
Sholeh buru-buru menelan onde-onde sebesar bola pingpong, mengunyah kasar sambil mengangkat tangan mengisyaratkan pada sang ibu agar mau berhenti meneruskan kata-katanya.
Sholeh minum terlebih dahulu, dia melirik wajah sang istri yang belum mengisyaratkan marah ataupun curiga.
" Biar Sholeh jelaskan dari awal" ucapnya dengan tenang, setelah menarik nafas.
" Jadi, kita sepakat mengundang Rahma. Dan Sholeha juga mengetahuinya Bu, tetapi Sholeh ndak minta dia datang kesini dan ikut sebagai pihak keluarga. Sholeh juga ndak sempet ngundang Bu Rani sebenarnya, tetapi ndak papa jika dia datang. Sholeh ndak bermaksud mengistimewakannya Bu",
Bu Nur tampak mencoba mempercayai Sholeh, dia memandang Sholeha meminta persetujuan. Dan Sholeha mengangguk.
Bu Nur menarik nafas, " Ibu pikir, kamu sengaja mengundangnya kesini. Ibu hanya takut dia mengatakan sesuatu yang buruk pada Sholeha, dia itu mulutnya sangat tajam, kejam kalau berbicara" ucapnya sedikit marah.
Kedua pasangan itu saling menatap, mencoba merundingkan, bercerita lebih lanjut atau menyudahi saja prasangka buruk yang memang terjadi.
Sholeha menggeleng, tak mengizinkan sang suami bercerita.
" Dia mengatakan apa pada Ibu ?" tanya Sholeh lagi.
Bu Nur menarik nafas dengan berat.
" Banyak hal, ndak enak di dengar. Ibu ndak suka."
" Segitunya Buk, dia ndak sungkan sama ibu?" Sholeh masih tak percaya.
" Sungkan pas dulu, masih ngarep jadi besannya sekarang yo ndak. Malah berani ngatain anak Ibu terang-terangan."
Sholeha memandang ibu mertuanya dengan seksama, " Ibu, dia hanya sedang tidak rela. Sholeha tau dia sangat menginginkan putra Ibu ini, sama aja dengan putrinya, kemarin sebelum menikah dia datang dan mengatai aku anak kecil yang beruntung mendapat pria dewasa dan bijak seperti Mas Sholeh," jawabnya begitu menggebu, tiba-tiba saja Sholeha tak bisa menahan rasa kesalnya kemarin.
Sholeh terkejut, mengapa ada kisah yang terlewat dari istrinya ini. Kemarin dia yang mengatakan tidak ada masalah saat Rahma datang.
" Loh, kok baru cerita sekarang?" kata Sholeh menyela.
Sholeha berbalik menatap sang suami dengan tajam.
" Belum ada hak paten untuk mengadu, sekarang aku baru ingat kalau udah resmi jadi istrinya Mas" jawab Sholeha dengan cengiran.
" Kamu jawab apa Nduk,?"
" Pasti diam, ndak jawab", tebak Sholeh.
" Jawab dong Buk, lupa Leha ngomongnya gimana tapi kemarin dia langsung kicep kok buk, ndak berani ngomong lagi"
Bu Nur tertawa. " Cah pinter, "
Sholeh tak lagi ikut menyimak, ia menghabiskan onde-onde yang baru saja di ambil.
Hari semakin gelap, obrolan keluarga kecil itu terus saja mengalir tak berujung, tawa bu Nur yang semakin berbunga, dan kehangatan pengantin baru yang semakin bertambah suhunya.
Mereka bersiap menyambut malam, Sholeha bergegas ke kamar, mencoba menambah kebiasaan baru. Menyiapkan baju untuk suami.
Kamar mandi pribadi di dalam kamar, menambah kenyamanan keduanya beraktivitas, apa lagi dengan status pengantin baru saat ini. Kamar yang sama persis dengan pemiliknya tampak nyaman namun sepi. Tak ada satu pun hiasan atau benda lain yang tergantung di dinding. Tembok ber cat abu-abu polos tanpa celah hanya menyampirkan selembar tirai yang menjuntai ke lantai.
Sholeha memilih baju, tentu saja baju Sholeh yang sekiranya nyaman di pakai saat di rumah saja. Ada deretan kemeja, beberapa kaos, celana panjang, celana pendek dan beberapa set jas. Semua tersusun rapi dan mudah di cari.
Sholeha membuka laci, dia mencari sesuatu yang sederhana namun berharga.
" Disimpan di mana ya, kok ndak keliatan" gumam Sholeha sambil mencari.
Pintu kamar mandi baru saja terbuka, Sholeha tak menyadarinya.
Tiba-tiba tangan Sholeh terulur menarik satu laci, yang menyimpan banyak pakaian terdalam yang sebenarnya sedang Sholeha cari. Dengan santai ia mengambil salah satu, kemudian ia melihat sang istri yang terdiam sembari melihatnya malu-malu.
" Kenapa, ?" tanya Sholeh.
Sholeha berdehem kecil, menetralkan jantungnya yang terkena serangan mendadak. Apa lagi jika bukan karena tampilan pria di hadapannya ini.
" Ah tidak, tidak ada Mas. Em Sholeha tadi sedang cari itu juga, tapi belum ketemu", jawabnya dengan menunjuk dalaman yang di pegang Sholeh.
Sholeh tertawa kecil, " Oh, itu tempatnya", dia menunjuk laci yang masih sedikit terbuka.
Dia melihat ke atas ranjang, ada setelan santai yang biasa ia pakai saat di rumah.
" Kok tau Mas akan memakainya " matanya melirik kaos dan celana pendek.
" Kan, Leha sering lihat." jawabnya dengan santai.
" Oh iya yah," Sholeh bermaksud meneruskan niatnya untuk berpakaian.
Sholeha menyadari itu, ada perintah bodoh dari tubuh Sholeha. Setidaknya, jika tidak berani melihatnya dengan sengaja jangan kabur, hal itu hanya akan membuatmu bertambah malu, ucapnya dalam hati.
Sholeh dengan santai menyalin lilitan handuknya dengan baju pilihan sang istri. Meski hanya punggung Sholeha yang berdiri kaku di depannya, terlihat jelas tak biasa, ia juga berusaha bersikap biasa saja. Hal ini tentu saja akan terjadi dan berulang tiada henti.
" Mas ke masjid dulu," ucapnya sembari mengulurkan handuk pada Sholeha yang perlahan membalik badannya.
" Ndak pake sarung, atau mau ganti celana panjang?", tanya Sholeha sambil menerima handuk.
__ADS_1
" Ada di depan, tinggal ambil",
" O," Sholeha mengangguk. Dia juga baru ingat ada mushola di rumah ini, mungkin sarung dan perlengkapan lainya ada di sana.
" Ya sudah, pergi ya", pamit Sholeh sekali lagi.
" Iya, "
Sholeha melanjutkan langkahnya ke kamar mandi, dia juga akan mandi setelah ini. Dan memastikan sudah bisa bersuci atau harus menunggu lagi.
***
" Lagi ndak sholat toh Nduk?" tanya bu Nur yang melihat menantunya itu sudah bersiap di meja makan.
" Iya Buk, belum bersih" jawabnya sambil tersenyum. Entah lah di hanya sedikit merasa malu.
" Syukurlah, bisa santai dulu. Jangan terburu-buru. " Ucapnya dengan senyuman.
Sholeha hanya mengangguk, berusaha mengerti apa yang sedang di bicarakan oleh sang ibu.
Setelah makan malam bersama, Sholeha menyusul sang suami yang terlebih dahulu pergi ke kamar. Terlihat dia sudah duduk manis bersandar kepala ranjang. Senyum menawan sengaja ia berikan pada Sholeha yang baru saja masuk.
" Sholeha, sini." panggil Sholeh, menepuk sisi kosong di sebelahnya.
" Iya, sebentar." Sholeha melepas kuncir rambutnya, dengan sengaja menggerai rambutnya.
" Kita duduk sebentar, ada hal yang harus mas diskusikan dengan mu"
Sholeha menaiki ranjang, mengisi tempat istimewa sisi kiri yang selama ini di kosongkan oleh Sholeh.
Pria dewasa yang terlihat muda itu tak berhenti tersenyum, menikmati wajah sang istri yang sangat membuat matanya terpikat. " Ada apa,?" tanya Sholeha.
Sholeh meraih tangan Sholeha, menarik pinggangnya bermaksud agar lebih dekat lagi. " Besok masuk kerja?" tanya Sholeh.
" Iya, kemarin cuma izin sehari ini",
" Em, udah ndak capek?"
" Lumayan berkurang sih, masih terasa dikit" ucapnya menyandarkan kepalanya di dada bidang Sholeh.
" Mas antar ya, "
" Boleh deh, sekalian pacaran. Hi hi hi" Sholeha membenamkan wajahnya dengan nyaman di tempat favorit barunya.
" Iya deh. Kamu pengen di panggil apa sama mas?" jemari Sholeh bermain asik di rambut Sholeha, hal sederhana yang ia lakukan dulu saat Sholeha masih balita, ah masih tak menyangka jika kebiasaan ini bisa berlanjut.
" Hem ternyata sudah menentukan sendiri," Sholeh terkekeh.
Sholeh diam menikmati jemarinya yang menemukan kesibukan baru, ikal rambut yang menguar aroma wangi membuatnya ingin berlama-lama seperti ini, meski hanya diam tanpa kata.
" Kenapa ndak cerita, soal Rahma ?" tanya Sholeh tiba-tiba.
" Yang mana,?" Sholeha mendongak mencari wajah tampan yang sudah ia miliki secara resmi.
" Soal, yang kamu ceritakan pada Ibu",
Sholeha menghembuskan nafas, dia mengurai sedikit pelukan yang teramat erat itu.
" Tidak ada yang penting, aku ndak suka kalau saja masih bahas dia. Sedikit menggangu, apa lagi saat kita berdua seperti ini. Kenapa dia masih saja ikutan di antara kita. Ya meskipun Leha ndak boleh ngomong gini, tapi Sholeha ndak bisa", tuturnya dengan menegakkan tubuhnya, ia bersandar pada kepala ranjang.
Sholeh diam mengamati, ternyata wanitanya ini dengan keras menunjukan ketidak nyamanan nya saat nama Rahma ada di obrolan mereka. Dari awal Sholeh memang bisa memahami, dia hanya sedang memuji sikap jujur Sholeha yang terus terang tanpa menutupi.
" Maaf ya, sebenarnya Mas hanya ingin mendengarkan keluh kesah mu saja," Sholeh merasa kehilangan kehangatan yang baru saja ia nikmati, saat Sholeha mengubah duduk nya dengan menjauh.
" Iya, Sholeha juga tau. Tapi, percaya saja jika istri mu ini cukup hebat mengatasi hal ini. Dan bukanya tak suka pada Mbak Rahma, tetapi entah mengapa Sholeha sejak dulu sedikit tak nyaman jika memikirkannya, berasa kalah. Dan itu sangat mengganggu", Sholeha menunduk berusaha menyembunyikan kecemburuan yang lama telah di pendam olehnya.
Sholeh kembali merangkul Sholeha, di kembalikan pada posisi semula.
" Kalah yang seperti apa sayang, kamu sudah jadi pemenang nya saat ini. Tidak akan ada peserta lain ke depannya. Baiklah, mulai sekarang akan di kurangi membahas dia, "
" Awas aja masih cari peserta lain, " ancam Sholeha.
Sholeha seolah sedang membicarakan poligami dengan bahasanya sendiri.
Sholeh tertawa, di kecup nya ujung kepala sang istri, memberikan persetujuan dari perkataan nya.
" Trus .... Soal tempat tinggal, apa kamu ndak keberatan jika harus di sini?" sebuah pertanyaan yang kemarin sempat saling mereka abaikan, kini terucap juga.
" Oh iya, kita lupa membahasnya. Karena sekarang Mas tinggal bersama Ibu, Sholeha nurut saja. Toh bapak sama Ibu sudah katakan asalkan nikahnya sama Mas Ham, dia mengizinkan apa pun yang aku inginkan",
Jawaban Sholeha membuat Sholeh tiba-tiba merasa berbunga. Bangga dengan dirinya yang begitu di istimewa kan dan rasa senang dengan panggilan baru yang membuatnya terus saja tersenyum.
" Alhamdulillah ya Allah, emang jalur langit ini mah, Bapak emang baik banget." ucapnya dengan riang.
Sholeha juga membalas senyum tulus itu, menikmati hangatnya kasih yang selama ini ia pinta. Merasakan kebahagiaan yang baru saja ia mulai, seraya berdoa dalam hati, semoga saja ini akan terus terjaga hingga akhir.
__ADS_1
" Mas, emang ndak sadar jika sudah di pilih sama Bapak. Leha sempat marah loh karena bapak ibu itu lebih sayang sama anak orang dari pada anak sendiri.",
" Iya kah, sayang nya Mas ini sampai marah?",
" Iya Mas. Itulah sebabnya bapak buru-buru nyuruh Mas Rizal temui Mas kan. Katanya takut nak Sholeh ngelamar orang lain. Padahal putrinya ini lagi sakit hati di putus in cintanya, " Sholeha merengut.
" Oh iya, kata Ibu kemarin dulu ayah mengatakan pada Bapak Ibu, jika kamu harus menikah dengan ku. Semacam wasiat tidak tertulis, jadi itu lah mengapa kamu terkesan di paksa,"
Sholeha terkejut, mendengar kisah jadul yang terjadi pada mereka.
" Kenapa sih, ndak keren ah. Pantas aja mau nolak aja susah."
" Yah emang begini jalannya, "
Mereka asik mengobrol kan banyak hal, tak ada tanda-tanda akan mengakhiri pembicaraan itu, sampai pada suara ketukan pintu terdengar.
Sholeh beranjak, mencari tau siapa yang sedang mengganggu nya.
" Ada apa Buk,?"
" Ada Rizal, dia sedang terburu-buru. Coba cepat temui dia",
Sholeh langsung melewati sang ibu, menemui Rizal di ruang tamu.
Sholeha juga berlari kecil menyusul sang suami.
" Ada apa Mas, ?" tanya Sholeha panik.
" Duh dek, maaf ya, Mas nitip Al ya. Fatih tiba-tiba muntah-muntah, kita akan ke klinik",
" Ya Allah, kok bisa Mas. Trus di mana Al", Sholeha tak sabar.
" Al nya sudah tidur, nanti Mbak mu antar kesini", ucap Rizal cemas.
" Mas saya antar ya, biar Sholeha temani Al di rumah saja kita bisa ke sana sekarang", kata Sholeh menenangkan.
" Tidak perlu Leh, kamu temani Leha saja",
Setelah mengatakan itu Rizal terburu-buru pulang, sedangkan Sholeha juga bersiap akan pergi bersama Sholeh.
***
" Kamu belum bisa tidur?" tanya Sholeh pada istrinya.
" Belum Mas, kepikiran Fatih",
Mereka sedang berada di kamar Fatih, Al tertidur di sana. Sholeha berbaring di sebelah Al, sedangkan Sholeh duduk di sebelah Sholeha.
" Tunggu kabar aja, mudah-mudahan ndak ada yang serius."
" Semoga saja, "
" Tidur lah jika mengantuk, biar mas yang tunggu mereka pulang !"
Sholeha menggeleng, dia mengusap kepala Al dengan sayang.
Jarum jam terus saja mengitari angka yang semakin malam, Rizal belum juga pulang. Sholeha sekuat tenaga menahan kantuknya, dia enggan tertidur takut tiba-tiba Al terbangun dan menangis.
Terdengar suara pintu terbuka, Sholeh bergegas ke depan menemui siapa yang datang.
" Mas, kok sendiri?"
" Leh, titip Al ya. Fatih harus di rawat inap mungkin besok siang baru bisa pulang. "
" Fatih kenapa Mas?" tanya Sholeha yang baru saja keluar dari kamar.
" Ndak ada yang serius, tapi perlu pengawasan saja. Mbak mu makasa nginep aja"
" Syukurlah, ya sudah biar Al bersama kami" ucap Sholeha merasa lega.
Rizal memandang Sholeh.
" Maaf ya ganggu waktu kamu, padahal masih malam pertama. " kata nya tak enak hati.
" Alah, ngomong apa toh. Sudah segera kembali ke klinik, kasihan Ayu", jawab Sholeh sambil tersenyum, menghibur Rizal yang masih tampak murung.
" Mas butuh apa, biar Leha ambilkan?"
" Selimut sama ganti buat Fatih Nduk",
Sholeha mengangguk, kemudian menyiapkan semua dengan cepat.
Rizal bergegas pergi, ia sempat melihat Al yang tertidur pulas di kamar kakak nya, kemudian ia kembali lagi menitip kan pada kedua adik nya.
" Aku pergi ya leh, oh iya jangan beri tau Bapak Ibuk nanti mereka malah ndak bisa tidur ! " Rizal berpesan.
__ADS_1
" Iya Mas, " Sholeha menjawab.
***