
Riko yang mendengar jawaban Andi bersikap bodo amat karena menurutnya kedatangan dia tidak mengganggu sama sekali, lain halnya dengan Andi yang merasa terganggu apalagi sekarang pikirannya sedang sangat kacau karena mengingat dia sebentar lagi akan lulus kuliah dan otomatis dirinya akan meninggalkan Diandra seorang diri di sana
"ka, bulan depan Lo wisuda iya?" tanya Riko sambil melirik sekilas ke arah Andi
"iya"
"seneng iya, sebentar lagi Lo akan lulus. sedangkan gue masih lama" ucap Riko seraya menghela napas karena dirinya masih lama
"tapi gue berharap wisuda gue masih lama" jawab Andi yang berharap jika waktu wisudanya masih lama
Riko langsung membalikan badannya saat mendengar itu karena dia merasa heran mengapa Andi berharap lebih lama lagi lulus berbeda dengan dirinya yang ingin cepat sekali lulus dari sana apalagi semenjak Diandra tidak berkuliah lagi membuat harinya terasa sepi
Andi yang tidak memperdulikan tatapan yang di berikan oleh Riko bahkan menurutnya Riko hanya membuatnya semakin pusing saja, tanpa mau membuat pikirannya semakin tidak karuan dia segera beranjak dari duduknya hingga membuat Riko menatap heran kepada Andi yang sudah berdiri
"Lo mau kemana ka?" tanya Riko
"gue mau pulang, kenapa?"
"baru juga gue datang, Lo udah main pulang aja" celetuk Riko yang merasa kalau Andi sudah tidak asyik lagi
Andi yang tidak memperdulikan perkataan Riko langsung melangkah pergi dari sana karena dia memutuskan untuk menemui Diandra untuk membicarakan tentang rencananya setelah lulus kuliah nanti.
**
Diandra yang telah menyelesaikan tugas kuliahnya langsung menutup laptopnya apalagi semenjak kandungannya sudah besar dia merasa cepat lelah dan cape, mengingat sudah anda mba yang membantunya membuat Diandra bisa sedikit merasa tenang karena setidaknya ada yang membantu pekerjaannya
pelayan yang sedang menyiapkan makanan untuk Diandra dan Ifan tengah sibuk di dapur, setelah semua pekerjaannya selesai dia bergegas menghampiri Diandra yang duduk di sopa karena takut jika nyonya mudanya itu perlu sesuatu
__ADS_1
"maaf mba, apa Mba mau saya bikinkan sesuatu?" tanya mba inem yang sudah berdiri tidak jauh dari Diandra
"tidak usah mbok, kalau pekerjaan mbok sudah selesai mbok bisa istirahat" ucap Diandra yang merasa dia tidak memerlukan apapun
"baik mba, kalau gitu saya permisi dulu, kalau perlu apa-apa saya ada di kamar" ucap inem
Diandra langsung mengajukan kepalanya sebagai jawaban setelah kepergian Inem, Diandra kembali menyandarkan tubuhnya sambil mengelus perutnya yang sudah membentuk tanpa terasa air matanya menetes jika mengingat apa yang di alami anak yang ada di dalam kandungannya
saat dirinya hanyut dalam lamunannya tiba-tiba suara bel pintu berbunyi hingga menyadarkan dirinya dengan cepat Diandra mengusap air matanya dan segera beranjak dari duduknya seraya berjalan ke arah pintu
Andi yang sudah berada di depan pintu seketika tersenyum saat melihat pintu terbuka dan memperlihatkan sosok wanita yang dia rindukan memang semenjak menikah dengan Ifan membuatnya sedikit menjaga jarak dengan Diandra karena menurutnya sekarang sudah ada yang menjaga Diandra
Diandra langsung tersenyum melihat sosok pria yang telah lama tidak bertemu dengannya. "kakak, ayo masuk"
tanpa bertanya apapun lagi Diandra langsung mengajak Andi untuk masuk dan Andi segera melangkah masuk mengikuti Diandra, mereka pun telah sampai di ruang tamu dengan sopan Diandra langsung mempersilahkan Andi untuk duduk dan dia segera meninggalkan Andi untuk membuatkan minuman
"kakak, kemana saja?" ucap Diandra sambil membawa nampan berisi minuman
"tidak repot ko ka"
"kamu itu masih sama saja, tidak pernah mau mendengarkan kakak" ucap Andi yang sudah tahu bahwa Diandra sulit sekali di larang
Diandra hanya tersenyum melihat sikap Andi yang selalu saja seperti itu tentunya itu yang membuat dia nyaman karena Andi selalu menggagapnya seperti adiknya sendiri begitu juga Diandra yang sudah menganggap Andi sebagai kakaknya
"bagaimana keadaan kandungan kamu?" Andi langsung menanyakan keadaan kandungan Diandra
"semuanya baik ka, kalau tidak ada halangan 2 bulan lagi aku akan lahiran" jelas diandra yang memberi tahukan kapan dirinya akan lahiran
__ADS_1
Andi kaget karena ternyata kelahiran Diandra dan wisuda dirinya selisih satu bulan membuatnya semakin khawatir apalagi mengingat bagaimana Kevin bersikeras untuk mendapatkan Diandra dan juga anaknya, melihat Andi yang memasang raut wajah tidak bahagia membuat Diandra bersedih karena dia mengira Andi tidak bahagia mendengarnya
"apa kakak tidak senang mendengarnya?" tanya Diandra dengan tatapan sendu
"tentu saja kakak bahagia apalagi sebentar lagi kakak akan menjadi seorang om" jawab Andi
"tapi wajah kakak tidak mencerminkan itu!"
"sebenarnya kakak bukan tidak senang tapi jujur kakak sedih" ucap Andi yang tidak melanjutkan pembicaraannya
"kakak kenapa? apa ada Masalah?"
Andi segera menggelengkan kepalanya sambil menatap tidak tega kepada Diandra tetapi walau bagaimana pun dia tidak mungkin menolak permintaan kedua orang tuanya untuk kembali ke kampung dan melanjutkan usaha mereka dengan menyakinkan diri akhirnya Andi menjelaskan tentang semuanya kepada wanita yang duduk di hadapannya
seketika Diandra menatap dengan penuh arti karena dengan kepergian Andi membuatnya kehilangan sosok pria yang selalu ada untuknya walau sekarang ada Ifan sebagai suaminya tetapi menurutnya sangat berbeda
"ya sudah, kalau itu keputusan orang tua kakak, maka kakak harus menurut apalagi kakak anak mereka satu-satunya" ucap diandra yang berusaha bersikap dewasa
"tapi Di, kakak tidak tega jika harus meninggalkan kamu di sini" jelas Andi yang tidak bisa membohongi dirinya kalau dia tidak tega berjauhan dengan Diandra karena dia khawatir kevin akan mengusik hidupnya lagi
"kakak tidak perlu khawatir tentang aku, lagian sekarang kan sudah ada Ifan, jadi kakak bisa tenang di sana"
"mana bisa begitu, walaupun Ifan sekarang selalu ada di samping kamu tapi kakak masih belum bisa melepaskan kamu sendirian di kota sebesar ini, apalagi semenjak kejadian itu membuat kakak takut jika kepergian kakak justru akan menimbulkan Maslaah baru dan kakak tidak mau hal itu terjadi" ucap Andi panjang lebar mengungkapkan semua kekhawatirannya yang bergelayut dalam hatinya
Diandra mengerti apa yang membuat Andi khawatir tetapi dia juga tidak bisa egois karena walau bagaimana pun Andi juga punya kewajiban kepada orang tuanya hingga dia harus menyakinkan Andi kalau dirinya akan baik-baik saja
"makasih kakak sudah mengkhawatirkan aku tetapi kalau kakak seperti itu justru aku akan marah" jawab Diandra dengan tegas
__ADS_1
"tapi Di-
"kakak percaya saja, aku akan baik-baik saja" Diandra segera menyakinkan Andi lagi kalau semuanya akan baik-baik saja