
Matahari telah bersiap kembali ke peraduan cahaya senja menghias di ufuk barat, langit mulai menggelap suara azan mulai terdengar dengan merdu, pertanda telah masuk waktu magrib.
Setalah Rizal memberi izin padanya, Sholeh mengajak Sholeha mampir ke rumahnya sebentar sembari melalui waktu magrib. Jadialah mereka jalan beriringan dengan langkah kecil, menuju rumah Sholeh. Sholeha sengaja mengurangi kecepatan langkahnya. Bermaksud menunda pertemuan dengan ibu mertuanya.
Sejak dulu mereka memang sering bertemu di sini, tapi tidak sampai bertandang langsung ke rumah dan sedekat ini, ah dia lupa kalau mereka sudah bertunangan.
Kalau di pikir-pikir perlu kan calon mantu kenal sama ibu mertua.
Apa, ibu mertua? dia masih belum terbiasa.
Sholeha sempat memandang pria di sampingnya.
Berdiri di jarak yang begitu dekat, Sholeha merasa sangat pendek dan kecil, atau pria ini saja yang terlalu tinggi. Sholeh terlihat berusaha menyeimbangi langkah Sholeha.
Dia tidak bertanya banyak hal, mungkin karena azan yang masih berkumandang, atau mungkin tidak ada yang perlu di bicarakan, dia datar sekali. Dengan bantuan cahaya lampu jalanan yang tak seberapa terangnya, Sholeha sedikit meneliti wajah tegas Sholeh, dia tampan.
Terlihat kubah dan serambi masjid dengan jelas dari rumah Sholeh, sepertinya Sholeha juga baru sadar jika sebenarnya Sholeh akan pergi sholat di masjid.
Saat di daun pintu dia mempersilahkan Sholeha masuk.
" Masuk dulu Ha, saya mau langsung ke masjid ! " dia berpesan seolah meminta Sholeha menunggu.
Sholeha hanya mengangguk
" Ibu pasti ada di dalam" Sholeh membuka pintu untuk Sholeha.
" Iya Mas...." Akhirnya Sholeha bersuara meski kecil hampir tak terdengar.
Setelah memastikan Sholeha masuk Sholeh menuju masjid yang terdengar sudah iqomah.
Sholeha tidak serta merta masuk kedalam meski pintu terbuka lebar, dia memilih melihat sosok pria yang tengah berlari kecil meniti serambi masjid yang masih begitu jelas dari matanya. entah apa yang sedang ia pikirkan, sampai bu Nur menghampirinya dengan sedikit heran.
" Sholeha ada di sini?
" Eh, iya Bu, tadi- "
" Oh ya sudah tunggu Sholeh sebentar, " ucap bu Nur setelah mengerti putranya sedang dimana. Bahkan ia melihat arah mata Sholeha tertuju.
Bu Nur menggandeng calon mantunya itu kedalam, menuju ruang tengah yang terlihat bersih dan rapi.
Sebelum di persilahkan duduk, Sholeha memutuskan sholat terlebih dahulu.
" Ibu, boleh Sholeha sholat ?"
" Iya Nduk tentu saja, ambil wudhu di sana ya! bu Nur menunjuk arah ke dapur.
Sholeha mengikuti arahan bu Nur mencari kamar mandi atau tempat yang bisa untuk berwudhu.
Ini kali pertama Sholeha bertamu ke rumah bu Nur karena sebelum ini ia juga tidak terlalu kenal dengan Sholeh dan bu Nur. Hanya saja bapak dan Mas nya sangat akrab dengan Sholeh dan bu Nur di tambah mbak ipar yang berteman sejak dari kecil dengan Sholeh, Sholeha tentu baru mengetahuinya baru-baru ini.
Sholeha kembali keruang tengah menemui bu Nur, sedikit pun ia tak berani berlama-lama di area belakang rumah itu. Ukuran rumah yang dua kali lebih luas dari rumahnya, di tambah suasana sepi dan sunyi membuatnya sedikit ngeri. Mungkin karena tidak banyak yang tinggal di sini. Sholeha tergolong wanita penakut.
Bu Nur keluar dari kamarnya membawa sajadah dan mukenah, jika dilihat dari dekat, beliau ini memiliki paras yang sama dengan Sholeh hanya postur tubuhnya yang sedikit lebih kecil dari putranya.
Dia sangat ramah dan lembut, berbeda dengan ibunya yang sedikit tegas dan suka mengomel,
Astagfirullah....
Dia membandingkan bu Nur dengan ibunya sendiri.
Dan sepertinya Sholeh mewarisi sifat dari ibunya terlihat tegas tapi ramah dan penyayang, ah semoga saja seperti itu.
" Sholatnya di sini Nduk!" di ajaknya Sholeha ke sebuah ruang kecil yang di khususkan untuk sholat, ruang ini tak jauh dari ruang tengah.
" Ibu juga mau ambil wudhu dulu, " ucap nya lagi meninggalkan Sholeha sendiri.
Setelah kedua salam terucap di akhir sholat, Sholeha memutuskan berdiam sejenak di atas sajadahnya, sembari menunggu ibu Nur menyelesaikan sholat.
Kemudian terdengar salam dari pintu depan, tentu saja itu Sholeh.
__ADS_1
Dia tau si pemilik rumah itu akan masuk sendiri tanpa di bukakan pintu.
Bu Nur selesai sholat dan berdoa. Dia menoleh kepada Sholeha tersenyum dengan hangat, kemudian keduanya beranjak meninggalkan mushola kecil itu.
Sholeha kembali mengekor pada bu Nur, bahkan dia sengaja menunggu beliau berjalan mendahuluinya. Tiba-tiba terdengar bu Nur terkekeh, tanpa menghentikan langkahnya menuju ruang tengah. Dia merasakan calon mantunya ini sangat lucu.
" Leh, kamu sudah kembali?" bertanya pada putra kesayangannya yang sedang duduk manis di sofa .
Tanpa meminta jawaban dari Sholeh, bu Nur berbalik meraih tangan Sholeha, dia merasakan kalau Sholeha tidak tenang dan gelisah dengan bersembunyi di belakangnya dari tadi.
"Kita makan malam dulu ya Nduk,"
Sholeha dengan cepat menggeleng.
" Tidak perlu bu, Leha akan segera pulang " tolaknya selembut mungkin.
" Biar saya antar"
" Saya kan bawa motor sendiri"
" Kalau begitu saya juga bawa sendiri"
" Tidak usah Mas, ini merepotkan"
" Kan saya yang minta antar kamu"
" Tapi saya bisa pulang sendiri"
Keduanya tak mau mengalah dengan pendapat masing-masing, akhirnya bu Nur yang menengahi mereka.
" Menurut Ibu biarkan Sholeh mengantarmu Nduk, dia juga ndak sibuk"
" Tapi jadi merepotkan Bu, lagian tidak terlalu jauh, kan Leha biasa pulang pergi sendiri " ucapnya tetap menawar.
" Biar Sholeh antar saja Nduk, Ibu juga ndak tenang kalau kamu pulang sendiri, apa lagi ini sudah malam! " putusnya dengan lembut namun tak mau di bantah.
Sholeha diam kemudian mengangguk, menyembunyikan wajahnya yang sedikit merenggut tak setuju.
"Lagian kamu ya Leh, ndak ngomong dulu sama ibu mau ajak Sholeha kesini, ibu jadi ndak ada persiapan apa-apa, Sholeha nya juga ndak nyaman kan kesini nya" bu Nur mengomel pada Sholeh yang belum beranjak sedikit pun dari sofa.
Benar kata bu Nur, Sholeha jadi kurang nyaman karena mendadak bertamu kerumahnya.
Sholeha pikir Setidaknya membawa buah tangan dan mengenakan baju yang sedikit sopan dan wangi, tidak seadanya seperti ini.
" Sholeha hanya belum izin sama Bapak jadi ndak enak kalau pulangnya telat bu, Sholeha suka kok bisa kesini" kemudian Sholeha memberikan pembelaan agar Sholeh tak lagi disalahkan.
" Ya ndak sampai kesitu Sholeh mikirnya Bu, tadi kebetulan ketemu di rumah mas Rizal ya kan sekalian tak ajak kesini"
Sekalian katanya, dia kira menemui ibu mertua tidak gugup,cemas, tak karuan begini rasanya. Sholeha menggerutu sendiri dalam hati. Meskipun bukan pertemuan pertama kali, beberapa kali memang pernah bertemu tapi tidak sedekat ini, dan itu pun dulu sebelum bertunangan dengan Sholeh. Dia tidak peka.
" Ya sudah kalau mau antar Leha pulang, jangan lama-lama kasian mantu Ibu, sudah gelisah dari tadi, kamu nya ndak pengertian" timpal bu Nur.
Sholeh beranjak tanpa mengubah ekspresinya yang datar itu, kemudian ia berjalan keluar entah kemana.
Sholeha hendak menyusul, tapi bu Nur belum mau melepas genggaman tangannya.
" Kapan-kapan kesini lagi ya Nduk, ibu seneng kalau ada kamu, kadang ibu juga bosen, apalagi Sholeh juga banyak ndak di rumah"
Dari pertama bu Nur menyebutnya menantu, Sholeha merasakan kehangatan yang tercurah untuk dirinya.
Ada rasa bahagia dalam hati Sholeha merasakan ketulusan wanita yang menyebutnya menantu ini.
" Lain kali Sholeha kesini lagi ya Bu, temenin ibu" Sholeha mencium tangan Bu Nur.
Terlihat Sholeh datang dari rumah Rizal, ternyata dia menggambil motor miliknya.
" Sebentar tak ambil motor ku dulu " katanya memberikn kunci motor pada Sholeha.
Di lihatnya lagi tubuh tegap berkaos hitam itu, sigap dan gagah langkahnya. Meski tak begitu terlihat jelas, dari belakang dia tampan sekali, kedua kalinya dia memuji.
__ADS_1
Akhirnya Sholeha mau diantar dengan cara yang seperti ini, sungguh di luar dugaan nya. Bahkan dulu Arman tak pernah se pengertian ini kepadanya.
Dia mengakui jika Sholeh sedikit unggul kali ini.
Eh dia memuji lagi.
Sepeda motor Sholeha melaju stabil di depan Sholeh, yang sedang tidak stabil adalah detak jantungnya. Konsep mengantar yang sedikit aneh ini cukup membuat Sholeha berbunga-bunga dan sedikit melupakan semua masalah sepanjang hari ini.
Dia tidak menyangka hanya akan menumpang sholat di rumah Sholeh.
Dia juga tidak akan menyangka jika Sholeh punya cara unik untuk mendekatinya. Pikirnya sedikit berlebihan sebenarnya.
Dari awal dia selalu selangkah lebih dulu dari Sholeha dalam hubungan ini. Sedangkan Sholeha masih sibuk berpikir ini dan itu tidak jelas arahnya kemana.
Sulaiman terkejut melihat calon menantunya berkendara pula di belakang Sholeha, kebetulan ia sedang duduk santai di teras rumah. Melihat bapak Sulaiman sedang duduk sendiri di teras tidak pantas jika Sholeh tidak mampir meskipun sekedar menyapa.
Demi kesopanan, Sholeha kembali memastikan Sholeh agar mau mampir terlebih dulu.
" Mas mau minum apa?" Sholeha menawarkan setelah memastikan Sholeh duduk bersama Sulaiman.
" Apa pun, saya bisa meminumnya" jawabnya singkat, tidak terlalu memperdulikan ucapan Sholeha.
Sholeha berlalu, meninggalkan teras yang sedikit menjadi hangat.
Sholeha terkejut melihat bapak berjalan di belakangnya, sedikit tergesa.
"Bapak kenapa?"
" Ndak Nduk, cuman kebelet sebentar saja kok" ucapnya menghilang dibalik pintu kamar mandi.
Sholeha menggeleng, ada-ada saja.
Karena hanya menyeduh teh manis hangat, Sholeha menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat sebelum bapak keluar kamar mandi.
Katanya sebentar, tapi belum keluar juga.
Sholeha mengantarkan dua gelas teh manis hangat ke teras dan satu toples keripik pisang balado.
"Maaf ya Mas, Bapak kayaknya sakit perut, silahkan diminum"
Sholeh tersenyum simpul.
" Makasih ya Ha, trus Bapak perlu berobat ndak? tanyanya khawatir.
" Sepertinya sebentar lagi kelar, tadi sih cuman bilang mules ."
Sholeh hanya manggut - manggut menyimak.
Sholeha bingung, hendak di tinggal tapi bapak belum keluar sedangkan ibu entah kemana, terpaksa dia duduk menemani Sholeh. sembari merasakan sepoi-sepoi angin malam keduanya saling diam. Canggung tak ada yang mau mengawali, akhirnya Sholeha memberanikan diri melempar pertanyaan yang sebenarnya tidak terlalu penting.
" Mas Sholeh, ngasih tau Bu kades tentang
kita? " Sholeh kontan menoleh dengan terkejut mendengar Sholeha bertanya.
" Bu kades, tidak. Saya tidak ada menceritakan apa pun pada orang lain " jelasnya sedikit heran.
" Hem... Apa iya mereka cuman sok tau saja" gumamnya terdengar oleh Sholeh.
Sholeh mengamati wajah Sholeha yang sedikit murung, dia tau banyak orang telah menggosipkan tentang Sholeha, perubahan mood nya terlalu kentara saat menanyakan perihal bu kades tadi.
" Ndak usah di pikirkan mungkin mereka hanya meminjam nama Bu kades untuk menghebohkan berita. Saya tau kamu masih keberatan tapi jangan dibuat pusing, saya bisa paham itu, yang penting kita jalan dulu" ucapnya terdengar tegar.
" Saya bukan bermaksud yang gimana-gimana hanya saja agak risih di jadikan bahan gosip Mas."
" Lagian ini bukan gosip Ha, kan memang benar iya saya sudah lamar kamu jangan berlebihan menanggapi apa kata orang, toh kita tidak pernah runding kan pendapat mereka dalam keputusan ini. "
Sholeha hanya diam, setelahnya beranjak saat melihat bapak kembali dari urusannya.
Menurutnya tidak perlu lagi menanggapi perkataan Sholeh, ia cukup mendengar tanpa berkomentar. Dari awal dia tidak ikut campur urusan lamaran ini.
__ADS_1
Keduanya sudah begitu akrab tanpa jarak, Sholeha pikir bapaknya itu memang sudah lama sangat ingin menjadikan pria itu menantunya. Semoga saja pilihan bapak adalah suatu kebaikan yang tiada putusnya untuk Sholeha.
***