk. Badan Leta mulai gemetar. Bara memegang bahu Leta dan mendongakkan kepala Leta.
Bara melihat wajah Leta yang memerah karena menangis.
"Kemu kenapa menangis. Aku tidak marah dengan mu lagi" Ucap Bara lembut.
"Kamu marah sama aku. Kemarin kamu marah tadi kamu juga marah. Kamu marah dengan semua orang karena aku" Ucap Leta menangis.
"Leta tenang lah. Aku tidak marah dengan kamu. Maaf karena aku membentak mu tadi" Ucap Bara yang kini memeluk tubuh Leta.
"Kamu masih narah dengan ku?" Tanya Leta yang masih sesegukan.
"Sebelum aku menjawab nya. Aku ingin tanya sama kamu" Ucap Bara.
"Tanya apa?" Tanya Leta balik.
"Kenapa kamu mengungkapkan perasaan kamu sama pria itu?" Tanya Bara.
Leta menatap mata Bara yang seperti menahan sesuatu yang sewaktu waktu bisa meledak.
__ADS_1
"Aku mengatakan nya karena dia bertanya akan perasaan ku pada dia" Jawab Leta.
Bara seketika melepaskan tangan nya dari bahu Leta dan mundur dari Leta.
"Jadi kamu lebih memilih nya?" Tanya Bara lagi.
"Aku memilih kamu" Jawab Leta berlari memeluk Bara dengan erat.
"Aku memilih kamu Bara. Aku tidak akan menemui nya lagi aku janji" Ucap Leta.
Dalam hati Bara bagaikan tumbuh bunga bunga indah yang bermekaran dengan angin yang bertiup dengan sejuk nya.
"Kamu serius?" Tanya Bara lagi.
"Iya. Aku serius" Jawab Leta.
Bara tertawa lepas. Dia menggendong Leta dan berputar putar dengan tawa nya yang tak hilang.
"Hahaha Leta aku sangat bahagia" Ucap Bara keras.
"Bara berhenti turun kan aku. Aku takut" Teriak Leta.
Sesa dan Ria yang berfikiran macam macam karena mendengar teriakan Leta langsung berlari keluar ruangan Sesa dan masuk saja ke ruangan Bara.
Mereka melihat Bara yang tampak bahagia dengan emnggendong Leta.
"Jadi mereka baikan?" Tanya Sesa.
"Mungkin saja iya" Jawab Ria.
Bara yang sadar akan kedatangan Sesa dan Ria menurunkan Leta. Leta yang merasa pusing hampir terjatuh jika Bara tidak memegangi nya.
"Kamu duduk dulu" Pinta Bara.
"Kepala ku pusing. Kamu sih main puter puter saja. Emang kamu anak kecil yang habis di kasih permen sampai kegirangan gitu" Ucap Leta marah.
"Yah sayang. Kita baru saja baikan masak kamu marahin aku sih" Ucap Bara lirih.
"Biarin habis nya kamu nyebelin sih" Jawab Leta cuek.
Sesa dan Ria tertawa cekikikan karena mereka merasa puas dengan wajah Bara yang kasihan kena marah Leta.
"Ngapain kalian ketawa? Mau potong gaji?" Ancam Bara.
"Kamu yang potong jatah" Sahut Leta.
@DIYAH_NUR_ARROYAN
***Jangan lupa di LIKE VOTE dan KOMENTAR ya kak***
# selamat membaca kak
# terima kasih banyak
__ADS_1
šššššš