Cinta Sholeha

Cinta Sholeha
Kemarahan Sholeh


__ADS_3

" Apa yang kamu katakan Mas? Aku hanya tidak tau jika Ibu sakit. Jangan katakan aku tidak perduli" Jawab Sholeha begitu tegas.


" kamu sudah seperti ini hampir empat puluh hari, aku sudah sering katakan kita bicarakan masalah ini, terus saja kamu menghindar. Kalau begitu kita urus orang tua kita sendiri-sendiri saja"


Sholeh bahkan tak perduli dengan air mata Sholeha yang sudah mengalir sejak tadi, emosinya sangat tak terkendali.


Sholeha semakin tak menyangka jika suaminya bisa berkata seperti itu, " Mas, apa yang sedang kamu bicarakan. Aku juga tidak ingin seperti ini, beri aku waktu, aku ini masih menyesal karena menikah secepat ini, hingga tak bisa merawat Ibu, beri aku waktu "


Sholeh mengeraskan rahangnya, " Apa kata mu, menyesal ?" kata Sholeh tak terima.


Sholeha terdiam tak menyadari ucapannya, ia menatap wajah suaminya, matanya begitu tajam padanya, kabut amarah terlihat begitu jelas menyelimuti, seketika ia menciut, gemetar ketakutan.


" Katakan lagi, sungguh aku akan mengabulkan keinginan mu, untuk bebas" kata Sholeh begitu berat, menahan amarah.


Seolah kekuatan kakinya hilang begitu saja, Sholeha merosot dari duduknya bersimpuh di kaki suaminya, ia tau kata-katanya salah, tetapi bukan berarti bermaksud mengakhiri pernikahan.


" Aku, maaf.... Bukan itu maksud ku, Mas jangan katakan apa pun. Aku, aku tak ..." Suara Sholeha tak terdengar begitu jelas, ia telah menangis sejadi-jadinya di kaki suaminya.


Sholeh mengusap kasar wajahnya, dia tau ini sangat menakutkan untuk istrinya, tetapi amarahnya sungguh tak bisa lagi ia pendam. Akhirnya ia meraih pundak Sholeha yang terus bergetar, tak sampai hati melihatnya menangis di hadapannya.


Wajah yang tadi bersemu, berubah menjadi banjir air mata, ingin sekali ia memeluknya, tetapi rasa kesal belum bisa pergi dari hatinya.


Sholeh mendudukkan istrinya kembali di tepian ranjang, berganti ia yang duduk di depan pangkuan Sholeha. Sholeh mengusap kedua tangan istrinya, rasa dingin telapak tangan Sholeha menerpa genggamannya. Dia sangat ketakutan.


" Maaf, aku salah. Jangan menangis seperti ini, " ucapnya pelan.


Sholeha yang masih terisak tak bisa menjawab apa pun, dia begitu takut dan bingung dengan keadaan ini.


Sholeh melepas genggamannya, dia beranjak dari hadapan istrinya, " Aku pulang dulu. Ibu menungguku" katanya, ia melangkahkan kaki.


" Mas...." Panggil Sholeha mengejar suaminya.

__ADS_1


" Tetaplah di sini, biar aku sendiri yang pulang" kata Sholeh, tanpa berbalik pada sang istri.


Dia benar-benar keluar dari kamar, menutup pintu dengan rapat. Pikirannya begitu tak karuan, apa lagi melihat istrinya seperti itu, pergi darinya adalah pilihan agar ia bisa berpikir lebih tenang.


Sejak di jalan pulang tadi, Sholeh begitu tak sabar ingin menegur istrinya, sebab itu lah ia memilih langsung ke rumah mertuanya. Tanpa sengaja, ia bertemu ayah mertuanya pulang dari masjid.


" Loh tumben Le, sudah mau pergi lagi ?" katanya pada sang menantu.


Sholeh menghampiri Sulaiman lebih dekat, " Ibu sedang sakit Pak, saya harus pulang" ucapnya begitu tenang.


" Istrimu ndak ikut ?"


Sholeh diam saja, " Sholeha pie to, Ibuk nya sakit malah ndak di lihat, malah sibuk masak banyak di rumah. Biar Bapak yang tegur -,


" Ndak usah Pak, ndak papa" kata Sholeh memotong ucapan ayah mertuanya.


" Kamu ini aneh, di ajak to Leh, Bapak kira dia sibuk di dapur seharian memang mau ke tempat Ibunya." Ucapnya lagi.


Sholeh tampak bingung harus mengatakan apa, " Biarlah Pak, dia lelah, besok saja ke sananya" katanya dengan sangat pelan.


***


Sulaiman menggelengkan kepala, melihat mobil Sholeh yang begitu cepat berlalu, menantunya itu memang sedikit berbeda kali ini. Ia meneruskan langkahnya, perutnya sudah begitu lapar, tak sabar menyapa ayam bakar buatan putrinya.


Saat di meja makan, ia terkejut melihat semuanya masih sangat rapi dan bersih. Sholeha juga tidak terlihat di sana, ia berpikir jika Sholeh sempat makan, seperti apa yang di ceritakan Sholeha tadi.


Merasa ada yang janggal, Sulaiman mengetuk pintu kamar putrinya, hingga panggilan ke tiga tidak juga di jawab oleh Sholeha.


" Nduk, ndak jadi makan malam spesial dengan suami mu, itu kok masih utuh, ndak papa kalau Bapak habisin ?" katanya dengan bergurau.


" Bapak makan saja dulu, Mas Sholeh ndak mau makan di sini " Jawab Sholeha samar-samar dari dalam kamarnya.

__ADS_1


Sulaiman terheran, padahal sore tadi putrinya itu sangat bersemangat, sampai ndak mau di ganggu ketika masak. Tapi sekarang malah mengurung diri.


Rasa curiga semakin timbul di hati Suliman, berusaha menebak satu kemungkinan yang telah terjadi di antara anak dan menantunya.


Ia mengurungkan niatnya untuk makan, dengan rasa gelisah nya Sulaiman duduk di depan televisi yang tak menyala. Berharap putrinya segera membicarakan sesuatu dengannya.


***


Dengan tubuhnya yang meringkuk, Sholeha menangis sejak suaminya pergi. Sungguh dia tidak mengetahui jika Ibunya sedang sakit, rasa bersalah kembali menerpa hatinya. Sedikit pun ia tak bermaksud mengabaikan mertuanya, tangisnya semakin bertambah kala mengingat wajah suaminya yang marah, kecewa hingga mengatakan sesuatu yang mengerikan padanya.


Sholeha mendengar dengan jelas ketukan pintu sang ayah, dia hanya tak enak hati harus menunjukan wajahnya yang seperti ini. Saat adzan isya selesai, Sholeha bermaksud mengambil air whudu, dia mengira bapaknya tak ada.


" Nduk, ?"


Sholeha terkejut, melihat ayahnya keluar dari kamarnya. " Bapak ?" ucapnya lirih.


" Kita duduk sebentar " Sulaiman duduk di sofa terlebih dahulu, ia bahkan sempat menunggu.


" Sebentar saja, " kata Sulaiman lagi.


Sholeha tak bisa lagi mengelak, dilihat dari wajah sang ayah, pasti ia mencurigai sesuatu. Takut-takut ia duduk di seberang sofa, mencoba tenang menghadapinya.


" Sudah Bapak ingatkan, suamimu pasti tidak nyaman dengan keadaan ini. Pikirkan kondisinya juga Sholeha, dia juga sangat takut terjadi apa-apa dengan Ibunya, sama seperti kamu. Sudah cukup nduk, jangan terlalu khawatir pada ku. Bapak baik-baik saja"


Sholeha tak menjawab sama sekali, di sendiri telah menyadari kesalahannya. Tetapi hatinya begitu berat, jika meninggalkan bapaknya sendiri. Sholeha kembali menangis, mengapa harus ada jalan yang seperti ini dalam kehidupannya.


" Nduk, cepat atau lambat Bapak juga sama akan pergi seperti Ibuk mu, jangan terlalu memaksa, aku sungguh tidak apa-apa. Sebaliknya, kamu jangan sampai kehilangan suamimu hanya karena masalah seperti ini, Bapak bisa datang ke rumah mu dan Mas mu kapan saja, ingat Sholeha, masih ada Mas mu, dia juga tetap peduli dengan Bapak. Jangan terlalu khawatir, fokuskan dirimu pada suamimu, ingat kamu juga sedang mengandung."


Sholeha menangis lagi, dia tak tau jika pikirannya masih begitu dangkal, berbuat sesukanya tanpa keputusan yang benar.


" Tenang lah Nduk, Bapak tidak akan menikah lagi, jangan berpikir aku kesepian" ucap Sulaiman sedikit tertawa, bermaksud menghibur Sholeha.

__ADS_1


Sholeha menghapus air matanya, " Bapak, Sholeha takut. Mas Sholeh tadi sangat marah"


***


__ADS_2