
kehidupan rumah tangga Diandra dan Ifan mulai seperti rumah tangga pada umumnya, tetapi tetap saja ada yang kurang karena sampai detik ini Ifan dan Diandra masih tertidur di kamar terpisah walau pun begitu tidak membuat Ifan berubah justru karena kandungan Diandra yang sudah menginjak 7 bulan membuat Ifan semakin super perhatian dan menjadi suami yang siaga
Diandra sendiri tidak menyangka bahwa Ifan akan bersikap seperti ini, tentunya perhatian Ifan selama ini membuat Diandra tanpa sadar mulai membuka hatinya untuk sang suami. pagi hari Diandra yang sudah terbangun segera mencuci mukanya dan lekas keluar kamar.
dia berjalan menuju dapur untuk menyiapkan sarapan, walau kandungannya sudah besar namun tidak membuat Diandra menjadi manja justru Diandra sekarang mulai terbiasa mengerjakan semuanya sendiri bahkan sekarang dia menyiapkan semua keperluan Ifan ke kantor.
setelah selesai menyiapkan sarapan, dia langsung bergegas menuju ke kamar Ifan untuk membangunkan suaminya yang masih tertidur pulas.
"fan, bangun" ucap lembut Diandra sambil menggoyangkan lengan Ifan
Ifan mulai menggeliatkan badannya saat terasa tubuhnya di goyangkan lembut oleh Diandra. "bentar lagi Di"
"tidak bisa fan, ini sudah setengah 7 pagi, ayo bangun" Diandra kembali menggoyangkan tubuh Ifan
Ifan yang masih ngantuk mulai membuka matanya dan saat kali pertama wajah cantik Diandra yang dia liat membuat rasa kantuknya hilang dengan cepat dia bangun, sesudah memastikan Ifan bangun Diandra beranjak dari duduknya dan berjalan menuju lemari
"Di, kamu tidak perlu melakukan itu setiap pagi, aku khawatir jika nanti kamu kelelahan" ucap Ifan sambil turun dari tempat tidurnya
"justru aku merasa senang melakukannya,lagian kata dokter aku harus sering banyak gerak karena itu bagus untuk persalinan aku kelak" jawab Diandra yang masih sibuk mencarikan kemeja untuk Ifan
Ifan yang berjalan ke kamar mandi memang sudah sering melarang Diandra melakukan semuanya namun Diandra tetap bersikeras hingga Ifan sudah tidak bisa melarangnya.
Diandra yang sudah menyiapkan pakaian untuk Ifan sesekali tersenyum karena sekarang dirinya sudah seperti seorang istri yang sibuk menyiapkan semuanya untuk Ifan, setelah dirasa semuanya beres dengan cepat dia melangkah ke luar kamar dan segera masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri
__ADS_1
"Di, mulai Minggu depan aku akan menyewa pelayan untuk membantu kamu dan menemani kamu di sini" ucap ifan
"tapi fan-
"tidak ada tapi- tapian karena aku tidak ingin kalau kamu kelelahan, ditambah sekarang kandungan kamu sudah mulai besar" potong Ifan yang tidak mau mengambil resiko.
sebenarnya Diandra sudah sering kali menolaknya tetapi karena Ifan selaku memaksanya akhirnya dia tidak bisa menolak apalagi Kedua mertuanya pun mertuanya pun sering mengomel tentang hal itu.
"oh iya, mungkin aku akan pulang telat" ucap Ifan kembali di sela sarapannya
"memang kamu mau kemana?" tanya Diandra yang langsung melihat ke arah Ifan yang masih sibuk dengan sarapannya
"karena nanti aku harus ke kampus dulu, setelah itu baru aku ke kantor" jelas Ifan yang memang setiap hari dia harus pergi ke kampus dulu sebelum dirinya bekerja
"baiklah, nanti malam kamu mau di masakin apa?" tanya Diandra yang langsung menanyakan makan malam apa yang harus dia buat untuk nanti malam
seketika wajah diandra merah merona saat mendengar Ifan berkata seperti itu bukan tanpa sebab memang sejak memutuskan untuk menjadi istri yang baik buat Ifan, dirinya selalu berusaha menyiapkan makan malam untuk Ifan.
***
"Pa, apakah sebaiknya kita mencarikan calon istri untuk kevin?" ucap Heny
"iya ma, papa juga sepemikiran dengan mama, salah satu teman bisnis papa mempunyai seorang anak tentunya papa yakin dia akan menyetujuinya jika papa meminta anaknya untuk menjadi menantu kita" jelas Bima yang ingat jika salah satu teman bisnisnya mempunyai anak gadis yang memang sudah sudah dewasa
__ADS_1
"tapi apakah Kevin akan setuju?" tanya Heny sedikit ragu, apalagi mengingat hubungan mereka dengan Kevin semakin jauh semenjak kejadian itu
"kita tidak perlu meminta persetujuan dia, karena apa yang sudah menjadi keputusan papa maka dia harus bisa menerimanya" tegas Bima yang memang tidak suka mendengar penolakan
Heny sebenarnya tidak ingin anak satu-satunya itu cepat menikah apalagi usia Kevin masih terbilang muda namun karena dia ingin membuat anaknya itu melupakan Diandra, maka hanya itu cara satu-satunya untuk membuat Kevin agar bisa melupakan wanita itu.
Kevin yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan keduanya langsung berjalan menghampiri mereka, dengan tatapan tidak suka Kevin berdiri di samping mamanya tentunya membuat Bima Serta Heny kaget
"aku tidak setuju" Kevin langsung protes tentang rencana kedua orang tuanya
Bima yang mendengar penolakan itu langsung membanting sendok yang dia genggam, Heny yang kaget karena dia tidak menyangka kevin mendengarkan pembicaraan dirinya dan juga suaminya langsung beranjak dari duduknya.
"sayang, kamu duduk dulu, kita bicarakan ini baik-baik" Heny segera membujuk Kevin yang sudah memasang raut wajah marah
"tidak perlu ma, karena aku sudah bilang tidak akan mau menerima perjodohan ini, apa kalian tidak cukup sudah menghancurkan kehidupan aku? sekarang apalagi yang akan kalian lakukan? cukup untuk semuanya! aku ini anak kalian bukan boneka yang bisa kalian perlakukan semuanya atas kehendak kalian" Kevin yang bener-benar muak segera mengeluarkan semua kekesalan yang selama ini dia pendam
Heny tertampar oleh perkataan yang Kevin ucapkan tetapi tidak dengan Bima, dia langsung beranjak dari duduknya dengan tatapan penuh kemarahan. "jaga bicara kamu Kevin, setuju atau tidak papa tidak peduli"
"apa? aku harus jaga bicara aku! harusnya papa yang jaga bicara papa, aku ini sudah dewasa dan aku berhak memutuskan apa pun dalam hidup aku termasuk menikah, jadi berhenti terus mengekang kehidupan aku" tegas Kevin yang membalas tatapan mata yang papanya berikan
Bima semakin tersulut amarah dia langsung menggebrak meja dengan sangat keras hingga membuat suara yang begitu nyaring di sana, memang semenjak kejadian dimana Kevin mengetahui pernikahan diandra tidak sekalipun ada ketenangan di rumah itu.
Heny yang kaget langsung menoleh ke arah Bima yang sudah sangat marah." papa sudah, kita bisa bicarakan semuanya baik-baik"
__ADS_1
"tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi ma, suka atau tidak, anak ini harus menerimanya" tegas Bima yang langsung membalik badan. "semua keputusan ada di tangannya, Jika dia masih ingin hidup dengan semua ini maka dia harus menuruti semua keinginan kita" sambung Bima yang langsung melangkah pergi dari sana dengan penuh kemarahan
Kevin yang mendengar semua itu tidak terima karena dirinya sudah sangat muak dengan semuanya