
Irma merubuhkan tubuhnya di kasur, ia menarik nafas dengan sangat panjang.
" Ini akan jadi cerita panjang" ucapnya pelan.
Sholeha mengikuti Irma, jadialah mereka terlentang menatap langit-langit yang tak akan mengerti arti cerita keduanya.
" Aku ada banyak waktu untuk mendengarnya, dan yah aku juga sangat ingin kita menceritakan semua dari awal agar tidak ada lagi yang tertinggal dari perjalanan kita ini!"
Irma sempat tertawa, " Ternyata sahabatku memang orang baik yang nyata ada dalam hidup ini, dia orang yang tidak marah karena di khianati. " katanya, sembari menoleh mencari mata Sholeha.
" Kamu pikir, aku sejahat apa?"
" Bahkan aku berpikir jika kamu tidak Sudi lagi melihat muka ku ini, rasanya seperti tertimpa bulan ketika melihat kamu sungguhan datang mencari ku tanpa marah-marah karena tersakiti" ucapnya dengan serius.
Ganti Sholeha yang tak bisa menahan tawanya " Sejahat itu?" Irma mengangguk cepat, " Sayangnya, aku tidak ada lagi teman selain kamu" tambahnya begitu sedih.
" Kalau begitu maaf ....." tutur Irma kembali sedih.
" Jadi cerita, atau aku pulang aja nih, aku kesini tidak untuk mendengar permintaan maaf mu yang sudah bosan ku dengar " ancam Sholeha sebal.
Irma tersenyum, kembali mengubah posisinya jadi terlentang. Sholeha masih setia memandang wajah sahabatnya yang seminggu tidak bertemu sudah terlihat kurus dan sedikit pucat.
" Sebenarnya, dari pertama kita mengenal mas Arman. Aku udah ada hati sama dia, tetapi aku juga tau jika Mas Arman sukanya sama kamu. Aku lupa lebih detail nya kapan, tapi yah gitu namanya juga kalah saingan dengan sahabat sendiri ya jadinya nyerah deh pas itu dan masih berpikir jika seseorang Sholeha tidak akan bisa tergantikan di mata Arman, percuma aku berjuang juga hasilnya pasti di tolak."
" Kenapa ndak jujur sih, padahal dulu aku tuh masih bingung antara suka sekali dan sekedar suka aja. Kamu malah sok dukung aku buat jadian sama dia"
" Yah kan sudah tak bilang Ha, saingan aku tuh berat. Mana Mas Arman nya ngotot banget pengen pacaran sama kamu, yah di situlah pertama kali aku cemburu dan patah hati secara bersamaan."
Sholeha mengusap pundak Irma dengan pelan, " Aduh aduh pasti sedih banget, maaf ya akunya kurang nalar waktu itu" ucapnya sengaja di buat-buat bersedih.
" Trus aku bertekad untuk tidak mengatakan kepada siapa pun soal ini, waktu itu juga aku masih merasa lebih baik diam kan dari pada di tolak sama mas Arman. Yah jadilah aku mulai mengecap cemburu sedikit demi sedikit."
" Kamu kuat banget Ir" puji Sholeha di sela-sela getirnya cerita Irma.
" Ya namanya juga pilihan, aku sudah berusaha sebaik mungkin untuk menyimpan rasa ini dari kalian nyatanya ngak kuat ternyata" Irma sedikit tertawa.
" Sakit banget ya?"
" Iya, tapi aku juga tidak bisa menyalahkan kalian kan? lagian aku yang cari masalah sendiri. Sampai akhirnya- , " Irma menggantung ceritanya dan menatap Sholeha dengan dalam. " Boleh aku terusin ceritanya?" tanya ia kemudian.
Dengan ragu Sholeha mengangguk, dia juga harus mendengar semuanya hari ini, agar tak akan ada lagi yang di tutup tutupi dari Irma, ini demi persahabatan yang harus terus berjalan.
" Sampai yah itu tadi, seperti yang aku katakan pada mu di warung bakso kapan hari itu, Mas Arman mungkin lelah dengan sikapmu yang menurutnya kurang respon, dan terlalu cuek. Nah di situlah kejahatan ku mulai di lakukan."
Sholeha tertawa mendengar gaya Irma yang bercerita seolah dirinya sebagai pelaku dan tersangka dalam sebuah berita.
" Kayak denger cerita kriminal deh" sahut Sholeha menahan tawa.
Irma juga membalas tawa Sholeha, seketika ruang sederhana itu menguarkan kehangatan yang telah lama pergi.
" Lanjut ndak nih? tanya Irma.
Sholeha mengangguk antusias, ia tak lagi bisa menahan tawa yang mungkin sebenarnya bercampur rasa elu juga.
" Ndak tau kenapa, Mas Arman jadi sering kan obrolin tentang kamu, terus sering ajak chat an dan sempat beberapa kali telfon juga. Pokoknya ya gitu lah kayak orang selingkuh gitu. Ndak enak mau di ceritain sama kamu, jadi berasa banget dosanya sama kamu" ringkasnya tiba-tiba.
__ADS_1
" Jujur nih Ir awalnya aku juga sedih dan kecewa sih tapi pas tak pikir lagi apa ndak tambah sedih ya jadi kamu, sering banget loh aku curhat dan ceritain mas Arman sama kamu. Terus sebenarnya, tapi jangan katakan sama mas Arman ya jika bapak Ibuku itu ndak terlalu suka sama dia. Bukan karena apa sih Ir, emang dasarnya mereka sudah jodohkan aku sama anak sahabatnya itu loh, Mas Sholeh. tapi kan saat itu aku juga kekeh pengen nikahnya sama Mas Arman, jadi bapak ibu terpaksa diam dan menuruti ku. Nah ketika aku bilang sama mereka jika di campak kan bukanya dukung aku, malah cari in yang baru. Terlalu jelaskan?"
Kini cerita mereka sudah pindah pemeran dan sebentar lagi ada sedikit info untuk Irma.
" Oh iya, jadi gimana sekarang sama Mas Sholeh?" tanya Irma bersiap menjadi pendengar.
" Kita jadi nikah Ir, tanggal dua puluh lima bulan depan"
" APA , " teriak Irma begitu terkejut. " loh katanya masih tiga bulanan lagi?" tanya Irma lagi.
" Em, entah ndak tau kenapa dia yang meminta pada ayah seperti itu, padahal aku pikir - ,
Sholeha berhenti, kemudian mengatur nafasnya dengan tenang.
" Aku sempat memintanya untuk menikahi orang lain." Dengan sengaja ia menjeda kalimatnya, menimbang perlukah ia menceritakan lebih lanjut atau sampai di sini saja.
"Ceritakan Leha, aku tau kamu telah memendamnya sendiri selama ini!" ujar Irma memberikan saran.
"Iya, aku bingung sendiri saat itu. Sebenarnya ada wanita lain yang menurut ku lebih pantas untuk mas Sholeh dan kulihat dia juga mencintai mas Sholeh, dia juga jauh berbeda denganku, dia cantik, dewasa, dan pintar jadi aku pikir lebih baik aku menyerah kan dari pada menghalangi hubungan mereka."
" Sebentar, jadi dia ndak suka kamu toh?" serobot Irma yang sedikit tidak sopan.
" Em bukan itu, tapi aku juga tidak tau Mas Sholeh suka apa ndak sama aku. Yang jelas setelah aku mengatakan akan membatalkan lamaran, eh malah dia kekeh ndak mau. Dan ya itu dadi, malah minta akadnya di majukan dari perkiraan sebelumnya."
" Ya berarti dia ndak suka lah sama wanita itu, buktinya malah pengen cepet nikah sama kamu" Irma menyimpulkan dengan gayanya sendiri.
" Dia itu sahabatnya dari kecil loh Ir, trus dia juga pernah ngomong jika dia juga suka sama Mbak-Mbak itu. Tapi dia katakan lagi jika dia tidak berniat menikahinya, setau ku berarti pikiranku salah ."
" Hem, begitu ya. Terus kamu gimana, ?"
" Maaf ya aku ndak bisa kasih saran atau sekedar menghibur mu waktu itu" ucap Irma merasa bersalah.
Sholeha bangkit dan terduduk di tengah-tengah, ia terlihat lebih baik dari sebelumnya. " Irma kecemburuan terberat kamu pada ku saat itu apa?" Sholeha masih saja ingin lebih banyak lagi mengetahui kisah sahabatnya ini.
Irma turut ikut duduk, " Saat Mas Arman pamit kerja, hanya karena tidak bisa melihat kamu menikah dengan orang lain, itu rasanya sakit ha, dan maaf ini juga penyebab pertengkaran kita saat itu " tuturnya dengan penuh kesungguhan.
Sholeha tampak mengingat, kemudian mengangguk kecil.
" Aku pernah bersedih, saat Mas Sholeh mengatakan jika dia tidak memiliki kesempatan untuk menolak ku Ir, entahlah apa aku ini di harapkan atau tidak dengannya, tapi kami saling mengerti jika kita sedang berusaha memperbaiki niat kita saja" jawabnya jujur pada Irma.
" Mungkin saja, kamu salah artikan kalimat itu ha, kita tau berburuk sangka hanya akan menyusahkan saja. Lagi pula dia bertekad menikahi mu daripada memilih sahabatnya itu kan?"
Sholeha mengangguk, namun tak lagi menjawab .
" Ah iya bagai mana kabar Mas Arman?"
ucapnya tiba-tiba.
" Semoga dia baik, aku juga tidak tahu sejak itu dia tidak berkabar dengan ku, sesekali hanya chatting hanya menanyakan kabar. Dan sebenarnya dia juga tidak menjadikan ku pacar ha, jadi pengakuan cinta kita sebatas itu saja, nyatanya dia tidak bisa melupakanmu" Irma tampak sendu .
" Em semoga saja dia tetap baik-baik saja, Ir jika ada kesempatan untuk menikah dengan Mas Arman apa kamu mau? dia itu orang baik ." Tanya Sholeha sungguh-sungguh pada Irma.
Irma menggeleng pelan, " Entah lah , untuk menikah masih terlalu jauh untuknya ha, kita tau dia masih ingin banyak mencari uang untuk keluarga, adik dan juga dirinya entah yang ia katakan itu benar apa adanya atau hanya sebatas alasan yang ia jadikan untuk pelarian menghindari masalah ini, tanpa sadar dia hanya berhasil menyakiti kita berdua kan?".
Sholeha juga ikut terdiam, apa yang dikatakan Irma memang benar adanya, dia adalah tulang punggung keluarga, soal karena sikapnya yang membuat hubungan persahabatan ini retak tak sepenuhnya salahnya dia juga punya alasan tersendiri. Mungkin akan ada cerita lain di sudut pandang Arman sendiri. Kemudian seketika Sholeha merasa bersalah telah mengusiknya dengan keinginan menikahnya waktu itu, tetapi ia juga menyadari jika tidak dengan kehendak Allah mana ada cerita yang seperti ini.
__ADS_1
"Semoga dia baik-baik saja di sana" ucap Sholeha lirih.
" Oh iya sahabat ku yang baik, jadi sekarang apa kah sudah bisa move on dari Mas Arman?" ledek Irma pada Sholeha .
" Em insyaAllah sudah kok" jawabnya tanpa ragu.
" Lalu, apa sudah cinta sama Mas Sholeh?" ledeknya kembali, kali ini sebelah matanya sampai berkedip-kedip tak jelas.
Seketika Sholeha menimpuk tubuh Irma dengan bantal, " Apaan sih?" jawabnya dengan malu-malu.
Entah seperti ujungnya, pembicaraan mereka semakin ngalor ngidul tidak jelas. Semula yang begitu tegang dan bercampur air mata kini berubah menjadi gelak tawa yang siapa pun yang mendengarnya pasti penasaran, apa saja kiranya yang sedang mereka obrolkan tengah hari seperti ini.
Di tambah rumah Irma yang selalu sepi di tinggal penghuninya bekerja seharian, membuat keduanya saling melepas rasa rindu yang mereka buat karena pertengkaran. Sejak dulu keduanya terbiasa bersama, sungguh ironi jika tiba-tiba terpisah karena perkara ini, memang tidak sepele tetapi tidak baik juga jika mereka mengorbankan persahabatan mereka.
" Ir, aku ndak percaya, kita sudah bersama sejak kecil, tapi ada saja hal yang saling kita sembunyikan seperti ini" ucap Sholeha di tengah tawanya yang mulai mereda.
" Iya aku juga. Manusia emang gitu kali yah, susah banget buat katakan kejujuran" sebutnya seolah telah mendapat pencerahan ilahi.
" Jadi gimana?" tanya Irma lagi pada Sholeha.
" Apanya?"
" Jatuh cinta?" Irma menjawab dengan pertanyaan lagi.
" Aku belum bisa simpulkan sekarang"
" Baiklah Sholeha, aku tau kamu masih malu. Satu hal yang harus selalu kau ingat jika kau merasakannya jangan lupa untuk menceritakannya kepadaku. Kali ini sepenuhnya aku akan mendukungmu dan yah tidak akan cemburu. Jangan paksa aku mencari tau sendiri ya" tuturnya begitu antusias.
" Iya, iya Irma. Bagaimana aku bisa menyembunyikannya padamu kali ini, sejak baru bercerita saja kamu sudah tau jawaban dan kesimpulannya kan?"
Sholeha menggelengkan kepalanya pelan, seiring dengan senyumnya yang kian merekah menanggapi sahabatnya itu.
" Sebenarnya aku tidak sehebat itu juga, tetapi jurus kepo ku ini loh yang sangat bisa di andalkan. Kamu tidak akan bisa lari Sholeha, satu atau dua pertanyaan tidak kau jawab percayalah, aku akan tiba di ujung otakmu dan mencari tau sendiri" Irma tergelak mendengar ucapannya sendiri, terkesan gila .
Begitu juga dengan Sholeha yang juga ikut tertawa, " Sayangnya aku tidak bisa seperti itu pada mu dulu, andai bisa aku juga akan mengupas semua isi hatimu sehingga aku menemukan jawaban dan dari mana asal kecemburuan mu waktu itu" balas Sholeha mengikuti ucapan Irma.
" Kita pasti tidak akan saling menyakiti" sambar Irma begitu tegas di ujung tawa.
Sholeha mengangguk, setuju.
" Eh tapi kan, jika kamu jatuh hati pada mas Sholeh itu pasti sudah pasti nanti. Jika kamu menceritakan semuanya padaku yang ada aku makin iri padamu " tiba-tiba Irma membayangkan sesuatu yang jauh di sana.
" Aku sudah katakan Irma, kamu bisa menikah juga kan. Mas Arman kembali pasti akan melamar mu" Sholeha sedikit meledek dan menyikut Irma pelan.
Irma tampak terdiam.
" Bisa saja kan dia mencari yang baru, dan meninggalkan aku."
" Hem aku juga tidak tau, tetapi dia pria baik Irma. Jika dia sudah menyadari perasaanmu padanya pasti dia akan menemui mu lagi nanti, percaya pada ku"
" Entah lah Sholeha, aku tidak akan banyak berharap. Bahkan aku bisa ingat jelas matanya yang berapi-api karena mendengar kamu akan menikah, padahal dia juga tau dan aku mengakui perasaan ku. Ku kira dia tidak terlalu menganggap ku atau benar-benar mencintaiku, bisa saja dia hanya menjadikanku pelarian saja waktu itu" jelasnya dengan sendu.
Di awal Irma dengan yakin jika hubungan mereka saling berbalas, tetapi saat ini dia tampak putus asa dan menyesal telah mengakuinya. Apa mungkin dia telah di permainkan oleh Arman? mungkin saja iya, atau mungkin juga tidak.
***
__ADS_1