Cinta Penuh Luka

Cinta Penuh Luka
bab 75


__ADS_3

Ifan masih tertunduk lesu karena perkataan Andi mampu membuatnya sadar bahwa dia tidak bisa memungkiri kenyataan bahwa istrinya mengandung anak pria lain, Andi yang tahu apa yang di rasakan sahabatnya itu segera menepuk bahu Ifan sebagai dukungan kepadanya.


"gue yakin Lo bisa menjalani semua ini fan tapi gue harap apapun yang terjadi jangan pernah Lo membuat Diandra menangis" ucap Andi dengan nada memohon.


Ifan mengangkat pandangannya kepada Andi tentu saja dia harus bisa menghadapi semuanya dia tidak boleh lemah apalagi sekarang ada wanita yang harus dia lindungi tanpa menunggu lama Ifan segera beranjak dari duduknya.


"gue mohon jangan biarkan Diandra tahu soal ini" pinta Ifan.


"Lo tenang saja" sahut Andi yang menyetujui permintaan Ifan.


Ifan yang merasa tidak tenang memutuskan untuk pulang apalagi setelah mendengar kepulangan Kevin membuat dirinya takut jika Kevin akan datang dan membuat Diandra kembali harus merasakan sakit hati untuk Kedua kalinya.


di apartemen Diandra yang merasa bosan akhirnya memutuskan untuk mencari angin di balkon apartemen namun saat ingin melangkah ke arah balkon saat bersamaan Ifan membuka pintu apartemen dan melihat Ifan yang membuka pintu tentu saja membuat Diandra merasa heran karena Ifan sudah kembali.


dia pun mengurungkan niatnya dan segera menghampiri Ifan yang sedang menutup pintu apartemen, "kamu sudah pulang?"


"sudah, hari ini jam kuliah aku kosong" bohong Ifan sambil membalik badan ke arah Diandra yang sudah berdiri di belakangnya.


Diandra yang percaya segera mengagukan kepalanya berbeda dengan Ifan yang merasa bersalah karena telah berbohong kepada gladys tentunya dia terpaksa melakukannya kerena Jika dia mengatakan yang sebenarnya takut jika Diandra akan kembali kepada Kevin dan meninggalkan dirinya tentu saja dia tidak ingin sampai kehilangan kembali Diandra.


keduanya segera melangkah masuk mengingat kandungan Diandra yang mulai kelihatan membuat Ifan begitu ektra hati-hati menjaga Diandra terkadang Diandra merasa tidak enak dengan sikap yang di tunjukan Ifan padanya.


"kapan kamu periksa kehamilan kamu?" tanya Ifan yang sudah duduk di hadapan Diandra


"lusa? kenapa memangnya?" jawabnya sambil melihat ke arah Ifan.


"baiklah lusa aku akan mengantar kamu untuk periksa dan iya aku harap kamu jangan terlalu capek karena aku takut terjadi apa-apa dengan kandungan kamu"


"kamu tidak usah khawatir aku tidak capek ko, lagian kan aku tidak ngapa-ngapain di sini juga"


"tapi tetap saja kamu harus mengurus apartemen ini sendirian, tentu saja itu pasti membuat kamu capek"


"tidak lagi pula apartemen ini tidak terlalu besar"

__ADS_1


"gimana kalau kita cari pelayan buat membantu kamu mengurus apartemen ini?" ucap Ifan yang langsung memberikan ide untuk mencari pelayan untuk berkerja disana.


Diandra langsung melihat ke arah Ifan dengan tatapan bingung karena menurutnya itu sangat berlebihan berbeda dengan Ifan yang tidak ingin sampai melihat Diandra kecapean oleh sebab itu dia berniat menyewa pelayan untuk mengurus apartemen.


"tidak perlu Fan, aku masih bisa ko mengurus semuanya sendirian"


"tapi apa kamu tidak kecapean?"


"tidak"


"baiklah, kalau kamu tidak mau tapi aku harap kamu jangan memaksakan diri kalau misalnya kamu lelah kamu tidak perlu mengerjakan apa-apa"


Diandra hanya mengagukan kepalanya.


tentunya dia merasa terharu dengan semua yang dikatakan Ifan bagaimana tidak walau pun yang dikandungnya bukan anaknya tetapi perhatian yang ifan tunjukan layaknya seperti ayah kandungnya.


keesokan harinya Ifan seperti biasa sudah berjibaku menyiapkan sarapan untuk dirinya dan sang istri walau sudah sering Diandra melarangnya tetapi Ifan terus bersikeras melakukannya hingga membuat Diandra tidak bisa berkata apapun lagi.


"kamu hanya perlu menjaga anak kita saja itu sudah cukup bagi aku" celetuk Ifan yang masih sibuk menatap masakan yang dia buat.


Diandra terdiam mendengar perkataan Ifan sedangkan Ifan yang sudah selesai menatap makana di atas piring menyadari kesalahannya dan segera meralatnya lagi apalagi melihat Diandra terdiam sambil melihat ke arahnya.


"maksud aku anak kamu" ralat Ifan yang langsung berjalan ke arah Diandra sambil membawa dua piring di tangannya.


Diandra langsung tersenyum walau sebenarnya dia bahagia saat mendengar Ifan mengatakannya tentu saja dia senang karena Ifan bisa menerima anak yang dia kandung berbeda dengan Ifan yang merasa bersalah karena ucapannya yang salah.


***


di tempat lain Bu rahma merasa rindu dengan Diandra karena semenjak menikah sampai saat ini dirinya belum bertemu kembali hingga membuatnya merasa rindu dengan putrinya itu.


akhirnya dia memutuskan untuk menghubungi dengan cepat Bu Rahma segera mencari ponsel yang di berikan oleh Ifan agar mereka bisa berkomunikasi dengan mereka, Bu Rahma segera mencari nomor ponsel milik menantunya setelah menemukannya dia langsung menghubunginya tidak begitu lama sambungan telepon terhubung.


"asalamualaikum Bu" ucap Diandra saat sambungan telepon tersambung.

__ADS_1


"waalaikum salam Di, gimana kabar kamu dan suamimu?" tanya Bu rahma


"aku dan Ifan baik Bu, gimana kabar ibu? maaf aku jarang menghubungi ibu" jawab Diandra yang merasa bersalah karena jarang menanyakan kabar ibunya.


"tidak apa-apa, ibu mengerti, ibu hanya rindu saja kepada kamu" jawab Bu rahma dengan nada bergetar.


"sama Bu, aku juga rindu sama ibu" jawabnya sambil menahan air matanya.


"kapan kamu pulang nengokin ibu? apa kamu sudah lupa dengan kampung halaman kamu?" tanya Bu Rahma.


"tidak Bu, nanti aku bicara dengan Ifan kalau dia mengijinkan aku pulang aku akan pulang menengok ibu" ucap Diandra.


"baiklah kalau gitu ibu tunggu, salam buat nak Ifan iya, ibu tutup dulu teleponnya" balas bu rahma.


"iya Bu, jaga kesehatan ibu" jawaban Diandra.


"iya nak, asalamualaikum" ucap Bu Rahma.


"waalaikum salam Bu" jawabnya dan langsung mematikan sambungan teleponnya.


Bu Rahma yang merasa gembira karena rasa rindunya sudah terobati dengan mendengar suara Diandra seketika meneteskan air mata karena kini dirinya tidak bisa seperti dulu lagi jika merindukan anaknya karena sekarang Diandra sudah berumah tangga.


sedangkan Diandra yang mendapatkan telepon dari ibunya meneteskan air mata tentu saja Ifan yang melihatnya segera berjalan menghampiri Diandra yang tengah menangis tentunya dia khawatir melihat itu.


"kamu kenapa?" tanya Ifan yang langsung mendudukan dirinya di tepi tempat tidur.


"aku kangen ibu" jawab lirih Diandra di sela tangisannya.


"apa kamu menangis karena kangen sama ibu?" Ifan kembali memastikannya lagi.


Diandra segera mengagukan kepalanya sebagai jawaban.


tentu saja Ifan tahu pasti istrinya begitu merindukan ibu mertuanya mengingat setelah pernikahannya mereka belum bertemu lagi melihat istrinya bersedih membuat hati Ifan sakit akhirnya Ifan memutuskan untuk membawa istrinya pulang kampung namun dia akan merahasiakan dulu kepada diandra tentang rencananya membawa Diandra pulang.

__ADS_1


__ADS_2