
Diandra yang masih merasakan pusing segera menyadarkan tubuhnya di tembok sambil memijat pelipisnya agar bisa sedikit menghilangkan rasa pusing di kepalanya. Ifan yang awalnya berusaha tidak peduli merasa tidak tega akhirnya dia berjalan menghampiri Diandra.
"kamu gak apa-apa?" tanya Ifan setelah sampai di dekat Diandra.
"kepala aku pusing" jawab Diandra yang belum menyadari jika yang bertanya adalah Ifan.
"biar aku bantu" tawar Ifan sambil mengulurkan tangannya.
Diandra segera mengangkat kepalanya matanya langsung membulat menatap tidak percaya bahwa yang berada di hadapannya pria yang selama ini menjauhinya Ifan yang masih mengulurkan tangan segera memberi kode dengan menganggukkan kepalanya.
tanpa menunggu lama Diandra segera meraih tangan Ifan namun tanpa sengaja Diandra yang masih merasakan pusing membuat badannya menabrak dada bidak milik Ifan.
"maaf" ucap Diandra sambil menjauhkan sedikit tubuhnya dari Ifan.
"gak apa-apa" sahut Ifan. "kita ke UKS aja iya" sambung Ifan karena melihat wajah Diandra yang begitu pucat.
Diandra segera mengagungkan kepalanya tanpa menunggu lama tubuhnya di papah oleh Ifan menuju ruang UKS, sesekali Diandra melirik ke arah Ifan yang fokus menatap ke arah depan sedangkan Ifan berusaha menetralkan jantungnya yang berdetak tidak karuan.
"kamu istirahat aja dulu di sini" ucap Ifan segera merebahkan tubuh Diandra di ranjang.
"fan, makasih" sahut Diandra.
Ifan mengangguk sebagai jawaban.
seketika di ruangan UKS keduanya menjadi canggung bahkan Ifan sedikit menjauhkan dirinya dari Diandra sedangkan Diandra yang memerhatikan Ifan hanya terdiam karena dirinya juga tau mengapa Ifan berusaha menjaga jarak dengannya.
"apa kamu masih marah?" Diandra memberanikan bertanya kepada Ifan.
"kenapa aku marah" sahut Ifan sambil menyandarkan dirinya di tembok.
"soal kejadian dulu" ucap Diandra sambil terus memerhatikan Ifan yang memalingkan wajahnya dari dia.
"untuk apa aku marah, lagi pula itu sudah lalu jadi gak perlu dibahas lagi" jawab Ifan yang sekilas melirik ke arah Diandra yang terbaring di ranjang.
__ADS_1
Diandra langsung terdiam saat mendengar jawaban sahabat lamanya itu mungkin Ifan sudah melupakannya tetapi semenjak kejadian itu rasa bersalah di hatinya tidak pernah hilang apalagi jika mengingat bagaimana Ifan menjauhinya.
Ifan sibuk dengan pikirannya sendiri entah mengapa dia takut jika perasaan yang berusaha dia kubur untuk Diandra akan tumbuh lagi jika dirinya kembali dekat namun saat Ifan sedang melamun tiba- tiba dia di kagetkan dengan Diandra yang turun dari ranjang dan berlari sambil menutup mulutnya.
"Di, kamu kenapa?" tanya Ifan sambil mengejar Diandra yang keluar ruangan UKS.
Diandra yang merasakan mual tidak mempedulikan pertanyaan Ifan dia segera berlari menuju toilet dan bergegas memuntahkan semua isi dalam perutnya, Ifan yang baru sampai merasa cemas mendengar Diandra yang muntah-muntah dengan cepat Ifan masuk ke dalam toilet untuk membantu Diandra yang sedang muntah-muntah.
"apa kamu salah makan" tanya Ifan sambil memijat tengkuk Diandra dengan pelan.
Diandra menggeleng karena dia tidak makan yang aneh-aneh tetapi dia bingung mengapa sudah beberapa hari ini dirinya merasa mual dan pusing, Ifan masih setia membantu Diandra.
"makasih fan" ucap Diandra.
"wajah kamu pucat, kita ke dokter saja" jawab Ifan yang merasa tidak tega melihat Diandra.
"aku udah gak apa- apa" tolak Diandra mengingat dirinya harus masuk kuliah sebentar lagi.
"kamu yakin" tanya Ifan.
setelah mendapatkan jawaban Diandra, Ifan membantu Diandra untuk menuju ke kelasnya hingga membuat semua orang menatap mereka penuh tanya apalagi ada sebagian mahasiswi yang melihat keduanya keluar dari toilet membuat mereka menatap sinis ke arah keduanya.
****
"mami, papi buka" teriak Kevin sambil menggedor-gedor pintu kamarnya.
"papi gak akan bukain sebelum kamu sadar" tegas Bima yang berdiri di depan pintu kamar Kevin.
"aku gak akan meninggalkan Diandra sampai kapan pun, walaupun papi membunuh aku sekali pun" jawab Kevin dari dalam kamar.
"kalau kamu masih kekeh sama pendirian kamu silahkan tapi jangan harap kamu bisa keluar kamar ini dan bertemu dengan wanita itu" ucap Bima.
"papi egois" teriak Kevin.
__ADS_1
"ini demi kebaikan kamu sayang" sahut Heni yang berdiri di samping suaminya.
"ini bukan demi kebaikan aku, tapi ini demi keegoisan kalian" ucap Kevin dengan penuh emosi.
Heni sebenarnya tidak tega tetapi dirinya juga tidak ingin kalau sampai anak satu-satunya tetap bersama wanita itu begitu juga dengan Bima yang memang sengaja mengurung Kevin di dalam kamar bahkan ponsel Kevin pun di ambilnya agar anaknya tidak bisa berkomunikasi dengan siapa pun.
"kamu mau bilang apapun papi tidak peduli karena suatu saat justru kamu akan berterima kasih kepada papi" sahut Bima.
"mami harap kamu merenungi kesalahan kamu" ucap Heni yang berharap jika Kevin menyadari bahwa yang mereka lakukan demi kebaikannya.
Kevin mendengar perkataan mami dan papinya di balik pintu hanya bisa menahan semua amarahnya karena memohon kepada mereka pun tidak ada artinya hingga Kevin sudah lelah, Kevin menjatuhkan tubuhnya ke lantai dengan keadaan yang sudah sangat kacau.
"kalian egois, hanya memikirkan kebahagian kalian" ucap lirih Kevin sambil melipat kedua kakinya.
entah sudah berapa kali Kevin menyakinkan kedua orang tuanya tetapi mereka tidak mau mengerti bahkan yang membuat Kevin semakin hancur karena ponselnya pun dia ambil darinya hingga sulit untuk memberi tahu Diandra tentang keadaanya.
di depan kamar Bima yang tidak mendengar suara Kevin lagi segera mengajak istrinya untuk pergi dari sana Heni dengan cepat mengikuti langkah kaki suaminya walau dalam hatinya dia merasa tidak tega harus memperlakukan anak mereka seperti itu tetapi demi kebaikan anaknya apapun akan dia lakukan.
"Pi, mami tidak tega kau harus mengurung Kevin terus menerus" ucap Heni.
"papi melakukan itu agar anak itu sadar mi" sahut Bima sambil mendudukan dirinya di sofa ruang keluarga.
"tapi apa tidak ada cara lain Pi" tanya Heni sambil duduk di samping Bima.
"gak ada mi, apa mami lupa sudah segala cara kita lakukan tapi anak itu masih saja berhubungan dengan wanita rendahan itu" sahut Bima yang sekilas melirik wajah Heni yang tampak sedih.
"apa kita kirim Kevin ke rumah Oma" ucap Heni.
"papi gak setuju, mami tau sendiri bagaimana Oma memanjakan Kevin" sahut Bima yang tidak akan membiarkan Kevin tinggal dengan maminya.
"lalu sampai kapan kita akan mengurung Kevin seperti itu" tanya Heni yang sudah tidak tahan lagi melihat Kevin menderita.
"sampai anak itu sadar dan menurut dengan keinginan kita" tegas Bima.
__ADS_1
Heni sebenernya menginginkan hal yang sama seperti suaminya tetapi dia tidak tega melihat Kevin menderita seperti itu tetapi dia juga tidak punya cara lain lagi untuk memisahkan Kevin dan wanita itu.