
Menanggapi pernyataan Sholeha, Sholeh hanya terdiam. Kemudian dia memberanikan diri bersikap lebih santai dan tenang, dia tau Sholeha sedang tak nyaman dan gugup.
" Saya tau itu, wajah mu itu terlalu jujur untuk mengatakan yang sebenarnya, jadi ?" di iringi tawa ringan yang terdengar menghibur.
" Trus gimana? Kalau orang baru putus cinta pasti belum bisa menerima orang lain di hatinya, sampean ndak pengen kan di sebut pelampiasan saja. Meskipun saya ndak ada niatan begitu. Hem.... Saya hanya ingin berterus terang saja " katanya. Awalnya sedikit merengut karena Sholeh sedikit meledeknya, tapi di ujung ucapannya terdengar melemah tanda ada kesungguhan darinya.
Jari tangan yang saling bertautan menggambarkan kegugupan Sholeha, dia tak pandai menyimpan rasa kegelisahannya. Membuat Sholeh bisa melihat dan memperhatikan sikap lucu dari Leha.
"Kita coba saja dulu, seperti saling mengenal atau bertukar informasi lewat kedua orang terdekat kita, " Sholeh mengusulkan.
"Apa kita benar-benar perlu mencobanya?"
Sholeha jadi bingung sendiri, tidak ada jawaban yang membuatnya merasa di tolak sama sekali.
" Iya kalau kamu mau, saya setuju "
sebutnya enteng.
Setelah diperjelas Sholeha masih sempat terdiam sebentar, meneliti sekali lagi apa yang dia dengar, benar tidak ada unsur penolakan dari Sholeh. Tanpa mendesak atau memerintah, pria di depannya itu benar-benar bisa bersabar, duduk dengan tenang menunggu jawaban apa kiranya yang akan ia berikan kepadanya.
" Baiklah, seharusnya saya tidak berhak menawar karena ini permintaan dari orang tua saya sendiri, oleh karena itu saya ikhlas menerima, dengan niat berbakti pada mereka, jangan berpikir buruk kepada saya. Dan ya, saya hanya meminta kita perlahan saja menjalaninya biar saling kenal dulu, maaf ya Mas saya ini terlihat agak aneh dan tidak sopan "
Mengatakn ikhlas menerima, tapi masih mengajukan syarat, sepertinya Sholeh pun cukup paham pada situasi Sholeha.
" Aku yakin kamu bisa jalani semua ini bersama saya yang kemarin saja awet sampai satu tahun."
Senyum manisnya itu loh tak lupa diikutsertakan. Membuat Sholeha malu saja, meskipun sedang patah hati ternyata masih bisa salah tingkah juga, dan kata jalani bersama saya, cukup membuat hatinya bergetar sedikit, bahkan Sholeha dapat merasakan aura kehangatan dari sikapnya yang dewasa.
" Jangan bahas yang kemarin, ntar sampean cemburu loh" sahutnya sedikit mendengus bahkan dia yang sedang memancing Sholeh untuk mengamatinya.
"Beneran boleh ?"
"Terserah..."
Jawaban Sholeha cukup mengundang tawa Sholeh. Keduanya sepakat menyudahi pembicaraan setelah terlihat Rizal datang menyapa Sholeh. Mereka hanya membicarakan keseharian yang tak jelas ujungnya kemana, kadang kerjaan kadang juga tongkrongan. Ternyata masnya masih sedikit bergaya muda.
***
Setelah Sholeh berpamitan pulang, Rizal mendekati Sholeha yang sedang asyik menemani Al menyusun lego. Karena tidak ada tanda-tanda adiknya akan pulang, Rizal bertanya kembali untuk memastikan.
" Kamu mau pulang biar Mas antar, atau nginep aja besok ndak masuk kerja toh?"
" Nginep aja Mas, Leha sudah izin Bapak tadi sekalian mau main, kangen banget sama Al."
"Ya sudah kalau begitu" Rizal membiarkan mereka berdua.
Sebenarnya Sholeha tidak terlalu suka menginap di mana pun, tidak nyaman katanya, rencana ini mendadak dan sedikit terpaksa. Dia hanya tidak suka menunda urusan hingga berlarut-larut, kalau sudah jelas arahnya kemana biasanya dia akan tenang dan fokus bekerja dan sebagainya.
Sepertinya untuk urusan kali ini sedikit berbeda, semakin tau arahnya semakin bingung pula ia mengatasinya, dia harus meriset ulang isi kepala dan hatinya.
***
Matahari masih malu-malu menampakkan diri, sedang kan pagi seakan ingin cepat berlalu. Di halaman terdengar gelak tawa si kecil Al bersama Sholeha, terlihat Al berlarian mengejar bibinya seakan tak ingin di tinggalkan. Setelah semalam menghabis kan waktu bersama Ayu, Sholeha masih enggan pulang ke rumah. Padahal ibunya beberapa kali mengirim pesan padanya agar segera pulang. Nampaknya, masih ada suatu hal yang membuatnya ingin berlama-lama di sana.
__ADS_1
Semalam, setelah Al tidur bersama ayahnya, Ayu duduk menemani Sholeha berbincang cukup lama. Di depan tv yang tidak menyala, kedua wanita beda usia itu saling berbagi, lebih tepatnya Ayu adalah mentor untuk adik iparnya kali ini. Tidak ada cemilan atau segelas minuman dan sebagainya di sana, mereka benar-benar hanya fokus mengobrol saja.
" Gimana Dek, masih ada hal yang kamu perlu tau dari Mbak tentang tetangga ku itu?"pancing Ayu agar Sholeha mau bercerita.
" Entah lah Mbak, rasanya belum ada yang perlu aku tanya, aku masih berusaha menerima, itu saja. Sholeha masih bingung dan meraba-raba banget soal keputusan ini."
" Dek Mbak juga tau, kalau kamu perlu waktu.Tetapi setidaknya kamu tau kalau dia serius mau berumah tangga dengan mu."
" Iya kah Mbak, memangnya dia ndak punya wanita lain yang sedang ia dekati selain aku, rasanya Leha juga tidak terlalu dekat dengannya."
" Dek, mana kita tau, tapi kalau dengan mu saja belum bisa dekat apa lagi dengan orang lain? tetapi menurut Mbak, dia selama ini hanya fokus pada bisnisnya juga Ibunya saja. Mas mu juga bilang gitu."
"Mbak, sepertinya dia tertutup sekali orangnya apa bisa Leha tau tentang dia sebelum benar-benar lamarannya jadi. Jujur saja Mbak, bersama Arman yang begitu lama saja aku gagal mengenalnya, apa lagi dengan dia, ndak yakin sama sekali aku"
" Jangan bawa-bawa kegagalan mu dengan Arman Dek, untuk membangun komitmen baru, kamu harus siapa melupakan masa lalu. Yang terpenting kamu niat dan mau berusaha mengenal Sholeh tanpa ada keraguan."
Banyak hal yang Ayu ceritakan tentang Sholeh kepada iparnya itu, dari hal kecil dan sebagainya. Sampai malam berlarut mengakhiri perbincangan mereka.
POV Sholeh
Pagi ini, tanpa sengaja Sholeh melihat gadis cantik idaman sang ibu itu melalui jendela kamarnya, sebab konsep bertetangga adalah posisi rumah yang saling berdekatan meskipun tidak terlalu padat masih ada dua rumah di antara rumahnya dengan rumah Rizal. Tak ingin terlewat, ia diam mengamati Sholeha. Tidak sedikit pun suaranya yang terdengar oleh Sholeh namun ia tetap memandang, sekian detik malah bak tertular tawa, ia pun tersenyum kecil. " Lucu ya dia" ia bergumam sendiri.
Setelah pulang bertemu dengan Sholeha semalam, ada hal baru yang menyakinkan Sholeh untuk terus maju. Dia manis dan jujur, menurutnya. Belum lagi pujian positif yang selalu ia dengar dari sang ibu yang tak pernah ia lewat kan meskipun hanya sedikit menanggapi. Ah dia tak percaya kalau dia akan sampai pada titik ini, sampai pada ia harus memilih teman hidupnya.
Meskipun belum terlalu yakin akan berjalan dengan baik kedepannya, tapi Sholeh harus bertekad setidaknya demi membahagiakan ibunya. Bahkan ia tak lagi paham bagai mana rasanya jatuh cinta dan mencintai seseorang, selama ini dia hanya melakukan hal-hal yang menurutnya tidak salah. Terlalu rumit jika harus dikaitkan dengan urusan cinta dan perasaan yang penting hidupnya cukup tenang dan tak mengganggu orang, prinsip yang selalu ia jaga. Terbukti hingga usia matang itu, dia belum pernah sekali pun terlihat bersama seorang wanita ibunya saja sampai sedih melihat putra kesayangannya itu. Hanya saja konsep mencintai tidak harus bersama tetap berlaku untuk siapa pun kan? Sayangnya Sholeha belum tahu tentang hal private ini.
Terpergok sedang memandangi Sholeha oleh ibunya, Sholeh pun tersenyum malu.
"Cantik ya Le?"
" Sedkit demi sedikit lama-lama
menjadi bukit," jawab bu Nur sedikit bernyanyi. Yang mendengar malah tergelak lalu merangkul ibu nya salah tingkah.
" Di kenal aja dulu perlahan Le, dia baik kok"
" Iya Ibuk iya, doa kan saja dia mau sama orang tua kayak aku ini" tawa nya ringan.
" Iya Ibuk do'akan, agar dia jadi mantu ku"
Terpaut usia yang sepertinya jauh dari Sholeha, itulah sebabnya ia tak berani banyak berharap, semuanya dia lakukan dengan ketenangan, yang penting kesanggupan dari Sholeha, kalau jodohnya tidak akan kemana katanya.
***
Tidak merasa sedang di perhatikan, Sholeha dengan girang ia berlarian di halaman bersama Al.Tertawa terbahak-bahak melihat keponakannya terjatuh dan menangis. Kemudian dia segera menggendong dan menenangkan sembari masuk ke dalam rumah.
Begitupun dengan Sholeh, dia kemudian menyusul ibu di ruang makan. Sepertinya ibu memanggil untuk sarapan. Sholeh terbiasa dengan kebiasaan sang ibu yang terkesan sangat menyayangi dan memperhatikan ke sehariannya. Terkadang dia berpikir apa istrinya kelak tidak akan cemburu dengan ibunya sendiri.
Karena memang banyak wanita seperti itukan? kadang sampai berebut cinta dengan sang mertua. Sholeh jadi mendadak geleng-geleng kepala.
Baru semalam dia bertemu dengan Sholeha, Sholeh kini mulai membayangkan dia jadi istrinya.
Dia menertawakan kelucuan dirinya sendiri dalam hati.
__ADS_1
***
POV Sholeha
Pukul 08 lewat 15 menit, Sholeha melajukan motornya menuju rumah, pulang dengan rasa yang masih bingung tercampur aduk, ada senang juga sedih dan cemas. Tanpa sengaja melihat ibu Nur didepan rumahnya, dia hanya menyapa tanpa menghentikan laju motornya. Setidaknya senyum ramah ia tunjukan, sempat pula ia mencari sosok Sholeh ternyata tidak terlihat keberadaannya, hanya berdiri toko yang ramai pengunjung. Melihat usaha dagang Sholeh yang begitu besar, cukup menjanjikan dan muncul lah berbagai pertanyaan yang sebenarnya tidak penting." Masa iya Mas Sholeh jomblo selama ini?" tentu saja hanya muncul di kepala Sholeha yang sebenar nya penasaran.
***
Setelah lima belas menit dalam perjalanan, sampai lah ia di rumah, terlihat sedang ada tamu.
" Assalamualaikum," Sholeha menyapa setelah melalui pintu rumahnya.
" Waalaikumsalam, Leha hai" Irama melambaikan tangan.
" Tumben, ku kira siapa?"
"Iya, pakai motor Masku itu Ha, eh bagai mana kata Bulek kamu habis menemui Mas Sholeh ya?" dia terlihat sangat penasaran.
" Apa-an sih kamu, cuman mau kasih tau kalau aku masih terluka belum bisa jatuh cinta lagi" jelasnya menarik nafas panjang.
Mengapa serumit ini, Sholeha semakin merasa dia sedang menarik paksa orang lain kedalam masalahnya.
" Trus dia bilang apa?"
"Katanya kalau kamu mau saya setuju"
ucapnya datar.
" Ya udah lah, lagian yang lamar juga kamu, masa iya kamu yang nolak kan ngak mungkin" benar kata Irma.
" Ir kamu kan tau, ini perjodohan bukan aku yang minta" tegasnya tak mau di salahkan.
"Bukan dong Ha, kan ini keinginan Bapakmu. Tapi ya sudah tidak usah di pikirkan, oh iya tadi aku bertemu Arman di jalan dia sengaja menanyakan apa kamu sudah dilamar orang"
" Terus kamu jawab apa?" potongnya cepat.
"Iya" tanpa merasa bersalah dia pun tertawa.
" Kok gitu sih Ir, kan belum"
Sholeha hanya belum bisa melangkah dengan pasti, mengapa kebohongan Irma membuatnya bersedih, seakan ada ketakutan yang tidak bisa dia jelaskan.
Takut melangkah bersama Sholeh, dia belum siap terluka atau melukai lagi.
***
Sikap Irma yang kadang terlihat mendukung dan menjatuhkannya secara acak membuat Sholeha semakin pusing dibuatnya. Terkadang Sholeha selalu berpikir buruk jika sebenarnya sahabatnya ini tidak mendukung hubungannya dengan Arman, tapi hanya sebatas prasangka buruk yang tidak terjadi.
Nyatanya hubungannya yang tak tertolong lagi murni karena dia uang menyerah karena lelah. Sholeha tidak perlu menambahkan sebab-sebab yang tak masuk akal akan takdirnya yang begitu sempit.
Dia akan semampunya berusaha menerima apa yang telah diputuskan oleh orang tuanya dan juga dirinya sendiri.
Allah tau segalanya tanpa ragu.
__ADS_1
Sholeha tidak ingin merusak persahabatannya dengan masalah yang bersumber dari prasangka buruk ini.
***