CINTA DARI CINDY

CINTA DARI CINDY
Rumah sakit #2...


__ADS_3

Setelah mendapat informasi di mana ibu Mira di rawat Cindy akhirnya menuju keruangan tersebut...Di depan ada Marco yang duduk di kursi tunggu.


"Cindy." ucap Marco yang emlihat Cindy yang sudah berdiri di depannya.


"Kenapa kamu tidak memberi aku kabar.?" tanya Cindy yang sudah di banjirin air mata.


"Cindy kamu tenang dulu, aku sudah menghubungi kamu taoi handphone kamu tidak aktif aku juga sudah mengirim pesan tapi Masi pending..." ucap Marco menjelaskan pada Cindy.


Cindy mengambil ponselnya ternyata handphone miliknya habis baterai dirinya lupa mengchager handphonenya sehingga Marco susah menghubungi dirinya.


"Maafkan aku cin." ucap Marco.


"Tidak apa, justru aku yang harusnya minta maaf...sekarang bagaimana keadaan ibu.?" tanya Cindy.


"Dokter yang menangani ibu, belom dapat mengambil tindakan karena hasil rongsen ibu belom keluar, dan ibu belom sadarkan diri ibu Masi koma." ucap Marco.


"Lalu dimana Jenni.? tanya Cindy yang tidak melihat Jenni bersama Marco.


"Jenni aku titip di rumah kakak ku." ucap Marco.

__ADS_1


"Maafkan saya sudah merepotkan kamu." ucap Cindy lalu duduk di samping Marco.


"Saya sudah menganggap ibu Mira sebagai ibu saya juga, semenjak kedua orang tua saya meninggal." ucap Marco sambil menunduk kepala.


"Bagaiman kabar kamu.?" tanya Marco.


"Tadinya saya baik, tapi dengan ke adaan ibu sekarang membuat saya buruk." ucap Cindy.


"kamu tenang saja, saya yakin ibu akan baik-baik saja." ucap Marco.


"Terimakasih banyak." ucap Cindy..


"Maaf saya bisa bicara sebentar dengan keluarga pasien bernama Bu Mira.?" ucap dokter tersebut.


"Saya anaknya dok." ucap Cindy berdiri.


"Bisa ke ruangan saya nona." ucap dokter tersebut... Lalu Cindy pergi mengikoti dokter yang menangani Bu Mira.


Sesampainya di ruangan dokter yang bername tag dr.Robbi tersebut. Cindy di persilakan duduk dan dokter tersebut mengeluarkan amplop yang berlambangkan rumah sakit tersebut. Dan mengeluarkan sebuah kertas dari dalam amplop tersebut dan hasil rongsen Bu Mira.

__ADS_1


"Nona, kenalkan saya Robi." ucap dokter tersebut.


"Cindy." ucap Cindy yang menyambut tangan dokter Robi.


"Oke saya mulai saja, tidak usah basa basi lagi." ucap dokter Robi.


"Iya dok." jawab Cindy.


"Nona, ini ada sebuah gumpalan di kepala Bu Mira, saya juga tidak berani mengambil resiko untuk mengoperasi Bu Mira dengan kondisi beliau saat ini. bila kita melakukan operasi tidak bisa menjamin Bu Mira akan sembuh." ucap dokter tersebut.


" Maksud dokter, ibu saya tidak akan sembuh.?" tanya Cindy yang sudah di banjirin air mata.


"Dok...saya mohon lakukan yang terbaik untuk ibu saya dok." ucap Cindy.


"Nona mungkin kita bisa mengakatnya, tapi saya tidak yakin bu Mira akan sembuh total." ucap dokter Robi.


Cindy akhirnya pamit keluar, dari ruangan dokter Robi. lalu menuju ke bagian kasir di rumah sakit tersebut untuk menanyakan biaya Bu Mira...Sambil memegang selembar kertas yang di pegang Cindy menuju keruangan Bu Mira.


" Bu...ini Cindy datang, ibu buka matanya Bu...Cindy mohon Bu Maafin Cindy Bu, Bu buka mata ibu maafin Cindy Bu....hiks...hiks...hiks..." ucap Cindy yang menangis di samping Bu Mira yang lagi terbaring.

__ADS_1


"Cin...kamu yang sabar, memang apa kata dokter cin.?" tanya Marco yang dari tadi berdiri di samping ranjang Bu Mira. karena bukan kamar VIP.


__ADS_2