
Wike menangis histeris setelah mendapatkan kabar yang mengejutkan dari Niko begitu juga dengan Edwin yang tampak murka karena anak yang selama ini dia banggakan telah mencoreng wajahnya.
"sudah mami tidak perlu menangis" Tegur Edwin dengan sedikit menaikan nada bicaranya kepada Wike.
Wike terus menangis tanpa mempedulikan perkataan suaminya hatinya begitu hancur karena anak yang dia besarkan dengan kasih sayang dan dia mendidiknya dengan tegas justru membuatnya kecewa dengan apa yang dia perbuat.
Edwin segera beranjak tentunya dia harus membicarakan ini dengan ibu dari Diandra karena jika semakin lama tentu saja orang-orang akan tahu tentang kehamilan Diandra dan dirinya tidak mau itu terjadi.
"mami mau ikut? atau mau terus menangis?"
"papi mau kemana?" tanya Wike sambil berderai air mata menoleh ke arah suaminya yang sudah berdiri tidak jauh darinya.
"kita harus temui Bu Rahma karena ini juga menyangkut dengan diandra"
"tapi Pi, kita harus menanyakan ini dulu kepada Ifan, mami takut jika Sekar dan Niko Salah paham mami masih belum percaya dengan apa yang mereka katakan"
"mami pikir mereka akan berbohong dengan hal seperti ini! apalagi yang perlu kita tanyakan kepada anak itu? apa mami tidak dengan apa yang Sekar katakan bahwa dia melihat sendiri Ifan membeli susu ibu hamil dan dari mulut anak itu juga mengakui perbuatannya lalu apa lagi yang harus kita tanyakan mi?"
Wike terdiam mendengar semua perkataan suaminya, dia masih tidak percaya dengan semuanya karena selama ini yang dia tahu Ifan dan Diandra tidak memiliki hubungan apapun lalu bagaimana bisa sekarang tiba-tiba dirinya mendengar kalau Diandra tengah hamil dan itu anak Ifan.
Niko yang tidak mau membuang waktunya segera melangkah pergi penuh dengan kemarahan di wajahnya dan tanpa menunggu lama Wike segera menghapus air matanya dan segera menyusul suaminya karena dia takut kalau nanti justru terjadi hal yang tidak di inginkan terjadi di Rumah Diandra.
sedangkan seorang wanita begitu bersedih karena sudah lama sekali anaknya tidak pernah memberikan dirinya kabar bahkan tidak pernah sekalipun menelepon menanyakan kabarnya, Rahma yang hampir 3 bulan tidak pernah tahu kabar Diandra bagaimana di kota.
"apa kamu lupa sama ibu nak?" ucapnya sambil memandangi foto Diandra yang selalu dia liat dikala dirinya merindukannya.
saat Rahma terhanyut dengan rasa sedihnya tiba-tiba suara orang mengetuk pintu rumahnya, Rahma langsung menoleh ke arah pintu dengan raut wajah bahagia karena dirinya menyangka bahwa itu Diandra yang pulang dengan cepat dia beranjak dari sopa dan segera berjalan ke arah pintu.
__ADS_1
namun saat pintu di buka Rahma begitu terkejut saat melihat siapa yang datang.
"pak Edwin, Bu Wike, ada apa datang ke rumah saya?" tanya Rahma yang begitu terkejut melihat kedua orang tua Ifan sudah berdiri di ambang pintu.
"maaf kalau kedatangan kami mengagetkan, apa boleh kami masuk" ucap Wike dengan sopan.
"mari Bu, pak masuk, maaf kalau ruang saya berantakan?" Rahma segera mempersilahkan keduanya untuk masuk.
Edwin segera melangkah masuk di susul Wike di belakangnya sedangkan Rahma terus berpikir ada apa gerangan sampai orang tua Ifan berkunjung ke rumahnya apalagi dia melihat raut wajah Edwin begitu datar dan Wike dengan mata sembabnya hingga membuatnya bermain dengan pikirannya.
"maaf kalau kedatangan kami membuat Bu Rahma kaget" ucap Wike yang memulai pembicaraan diantara mereka.
"sebenarnya ada yang perlu kami bicarakan dengan Bu Rahma, ini mengenai Ifan dan juga Diandra" timpal Edwin.
Rahma menatap bingung bergantian orang dihadapannya tentu saja ini kabar yang mengejutkan bagi dirinya apalagi selama beberapa bulan ini dia tidak mengetahui kabar tentang anaknya, sedangkan kedua orang tua Ifan tampak bingung bagaimana menjelaskan apa yang terjadi dengan keduanya.
"maksud ibu apa? memang selama ini Diandra tidak pernah memberi kabar?"
Bu Rahma segera menggeleng, " Diandra sudah beberapa bulan ini tidak memberi kabar kepada saya"
seketika Edwin dan Wina saling melempar tatapan mendengar penuturan yang mereka dengan tentunya mereka terkejut karena selama ini ternyata Diandra tidak pernah memberi kabar kepada ibunya.
sedangkan Rahma langsung tertunduk lesu apalagi dia yang tidak pernah mendapatkan kabar dari Diandra merasakan begitu rindu apalagi hanya Diandra yang beliau miliki.
"apa ibu tidak pernah mencoba menghubungi Diandra? atau mungkin Andi" ucap Edwin yang merasa penasaran.
"sebelumnya Andi selalu memberikan saya kabar tetapi sudah hampir 2 bulan ini Andi tidak memberi kabar bahkan saya mencoba menghubungi mereka tidak pernah ada respon saya juga bingung mungkin Diandra sekarang sudah melupakan saya atau mungkin dia malu mempunyai ibu seperti saya"
__ADS_1
Wina yang melihat Rahma menahan air matanya segera berpindah duduknya ke samping Rahma dan langsung mengusap pundak wanita yang sebaya dengan dirinya tentu saja dia mengerti apa yang di rasakan Rahma apalagi selama ini tidak mendapatkan kabar apapun dari anaknya.
"Diandra baik-baik saja karena Ifan sekarang menjaga Diandra" ucap Wina.
"apa? bukannya den Ifan berada di luar negeri" Rahma segera melirik kearah Wina yang duduk di sampingnya tentunya dia begitu kaget karena setahu dirinya Ifan berada di luar negeri.
"Ifan berada di Jakarta dan sekarang Diandra ada bersama Ifan jadi bu Rahma tidak perlu khawatir" jelas Wina seraya tersenyum walau hatinya bingung harus menjelaskan apa yang terjadi karena dia yakin wanita di sampingnya akan shock mendengarnya.
"itulah alasan kami datang kesini" timpal Edwin kembali sambil mencondongkan posisinya menghadap ke arah Rahma.
"maksudnya apa tuan saya sama sekali belum paham" ucap Rahma yang masih bingung dengan kedatangan kedua orang tua Ifan kerumahnya.
"jadi begini Bu sebelumnya saya dan suami saya minta maaf atas apa yang terjadi mungkin setelah mendengar ini ibu akan marah kepada kami tapi kami terima karena semua itu kesalahan anak kami tapi kami mohon agar ibu bisa menerimanya dengan lapang dada"
"ibu saya bener-benar tidak paham, apa diandra membuat kesalahan?"
"bukan Diandra tapi Ifan anak kami"
Rahma semakin bingung dengan perkataan keduanya apalagi dia tidak mengerti apa yang sebenarnya mereka maksud sedangkan Wina meminta ijin kepada Edwin dengan tatapan mata dan tanpa menunggu lama Edwin menganggukan kepalanya.
Wina sejenak menghela napas setelah mendapatkan persetujuan untuk menceritakannya kepada Rahma tentunya akan lebih baik dia yang mengatakannya.
"sebenarnya saat ini Diandra sedang hamil" ucap Wina dengan suara pelan.
deg
seketika Rahma terdiam mematung mendengarnya dia segera menatap keduanya dengan tatapan tidak percaya, Edwin dan Wina yang melihat ekspresi dari Rahma tentu saja mengerti karena mereka pun awalnya merasakan hal yang sama.
__ADS_1