
Seperti biasa setelah sholat subuh Sholeha membantu ibunya sibuk di dapur. Meskipun kata bu Fatma ia hanya bisa membuat telor dadar, Sholeha tetap rajin berada di dapur setiap pagi dan sore.
Keduanya sedang asyik memasak nasi goreng, tidak ada obrolan berat pagi ini, mereka kompak menyelesaikan semua dengan cepat.
Hari ini Sholeha akan pergi bekerja satu jam lebih awal dari biasanya, pekerjaannya sedang menumpuk. Mempersiapkan semua kebutuhan ujian seperti membantu mencetak soal, menyelesaikan data pembayaran dan sebagainya. Dengan semangat baru Sholeha siap bekerja.
Setelah memutuskan untuk meneruskan perjalanan barunya, Sholeha bertekad mempelajari satu demi satu hingga ia mahir menguasainya. Mahir mengatasi berbagai rasa yang mungkin akan datang padanya sedemikian rupa. Dia ingin jatuh cinta lagi, dia ingin bahagia lagi, dia siap cemburu lagi tapi ia tidak ingin patah hati lagi.
Kemarin setelah memberanikan diri mengirim pesan pada Sholeh yang di sebut pemberi cincin itu, dia begitu lega ada rasa bahagia yang menyemangatinya untuk hari ini. Bahkan Sholeha tersipu membaca balasan pesan dari Sholeh itu.
(Kita belajar bareng ya Sholeha
saya juga sedang mencoba, kita
pasrahkan kepada Allah)
Jawaban singkat tanpa ekspresi itu membuat Sholeha merasa tenang setidaknya dia juga tau jika ini semua tidak lah mudah bagi Sholeh juga.
Tidak ada paksaan dari siapapun membuatnya sangat menyadari kurangnya keberanian diri nya dalam mencoba. Seperti dari awal Sholeh juga mengatakan kita hanya perlu bersedia, selebihnya kita coba perlahan.
Melangkah dengan penuh semangat, Sholeha menuju ruangan kerjanya.
Dengan sedikit bersenandung kecil ia membuka pintu, ternyata Irma sampai terlebih dahulu darinya. Seperti biasa Sholeha menyapa Irma terlebih dahulu, untuk akhir-akhir ini dia sedikit pendiam.
Sholeha menyadari itu namun enggan bertanya lebih jauh.
Sholeha merapihkan berbagai buku, kumpulan soal dan membersihkan ruang kelas begitupun dengan Irma. Keduanya saling diam tak seperti biasanya. Seingatnya, Sholeha sudah meminta maaf diberbagai perdebatan setiap kali terjadi. Apa mungkin masih ada yang terlewat kata maaf darinya? dia bertanya pada dirinya sendiri.
Dia tidak nyaman dengan suasana diam sepi seperti ini, dengan berani Sholeha menegur Irma dengan lembut.
" Ir, aku ada salah ya kamu diemin aku?"
Irma menghentikan kegiatannya menyusun buku. kemudian dia menatap wajah Sholeha dengan dalam.
" Enggak ada kok, lagi ngak enak badan"
jawabnya singkat, sedikit ketus.
"Kalau yang kemarin masih buat kamu tersinggung maaf ya, aku lagi pusing aja waktu itu" Sholeha kembali menambahkan.
"Kamu tuh kenapa sih udah sia-sia in Mas Arman, kamu ngak tau kalau dia terlalu memaksakan semua demi kamu" Akhirnya Irma tak sanggup meneruskan diamnya.
" Aku, aku ngak paham Ir?" Sholehah butuh penjelasan, apa lagi yang belum ia ketahui.
Seolah mengumpulkan keberanian Irma kembali menatap Sholeha dengan tajam, namun sedetik kemudian turun lah nafas dan pandangan nya.
" Setidaknya, jika kamu benar melepas kan Mas Arman, jangan buat dia berkecil hati Ha, dia cukup banyak pikiran selama ini" dia sedikit menekan kan ucapannya.
Sholeha beralih mendekati Irma dia tau sahabatnya akan menyampaikan banyak masalah padanya.
" Apa maksud mu ? "
" Ah sudah lah Ha, aku juga tidak berhak mengatakan apa pun seperti yang kamu katakan kemarin pada ku, aku hanya berlebihan memikirkan hal tidak penting."
jelas sekali jika Irma bingung akan mengatakan apa yang dia maksud.
"Aku masih tidak mengerti Ir, ok jika kamu tidak bisa menjelaskannya. Tapi jangan diamkan aku seperti ini ya" Sholeha menyentuh punggung tangan Irma, dia bingung tidak harus bersikap seperti apa pada sahabatnya itu.
" Maaf juga sudah mendiamkan mu tidak jelas seperti ini." jawabnya menggenggam tangan Sholeha.
__ADS_1
Sholeha merasakan ada hal lain yang membuat Irma bersikap seperti ini. Mungkin suatu hari nanti Irma mau berbagi cerita dengannya. Keduanya kembali melanjutkan pekerjaan nya,namun tiba-tiba Sholeha teringat sesuatu.
"Ir kamu tau Mas Arman pergi?"
" Iya aku sudah tau," Irma menjawab dengan lesu, ada sorot kehilangan dari matanya.
Sholeha tidak lagi menambahi dia cukup mengamati perubahan raut muka Irma yang begitu tak biasa menurut nya. Ia tak ambil pusing, dia harus mengatasi hati dan pikirannya agar tak terjebak dalam masa lalu. Apa pun prasangka dalam hatinya segera ia buang jauh-jauh. Dia berjanji akan memulai semuanya hari ini.
Kesibukan Sholeha seakan tidak sedikit pun di rasakan, padahal ia sudah mondar-mandir membersihkan tiga ruang kelas dan menyusun satu rak buku di hari ini, mungkin ia mendapat dukungan semangat yang entah berasal dari mana.
Sampailah waktunya pulang, Sholeha mengemasi semua barangnya dan bersiap mengunci pintu semua kelas. Mereka siap melaksanakan ujian akhir semester besok pagi.
Begitupun dengan Irma, dia juga bersiap akan pulang, namun sepertinya ia terlihat menunggu Sholeha di parkiran.
Sholeha merasa sedang di tunggu ia sengaja mempercepat langkah kakinya.
Irma tampak menyambut dengan sedikit senyuman, tidak terlalu terlihat.
"Kamu nunggu aku Ir?" Sholeha sedikit terengah-engah.
" Ada hal lain yang harus aku katakan Ha",
dia menggantung kalimat nya seakan ragu untuk meneruskan," Kita bisa cari tempat lain kan? atau ke rumah ku aja, kayak biasanya." Sholeha benar-benar menangkap sinyal keseriusan pada Irma. Dia berusaha meluas kan hati untuk apa pun yang akan dikatakan oleh Irma.
" Di sini lebih nyaman Ha. Dan langsung saja aku hanya ingin tau secara langsung mengapa kamu mau menerima lamaran Mas Sholeh?"
Sholeha terkejut ternyata perkara ini lagi.
" Kan aku udah jawab waktu itu, aku juga sudah jelaskan kenapa sekarang kamu terlihat memaksa dan tidak percaya katakan saja yang jelas Ir, kamu membuat ku bingung."
" Kamu ngak pernah berpikir Ha, kalau mas Arman masih suka sama kamu?"
" Kenapa kamu tidak mau menunggu sebentar Ha, dia masih sangat ingin bersama mu sebenarnya toh kamu kan tidak langsung nikah dengan Mas Sholeh.
kamu bisa memberi sedikit saja waktu pada Mas Arman Ha, kenapa kamu malah menyerah dan pergi ke tempat lain" Irma menaikan suaranya, dia terlihat menahan air mata.
" Apa maksud mu Ir, aku sudah cukup lelah menemani tapi dia tidak sedikit pun mau mengatakan, sekalipun hanya tunggu aku.
Aku paham dengan semua keadaannya tapi dia tidak mau berbagi rasa dengan ku, bahkan dengan mudahnya dia melepas ku seperti layangan putus."
Sholeha tidak bisa lagi menahan amarahnya, dia seakan di salahkan atas kegagalan hubungan ini. Dengan hati yang masih pilu, Sholeha terpaksa mengatakan semua prasangka buruknya kepada Irma selama ini.
" Mengapa seolah aku yang jahat di matamu Ir, apa yang terjadi di antara kalian selama ini?"
Berat rasanya mengatakan hal yang mungkin menyinggung perasaan sahabatnya itu, ini semua ia lakukan untuk menolong dirinya yang tersisihkan dari kenyataan.
Irma tidak menjawab bahkan mengalihkan padangan yang semula sangat mendominasi pada Sholeha.
" Aku hanya kecewa?" singkatnya.
" Kecewa? Aku tidak mengerti, coba jelaskan pada ku Ir jangan menyisakan keraguan di antara kita, aku tidak suka itu"
Sholeha tidak ingin lagi memperpanjang masalah ini di kemudian hari. Tidak baik untuk hatinya yang sedang ia susun rapi untuk Sholeh.
" Maaf Ha, aku hanya kasihan kepada Mas Arman dia sampai mau pergi jauh demi melupakan ini semua" jawab irama merendahkan suaranya.
Bahkan Sholeha bisa merasakan jika sebenarnya sikap Irma sangat berlebihan untuk sekedar kata kasihan. Sekali lagi Sholeha tak ingin berpikir buruk lagi, dia berusaha mempercayai ucapan sahabatnya.
Setelah keduanya tenang, mereka berpisah di arah jalan pulang yang berbeda. Teriknya matahari membuat hati Sholeha kembali mendidih, sungguh membuatnya dehidrasi mendadak. Ada keinginan membeli semangka di perjalanan pulang, ketika melihat warung buah yang ramai ibu membuat ia mengurungkan niatnya, dia tidak ingin mengulangi cerita sama seperti waktu itu.
__ADS_1
Terus melaju dengan tenang, sampailah ia pada rumahnya yang tampak indah.
Terlebih ada sosok yang yang sedang ingin ia perjuangkan. Siapa lagi jika bukan Sholeh, tapi sayang dia hanya melihatnya sebentar, belum sempat menyapa dia sudah melajukan mobil pickupnya. Jangankan menyapa senyumnya saja belum di balas, mengapa dia jadi sombong seperti ini? Sholeha masih mengamati laju mobil itu, sampai ia tidak tahu jika ibu menunggunya masuk kedalam rumah.
" Liatin apa Nduk, kok ndak masuk?"
Lihat Sholeha sampai terperanjat mendengar ibunya bertanya, dia mengusap dadanya secara kasar.
" Kebiasaan, Ibu ngagetin aja" cetus nya.
" Kamu yang kebiasaan ngelamun, malah nyalahin Ibu" jawab ibu tak terima.
Melihat tumpukan karung semen di teras Sholeha tidak lagi menanyakan pada ibunya kenapa calon mantunya ke sini tadi. Dia memang penjual yang santun kepada pembelinya. Kesempatan sekali dia kesini terus? ucapnya dalam hati. Semakin sering dia mondar-mandir disini semakin sibuk pula otak Sholeha memikirkan pria itu.
Yang kasih cincin
(Sholeha, kamu bisa ndak bantu saya?)
Satu pesan masuk dari Sholeh.
Kemudian ada panggilan dari nomor itu juga.
Yang kasih cincin
memanggil....,....
" Iya Mas ada apa?"
" Bantu lihat ada berapa karung semen di teras tadi?
Sholeha langsung kembali ke teras dan melakukan yang diminta Sholeh.
" Ada tujuh Mas, kenapa?"
"Saya kira saya salah hitung, oh Ja, nanti tolong kasihkan nota untuk Bapak ya, saya kirim ke kamu setelah ini, saya kelupaan tadi."
" Oh iya Mas, nanti tak sampaikan"
" Ya sudah, Assalamualaikum."
Apa ini, ada-ada saja si Sholeh, alasan saja dia. Memangnya bapak mertuanya tidak memiliki ponsel, mengapa melalui Sholeha , padahal hanya nota. Suliman juga pasti tidak terlalu menanyakannya.
Hem......
Sudahlah dia memang seperti itu.
Sholeha tersenyum kecil, untung saja ibu sudah pergi meninggalkannya, kalau tidak dia akan memergoki senyum Sholeha yang sedikit tidak lucu itu. Kemana hilangnya rasa hati yang mendidih tadi?
Sholeha masuk dalam kamar, matanya memindai semua sudut dalam kamarnya seperti ada sesuatu yang harus ia ubah dalam kamarnya.
Banyak kenangan lama dalam setiap sudut kamarnya itu, dia harus memindahkan semua barang pemberian Arman. Dia akan memulai dengan mengubah semua isi cerita dalam hidupnya. Menurunkan simbol hubungannya dengan Arman dari dinding kamar dan hatinya.
Dilepasnya satu bingkai foto, memang hanya fotonya sendiri, tapi saat itu yang mengambil foto adalah Arman saat mereka bepergian bersama. Kedua dipindahkannya satu boneka besar dari ranjangnya, boneka pemberian Arman ketika awal-awal mereka berpacaran. Satu tersisa boneka besar yang menemaninya, dia adalah boneka pemberian mas nya ketika ia mendapat juara satu di kelas, saat itu ia baru kelas satu SMP.
Dan semua barang-barang kecil yang menyimpan kenangan dari Arman dimasukannya dalam satu kotak, dia mengeluarkan dari kamarnya. Sholeha bahkan membereskan kamarnya tanpa mengganti seragam kerjanya terlebih dahulu.
Sholeha benar-benar ingin move on dari Arman mulai hari ini. Agar hatinya tenang tak berbayang pada masa lalu di kemudian hari.
***
__ADS_1