
Agak malam , Mike kembali dan melihat pemandangan ini. Eireen meminum satu gelas wine dan itu membuatnya menjadi sangat mabuk. Mungkin karena memang dia dari dulu tidak kuat minum dan sekarang sedang hamil muda.
"Tuan muda akhirnya anda pulang juga, nona muda sudah mabuk. Namun tidak mau ku sentuh juga. Juga dia tidak menginginkan saya untuk menghubungi tuan."
Kepala pelayan maju dan melapor merasa agak bersalah.
Mike mengkerut kan alisnya menatap Eireen.
"Mike.. kamu sudah kembali.. hik."
Eireen melihat Mike, ia bangun dan menggeleng kan kepalanya.
Dia menatap Mike dengan wajah sedih, senyum di wajahnya tidak bertahan lama. Bibirnya lalu mengkerut, "kamu.. kamu sudah kembali..aku, aku.. malah yang akan pergi."
Dia mengatakan ini sambil berjalan sempoyongan ke arah Mike, sambil menggenggam sudut baju Mike.
Dia mengangkat kepalanya, kedua matanya menatap Mike dengan wajah sayu "aku tidak ingin pergi. Jangan biarkan aku pergi ya.. aku..aku mencintaimu Mike?"
"Siapa yang ingin kamu pergi?" Mike merasa ada yang tidak beres, dia mengingat beberapa hari ini kelakuan dan sikap Eireen sangat berbeda dari biasanya. Seketika tatapannya menjadi dingin.
"Mereka…"
"Siapa mereka?"
"Mereka.. mereka adalah orang jahat.. orang serakah."
Meskipun Eireen mabuk, tetapi dia tidak mengatakan hal apapun mengenai Tommy.
Mike mengerutkan keningnya, dia masih ingin lanjut bertanya. Akan tetapi wanita dalam pelukannya ini sudah tertidur pulas.
Seketika Mike tidak tahu apakah harus marah atau tertawa. Mau tidak mau menggendongnya ke kamar.
Mengenai ucapan yang tadi dia dengar, dia menyimpannya dalam hati. Dia akan bertanya kepada Eireen besok pagi ketika dia sadar.
…..
Keesokan harinya, Eireen bangun pagi dengan kepala yang sangat sakit. Rasanya seperti mau meledak.
Dia memijit pelipisnya, sambil melihat sekeliling kamar.
Karena tidak ada Mike, Eireen merasa sangat kecewa.
"Sudah hari terakhir…."
Dia bergumam sambil menundukkan kepalanya, ada perasaan rela dalam ucapan nya.
Tepat ketika dia bergumam pintu kamar terbuka. "Kamu sudah bangun?"
Mike mengenakan pakaian santai. Di tangannya ada semangkuk sup penghilang mabuk.
Eireen mengangkat kepalanya dan terkejut melihat pria yang dia cintai semakin mendekati dirinya. Lalu dengan gugup dia berkata "hari ini kamu tidak ke kantor?"
"Kondisimu seperti ini, bagaimana bisa aku bekerja dengan tenang di kantor?"
__ADS_1
Mike lalu menyodorkan mangkuk di depan Eireen lalu berkata lagi "minumlah selagi panas. Ini bisa menghilangkan rasa sakit di kepalamu."
Eireen tidak menolak, ia menerima mangkuk tersebut dan meminumnya sampai habis dalam satu tegukan.
Mike melihatnya telah menghabiskan supnya, lalu dia mengambil mangkok nya kembali. Lalu dia berkata "katakan kepadaku apa yang terjadi kemarin."
Eireen terkejut, dia melihat Mike dengan wajah bingung "apa yang terjadi semalam?"
"Semalam ada yang menarik bajuku dan berkata kalau dia tidak mau pergi."
Mike berkata sambil menatap dalam Eireen dan dengan tatapan penuh ingin tahu "aku merasa sangat aneh, kenapa kamu bisa berkata seperti itu."
Ketika Eireen Mendengar ucapan Mike seketika dia membatu. Dia tidak menyangka kalau dirinya yang mabuk bisa merusak rencananya. Membuat dirinya sangat kesal.
Dia memperhatikan Mike baik-baik, melihat dirinya yang sedang menunggu jawaban darinya.
Kelihatannya semalam dia tidak membocorkannya, dia hanya mengucapkan kata-kata yang tidak berarti.
Untung saja. Eireen merasa lega seketika.
"Em? Kamu tidak ingin memberikan penjelasan kepadaku?"
Mike menunggu begitu lama, namun tidak melihat Eireen menjawab apapun. Dia menyipitkan matanya.
Eireen menundukkan kepalanya, tersenyum sambil mencari alasan. "Hehehe… ini cuma salah paham biasa. Hanya ucapan orang mabuk. Jangan diambil serius."
"Oh ya?"
Eireen juga tahu, namun dia tidak bisa menemukan alasan yang lebih baik lagi. Hanya bisa berkata dengan wajah pasti "memang begitu."
Mike menatapnya dengan lekat, walaupun sebenarnya dia tahu kalau Eireen berbohong. Tapi dia tidak ingin memaksanya untuk menjawab.
Dia mengambil mangkok kosong tadi, yang ia letakkan di samping ranjang. Lalu berjalan keluar dan berpesan "kalau begitu,aku akan pergi ke kantor dulu. Kamu istirahatlah di rumah."
Ketika mengatakan ini, dia lalu berhenti dan mengingat sesuatu sambil memberi peringatan kepada Eireen " ingat, tidak boleh minum alkohol lagi."
Meskipun Mike berkata dengan sangat tegas, namun perhatian dalam ucapannya membuat hati Eireen begitu hangat.
"Tenang saja, aku tidak akan minum lagi."
Mike mengangguk lalu berbalik dan pergi.
Namun Eireen yang melihatnya berbalik hendak pergi seketika panik.
"Mike."
Eireen tiba-tiba memanggilnya dengan suara lantang.
"Kenapa?"
Mike menoleh dengan heran.
Ketika Eireen menatapnya, ia berusaha menyunggingkan senyumnya.
__ADS_1
"Hari ini boleh tidak, kalau tidak berangkat ke kantor?"
Pada hari terakhir, Eireen hanya ingin Mike selalu menemani dirinya pada hari itu. Tetapi kenyataan selalu tidak seindah angan.
Mike mengangkat pergelangan tangannya dan melihat arlojinya "hari ini? Aku ada rapat nanti, tidak bisa diundur. Aku akan berusaha menanganinya dengan cepat dan kembali sesegera mungkin. Bagaimana?"
Eireen berkata dengan nada sangat kecewa. Tetapi dia tidak dapat mengeluh
"Baiklah.. baiklah. Tidak apa, kamu rapatlah. Aku akan menunggumu di rumah."
Mike mengerutkan keningnya, tetapi sudah hampir rapat. Dia menekan keraguan di hatinya. Lalu berbalik dan pergi.
Setelah Eireen melihat Mike telah pergi ke kantor dari balkon. Dia duduk sendirian tidak tahu harus berbuat apa.
Kemudian tidak lama, dia menerima telepon dari Tommy.
"Apakah kamu memberitahu Mike tentang kepergian mu?"
"Belum."
Eireen melihat ke depan, tetapi tatapan matanya kosong.
"Kenapa kamu belum mengatakannya. Apakah kamu tidak rela untuk pergi?"
Tommy mengerutkan keningnya matanya menyala-nyala dengan penuh amarah "Eireen jika kamu berani membuat masalah, jangan salahkan aku atas kekejaman ku."
Eireen bisa merasakan hasrat membunuh dari telepon tersebut. Dia mengangkat bibirnya dengan sarkasme "Tommy kamu benar-benar memandang berat aku. Hal macam apa yang kamu pikir bisa aku hasilkan sendiri?"
Tommy tampaknya tidak menghiraukan sarkasme dalam nada bicara Eireen. Dia mendengus dingin. "Ingat apa yang kamu katakan, besok aku harus melihat kamu di kediamanku."
Dia langsung menutup teleponnya.
Eireen meletakkan ponselnya, dan menutup matanya sambil tersenyum sedih.
Malam itu ketika Mike kembali dari perusahaan, langit sudah dipenuhi sinar matahari sore.
"dimana nyonya muda?"
Mike pergi ke ruang tamu dan menyerahkan tas kerjanya kepada pengurus rumahku.
"nyonya muda ada di atas tuan."
Pengurus rumah menjawab dengan hormat.
Mike mengangguk dan naik ke atas.
Di dalam ruangan Eireen masih berdiri di atas balkon. Ketika dia mendengar suara pintu terdengar, pikirannya kacau mulai menyatu.
saat ini hatinya
dipenuhi berbagai hal dan tersenyum.
happy reading all
__ADS_1