
Ketika suaminya pergi, Sholeha sedikit kehilangan. Sholeha bahkan mulai menyadari sikapnya seperti sedang jatuh cinta lagi. Rasa yang pernah timbul saat masih bersama Arman dulu. Mungkin saja ia sedang memasuki fase perkembangan dalam hubungannya.
Seperti yang di perintahkan oleh sang suami, di hanya di izinkan berkunjung pada Ayu tidak boleh pulang ke rumah ibu bapaknya. Ah untung saja dia mengaji sebelum menikah, mungkin saja Sholeha sudah merajuk hanya karena tidak di izinkan pulang.
Ayu bahkan sudah melihatnya dari kejauhan, jika adik iparnya itu sedang bergerak ke rumahnya.
Sungguh masih tak menyangka jika Sholeha bisa bertetangga dengan Ayu, satu-satunya saudara. Apa lagi Sholeh adalah anak tunggal, ia tak memiliki banyak kerabat dekat.
Masih begitu jauh dengan pintu rumah, Sholeha bahkan memanggil Ayu dengan begitu riangnya. " Mbak, " dia berlari kecil.
" Aduh, aku seneng banget deh, Ibu sudah tau belum?" tanya Sholeha masih terengah.
Ayu meminta Sholeha duduk dulu, " Belum, ini aja Mas Rizal yang ndak bisa jaga rahasia "
Sholeha tertawa. Ternyata benar jika Ayu memang belum ingin memberi tahu banyak orang. " Ndak papa, kan malah di doain yang baik-baik"
Sholeha melirik perut datar Ayu, kemudian tanpa sadar mengusap perutnya sendiri. Gerakan kecil itu di sadari oleh Ayu.
" Baru seminggu Dek, coba aja terus ntar juga jadi" ucap Ayu tiba-tiba.
Sholeha tersenyum kikuk dan malu. Ayu tau saja apa yang sedang di pikirkan oleh dirinya. " Iya Mbak, masih senang coba-coba" jawab Sholeha dengan tawa.
" Iya Dek, mumpung belum jadi kan. Cobain aja sesuka mu mau gaya seperti apa" Ayu terbahak kala melihat Sholeha mendelik.
Bisa di pastikan jika sejak tadi pembicaraan mereka terlalu menjurus pada hal aneh yang semua orang pasti bisa menikmatinya.
" Ah udah ah, kemana yang lain?" tanya Sholeha berusaha keluar dari pembicaraan absurt itu.
Ayu melongok kedalam, " Fatih sih masih Les, Al tidur tuh. Mas mu ya kerja, kan ada proyek Masjid"
Kedua wanita itu asyik bercerita tentang dunianya, semilir angin di siang hari tak mengubah suasana santai mereka. Meski sesekali Sholeha menguap ingin tidur siang, tetapi ia sengaja menahannya masih penasaran dengan cerita Ayu.
__ADS_1
" Dulu Mbak pas hamil Fatih juga lagi bulan puasa Dek. Malahan hampir lahiran, pengennya ya puasa aja tetapi Ndak boleh sama Mas mu "
Sholeha memang ingat saat itu, Fatih memang lahir di penghujung bulan puasa. Sholeha mendengar semua cerita Ayu, terlihat sekali jika Ayu begitu menikmati menjadi ibu selama ini. Bukan sedang memuji, tetapi itulah yang ia lihat selama ini.
" Dek, Kamu mikirin apa, kok melamun?" tanya Ayu.
Sholeha memang terlihat melamun, tetapi sebenarnya dia sangat ingin tidur siang.
" Ah Mbak, maaf ngantuk aku. Pulang aja kayaknya, mumpung masih siang, ntar Mas Sholeh pulang aku sudah bangun "
Ayu tak mencegah, mungkin memang hanya dia yang sedang merasa bosan, hingga terlalu senang saat adiknya datang. Ternyata dia terlalu membosankan untuk Sholeha, adik iparnya pun pulang.
Ah dia juga harus istirahat, duduk bersandar di teras terkena angin semilir seperti ini mengundang rasa kantuknya. Ayu berpindah, rebahan di depan televisi.
***
Sholeha terlelap dalam ranjangnya, entah mengapa siang ini begitu mengantuk tak tertahan. Padahal biasanya dia tidak tidur siang sama sekali.
Sholeh memutuskan segera mandi, setelah ini ia akan bangunkan kembali istrinya. Janji menemani Sholeha pulang ke rumah orang tuanya, Sholeh semakin tak sabar melihat istrinya itu gembira.
Mengingat bagaimana ia sangat kegirangan ketika di ajak menginap, ternyata meski tidak mengeluh terlihat sangat jelas jika istrinya itu merindukan rumahnya, mungkin juga kamarnya.
Sholeh mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil, menatap istrinya yang masih terpejam. Sholeh senyum-senyum sendiri dan sengaja berlama-lama menatap istrinya. Apa yang sedang di pikirkan oleh pria ini?
Sholeha menggeliat merasa ada yang mengusiknya, ia terkejut ketika menyadari rambut terurainya sedang di mainkan oleh suaminya. Wajah itu tersenyum begitu manis menyambut mata yang baru saja terbuka. " Mas.... Kok udah ganteng?" ucapnya pada Sholeh.
Yang di puji ganteng semakin melambung ia menyemburkan tawa, " Ganteng lah, udah mandi. Yok bangun Yang, kan mau tempat bapak" Sholeh mengusap pucuk kepala istrinya.
" Iya, aku mandi dulu," Sholeha beranjak dari dari ranjang.
Sembari menunggu istirnya yang sedang mandi, Sholeh dengan iseng memainkan ponsel Sholeha. Penasaran dengan semua isinya.
__ADS_1
Bibirnya tersenyum, kala melihat tampilan layar utama si manis Al, keponakannya. Folder aplikasi pintar berjajar rapi, semua sama dengan di ponselnya. Satu aplikasi yang tidak ada di ponselnya, dia curiga pasti ini penyebab istrinya tertawa geli malam kemarin.
Tidak di sangka wanitanya ini gemar menonton drama-drama asing, malas memeriksa ia meletakan kembali ponsel Sholeha asal. Tak lama istrinya muncul dengan kepalanya saja di pintu, dia sudah basah kuyup, rambutnya basah.
" Mas, tolong ambilin sampo, "
Sholeh beranjak dari ranjang, " Di mana?" tanyanya.
" Itu tuh di laci," tunjuk Sholeha dengan dagunya.
Sholeh memberikan botol sampo, " Nih..." Bermaksud menjahili Sholeha, ia ingin menarik tangan istrinya itu agar keluar. Namun dia kalah cepat dengan insting Sholeha, di segera mengunci pintu setelah sampo di beralih ke tangannya.
" Yah, dah pinter dia. Susah " gumam Sholeh di depan pintu.
Tidak ada drama iseng dan jahil lagi dari Sholeh, hingga Sholeha berhasil menyelesaikan mandi dan bersiap dengan cepat. Jika Sholeha tidak cermat mungkin saja ia tidak jadi pulang.
Kali ini Sholeha tak bisa lagi menahan rasa rindu pada bapak dan ibunya makanya, dia harus menang dan tak tergoda oleh Sholeh.
Sekitar lima belas menit sebelum adzan magrib, mereka berboncengan menuju rumah Sulaiman. Sholeh menepati janjinya, untuk menginap malam ini. Sholeha begitu senang, hingga tangannya begitu erat melingkar di perut suaminya cukup mesra.
Pak sopir tampaknya cukup senang, ternyata berboncengan mesra seperti ini cukup mengasikan. Mungkin mulai saat ini ia akan lebih sering mengajak istrinya berkeliling kampung dengan motor seperti ini.
" Mas, cepetan ih, keburu azdan," Sholeha menepuk perut liat suaminya.
Semakin di rasa, Sholeh ini sadang sengaja memperlambat jalannya.
Sholeh tertawa, istrinya ini tidak peka sekali, jika ia sedang menikmati indahnya berboncengan di senja yang jingga ini. Ia segera menambah laju kecepatan, sebelum mendengar istrinya menggerutu.
Sholeh menepikan motor, saat tiba di depan kediaman sang mertua. Mereka sudah siap menyambutnya di depan pintu. Terlihat sekali jika mereka juga sangat merindukan putri kesayangannya ini.
***
__ADS_1