Cinta Penuh Luka

Cinta Penuh Luka
bab 59


__ADS_3

"jaga bicara kamu, jangan asal menuduh anak saya" ucap Bima yang tidak terima dengan tuduhan yang dilayangkan pria muda di hadapannya kepada anaknya.


"saya mengatakan yang sebenarnya, kenapa anda kaget mengetahui kebenaran ini" sahut Ifan sambil tersenyum sinis kepada keduanya.


Andi dan Diandra menatap tidak percaya dengan apa yang Ifan lakukan bahkan Andi merasa salut melihat sikap yang Ifan tunjukan untuk membela wanita yang berada di sampingnya bahwa Ifan masih membela wanita yang jelas- jelas sudah membuat hatinya hancur.


"tutup mulut kamu, kamu pikir saya akan percaya dengan omong kosong kamu" teriak Heni penuh dengan kemarahan sambil menunjuk dengan jarinya.


"nyonya tidak perlu berteriak seperti itu" ucap Ifan dan segera menoleh ke arah wanita yang seumuran dengan mamanya itu.


"om, Tante, apa yang dikatakan Ifan benar, sekarang Diandra sedang mengandung anak Kevin" sahut andi sambil berjalan mendekat kepada Mereka.


Bima tersenyum tidak percaya bahwa Andi pun mengatakan hal yang sama sedangkan Heni langsung menatap tajam ke arah Diandra yang berdiri agak jauh dari mereka.


"kalian bertiga pikir saya akan percaya bahwa wanita dari kalangan rendah itu mengandung anak Kevin, saya tau kalian berdua bukan dari kalangan biasa seharusnya kalian harus bisa menilai bahwa wanita murahan dan rendahan bisa melakukan apapun agar mereka bisa masuk kedalam lingkungan orang kaya" jawab Bima panjang lebar kepada Andi serta Ifan.


perkataan itu tentu saja membuat Diandra menatap tidak percaya dengan apa yang dia dengar dirinya memang gadis miskin tetapi dia tidak serendah itu demi mendapatkan hidup mewah dan dengan cepat Diandra melangkah mendekat ke arah mereka.


"cukup, jangan pernah anda menghina Diandra seperti itu" ucap Ifan sambil mengepalkan tangannya.


"kenapa? apa itu menyakitkan" kata Bima sambil tersenyum dengan wajah mengejek.


"cukup tuan, saya tidak marah jika anda menghina saya tapi anda tidak berhak berkata seperti itu kepada sahabat saya" ucap Diandra.


"teman apa teman tidur kamu" ejek Bima yang tentunya sudah tau bahwa selama ini anaknya telah tinggal bersama.


"tuan boleh menghina saya apa saja, tapi jangan pernah anda mengatakan seolah saya wanita seperti itu" tegas Diandra sambil menahan air matanya yang hampir jatuh.


"saya bicara sesuai fakta, kamu pikir saya tidak tau akal licik wanita seperti kamu" tuduh Bima sambil menunjuk ke arah wajah Diandra yang sedikit jauh darinya.


Ifan yang sudah terpancing emosi tidak mempedulikan lagi bahwa pria dihadapannya itu lebih tua darinya tanpa berkata apapun Ifan meraih kerah baju Bima dengan mata penuh dengan kilat kemarahan.

__ADS_1


"jangan pernah berani anda menghina Diandra" ucap Ifan dengan penuh kemarahan.


Bima yang merasa jika pria muda itu bersikap kurang ajar segera menghempaskan tangan Ifan yang mencengkram kerah bajunya, Ifan yang masih penuh kemarahan terus menatap Bima.


"penjaga" teriak Bima hingga suaranya bergema di ruangan itu.


tidak begitu lama dua orang berbadan tegap datang dan segera menundukkan sedikit badannya di hadapan Bima dengan cepat Bima meminta penjaga itu mengusir ketiganya dari rumahnya, tentu saja apa yang Bima lakukan membuat kemarahan Ifan serta Andi memuncak.


"jangan sentuh Diandra" teriak Ifan saat melihat salah satu penjaga mendekat ke arah Diandra.


"cepat seret wanita itu dan kedua pria ini" ucap Bima kepada keduanya.


Diandra ketakutan apalagi melihat seorang bertubuh besar mendekat ke arahnya Andi yang berada tidak jauh dari Diandra segera berjalan ke arah Diandra yang mulai ketakutan.


"jangan berani sentuh adik gue atau Lo akan tau akibatnya" ancam Andi sambil menunjuk ke arah wajah pria bertubuh besar itu dengan ibu jarinya.


"kalian jangan dengarkan mereka cepat seret mereka keluar" ucap Heni yang melihat penjaga itu malahan diam.


"maafin aku sayang" batin Kevin yang tidak tega melihat kekasihnya di perlakukan seperti itu.


"gue bilang jangan berani mendekat" teriak Ifan yang dengan penuh kemarahan.


Bima dan Heni mantap ke arah Ifan keduanya tidak percaya bahwa pria dihadapan mereka begitu murka saat wanita yang begitu mereka benci akan di seret keluar, Ifan dengan penuh tatapan membunuh melihat ke arah keduanya.


"suruh mereka menyingkir" pinta Ifan dengan suara lantang.


"kamu berani memerintah saya" ejek Bima.


"terserah anda mau bilang apa? cepat suruh mereka menjauh dari Diandra" tegas Ifan dengan raut wajah penuh kemarahan.


dengan cepat Bima memberi kode kepada kedua penjaga itu dengan cepat kedua penjaga itu mengerti dan menjauh dari Diandra serta Andi, Heni memerhatikan kemarahan anak muda di depannya hingga membuat dirinya curiga dengan hubungan pria itu dengan wanita rendahan itu.

__ADS_1


"sekarang saya sudah permintaan kamu! jadi cepat tinggalkan rumah saya sebelum mereka melempar kalian dari sini" tegas Bima sambil membalas tatapan yang Ifan berikan.


tanpa menunggu lama Ifan membalik badannya dan berjalan ke arah Andi dan Diandra yang sedang ketakutan.


"ayo kita pergi dari rumah ini" ajak Ifan kepada keduanya.


"tapi fan, kita belum ketemu Kevin" ucap Andi sambil melirik ke arah Diandra yang badannya bergetar akibat ketakutan.


"apa Lo masih mau di hina oleh mereka" tegas Ifan.


mendengar itu Andi akhirnya menyetujui perkataan Ifan dia segera memapah Diandra berjalan melewati kedua orang tua Kevin yang menatap dengan tatapan rendah, Ifan yang berjalan dia belakang mereka menghentikan langkahnya di hadapan Heni serta Bima.


"saya tidak akan melupakan semua kejadian hari ini dan saya pastikan suatu saat kalian akan menyesalinya" Ifan memberi peringatan kepada keduanya dan kembali berjalan pergi dari sana.


Bima begitu marah karena anak ingusan berani memberinya peringatan, Heni Yang melihat kemarahan suaminya segera menenangkan suaminya karena tujuan mereka menyingkirkan wanita itu telah berhasil.


Kevin yang melihat kepergian Diandra mengutuk dirinya karena tidak bisa berbuat apa- apa, namun Kevin segera tersadar saat mendengar perkataan Ifan beberapa saat lalu tanpa pikir panjang Kevin segera berlari menuruni tangga untuk menghentikan Diandra pergi.


"berhenti Kevin" teriak Bima saat melihat Kevin berlari menuju pintu utama.


Kevin menghentikan langkahnya saat mendengar teriakan papanya dan segera membalik badannya tentunya dia tidak peduli lagi dengan kemarahan papanya yang ingin dia tau sekarang adalah tentang perkataan Ifan.


"sudah cukup pa, biarkan aku bertanggung jawab atas apa yang aku perbuat" ucap Kevin dengan wajah penuh memohon.


"papa gak akan biarkan itu terjadi, berani kamu melangkah keluar dari rumah ini kamu akan menyesali semua Kevin" Bima menaikan nada bicaranya.


"aku tidak peduli dengan ancaman papa" jawab Kevin dan segera membalik badannya.


"berhenti Kevin! kalau kamu melangkah pergi maka ini terakhir melihat mama hidup" ancam Heni yang sudah memegang pisau dan mendekatkan pisau itu di pergelangan tangannya.


Kevin yang mendengar itu mengurungkan niatnya dia segera membalik badannya dan menatap tidak percaya dengan pemandangan yang dia liat.

__ADS_1


__ADS_2