
Bima masih saja menatap Kevin dengan kemarahan karena dia mendengar jelas saat anaknya itu membentak istrinya dari lantai atas, sedangkan Heni memandang wajah sedih karena dia merasa Kevin sekarang semakin keterlaluan
"kamu pikir papa tidak mendengar semuanya? hentikan tingkah kekanak-kanakan kamu Vin" pinta Bima yang merasa bahwa kevin semakin sulit di atur
"apa papa bilang? justru aku yang harusnya berkata seperti itu sudah cukup papa dan mama memperlakukan aku seperti ini! apa kalian tidak menyadari sudah menghancurkan hidup aku?" tegas Kevin yang bener- benar sudah muak dengan perangai kedua orangtuanya
Bima yang tidak terima mendengar perkataan Kevin langsung mengangkat tangannya sontak Kevin melihatnya sama sekali tidak merasa takut berbeda dengan Heni yang langsung menggelengkan kepalanya saat melihat suaminya akan menampar Kevin hingga membuat Bima mengurungkan niatnya
"kenapa pa? tampar aku!" teriak Kevin yang tidak peduli jika kali ini papanya akan menamparnya
"mama liat itu" ucap Bima sambil menoleh ke arah Heni yang melarangnya menampar Kevin
"sudah pa" jawab Heni dan dia segera melihat ke arah Kevin dengan tatapan penuh kesedihan. " dan kamu Kevin cukup, papa dan mama tidak pernah mengajarkan kamu untuk bersikap kurang ajar"
Kevin hanya membalas ucapan mamanya dengan senyuman kecut tentunya hal itu dia lakukan agar Kedua orang tuanya mengerti bahwa mereka sudah menghancurkan hidupnya setelah memisahkannya dengan Diandra
tanpa berkata apapun lagi kevin segera melangkah pergi meninggalkan keduanya tentunya semakin membuat Bima marah tetapi dengan cepat Heni menahannya agar Bima tidak menyusul Kevin yang naik ke lantai atas
"sudah pa, biarkan dia tenang dulu" ucap Heni sambil menahan lengan suaminya
"tapi ma-
"papa percaya sama mama, kalau anak kita itu hanya sedang marah, mama yakin nanti dia akan menyadari kesalahannya" potong Heni sambil melihat ke arah suaminya yang masih menahan amarahnya
Bima hanya bisa setuju karena dia tidak ingin sampai membuat keributan yang justru nanti akan merugikan mereka berdua
***
Andi dan Riko telah sampai di kampung halaman Andi tentunya kedatangan keduanya untuk membicarakan tentang Kevin kepada Ifan karena mereka sangat khawatir jika kembalinya Kevin akan membuat kekacauan di dalam keluarga Ifan dan juga Diandra
__ADS_1
"apa ini rumah Lo?" tanya Riko setelah turun dari mobil
"iya, kenapa?" tanya Andi dengan raut wajah heran melihat ke arah Riko
"gue gak nyangka ternyata rumah Lo mewah juga" celetuk Riko yang baru tau rumah Andi karena awalnya dia berpikir Andi adalah orang biasa saja yang beruntung bisa kuliah di kampus ternama
Andi yang tau tentang maksud perkataan Riko hanya menggelengkan kepalanya tentunya dia sudah mengerti maksud perkataan Riko tetapi dia tidak terlalu mempedulikannya
dengan cepat Andi mengajak Riko untuk masuk apalagi setelah perjalan cukup lama dirinya merasa lelah dan Riko segera mengikuti langkah kaki Andi menuju rumah yang terbilang cukup mewah itu.
Andi segera mengetuk pintu di hadapannya tidak begitu lama seorang pria paruh baya membuka pintu seraya tersenyum melihat kedatangannya
"asalamualaikum pak" Andi segera memberi salam sambil mencium tangan pria di hadapannya
"waalaikum salam" jawab pria itu yang tidak lain ayah dari Andi. "kamu pulang kenapa tidak memberi kabar bapak?"
Riko dengan sopan mencium tangan pria yang seumuran dengan papanya dan langsung memperkenalkan dirinya dan dengan sopan ayah Andi mengajak keduanya masuk
Riko yang mengikuti langkah kaki keduanya begitu takjub melihat rumah milik Andi walau tidak sebesar rumah miliknya namun terlihat sangat indah dan rapih, namun di dalam benaknya terselip pertanyaan karena semenjak dirinya datang tidak melihat siapapun disana
"silahkan duduk nak Riko" ucap pak Agus setelah mereka sampai di ruang keluarga
"terimakasih pak" jawab Riko yang langsung mendudukan dirinya
"nak Riko mau minum apa?" tanya pak Agus sambil melihat ke arah Riko yang sudah duduk
"tidak usah repot-repot pak" jawab Riko yang merasa tidak ingin merepotkan
"tidak apa-apa, bapak tidak merasa repot ko" sahut pak Agus
__ADS_1
Andi yang sudah duduk hanya melihat keduanya sedang berbicara karena dirinya setiap kali pulang pasti teringat dengan mendiang ibunya andai saja ibunya masih ada pasti suasana rumah akan sedikit berbeda
pak Agus segera melangkah pergi dari sana untuk menyiapkan minuman untuk Riko dan juga Andi anaknya memang setelah kepergian istrinya dia memutusakan untuk tidak menikah lagi dan hidup sendirian walau sudah sering kali Andi memintanya mencari pendamping untuk mengantikan mendiang ibunya tetapi selalu di tolak oleh pak Agus
kini disana hanya tinggal Riko dan juga Andi, karena rasa penasarannya tidak bisa di bendung lagi akhirnya Riko memberanikan diri untuk bertanya tentang keberadaan ibu dari Andi
"Ka, sejak tadi gue tidak melihat ibu Lo! apa dia sedang tidak berada di rumah?" tanya Riko dengan raut wajah penuh rasa penasaran
Andi langsung membenarkan posisi duduknya dan menoleh sekilas ke arah Riko yang sudah menatapnya dengan penuh tanya." ibu gue sudah meninggal jadi di rumah ini yang tinggal hanya bapak gue sendiri"
seketika mendengar jawaban Andi membuat Riko merasa tidak enak apalagi dirinya tidak bermaksud membuat Riko tersinggung atas pertanyaannya
"maaf ka, gue bener-benar tidak tahu" jawab Riko dengan raut wajah tidak enak
"santai saja, gue tidak apa-apa" jawab Andi sambil tersenyum
Riko yang merasa tidak enak pun akhirnya mengubah topik pembicaraan mereka hingga akhirnya tanpa terasa waktu sudah semakin sore Andi yang merasa lelah segera mengajak Riko beristirahat terlebih dahulu sebelum keduanya bertemu dengan Ifan
sore harinya Diandra yang merasa tidak nyaman apalagi sekarang kandungannya semakin besar segera mendudukan dirinya di kursi di halaman rumah mertuanya dari kejauhan Ifan yang melihat istrinya kelelahan segera menghampirinya
"kamu sepertinya capek sekali" ucap Ifan setelah sampai di sana
Diandra segera menoleh ke arah suara itu lalu tersenyum manis di ujung bibirnya, " tidak ko fan, hanya sekarang aku sedikit lelah saja"
"aku kan sudah bilang, kalau kamu tidak perlu membantu mba mengerjakan pekerjaan rumah"
"tapi aku senang membantu mba, apalagi aku merasa tidak bosan jika aku mempunyai kegiatan" jawab Diandra Yang merasa tidak keberatan dengan membantu mba untuk hal itu
Ifan hanya bisa terdiam sejujurnya dia tidak ingin melihat Diandra yang terlalu capek membantu pekerjaan rumah apalagi kandungannya sudah semakin besar membuatnya khawatir dengan keadaan istrinya tetapi dirinya tidak bisa melarang Diandra karena dia tidak mau membuat Diandra bersedih
__ADS_1