Cinta Sholeha

Cinta Sholeha
Warung bakso


__ADS_3

Rabu ceria di pagi yang cerah ini, begitu juga dengan suasana kediaman Rizal yang terlihat sibuk tidak seperti biasanya.


Sesuai dengan rencana, Rizal dengan di bantu oleh keluarga besarnya sedang bersiap akan mengadakan tasyakuran khitan Fatih, putra pertamanya. Sebagian persiapan memang sudah dilakukan, beberapa keluarga Ayu juga bergantian datang untuk membantu.


Acaranya memang tak besar dan meriah, hanya saja keluarga dan kerabat keduanya sangat banyak, jadi terlihat sangat ramai. Seperti kakak dan adik sepupu Rizal yang juga bergabung membantu hajatnya kali ini. Namanya juga di desa, acara kumpul keluarga pasti akan sangat ramai di tambah kerabat dekat dan jauh yang juga hadir belum lagi tetangga yang selalu di ikut sertakan dalam segala hal.


Pagi ini rencananya Sholeha akan memesan beberapa buah di pasar dan membeli kebutuhan yang kurang atau belum terbeli. Awalnya Sholeha hendak pergi bersama Rizal, namun Fatih tidak mau jika di tinggal ayahnya itu. Setelah sunatnya sembuh, Fatih malah manja dan tidak ingin di tinggal. Akhirnya Sholeha pergi sendiri, ia juga memperkirakan hanya satu jam sudah bisa pulang kembali.


Seperti biasa ia di temani motor kesayangannya menuju pasar terlebih dahulu, sebelum ia menemui penjual kue tradisional untuk melunasi pembayaran.


Sebenarnya Sholeha agak kesiangan pergi ke pasarnya, tapi tidak masalah toh dia hanya membeli sedikit dari keperluannya.


Suasana pasar yang seharusnya mulai lenggang itu ternyata masih di padati pengunjung. Sholeha bergegas menemui pedagang buah langganan Ayu untuk membayar dan memastikan kembali pesanannya.


" Pak saya jadi ya pesan semangkanya ?" Sholeha mengulurkan beberapa uang pada pedangnya.


" Pesanan Bu Ayu ya Mbak?"


" Iya Pak, besok pagi di antar ya!"


" Oh iya Mbak, pagi ya Mbak, siap siap" jawabnya sangat antusias.


" Terima kasih ya Pak"


Sholeha meninggalkan kios itu, dia meneruskan langkahnya ke kios sebelah dia akan membeli beberapa bal tisu .


Baiklah, hanya membawa lima bal tisu yang tak seberapa berat itu Sholeha sudah bisa menuju tempat selanjutnya. Cuaca hari ini juga sangat mendukung jalan Sholeha menyelesaikan tugasnya. Tidak panas dan juga tidak hujan, hanya sedikit mendung hitam berkelompok . Belum juga sampai setengah jalan, dengan terkejut Sholeha mendapati motornya kempes mendadak.


Motor Sholeha tak bisa lagi berjalan, sepertinya motornya menyerah untuk perjalanan kali ini.


Astagfirullah.....


Kok kamu merajuknya sekarang sih?


gumam Sholeha sendiri pada motornya.


Sholeha turun dari motornya, di lihat ban motor depannya yang sudah tak berangin lagi. Setelah menepi, Sholeha tampak berpikir mencari solusi. Dia tahu di mana tempat tambal ban berada, jika berjalan dari tempatnya sekarang mungkin hanya lima belas menit. Sholeha mencoba mendorong saja, dia tau meskipun berat, ini tidak akan lama.


Dengan mempercayai perkiraannya. Sholeha memberanikan diri untuk mendorong motor nakal itu, bahkan sang empu tidak habis mengomelinya.


Mau tidak mau dia harus lebih cepat sampai bengkel dari pada terdiam di pinggir jalan.


Hebat kan gadis yang satu ini? hehe


Perkiraan lima belas menit ternyata meleset, dengan susah payah sepuluh menit Sholeha sudah sampai di bengkel, sedihnya dia tidak bisa menunggu.


Ada tiga antrean motor disana, Sholeha juga harus segera melunasi pesanan kue.


" Masih lama ya Mas?" tanya Sholeha sekali lagi.


" Mungkin satu jam kalau tidak berkendala Mbak" jawab laki-laki yang terlihat lelah sebelum tengah hari ini.


Sholeha tampak gusar, bagaimana jika uangnya di tunggu ? pikirnya.


Akhirnya ia menghubungi kakaknya meminta saran.


" Kenapa Nduk?"


"Mas bisa ndak suruh orang jemput Sholeha, motor Leha masuk bengkel nih "


"Kamu dimana?"


"Di bengkel Mas Udin dekat pasar Mas, antriannya panjang Mas Leha harus ke toko kue melunasi pesanan "


Rizal terdengar berbicara dengan seseorang, Sholeha tak begitu jelas mendengar.


" Ya sudah tunggu di situ aja Nduk!" pinta Rizal pada adiknya, dan terus mematikan telponnya.


Sholeha duduk di kursi yang di pinjamkan oleh mas Udin kepadanya.


Berharap tak perlu lama menunggu datangnya bantuan Sholeha mengetuk - ketuk layar ponselnya pelan. Tidak lama kemudian ia melihat seseorang penolong yang di utus oleh kakaknya. Siapa lagi jika bukan Sholeh, pria yang terlihat santai meskipun kemarin telah bersikap aneh kepadanya. Bagaimana tidak, Sholeha bahkan terheran-heran melihat beberapa pesan singkat yang dia kirimkan kepadanya. Sholeha menilai pria itu sedang ngelantur saat menuliskan hal sepele itu.


Dasar sok manis, kata Sholeha .


" Sudah lama menunggu?" tanya Sholeh.


Sholeha menggeleng.


" Ya udah yuk, saya antar habis itu kita balik lagi kesini"


Sholeha sedikit berdecak, dia tidak suka situasi ini, dengan enggan leha menaiki kursi penumpang yang begitu menyebalkan itu.


" Apa ndak ada orang lain?" gerutu Sholeha terdengar oleh Sholeh. Tiba-tiba Sholeha mendapatkan ide yang sangat baik dari pada harus berduaan dengan Sholeh, pria membosankan ini.


" Oh begini saja, Mas tunggu motor Leha, nah Leha pergi sendiri ke toko kuenya" Sholeha tersenyum pada Sholeh secara samar.


Sholeh terdiam, kemudian Sholeha segara turun dan membiarkan Sholeh turun dari motor juga. Ide Sholeha bisa di terima, ia menurut turun dari motor.


" Maaf ya Mas, agak merepotkan" Sholeha memberikan kunci motornya. Sebelum Sholeha benar-benar pergi ia kembali bertanya kepada sang pemilik bengkel.


" Mas ndak terlalu lama kan?"


" Tidak Mbak, sepertinya cepat ini" pria itu melihat kerjaannya yang hampir selesai.

__ADS_1


Sholeha melajukan motor Sholeh, dia tersenyum merasa berhasil menghindar dari Sholeh. Sebenarnya ia tidak berniat merepotkan Sholeh, hanya saja jika dia harus berduaan dengannya Sholeha akan repot mengatasi hati dan pikirannya yang selalu saja banyak tingkah.


" Maaf ya Mas" gumamnya pelan .


Sholeha mengingat ketika semalam dia terkejut membaca pesan dari Sholeh. Ia sampai menganga, dia tau itu sepele tapi cukup berhasil membuatnya tersenyum geli dengan sedikit berbunga-bunga.


Itu sebabnya dia sangat menghindari Sholeh, dia hanya belum siap merasakan gejala jatuh hati lagi, dia belum bisa.


Sebuah alasan tak masuk akal dan hanya dia yang mengetahuinya.


Apa boleh dia seperti ini sekarang?


Sudahlah Sholeha, kamu terlalu banyak berpikir. Bisa pusing sendiri kamu.


Toko kue yang ia tuju tidak lah jauh dari pasar, seperti yang ia duga tadi, pelunasan uang sedang sangat di tunggu. Apalagi Ayu memesan dalam jumlah cukup banyak. Dia juga di perlihatkan contoh kue-kue yang akan dikirim nanti. Deretan kue di etalase berjajar rapi nampak terlihat lezat dan manis, Sholeha jadi sangat ingin mencobanya. Matanya jatuh pada putu ayu yang terlihat sangat manis gurih menggoda lidahnya.


" Mbak, saya beli putu ayunya ya


dibungkus aja sepuluh ribu" akhirnya dia memesan, dengan sangat ramah pegawai itu segera mengemasnya dalam dua kap kecil.


Setelah membayar putu ayu dan pesanan Mbak iparnya, Sholeha bergegas kembali. Saat ia melihat motor yang dibawanya, di teringat Sholeh di bengkel tadi. Dia mengambil ponselnya, kali ini dia melakukan panggilan suara, dengan sedikit merasa kasihan Sholeha hanya bermaksud memastikan motor kesayangannya.


" Halo Mas, "


" Ya .... "


" Sudah beres?"


" Mungkin sebentar lagi"


"Loh kok lama?"


" Tidak Sholeha, ini belum ada satu jam"


" Mas bengkelnya kan tadi ngomong ndak lama, kamu bohong ya?"


" Kamu boleh cek kesini Sholeha" jawab Sholeh dengan pelan, dia tau suara yang diseberang sangat ingin mengomel.


" Hem.... ya sudah Leha ke sana"


Sambungan telpon begitu cepat terputus tanpa salam penutup, Sholeha hanya tidak enak hati jika meninggalkan Sholeh dengan motornya yang rusak itu.


Dia kembali ke bengkel, dari kejauhan memang benar pria itu masih duduk anteng melamun dan tampak bosan. Sholeha jadi tidak enak hati, dengan mengumpulakan beberapa senyuman yang terkesan di buat-buat, Sholeha menghampiri Sholeh.


" Maaf ya Mas, Sholeha ngerepotin" ucapnya pada Sholeh, yang sedang menatapnya.


" Santai aja, udah beres kok" Sholeh nyengir pada Sholeha, yang nampak merubah ekspresinya dalam sekejap. Dia terlihat manyun.


" Sengaja ya?" tanya Sholeha dengan sebal.


" Kemana?"


" Ya pulang lah Sholeha, ?" Sholeh tampak tersenyum gemas melihat Sholeha, dia merasa di bohongi.


" Ya sudah, " jawabnya sedikit ketus.


Tanpa menukar kedua motor metik itu, mereka berjalan membelah jalan bersama.


Namun sebelum itu Sholeh menghentikan Sholeha . " Kita mampir ke sana dulu ya" Sholeh menunjuk sebuah tempat makan yang terlihat indah dan kekinian. Kebetulan tak jauh dari seberang bengkel.


" Ngapain?"


" Kita perlu bicara, "


" Ih makan juga dong, masa cuman numpang ngobrol" jawab Sholeha ketus, kali ini terlihat ada senyuman sedikit terselip di wajahnya yang merajuk.


" Iya deh iya" Keduanya meninggalkan motor di parkiran bengkel, mereka menyebrang menuju tempat yang dimaksud Sholeh bersamaan.


Dalam hati Sholeh sudah ribut sibuk bertanya- tanya. Ketika masuk, Sholeha terkejut ia di suguhkan nuansa kafe mewah di dalamnya, sangat bersih dan nyaman. Sholeha bahkan baru mengetahui jika di sekitar sini ada tempat sebagus ini. Mulutnya tak berhenti berdecak kagum, Sholeh bahkan menyadari itu.


" Kita duduk disana ya," tunjuk Sholeh pada kursi berada sedikit dekat dengan kasir.


" Mas, di sana aja ya" tunjuk Sholeha pada kursi dekat jendela. Bukan jendela, lebih tepatnya dinding yang terbuat dari kaca sepenuhnya. Persis di langganannya.


" Boleh deh" Sholeh menurut.


Suasana rumah makan yang sangat mewah ini, terbilang cukup ramai pengunjung. Sholeha menilai dengan cukup baik pilihan tempat Sholeh kali ini.


Sangat santai dan cukup nyaman.


Sholeha tersenyum ada menu kesukaannya di sana, bakso ya dia akan makan bakso kali ini.


" Kamu ndak pesan nasi saja?"


" Pengen bakso "


" Sudah sarapan?"


" Belum sih tadi, dah bakso aja ndak papa"


Setelah memesan keduanya duduk menunggu, tiba-tiba Sholeha di serang rasa canggung yang begitu mencekam.


Apa lagi ketika mengingat Sholeh mengatakan perlu bicara dengannya tadi.

__ADS_1


Dengan takut-takut ia melirik Sholeh, memastikan ada hal apa dalam wajahnya.


Sholeha terkejut, ketika Sholeh ternyata sedang menatapnya lekat.


" Astagfirullah..." ucapnya spontan dengan pelan.


Sholeh nampak ikut terkejut, namun tak seberapa.


" Ada yang perlu kamu tanyakan ?" tanya Sholeh dengan kaku.


" Ha , eng - , tidak ." Sholeha menggeleng cepat.


" Kamu boleh bertanya Sholeha, termasuk..... Tentang Rahma" ungkap Sholeh pelan.


Sholeha kemudian menunduk, ada rasa aneh ketika nama itu di sebut kan oleh Sholeh. sekuat mungkin ia mengentikan mulutnya untuk bertanya, Sholeha tidak ingin banyak tahu soal ini.


Sholeha merasa kehilangan selera makan seketika, dia hanya merasa kalah seketika meski hanya mendengar namanya di sebut, sebegitu ciutnya Sholeha merasa.


Padahal sehari semalam dia berusaha melupakan tanpa mencari jawaban, mengapa Sholeh mengingatkan kembali kali ini. Sholeha memang terlalu takut, entah takut yang bagaimana ia rasakan saat ini, dia juga tidak mengerti.


" Rahma hanya teman saya ," Sholeh berusaha membuka perbincangan canggung itu.


" Aku tau " Sholeha masih menunduk .


" Dulu aku menyukainya" bagai datang tornado di tengah keramaian, seolah semua menjadi berantakan dalam hati Sholeha.


Dia cukup tau ini pasti kenyataannya, sudah berusaha menghindar nyatanya sampai juga pada telinganya. Sholeha dengan berani menyimak lebih dalam tanpa membuka suara sedikit pun. Baru saja Sholeh akan meneruskan perkataannya, pesanan mereka datang.


" Boleh jika saya makan dulu" Sholeha berusaha menunda kelanjutan cerita ini.


Dia tidak ingin melewatkan bakso dalam mangkuk dengan percuma. Sholeha tau kisah ini akan sangat menguras emosinya, entah mengapa dia seolah membutuhkan waktu dan kesiapan secara sempurna, dia juga tidak paham.


" Ya sudah kita makan dulu" jawab Sholeh terlihat sedikit mengendurkan rahang wajahnya yang sedikit kaku.


Tidak sampai sepuluh menit, Sholeha menyelesaikan urusan perutnya, dia lebih siap sekarang. semangkok bakso tadi akan jadi kekuatan lebih untuk urusan hati kali ini. Tanpa menunggu Sholeha langsung melanjutkan pembicaraan tadi.


" Lalu apa rencana selanjutnya, Sholeha yakin masih ada episode lalu yang belum kalian selesaikan?" tanya Sholeha terus terang pada intinya .


Kali ini Sholeha dengan berani mengamati wajah lelaki yang sangat di sukai oleh keluarganya, pria yang membuat ibunya berkali-kali mengatakan banyak kata ancaman kepadanya. Sholeha ingin tau, seperti apa sosok Sholeh sebenarnya. Terlihat jelas jika ia tak bisa mengatakan dengan jujur, bahkan sampai terdiam cukup lama hanya mengaduk es teh manis dengan arah yang begitu berantakan.


Apa maksud pria ini?


" Episode lama bagai mana, saya hanya menyukainya dulu Sholeha, tidak ada cerita lain" Sholeh bahkan tersenyum.


Apa katanya tadi hanya menyukainya, dia pikir awal terjadinya cinta tidak dari suka.


huh.... dasar laki-laki.


" Sekarang?" tanya Sholeha tak bisa lagi mengatur laju mulutnya yang penasaran.


"Em - tentu masih suka " jawabnya semakin jujur.


Ini tidak adil, Sholeha sudah di khianati sahabat dan mantan pacarnya, ia patah hati sekaligus kecewa, mengapa Sholeh masih menyukai orang lain.


Setidaknya Sholeh tak seburuk dirinya sekarang, bagaimana Sholeha tak kesal dan iri. Kedua matanya mulai berembun dia sangat sedih menyadari hanya dirinya yang sangat terpuruk di sini.


" Lalu kita bagaimana?" dengan polosnya Sholeha mengatakan itu, dia butuh kepastian sekarang ini.


" Maksud kamu, kita ya akan tetap jalan begini OTW nikah kan?" kali ini Sholeh bercanda dengan sedikit menggoda.


" Emang kita bisa, kita belum sama-sama siap Mas "


" Kita jalan aja dulu Sholeha, kita perjelas lagi hati kita sama-sama, kita tau bahwa kita butuh waktu"


Entahlah Sholeha hanya merasa pria ini hanya sedang menghiburnya, dari tadi dia tidak mengakui dan memperjelas perasaannya, ah mungkin dia menganggap Sholeha ini anak kecil yang polos tak tahu apa pun. Baiklah Sholeha juga tak punya pendapat lain nanti saja, jika dia punya alasan pasti tentang hubungan ini barulah ia meminta meminta hak tempat di hatinya.


" Terserah Mas saja, tapi Sholeha ndak mau di khianati" Sholeha menekankan kata-katanya.


Pria dewasa lima tahun di atasnya ini, berhasil menenangkan hati Sholeha yang merasa galau beberapa hari ini.


Sholeha tidak berani berpikir lebih jauh lagi,


asal pria di hadapannya ini masih bersedia jujur Sholeha juga akan mencoba menghormatinya.


" Siap cemburu berarti ya ?" Sholeh kembali meledeknya.


" Huh, terserah " mata Sholeha sedikit memperlihatkan rasa kesalnya.


Sholeha tidak menyangka dia akan membicarakan hal ini di sini, jika melihat sikap Sholeh yang lebih santai dan tenang ini sepertinya dia telah mempersiapkan segala jawaban dari pertanyaannya.


Dia juga melihat tawanya yang kembali seperti semula, jauh berbeda ketika malam kemarin. Sholeha masih terus diam menyelami pikirannya sendiri, tiba-tiba Sholeh mengetuk-ngetuk meja di hadapan Sholeha.


" Hah kenapa?" ia terkejut.


" Mau pulang, atau masih betah disini?"


" Iya pulang, sekarang" dia segera berdiri, hendak ke kasir.


" Udah saya bayar Sholeha...." cegah Sholeh.


" Hah , kapan?"


" Kamu tuh, ngelamun terus " Sholeh berdecak heran. Masih dengan kebingungan, Sholeha mengikuti langkah Sholeh keluar. Sholeha tampak mengikuti laki-laki itu dengan sangat patuh, terlihat ketika keduanya menyebrang jalan bersama seperti seorang ayah mengantar anaknya sekolah.

__ADS_1


***


__ADS_2