Cinta Sholeha

Cinta Sholeha
Seperti yang lain


__ADS_3

" Ah ya, itu. Kita perlu bicara banyak hal lagi Sholeha, kamu ada waktu?" ucap Sholeha kemudian, setelah menyelesaikan tawanya.


" Em, terserah Mas saja, Sholeha bisa kapan saja" jawabnya sedikit tenang.


Sholeh tampak berpikir, " Kita bicarakan di rumahmu saja kalau begitu"


Sholeha mengangguk samar, otaknya yang selalu aktif menduga-duga kembali bekerja. Ada apa kiranya ? adalah pertanyaan yang pertama kali muncul.


" Ok, sampai nanti ya !" ucap Sholeh kemudian.


Sholeh melangkah pergi terlebih dahulu, sedang Sholeha masih sibuk mendengar pertanyaan yang bermunculan dari kepalanya.


***


Baru saja Sholeha mematikan mesin motornya, terdengar deru motor sang bapak juga tiba di belakangnya. Terlihat dari seragam dinasnya yang begitu lusuh dan berkeringat, Pegawai Negeri Sipil itu berpindah kantor di saat hari libur seperti ini. Ke kebun maksutnya, Sulaiman baru saja pulang dari sana. Dengan menenteng setandan pisang yang mulai menguning, wajahnya tampak berseri.


" Kamu dari mana Nduk?" Sulaiman juga mematikan motor, mengambil pisang bawaannya.


"Habis antar Ibu ngaji " Sholeha membuka kan pintu yang tidak terkunci, mengikuti bapak yang terus berjalan ke dapur.


"Tumben Bapak sampai sore begini?" tanya Sholeha menyodorkan segelas air putih.


" Tadi pulang, habis Dzuhur berangkat lagi" jawabnya setelah menghabiskan minumnya.


Beristirahat beberapa saat menuntaskan lelah dan keringatnya sebelum ia mandi. Begitu juga dengan Sholeha yang bersiap membereskan rumah dan mungkin akan memasak juga nanti. Kegiatan sederhana yang semua orang bisa, dan tak jarang yang dengan penuh perjuangan untuk menebas rasa malas yang selalu saja menjerat, seperti Sholeha yang tergolong sedikit malas namun tetap di paksa. Setidaknya menyadari satu hal yang lebih baik di lakukan dari pada di tinggalkan.


Satu ruang yang begitu keramat bagi Sholeha, yaitu dapur. Tempat yang selalu saja membuatnya menyadari kemampuannya yang biasa-biasa saja dan tak kunjung bertambah meski sudah sering mencoba. Perjuangannya mengenal barisan para bumbu dan keluarga spatula yang begitu beragam, membuatnya masih saja terus tertukar. Apalagi jika tempat ini tidak ada sang ibu yang terus menjadi pendampingnya serasa semakin membingungkan, terlalu kaku untuk berkarya sendiri di sini. Yah begitulah Sholeha menilai dirinya, tak sedikitpun ada kemampuan yang bisa dibanggakan dari tempat ini. Jika hanya membuat teh hangat dengan irisan melon dia sudah handal. Mungkin Sholeha hanya kurang percaya diri saja, dan tidak meyakini kemampuannya.


" Masak apa sore ini?" katanya sembari membuka kulkas yang sedikit berkurang isiannya.


Tangan kanannya membolak balikan wortel dengan sedikit ragu akhirnya ia keluarkan dari kulkas. Sholeha teringat janjinya membuatkan Fatih nugget waktu itu. Sebenarnya Sholeha mengatakannya asal, dia saja belum pernah mencoba membuatnya sendiri. Karena sering melihat Fatih makan nugget, jadialah ia mencoba membujuknya saat itu. Kebetulan masih ada sedikit daging ayam, dan bahan lainnya. Sholeha tampak berpikir, kemudian ia melihat jam. " Keburu ndak ya ini?" ucapnya saat mendapati angka empat yang di tunjuk oleh jarum panjang. " Bisa ndak ya?" gumamnya lagi.


Setelah puas menimbang, akhirnya Sholeha mengambil ponselnya sebagai tim penyelamat percobaannya kali ini. Di gulir layar ponselnya setelah mengetikan kata nugget sebagai kata kunci pencariannya. " Duh banyak juga langkahnya, ke sorean ndak ya?" ucapnya lagi. Sholeha mengeluarkan semua bahan-bahan dari kulkas, kembali memastikan semuanya pas sesuai dengan petunjuk di ponselnya. Sholeha memulainya dengan mengupas wortel, di tengah kesungguhannya mencoba resep baru ini. Datang Sulaiman yang sudah rapi dengan pakaian santainya. " Masak apa nduk?" tanyanya sembari melongok Sholeha.


Sholeha tersenyum dengan sedikit malu, " Coba buat nugget pak, buat Fatih" Sulaiman mengangguk angguk, kemudian pergi.


" Pak, !" panggil Sholeha kemudian.


" Ya, ?" Sulaiman berhenti dari langkahnya.


" Tolong jemput ibu ya, takutnya Sholeha ndak sempat".


"Iya. Teruskan saja masaknya!"

__ADS_1


Sholeha tersenyum, melihat reaksi bapaknya yang sangat menyemangatinya. Kalau tidak teringat dengan janjinya pada Fatih, ia juga belum berniat mengaduk seisi dapur dengan tangannya sendiri. Wortel dan daging ayam yang sudah tercampur rata dengan bumbu dan bahan lainya siap ia kukus sesuai dengan petunjuk resep dalam ponselnya, ia bahkan memutar vidio agar lebih detail lagi. " Uh, semoga saja jadi" ucapnya bersemangat.


Sekalian mengukus nugget buatannya, Sholeha juga mencoba mempersiapkan menu makan malam nanti, hanya saja isi kulkasnya tak begitu menarik seleranya. Sholeha membuka tudung saji, mengecek apakah tiada lauk sama sekali yang tersisa. " Yah ndak ada sisa. Masak apa dong?" ucapnya sedih dan menambah kebingungannya.


Sholeha kembali membuka kulkas, ia berhenti pada rak telur yang lumayan penuh. Dan jatuhlah pilihannya pada balado telur untuk menu malam ini. Tidak mengapa ia akan mencoba mengingat cara ibunya memasak seperti biasanya. Mungkin kepalang tanggung berada di dapur, Sholeha berniat merangkap kerjaannya. " Ndak apalah telur lagi, besok ibu pasti masak yang lain" gumamnya, sembari tertawa.


Langkah kakinya yang begitu lembut dan perlahan memutari seisi dapur, Sholeha berusaha menguasai semua wilayah keramatnya saat ini. Entah apa yang membuatnya begitu bersemangat sore ini. sesekali bibir ranumnya bersenandung kecil, menyalurkan betapa bersemangatnya kali ini. " Oh, aku harus menyiapkan tepung panir nya juga. " Sholeha membuka lemari penyimpanan. Memastikan dengan seksama, sekiranya benar atau tidak bahan yang sedang ia pegang, kemudian ia meratakan ke dalam wadah. Matanya kembali melihat jam, ia takut ibunya pulang dan bapak belum pergi menjemputnya. Belum sampai memanggil, terdengar suara deru motor dari depan rumah. " Oh, sudah siap rupanya" ucapnya, dan kembali meneruskan acara memasaknya. Nugget kukusnya terlihat sudah di angkat, ia bersemangat menyelesaikan langkah terakhir, " Wah, nuggetnya jadi keribo cantik gurih gini" tawanya kegirangan. Sholeha memang sangat terhibur dengan usahanya kali ini, jika hanya memakan buatan Ayu dia tidak seheboh ini melihat nugget. Dia terus saja bergumam kegirangan, merasa usahanya berhasil dan tak sabar mencobanya. Namun, sepertinya ia harus segera menyelesaikan telur baladonya. Menyimpan nugget di freezer dan meneruskan membuat bumbu.


Sekian lama ia menyibukkan diri di dapur, meski hanya ada dua menu yang berhasil ia selesaikan. Sholeha masih tampak sibuk, sampai ibunya kembali ke rumah. Kalau belum begitu mahir memang seperti itu kan, semuanya di lakukan dengan begitu perlahan dan hati-hati.


" Sholeha sedang sibuk Buk, dari tadi belum mentas dari dapur mu. Mungkin sudah jadi kapal pecah di sana" seloroh Sulaiman saat istrinya itu baru saja turun dari motornya.


Fatma tersenyum, " Tumben". jawabnya singkat. Ia segera menuju ke dapur, memastikan apa yang baru saja di katakan sang suami.


Benar saja, gadis kecilnya itu sedang sibuk membereskan seisi dapur yang begitu berantakan. " Sudah selesai Nduk ?" ucapnya sembari melongok wajan yang belum di turunkan dari kompor.


Sholeha sedikit terkejut, kemudian dia meringis merasa terpergok membuat kerusuhan di wilayah kuasa ibunya. " Ibu, Sholeha ndak tau enak kayak biasanya atau tidak, Sholeha belum cek rasanya." jelasnya pada gerombolan telur yang belum ia sajikan. Bu Fatma mengambil sendok, merasa putrinya ini sedang membutuhkan komentar dan masukan darinya.


" Em, ini lumayan. Besok latihan lagi biar sama persis dengan buatan Ibu!" ia mengambil piring saji dan membantu menyelesaikan kesibukan Sholeha.


Setidaknya ia juga harus menambah satu menu sayur untuk pelengkap meja makannya. Seperti biasa Sholeha juga cekatan membantu dan membersihkan segala sesuatu yang ada disana.


***


" Pak, ganti baju dulu ah, pecinya juga. Kita tunggu kok" tegur bu Fatma. " Wong kok grasa grusu gitu" omelnya.


Menurut apa kata sang istri, Sulaiman kembali ke kamar sebentar. Ketika turun dari masjid tadi, ia merasa begitu lapar dan memang sedikit penasaran dengan masakan Sholeha. Sulaiman kembali dengan segara.


Belum sampai menyuap, terdengar suara salam dari pintu depan. Seketika Sholeha terkejut, mengingat janji Sholeh yang akan datang.


" Sepertinya, nak Sholeh itu" ucap Sulaiman saat mendengar suara sang tamu.


" Langsung ajak makan saja Buk" perintahnya kemudian pada bu Fatma yang membuka pintu.


Sedangkan Sholeha berlari ke kamarnya, bukan untuk menghindar, tetapi ia memang dalam keadaan tidak sopan dengan daster dan rambutnya yang berantakan.


Saat di dalam kamar, Sholeha kebingungan mencari hijab instannya, belum lagi ia juga harus mengganti daster lusuhnya ini. " Uh. Kok bisa lupa, padahal kan baru sore tadi janjiannya." Sholeha menggerutu sendiri di depan kaca. Ia terduduk kembali ke ranjang, mengatur nafasnya yang begitu memburu karena terburu-buru. " Kalau ndak keluar, pasti kena marah ibu" ucapnya lagi.


Memilih mengganti bajunya dengan yang lebih sopan, meski masih sama jenisnya, daster lengan panjang yang lebih longgar dan tentu saja masih sedikit baru. Bukan daster sebenarnya namu gamis yang bercorak bunga, ia terbiasa menyebutnya daster. Sholeha menyempatkan membongkar isi lemarinya dan menemukan simpanan baju itu. Tanpa menunda, Sholeha keluar dari kamarnya.


Terlihat Sholeh sudah duduk rapi di sebelah bapaknya, benar saja ia tak menolak tawaran ibunya tadi. Semakin jungkir balik saja jantung Sholeha saat ini, di tambah teringat perkara balado telurnya yang tidak meyakinkan. Diam-diam ia menyesali dirinya, mengapa tidak lebih maksimal lagi ketika memasak tadi.


Sholeha menarik nafas dengan begitu halus, takut terdengar Sholeh dan terkesan mendesah tak suka. Sholeha duduk di samping ibunya, tepat di hadapan Sholeh.

__ADS_1


Tanpa sapaan istimewa, Sholeh segera memulai makanya setelah Sulaiman juga mulai menikmati makanan dan tentu saja Sholeha berharap tidak ada yang menyinggung tentang masakannya kali ini.


" Nak tambah nasinya, jangan sungkan. Kebetulan Sholeha yang masak telurnya, jarang-jarang dia mau turun ke dapur sendiri" ujar bu Fatma menawarkan.


Kali ini malaikat tak ikut mengaminkan doa Sholeha. Langsung melorot pundak tegangnya, lemas tak memiliki pegangan.


" Iya Bu, " jawab Sholeh begitu singkat. Kemudian memandang Sholeha yang masih tertunduk.


Setelah berpindah dari meja makan, ke ruang tamu Sholeh kembali duduk bersama Sulaiman, sekedar berbincang kecil. " Ya sudah Le, Bapak mau kedalam dulu. Sholeha lagi buatin teh, tunggu saja ya" ia berpamitan.


Sulaiman juga memahami ada banyak hal yang akan di rundingkan oleh Sholeh dan putrinya. Belum lagi mereka tidak mungkin membuat janji di luar rumah, mengingat mereka juga memiliki aktifitas berbeda, apa lagi Sholeh yang begitu sibuk. Ia sengaja memberi ruang kepada keduanya.


Aroma lemon yang terendam teh hangat begitu halus menyapa hidungnya, serasa sudah siap Sholeha menemui Sholeh, calon suaminya. Dengan perlahan kakinya menapaki ubin yang entah mengapa terasa begitu dingin di kakinya, dan tampaklah Sholeh yang terlihat sangat menunggunya. " Di minum Mas, ndak terlalu panas kok" tawarnya pada Sholeh, ia juga duduk di seberang kursi jati itu.


" Terima kasih ya, " Sholeh langsung meminumnya meski sedikit.


Sholeha memperhatikannya dengan samar, sembari menunggu Sholeh memulai obrolannya.


" Em, ciri khas banget rasanya" ujar Sholeh tiba-tiba. Tanpa meletakan gelasnya ke atas meja, matanya menyipit mencoba menyimpan rasa dalam memorinya. Sholeha masih tampak diam, " Apa karena buatan calon istri ya?" ucap Sholeh kemudian. Sholeha sampai tersipu malu, malas menanggapi perkataan Sholeh.


Keduanya tampak terdiam beberapa saat, kemudian Sholeh memulainya terlebih dahulu.


" Sholeha. Sebenarnya saya masih banyak penasaran kenapa kamu tidak ingin mengadakan resepsi ?" pertanyaan pertama yang sebenarnya Sholeha juga bisa menebaknya. " Bukan karena malu menikah dengan ku kan?" tambahnya mendadak. Kontan saja Sholeha menggeleng. Pertanyaan apa ini, sangat tidak enak di dengar, batin Sholeha.


" Apa maksud Mas, aku ndak seperti itu" jawabnya sedikit menekan kan ujung kalimatnya, tanda ia sangat membantah.


Sholeh tersenyum," Aku hanya mengira, lagian kamu kan masih sangat muda" Sholeh sedikit menggoda.


Sebelum meneruskan jawabannya Sholeha menarik nafasnya, dia menyadari sikapnya yang sedikit tegang dan mungkin saja akan menimbulkan kesalahpahaman. Dia tau jika Sholeh juga perlu menilai jawabannya saat ini. Berusaha memikirkan secara perlahan dan berusaha tidak menyinggung laki-laki dewasa yang sangat sulit di tebak isi otaknya.


"Sebenarnya Sholeha tidak beralasan untuk menghindarinya, hanya saja menurutku waktunya begitu mepet. Sholeha ndak bisa melakukan banyak hal dengan terburu-buru, apa lagi ini kan acara penting" jawabnya semakin lirih di ujung perkataannya.


" Oh syukurlah, aku pikir kamu malu menikah dengan ku. Dan maaf juga telah terburu-buru meminta di nikahkan"


" Tidak Mas, masalah itu tidak ada yang salah. Yang terpenting memang akadnya terlebih dahulu kan? setelahnya bisa menyusul. Dan aku pikir, mas yang harus banyak menunda banyak pekerjaan karena pernikahan ini, jadi jika tidak banyak persiapan akan sedikit mengurangi kesibukan mas Sholeha."


" Sholeha, aku ndak sesibuk itu. Sekali lagi alangkah baiknya jika kita sekalian resepsi saja, agar semua kerabat juga tau jika kita sudah menjadi keluarga. "


" Em, Sholeha tidak bohong jika menginginkan acara yang bagus pas nikahan, tapi Sholeha bisa kok menunda. Bisa kita laksanakan setelah lebaran saja, lagi pula kita nikahnya mepet puasa kan?"


" Apa ndak bisa di pikirkan lagi, padahal semua gadis selalu meminta hal istimewa di hari bahagianya?" satu pertanyaan ini cukup membuat Sholeha terdiam sejenak. Entah mengapa pertanyaan ini membuat Sholeha berpikir lain, seolah Sholeh pernah menanyakan hali ini pada orang lain. Atau dia sedang salah memahami pertanyaan ini. " Kita pikirkan lagi ya, saya juga ingin kamu seperti itu" tambah Sholeh kemudian.


" Seperti itu, apa ada pertanyaan ini juga pada orang lain sebelum aku?" terucap begitu saja tanpa ragu dari Sholeha.

__ADS_1


***


__ADS_2