Cinta Penuh Luka

Cinta Penuh Luka
bab 78


__ADS_3

Diandra yang tidur satu tempat tidur merasakan bingung karena untuk pertama kalinya dia tidur dengan pria yang berstatus suaminya tentunya dia merasa canggung begitu juga dengan Ifan yang merasakan hal yang sama keduanya hanya menatap melihat ke langit kamar dengan kebisuan.


"Di, kalau kamu tidak merasa nyaman biar aku tidur di bawah" Ifan memberanikan diri berkata memecah keheningan di antara Meraka.


Diandra segera melirik ke arah Ifan yang masih menatap ke langit- langit kamar sebenarnya dia awalnya merasa risih harus tidur satu tempat tidur dengan Ifan namun kini perasaannya justru berkata sebaliknya.


"tidak" jawab singkat Diandra yang masih melihat ke arah Ifan.


"kamu yakin?" Ifan segera menoleh ke arah Diandra seketika pandangannya bertemu.


Diandra segera tersenyum sambil menganggukan kepalanya sebagai jawaban tentunya dia tidak merasa keberatan sekarang apalagi kini yang berada di sampingnya adalah suaminya.


Ifan merasa lega mendapat jawaban seperti itu tentunya dia tidak merasa tidak enak jika istrinya merasa tidak nyaman berada di sisinya ditambah hatinya sekarang bahagia karena Diandra mulai menerima dirinya walau di sisi lain dia berpikir entah sampai kapan dia bisa bersama dengannya mengingat pernikahan yang terjadi antar Mereka hanya untuk menutupi kehamilan Diandra.


"ya udah sekarang kamu tidur sudah malam" ucap Ifan yang segera meminta Diandra untuk tidur.


"iya" jawabnya.


ia pun mulai menutup matanya karena sudah merasakan ngantuk yang begitu hebat sedangkan Ifan masih terjaga melihat Diandra yang mulai tertidur dia segera membenarkan posisinya hingga menghadap ke arah Diandra yang mulai terlelap.


"aku berharap semoga kita akan selalu bersama selama" gumam Ifan yang memerhatikan wajah istrinya itu.


pagi harinya Bu Rahma bangun lebih pagi tentunya dia harus menyiapkan sarapan untuk anak dan menantunya kini dia sedang sibuk di dapur hingga langkah kaki seseorang membuatnya sedikit kaget dan dengan cepat dia menoleh ke arah suara itu seketika senyuman langsung tersungging di wajahnya saat melihat Diandra yang berjalan ke arahnya.


"kamu kenapa sudah bangun?" tanya Bu Rahma yang langsung membalikan badannya ke arah diandra yang sudah berdiri tidak jauh darinya

__ADS_1


"aku mau bantuin ibu" jawabnya sambil melangkah mendekat ke arah ibunya.


"tidak usah nak, biar ibu saja sekarang kamu bangunkan suami kamu aja setelah itu kita sarapan" tolak Bu Rahma.


"tapi Bu, aku mau bantuin itu lagi pula aku sudah lama tidak memasak, boleh iya Bu aku bantuin" pinta Diandra dengan sedikit memohon kepada ibunya.


Bu Rahma yang melihat raut wajah Diandra tentunya tidak bisa menolaknya apalagi sekarang Diandra sedang mengandung tentunya dia tidak mau sampai menolak ke inginkan anaknya itu. tanpa berpikir lagi Bu Rahma segera menyetujui permintaan diandra.


kini keduanya sedang sibuk memasak di dapur sesekali Bu Rahma memerhatikan anaknya itu tentunya dia merasa ada yang aneh mengingat kehamilan anaknya yang terlihat besar dari pada umur kandungannya tentunya membuat dia sedikit curiga sedangkan Diandra yang belum menyadari ibunya memperhatikannya hanya sibuk mengiris bahan masakan.


"Di, ibu mau tanya sekarang usia kandungan kamu berapa?" tanya Bu Rahma yang seketika ingin mengetahui umur kehamilan dari anaknya.


"maksud ibu?" Diandra segera menghentikan kegiatannya saat mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut ibunya, dia merasa kaget mendengarnya.


Bu Rahma segera menghampiri Diandra sebelumnya mematikan kompor entah mengapa dia merasa penasaran apalagi dia sudah pernah mengalaminya membuatnya merasa aneh dengan kehamilan anaknya yang sudah terlihat padahal usia kandungannya masih baru.


"sekarang baru menginjak 6 bulan Bu" jawab diandra yang tanpa sadar membuat ibunya tercengang mendengarnya.


"5 bulan" ulang Bu Rahma yang tercengang mendengar penuturan yang baru saja keluar dari mulut Diandra.


Diandra yang baru saja sadar dengan ucapannya dengan sedikit panik segera menoleh ke arah ibunya karena dia tau bahwa jawabnya membuat ibunya bingung apalagi semau orang tahu bahwa usai kandungannya baru menginjak 4 bukan.


sedangkan Bu Rahma yang masih tercengang hanya mencerna ucapan anaknya dirinya kini yakin bahwa ada yang tidak benar terjadi karena dia ingat betul terakhir kedua orang tua Ifan dan dirinya datang usia kandungan anaknya beru menginjak 2 bulan jadi bagaimana bisa sekarang usia kandungan anaknya sudah 5 bulan.


"maksud aku selatan sudah mau masuk 5 bulan Bu" diandra segera memperbaiki ucapannya karena dia tahu ibunya pasti curiga kepadanya.

__ADS_1


"apa kamu dan Ifan tidak menyembunyikan apapun dari ibu?"


Ifan yang baru saja keluar kamar seketika kaget mendengar ucapan dari mertuanya dengan cepat dia menghampiri asal suara itu karena dia sangat yakin bahwa diandra sudah membuat kesalahan sampai ibu mertuanya mengatakan seperti itu.


sedangkan Diandra di buat panik mendengarnya karena kini ibunya mulai curiga tentang kehamilannya di lain sisi dia belum siap jika harus mengatakan apa yang sebenarnya karena dia tahu ibunya akan merah mungkin akan membencinya karena kebohongannya tentang kehamilannya.


"aku dan Diandra tidak akan bohongin ibu" ucap Ifan yang sudah berjalan ke arah keduanya.


Bu Rahma segera menoleh ke arah suara itu sedangkan Diandra yang mendengarnya langsung menghela napas panjang karena kini dirinya tidak harus menjelaskan apapun lagi kepada ibunya karena kedatangan Ifan di waktu yang tepat.


"syukurlah ibu hanya takut" jawab Bu Rahma yang langsung merasa lega karena apa yang dia curigai dari anaknya hanya ke khawatiran dirinya saja sebagai seorang ibu.


"ibu tidak usah berpikir aneh- aneh karena Ifan tidak akan berbohong kepada ibu" ucap Ifan yang sudah berdiri di hadapan keduanya. "bukan begitu sayang?" Ifan segera menoleh ke arah Diandra yang terdiam dengan wajah pucat.


"iya"


Bu Rahma langsung tersenyum apalagi melihat sikap Ifan kepada putrinya, dirinya merasa bersyukur karena anaknya memiliki suami yang begitu menyayanginya hingga membuatnya lega berbeda dengan Diandra yang masih menatap ke arah Ifan yang memasang raut wajah tenang saat mengatakan itu kepada ibunya.


"fan, terimakasih untuk tadi pagi" ucap Diandra yang merasa bersyukur karena Ifan kembali menolongnya.


"terima kasih untuk apa?" tanya Ifan yang langsung menoleh ke arah diandra yang kini tengah menatap ke arah halaman rumah.


"soal tadi di dapur, aku tidak tahu harus berkata apa lagi jika kamu tidak datang di waktu yang tepat mungkin saja ibu akan terus mendesak aku mengatakan yang sebenarnya"


"kamu tidak perlu berterima kasih karena memang sudah tugas aku sebagai seorang suami menjaga nama baik istri aku"

__ADS_1


Diandra yang sedari tadi pandangannya melihat ke arah depan segera menoleh ke arah Ifan tentunya dia masih tidak menyangka akan mendengar hal itu keluar dari mulut Ifan bahkan dia masih tidak menyangka bahwa Ifan ternyata sekarang lebih dewasa dari yang dia bayangkan


__ADS_2