
di parkiran kampus Diandra sengaja menunggu Andi tentunya dia akan menanyakan keberadaan Kevin kepadanya mengingat hanya Andi yang selama ini Diandra tahu sahabat Kevin.
"ngapain kamu disini?" ucap Andi sambil berjalan ke arah Diandra yang berdiri di samping mobilnya.
"nungguin kakak" sahut Diandra.
"tumben ada angin apa" ucap Andi sambil tersenyum.
"kakak apa tau dimana Kevin? " Diandra langsung menanyakan Kevin kepada Andi.
"Kevin" ulang Andi.
"iya Kevin ka" sahut Diandra.
"justru kakak mau tanya kamu?" ucap Andi sambil menaikan alisnya sebelah.
"lah ko kakak jadi tanya aku! justru aku gak tau Kevin menghilang tanpa ada kabar" sahut Diandra sambil menatap bingung ke arah Andi.
"jadi kamu juga gak tau kabar dia?" ucap Andi.
"gak ka" jawab Diandra sambil menghela napas.
Andi semakin bingung kemana Kevin bahkan beberapa hari ini dia tidak datang ke kampus yang membuatnya semakin bingung Diandra pun tidak tau kabar Kevin.
"apa terjadi sesuatu pada dia" ucap Andi.
"kakak jangan buat aku takut" sahut Diandra yang seketika merasa khawatir dengan keadaan kekasihnya.
"kakak, bukan bikin kamu takut tapi bisa saja kan! apalagi dia gak ada kabar sama sekali" jawab Andi.
"kakak pasti tau rumahnya kan, anterin aku kesana" pinta Diandra sambil menggoyangkan lengan Andi.
Andi menatap tidak percaya mendengar permintaan Diandra kepadanya sekaligus bingung sedangkan Diandra terus merengek kepada Andi untuk di mengantarnya ke rumah Kevin.
"memang kamu gak tau rumah Kevin?" tanya Andi sambil melirik ke arah Diandra yang masih merengek kepadanya.
"kalau aku tahu, gak mungkin aku minta anterin kakak" sahut Diandra sambil mengerucutkan bibirnya.
"tapi jangan hari ini kakak ada tugas kampus" ucap Andi.
__ADS_1
"sebentar aja ka" rengek Diandra yang tidak mau menunggu lagi karena dia kepikiran takut sesuatu terjadi kepada Kevin.
Andi tampak bingung apalagi Diandra masih merengek kepadanya hingga tanpa sengaja Andi melihat Ifan yang baru keluar dari kampus hingga dia mempunyai ide supaya Ifan yang menggantikannya mengantar Diandra.
"Ifan" panggil Andi sambil melambaikan tangannya ke arah Ifan.
sontak hal itu membuat Diandra berhenti merengek dan mengikuti pandangan mata Andi seketika Diandra terdiam karena melihat Ifan di sebrang sana, begitu juga Ifan menghentikan langkanya saat mendapat panggilan dari Andi apalagi Ifan melihat Andi tidak sendirian membuatnya merasa tidak nyaman.
"kakak temuin Ifan dulu, kamu tunggu sebentar" ujar Andi sambil melepaskan tangan Diandra.
"kakak" panggil Diandra dengan kesal karena Andi malahan meninggalkannya.
walau dengan hati kesal Diandra hanya bisa menurut perintah Andi apalagi hanya Andi yang bisa membantunya untuk bertemu Kevin, Andi yang berlari menghampiri Ifan segera menghentikan langkahnya di hadapan Ifan sambil menetralkan napasnya yang tidak beraturan.
"Lo, gue panggil juga" ucap Andi.
"ada apa?" jawab Ifan singkat.
"Lo mau tolongin gue gak?" tanya Andi sambil memasang senyuman di wajahnya.
Ifan segera menghela napas saat Andi memasang senyuman di wajahnya karena Ifan sudah tau pasti ada yang Andi inginkan hingga bersikap begitu manis padanya.
"cepet ngomong" sahut Ifan dengan memasang wajah datar.
"gak bisa gue sibuk" tolak Ifan sambil melangkah melewati Andi.
Andi tidak percaya bahwa kali ini Ifan menolak permintaannya sebenarnya Andi tau alasan Ifan menolaknya tetapi dia tidak punya pilihan lain selain meminta tolong kepada Ifan.
"fan, ayolah sekali ini aja" ucap Andi sambil membalik badannya ke arah Ifan yang tadi melewatinya.
"gue gak bisa, Lo bisa ngerti kan!" tolak Ifan kembali tanpa membalik badannya.
Andi hampir patah semangat tapi dia tidak mau menyerah akhirnya berjalan menghampiri Ifan yang berdiri membelakanginya sedangkan Diandra yang dari kejauhan melihat keduanya begitu penasaran apa yang sedang di bicarakan kedua pria itu.
namun tiba-tiba dia merasa pusing dan pandangan matanya menjadi gelap seketika Diandra jatuh pingsan membuat Ifan berlari ke arahnya begitu juga Andi yang ikut menyusul Ifan setelah melihat Diandra pingsan.
"Di, bangun" pinta Ifan sambil menaruh kepala Diandra di atas pahanya.
"apa yang terjadi" ucap Andi saat sampai di sana.
__ADS_1
"apa Lo gak liat, Diandra pingsan" kesal Ifan yang mendengarkan perkataan Andi.
seketika Andi yang mengira Diandra becanda berusaha membuatnya sadar begitu juga Ifan namun Diandra masih tidak membuka matanya hingga membuat Ifan tanpa pikir panjang menggendong tubuh Diandra untuk membawanya ke rumah sakit.
Ifan terus berjalan mondar mandi di depan ruangan di mana Diandra sedang diperiksa dengan wajah cemas sedangkan Andi yang melihatnya semakin di buat pusing karena Ifan membuat dirinya semakin panik.
"fan, Lo bisa tenang gak" ucap Andi.
"gimana gue bisa tenang, dari tadi dokter belum keluar juga" sahut Ifan sambil menghentikan langkahnya dan melihat ke arah Andi yang duduk di bangku rumah sakit.
tidak begitu lama pintu ruangan terbuka memperlihatkan sosok dokter dan suster dibelakangnya, dokter yang baru selesai memeriksa Diandra segera memerhatikan kedua pria di hadapannya. Ifan segara berjalan ke arah dokter begitu juga dengan Andi yang langsung beranjak dari duduknya dan berjalan mengikuti Ifan.
"suami pasien mana?" tanya dokter sambil melihat bergantian dua pria dihadapannya.
"suami" ucap keduanya dengan nada tidak percaya mendengar pertanyaan dokter.
"iya suaminya" jelas dokter yang bingung melihat keduanya yang terlihat kaget.
Andi dan Ifan saling melempar tatapan tidak mengerti mengapa dokter bertanya suami Diandra sedangkan mereka berdua sama- sama tau Diandra belum mempunyai suami, sedangkan dokter dan suster masih menunggu jawaban dari keduanya.
"ini dok suaminya" Andi langsung mendorong tubuh Ifan.
"gue" ucap Ifan sambil menunjuk dirinya sendiri.
Andi hanya memberi kode kepada Ifan dengan terpaksa Ifan hanya mengikuti apa yang di inginkan Andi apalagi baginya sekarang terpenting tau keadaan Diandra.
"s- saya suaminya" ucap Ifan dengan sedikit terbata- bata.
"selamat tuan, istri anda sedang mengandung" dokter segera memberi selamat kepada Ifan sambil mengulurkan tangannya ke arah Ifan.
"apa?" ucap Ifan dan Andi bersamaan.
"iya istri anda sedang mengandung, apa anda belum tahu" tanya dokter sedangkan suster yang berdiri di belakang dokter hanya tersenyum melihat keduanya.
"dokter jangan bercanda" ucap Ifan yang mengira bahwa dokter sedang bercanda.
"saya tidak bercanda tuan, istri anda sedang mengandung usia kandungannya sudah 10 Minggu" jawab dokter sambil menggelengkan kepalanya melihat reaksi yang Ifan berikan.
Andi yang berdiri di belakang Ifan masih mencerna ucapan dokter kepada Ifan sedangkan Ifan seketika tubuhnya terasa membeku mendengar penuturan dokter tentang keadaan Diandra.
__ADS_1
"kalau gitu saya permisi" ujar dokter dan berjalan melewati Keduanya di ikuti suster dibelakangnya.
sedangkan Andi masih belum percaya dengan apa yang mereka berbeda dengan Ifan dia segera memundurkan langkahnya luka hatinya belum sembuh dan sekarang hatinya harus terluka kembali setelah mendengar perkataan dokter beberapa saat lalu dia berharap bahwa semuanya hanya mimpi.