
Sepanjang perjalanan pulang, Rizal tak berhenti menggoda Sholeh yang awalnya asal bicara tadi, sampai ia tak bisa mengelak dari kejujurannya itu. Rizal bahkan sempat memberikan tips tipis-tipis untuk mencintai istrinya nanti setelah menikah. Wajar saja karena ia juga tergolong pria bucin hasil perjodohan. Dia dengan gamblang mengatakan tidak menyesal dan bahkan sangat bersyukur bisa mencintai istrinya setelah menikah.
" Aku juga heran Leh, dulu Ayu juga gitu. Malu-malu tapi pas di dekati mau" tawanya menguar lagi memenuhi isi mobil yang sebentar lagi sampai tujuan.
" Bisa aja bahasanya, " jawab Sholeh dan menggelengkan kepalanya pelan.
Pelataran rumah sudah tersentuh roda mobil yang telah berputar di jalanan seharian, akhirnya mereka kembali sampai di rumah dengan selamat. Rizal juga bergegas pulang menemui keluarga kecilnya, sembari membawa bungkusan kecil yang katanya titipan sang istri tercinta, Sholeh kurang tau isinya apa. Sedang Sholeh juga segera masuk ke rumah, dengan bungkusan di tangannya.
Bu Nur pun telah menyambutnya dengan hangat di depan pintu, wajahnya begitu segar dan bersemangat.
"Assalamualaikum", ucap Sholeh menyalami ibunya.
" Waalaikumsalam, tumben masih sore gini sudah pulang,"
Sholeh terus melangkah ke dapur, meletakan bungkusan dan kemudian membukanya. " Buk, aku mau antar ini untuk Bapak dan Ibu, setelah magrib ndak papa kan ya bu?" tangannya mengeluarkan satu bungkus untuk sang ibu.
" Iya ndak papa, ya sudah mandi gih!" senyum ibunya begitu hangat menyambut niat baik Sholeh.
Pria itu terlihat senang, entah apa sebabnya bu Nur juga sedikit heran melihat sikap manisnya yang tidak biasa. Ia membiarkan Sholeh menghilang di balik kamar dan berniat menunggunya untuk berbincang sebentar sembari menunggu adzan magrib. Dalam duduknya ia memperhatikan ayam bakar kecap yang terlihat begitu lezat, " Kamu berniat memberi tau makanan kesukaanmu pada Sholeha ya Le" bu Nur bergumam.
***
" Nduk, ada nak Sholeh, ayo temui dulu!" perintah bu Fatma pada putrinya yang tampak rebahan asyik dengan ponselnya.
Sholeha terkejut, ia segera mempause vidio di ponselnya, " Hah, emang sudah pulang?" ia bergegas meraih kerudung instannya.
" Iya, nganter oleh-oleh katanya"
Sholeha terdiam, " Masa sih Bu?" dia juga menyempatkan diri memeriksa wajahnya di kaca, sebelum ia keluar dan menemui calon suaminya dengan sedikit tergesa, entah apa sebabnya.
" Mas sudah pulang, kok kesini. Istirahat aja mas pasti capek kan?" Sholeha bahkan tidak menyadari jika perkataanya itu cukup berlebihan, dan tidak seperti biasanya.
Sholeh tersenyum, " Saya antar oleh-oleh" jawab Sholeh, menghentikan Sholeha yang tampak akan kembali mengatakan sesuatu.
" Oleh-oleh, ?"
" Saya belikan ayam bakar kecap, karena tidak tau apa yang kamu sukai jadi saya belikan apa yang saya sukai saja, semoga kamu suka. Dia sudah jadi kesukaan ku selama ini" ucapnya dengan tulus.
" Dia, dia siapa?"
" Ah, dia. Dia si Ayam bakar kecap." ucapnya tersenyum geli.
" Oh, si Ayam bakar kecap" ulangnya.
" Sholeha, saya minta maaf" kata Sholeh tiba-tiba.
" Maaf, kenapa?"
" Soal, tidak mengatakan tentang Rahma kemarin" jelasnya.
" Oh itu, Sholeha tidak keberatan kok, leha hanya merasa mas lupa tidak menjelaskan nya pada ku. Tidak masalah "
" Iya, aku lupa. Lain kali aku akan jelaskan terlebih dahulu, sebelum kamu mengetahuinya dari orang lain, terutama saat kita sudah menikah nanti". Sholeh benar menerapkan apa yang telah di ajarkan Rizal dengan segera, nampaknya ia takut menumpuk salah paham lagi. Sedang Sholeha hanya tersenyum, dia bahkan tak menyahuti perkataan Sholeh yang begitu serius ini.
" Kamu tidak menyukai apa yang aku katakan ya, setidaknya jawab iya Sholeha" , Sholeh sangat gelisah tak bisa mengartikan senyum gadis polos nan lucu itu.
__ADS_1
" Iya Mas, aku bisa memaafkan dan ya lakukan saja semau mu. Asalkan mas jadi nikahin Sholeha" apa itu, dia malah ikut terlarut dalam perasaan Sholeh yang sedang mengukir janji setianya.
Sholeh tak bertamu lama-lama, sebab Sholeha yang tak berhenti menyuruhnya pulang untuk beristirahat. Mungkin saja Sholeha yang tidak akan sanggup jika pria yang telah membuatnya pontang panting mengatasi detak jantungnya bekerja, dia cemas akan terlepas dari tempatnya. Setelah beberapa menit, Sholeh pamit pada kedua orang tua Sholeha yang juga memaklumi kunjungannya yang begitu singkat. " Makasih yo nak, repot-repot bawakan oleh-oleh" kata bu Fatma pada Sholeh, ketika melihat Sholeh terburu-buru pamit.
***
" Kamu pagi-pagi ke sana, cuma minta oleh-oleh pada Sholeh Nduk?" kata Sulaiman yang baru saja datang dari masjid, dan melihat ada bungkusan di atas meja makan.
" Ya ndak lah Pak, " kata Sholeha begitu tegas. Dia juga penasaran dengan ayam kesukaan Sholeh itu.
Sholeha dan bapak ibunya menikmati ayam pemberian Sholeh dengan nikmat, sesekali mereka juga berbincang kecil sekedar meramaikan meja makan yang hampir tak pernah sepi pengunjung.
Di tambah Sulaiman yang terus saja membahas Sholeh seperti biasanya di depan anak bungsunya ini, dia masih saja mengajarkan agar menerima Sholeh dengan sepenuh hati dan berharap segera mencintainya.
" Sekarang cukup suka saja ndak masalah, kalau sudah sah jadi istri ya harus cinta ya nduk. Bapak Ibu juga gitu, Mas dan Mbak mu juga iya, lihat sekarang kita tetap bahagia kan, ndak usah banyak gengsi aneh-aneh, menikah di jodohkan itu tidak memalukan kok. Apa lagi kita ini sudah turun temurun ya gini sistem pernikahannya, kamu aja yang agak nakal pacaran sampai satu tahun, ndak jadi nikah " ucapan dan nasihat yang begitu beruntun dari sang bapak, setelah ia selesai menikmati makanannya.
Sulaiman sengaja menemani Sholeha yang masih menikmati ayam bakar kecap dengan segala versi lamunannya, namun apa yang di katakan ayahnya sangat membuatnya terkejut.
" Bapak Ibu juga di jodohkan?'
" Lah iya, kamu pikir ibumu itu berani pacaran, kalau bapak memang punya mantan " ucapnya tertawa di ujung kalimatnya.
" Tuh, berarti Leha juga sama, seperti bapak" serobot Sholeha begitu yakin.
Sulaiman tertawa, " Tapi tidak lama kayak kamu, "
Sholeha mencabikan bibirnya kesal, " Sama aja".
Jarang sekali Sulaiman mau berbagi kisahnya pada Sholeha, kali ini ia terlihat ingin sekali menghibur dan memberikan motivasi yah yang mungkin sebenarnya tidak terlalu di perlukan. Sebenarnya ia juga bisa melihat putrinya itu sudah mulai tidak banyak murung. Walau bagaimanapun ia juga selalu berusaha membaca hati anaknya dan memastikan kebahagiaannya.
***
" Tau aja aku sedikit kecewa" Sholeha bergumam. Matanya melihat ponsel, tapi pikirannya masih berpusat pada Sholeh sejak tadi.
" Untung kamu minta maaf, kalo ndak bakal tak protes. Meskipun ndak tau kapan" imbuhnya lagi. Sholeha menghela nafas,
" Kenapa sih, masih saja iri sama mbak Rahma. Padahal sudah tau mas Sholeh tidak menyukainya lagi, lagi. Ah, aku sangat sedih karena mas Sholeh pernah menyukainya huh", Sholeha melempar ponselnya bosan,
" Astagfirullahhaladzim, ndak boleh loh Leha", tegur nya pada diri sendiri.
Sholeha tidak berbohong, terkadang ia masih saja merasa kalah dalam kenangan dengan Rahma, meski hal itu jelas tidak boleh di sesali, terkadang Sholeha berpikir mengapa ia tidak seusia dengan Sholeh saja saat itu, agar ikut terjalin di masa lalu. Cukup aneh pikiran Sholeha yang satu ini, tapi ini pernah terbesit dalam pikiran Sholeha terutama akhir-akhir ini.
" Hem, lama-lama pikirannya kacau kalau melamun kayak gini" ucapnya. Sholeha kemudian beranjak ia belum melakukan skincare malamnya yang telah ia telateni akhir-akhir ini, setelahnya ia akan pergi tidur.
***
" Aku rindu suasana ini Ha, terlalu lama liburnya ya" ucap Irma, ia baru saja sampai di halaman sekolah.
" Hem, iya." Sholeha juga berjalan beriringan dengan Irma.
Keduanya menikmati suasana riuh dan cerianya taman kanak-kanak yang selama ini ia jadikan tempat bekerja. Sholeha tampak rapih dengan setelan rok hitam dan tunik krem yang begitu anggun. Dia mengenakan kerudung lebarnya dengan satu pin kecil di pundak kirinya. Pembawaannya yang selalu ceria begitu indah di pandang di cerahnya mentari pagi. Kedua karib itu tampak bersemangat memulai pekerjaan yang cukup lama di rehat kan. " Aku pikir, bulan ini terakhir aku bekerja Ir." kata Sholeha tiba-tiba.
Irma menghentikan langkahnya, " Apa calon mu itu tidak mengizinkan mu bekerja lagi setelah menikah?"
" Aku tidak tau, hanya saja ibu memberikan saran agar aku istirahat sejenak setelah menikah, aku belum diskusikan ini lagi bersama mas Sholeh, tapi aku bersiap untuk mengundurkan diri."
__ADS_1
" Yah, sayang sekali. Aku pikir dia pastikan mengizinkan mu tetap bekerja ha, dia laki-laki yang sangat mengerti", Irma terlihat bersedih mendengar keputusan itu.
Sholeha perlahan meneruskan langkahnya," Ini baru rencana Irma, banyak hal yang banyak aku persiapkan terutama tentang nikah, dan akadnya"
" Iya, aku bisa paham. Semangat dan tetap sehat ya untuk menempuh hari-hari bahagia mu wahai sahabatku" ucapnya mengikuti langkah Sholeha.
" Aku masih ndak nyangka sesingkat ini, ndak terasa loh Ir. Aku pikir masih banyak hal yang belum cukup bisa aku bawa sebagai bekal untuk perubahan statusku nanti, huh, semoga saja aku bisa" ucapannya terhenti ketika mereka sampai di sebuah ruang tata dan kerjanya. Keduanya sepakat menunda obrolan ini sampai waktu bekerja berakhir.
***
" Menurutmu dia masih mencintai mas Sholeh ndak Ir, kadang aku sering buruk sangka sama mbak itu", tanya Sholeha, mereka kini sedang makan bakso langganannya sepulang dari bekerja.
Irma tampak berpikir dengan keras, " Meskipun dia masih ada rasa, mana bisa meraihnya sekarang ha, dia sudah kalah telak dari mu. Aku pikir masalahnya hanya ada di kamu, mungkin perasaan itu akan terus membayangi mu jika kamu sendiri belum bisa meyakinkan diri, atau belum percaya diri". Irma meneruskan mengunyah potongan baksonya.
" Sebenarnya aku sendiri tidak begitu percaya apalagi soal diriku ini yang pas-pasan di semua aspek. Kalah jauh sih jika di bandingkan dengannya, pikiranku selalu jelek dan hatiku langsung menciut saat berhadapan dengannya, ah jangankan berhadapan, saat namanya di sebut oleh mas Sholeh aku saja langsung berasa kalah", ia menarik nafas, bakso yang tak begitu seberapa besar itu telah habis dari tadi.
" Kamu hanya berkecil hati, nyatanya sekarang kamu pilihan mas Sholeh kan?"
" Aku sudah berusaha Ir, berat banget. Memang jahat perasaan jelek ini. Aku terlalu meninggikan ego tanpa memeriksa sebabnya. Aku tidak paham dengan semua ini",
Irma menghabiskan es tehnya, " Kamu hanya butuh waktu untuk menghapusnya sedikit demi sedikit, aku sarankan jangan di teruskan ya, takutnya perasaan itu akan berubah menjadi kecurigaan yang berbahaya kedepannya. Dan aku harap ini hanya efek samping cemburu dan jatuh cinta yang belum terutarakan saja", Irma menghias pendapatnya dengan sebuah senyuman manis.
Sholeha menatap sahabatnya itu dengan tajam, " Apa iya, kadang kamu hanya menghiburku saja tanpa menyangkutkan dengan duduk masalah yang sebenarnya" jawab Sholeha curiga.
" Iya duhai karibku, kamu sudah merasa takut untuk tersingkirkan, hahaha",
Sholeha menepuk punggung Irma kecil,
" Aku bisa umumkan itu setelah mencintainya nanti, jangan bicarakan itu. Orang akan berpikir aku ini sangat serakah Ir", protesnya setengah berbisik, melirik kanan dan kirinya.
Irma tertawa renyah, " Iya, iya. Kamu bisa lakukan itu sesukamu nanti, tapi aku rasa perasaanmu yang sekarang juga wajar-wajar saja, meskipun jelas menjurus pada kecemburuan itu bisa di maklumi."
Lagi-lagi Sholeha tidak terima dengan jawaban sahabatnya yang selalu saja menyudutkan dirinya.
" Sudah ah, kamu memang senang membuatku kesal. Padahal aku tadi berusaha menahannya agar tak keluar dari mulutku, ternyata insting mu lebih tajam dari penglihatan ku, kamu selalu saja benar menebak dan kepo dalam hasil yang tepat." keluhnya pada Irma yang semakin membuyarkan tawanya yang sempat tertahan.
" Aku memang sehebat itu kan, kamu juga bisa melihatnya", Sebelum keduanya beranjak, menghabiskan waktu dengan duduk di warung bakso langganannya itu memang hal yang rutin mereka lakukan. Walaupun hanya membicarakan hal-hal kecil dan kadang berulang-ulang. Pertemanan mereka memang sesederhana itu bentuknya.
" Kamu beneran ndak papa Ir, ini makan pedes loh. Ntar tipes mu ndak kambuh kan?" ucap Sholeha tiba-tiba.
" Insyaallah tidak, aku sudah sembuh kok,"
" Aku ndak mau yah, kalau aku nikah trus kamu sakit dan terlihat kurus, jelek",
" Ndak lah, aku sudah sehat kok. Aku bakal datang dua hari sebelum kamu jadi pengantin dan menginap di rumahmu jika kamu mengizinkan"
" Iya, terserah kamu mau datang kapan, yang penting hadir pas aku akad" Sholeha menekankan.
" Iya, aku pikir ini adalah terakhir aku mengikuti hari bahagia mu, aku pasti akan datang tepat waktu"
" Terakhir bagaimana, setelah pernikahan akan lebih banyak hari bahagia yang harus kamu hadiri juga, resepsi misalnya yah meski entah kapan",
Irma menarik nafas, " Semoga saja, aku juga tidak tau" ucapnya begitu lirih, Sholeha sampai tak mendengar kalimatnya.
" Kamu bergumam, apa?"
__ADS_1
***