
" Sholeha, Sayang...."
Sholeh tak berhenti membujuk istrinya, hampir dua jam ibu mertuanya itu terbaring. Dan selama itu pula Sholeha tak pergi dari samping ibunya, ia terus menciumi tangannya.
Sholeha sampai tak perduli apa pun saat ini, dia memang tak lagi menangis, tetapi Sholeh begitu tersiksa melihat istrinya yang seperti itu.
" Kita cari makan dulu ya, ini sudah hampir malam kamu tidak makan sejak pagi kan?" Sholeh menyentuh pundak istrinya yang masih bergeming.
Sholeh mengalah, ia tak ingin memaksa. Walau bagaimana pun dia harus mengerti perasaan istrinya, sesekali ia hanya menyodorkan air putih padanya.
Wajahnya begitu pilu, bibirnya tertutup rapat sejak tadi. Seluruh pandangnya di pusatkan pada sang ibu. Terlihat begitu jelas jika harapan tak pernah pudar dari hatinya.
Begitu juga dengan yang lain, semua diam tak terlalu banyak bicara. Mereka terlarut dalam do'a dan pikirannya masing-masing.
Adzan Maghrib berkumandang, Sholeha beranjak dari sisi ibunya. Ia mendekati Sholeh yang tak jauh darinya.
" Mas, kita Sholat dulu yuk. " ucapnya begitu lesu.
Sholeh mengangguk, menggandeng tangan istrinya dengan begitu erat melindungi.
" Mas, kita Sholat dulu" Sholeh pamit pada Rizal.
Rizal hanya mengangguk, begitu juga dengan Ayu.
Sholeh merasakan tangan istrinya yang begitu dingin, genggaman tangannya begitu rapuh tak bersemangat. Sholeh merapatkan kembali tangannya, menyalurkan perlindungan tanpa kata, satu hal yang hanya bisa ia lakukan saat ini.
Sholeh mencari letak Mushola di sekitaran Rumah sakit. Sampai adzan berhenti, mereka baru sampai di sebuah mushola kecil. Sholeh menatap istrinya, " Bisa sendiri?" katanya.
" Bisa Mas, "
Sholeh melepas tangannya, membiarkan istrinya mencari tempat berwudhu. Begitu juga dengan ia, dia meneruskan langkahnya berwudhu di tempat yang berbeda.
Keduanya Sholat berjama'ah.
__ADS_1
Sholeh keluar terlebih dahulu, ia menunggu di tempat tadi. Sholeha belum terlihat keluar dari sana, sesekali Sholeh melirik jam dan pintu, begitu gelisah karena istrinya tak kunjung keluar.
Saat Sholeh hendak kembali masuk, istrinya itu muncul dengan senyum yang begitu sayu. " Maaf ya Mas, Leha hampir ketiduran tadi " ucapnya.
Sholeh lebih mendekat, menarik istrinya itu dalam pelukan. " Kamu lelah Sayang, kita istirahat sebentar ya. Setidaknya makan, percayakan semua kepada Allah"
Sholeha tersenyum di pelukan sang suami, " Nanti ya Mas, Leha masih sehat kok. Kita temani Ibu lagi ya, kata Ibu dia akan terbangun setelah waktu Sholat tiba. Dia pasti sudah menunggu ku, "
Bergetar hati Sholeh, mendengar ucapan sang istri yang begitu berharap ini. Dia tak lagi ingin menjawab dengan kata-kata, Sholeh hanya menuntunnya dengan perlahan kembali ke kamar rawat ibu mertuanya.
Langkah kakinya begitu berat, Sholeh merasakan sesuatu yang berbeda saat Rizal terlihat menemuinya di tengah jalan. Wajahnya begitu panik, dari dekat lebih jelas lagi dia berkata, " Ibu meninggal "
Sholeh tak banyak tanya lagi, ia langsung menatap istrinya yang terdiam kaku menatap kakak kandungnya. Sedetik kemudian ia berlari dengan sisa tenaganya, melepas genggaman suaminya yang tak kuasa menahan dirinya .
Sholeh dan Rizal mengikuti jejak Sholeha, dengan perasaan yang sama, terkejut dan kehilangan. Sholeh tak menyangka cerita ini kembali terulang pada kehidupannya, kali ini duka itu berpusat pada sang istri yang begitu dicintainya.
Semua orang berkumpul di dekat ibu Fatma, Sholeha yang baru saja datang sudah terkulai memeluk tubuh tak bernyawa sang ibu. Dia menangis begitu pilu, suaranya terdengar sangat rapuh menyayat hati siapa pun yang mendengarnya.
Perlahan ia mendekati istrinya, memberikan ketenangan dan penjelasan sesederhana mungkin, agar ia bisa menerima dengan kekuatan hatinya.
Tangan yang rapuh tak bertenaga itu sekuat tenaga mengguncang tubuh ibunya. " Ibu, .... " kata-katanya tak dengar lagi teredam tangis yang begitu terisak darinya.
Sholeh mengurai pelukan memilukan itu, menyadarkan istrinya yang masih begitu terguncang, " Sabar istriku, kita ikhlaskan apa yang telah terjadi " ucapnya begitu lembut.
Sholeha mendongak, " Mas, Ibu bilang akan bangun setelah aku sholat. Ibu, Ibu.... Mas ...... " Sholeha menangis di pelukan Sholeh. Merasa tak mampu melanjutkan kata-katanya.
Sholeh tak menjawab lagi, membiarkan istrinya menangis semaunya. Meski tidak berteriak, dia juga bisa merasakan betapa rasa kehilangan pada istrinya itu sedemikian tak rela.
" Yah, kita pulang sekarang. Rizal sudah mengurusnya." Ucap Rizal yang baru saja kembali.
" Kalau begitu kita bersiap." Jawab sang ayah yang terlihat lebih tegar dari siapapun.
Setelahnya para petugas Rumah sakit mengantarkan Ibu Fatma ke dalam ambulan. Dengan langkah-langkah yang begitu lemas dari anak-anak dan menantunya, Sulaiman meyakinkan diri untuk menemani perjalanan pulang sang istri. " Kalian hati-hati, jangan terlalu terburu-buru. Istri kalian pasti sangat ketakutan" kata Sulaiman pada Rizal dan Sholeh.
__ADS_1
Rizal dan Sholeh menuntun istrinya masuk ke mobil masing-masing. Bergegas menyusul ambulans, yang bergerak terlebih dahulu.
Sholeh menekan klakson pada Rizal, ia memilih berjalan terlebih dahulu. Melirik wajah istrinya yang masih berlinangan air mata. Sholeh berkali-kali mengatur nafasnya agar lebih tenang dan tidak mengkhawatirkan istrinya.
Sholeha menyandarkan kepalanya, matanya sesekali terpejam merasakan derasnya air mata yang tak terbendung. Rasa sesak di dadanya terlihat begitu jelas dari hembusan nafas kasar yang terdengar berkali-kali.
Sholeh kembali meraih sebelah tangan istrinya, menggenggam erat, dia tak lagi sanggup walau sekedar memintanya untuk bersabar. Dia berusaha tenang agar bisa sampai dengan selamat.
Sholeha masih seperti itu, ia berusaha menahan rasa sedih dan tangisnya, merasakan genggaman tangan suami yang tak pernah lepas sepanjang jalan tadi.
" Sayang, kamu tidur?"
Sholeh menggoyang tangan istrinya, dia tak mendengar tangisan yang memilukan seperti tadi, sesekali ia melirik Sholeha.
Sholeha tak menjawab, ia hanya menepuk punggung tangan suaminya dengan tangan kirinya pelan. Memberi tau jika dia tidak apa-apa.
" Kamu ndak papa?"
" Leha lelah Mas" ucapnya pelan
Sholeh sedikit khawatir, apa lagi istrinya tidak sempat istirahat atau makan sejak tadi. Sholeh sedikit menaikan kecepatan, istrinya itu pasti sangat tak sehat, saat ini.
" Sabar ya, sebentar lagi kita sampai" ucap Sholeh menyemangati istrinya.
Sholeha hanya menganggukkan kepalanya, dia tak lagi kuat untuk melakukan banyak hal.
Sirene ambulan telah berhenti berbunyi, saat tiba di kediaman Sulaiman yang telah di tunggu oleh banyak orang. Mereka sudah bersiap melangsungkan prosesi pemakaman dan sebagainya.
Sholeh berlari kecil mengitari mobilnya, membukakan pintu untuk sang istri. Sholeha turun menyambut uluran tangan suaminya, tubuhnya begitu lemas tak bertenaga membuatnya sangat erat di rangkul Sholeh.
Matanya seolah mengering dari airnya, ia hanya diam melamun saat melihat ibunya di di gotong layaknya jenazah. Di sambut banyak orang dengan iringan tahlil, suara yang begitu terdengar sedih dan kehilangan. Sholeha merasakan itu juga dalam dekapan suaminya.
Saat kakinya melangkah ke dalam rumah, Sholeh tiba-tiba merasakan istrinya terkulai tak sadarkan diri, dia hampir saja lepas dari pelukannya.
__ADS_1
" Sholeha....." panggilnya sedikit berteriak.
***