Cinta Sholeha

Cinta Sholeha
Dia suka berpikir sendiri


__ADS_3

Sore itu sebelum Sholeha mampir ke rumah calon mertua.


Di rumah Sholeh.


Sholeh sedang membantu ibunya memetik kangkung di dapur, ia sedang meluangkan waktu untuk ibunya. Meskipun kata membantu itu lebih sering diartikan hanya menonton saja. Hanya sekedar menemani ngobrol dan sebaginya.


Sejak ayahnya meninggal ia berusaha lebih memperhatikan ibunya, meskipun bu Nur selalu mengatakan dia sehat, bahagia dan tidak bersedih. Tetap saja Sholeh tidak bisa meninggalkannya sendiri. Sebab itu lah dia tak bisa jauh- jauh darinya.


" Buk, Sholeh jadi ya buat rumah lagi" katanya pelan dan serius. Ibu Nur menghentikan tangannya yang sedang memotong bawang. Di pandangnya wajah putranya itu dengan sayang.


" Sudah di pikirkan dengan matang Nak, Ibu setuju-setuju saja asal kamu yakin dan sanggup, terutama soal dana Nak, jika belum bisa tidak usah memaksa Rumah ini juga masih bagus, masih nyaman ditinggali istri dan anak mu kelak" ucapnya tenang.


" Insyaallah Sholeh bisa Bu, Ibu doa kan saja yang terbaik ya buat hajat ku ini, Sholeh tidak keberatan tinggal disini Bu, Ibu tau jika Sholeh akan merenovasi dan meluaskan toko kita," Sholeh memegangi kedua tangan ibunya, meminta dukungan dan sedikit meyakinkannya.


Sholeh dulu memang tidak niat meneruskan usaha ayahnya, setelah ia menjadi sarjana sebenarnya akan meneruskan S2 nya saat itu. Namun ayahnya tiba-tiba sakit dan terpaksa dia harus menunda, dia harus menggantikan ayah mengelola toko saat itu. Setelah setahun ternyata ayah meninggal dan Sholeh memutuskan tidak meneruskan rencananya itu. Sekian lama berkembang dia memiliki keinginan mengembangkan usaha itu lebih besar lagi. Toko itu menjual aneka sembako dan kebutuhan sehari-hari, termasuk sayur. Lama kelamaan ada toko material bangunan juga ia sediakan, benar saja usahanya berkembang pesat . Alhamdulillah.


Bangunan toko dan rumahnya yang masih jadi satu membuat Sholeh berkeinginan membuat rumah lagi.


Tujuannya agar rumah dan lahan usaha nya bisa terpisah dan rapi. Rencana membangun rumah baru sudah ia pikirkan sejak lama, namun bu Nur belum memberikan izin. Barulah kali ini ia merayu ibunya kembali untuk memberinya restu.


" Rencananya Sholeh mau ke rumah Mas Rizal sore ini, tak coba tanya-tanya rinciannya" ucapnya lagi pada sang ibu.


" Kamu sudah mantab mau Rizal jadi pemborongnya?" tanya bu Nur lagi.


" Iya Bu, sudah cocok sama Mas Rizal" jawabnya yakin. Kemudian dia pamit langsung ke tetangganya yang sebentar lagi jadi iparnya.


Kebetulan dia sudah mandi, bertamu di sore hari ke tetangga dekat tidak akan menggangu toh Sholeh sudah memberi kabar ke pada Rizal. Ternyata belum jauh dari rumah dia sudah melihat Rizal sedang duduk santai di teras rumahnya, bergegas lah ia menemui Rizal.


" Kenapa kamu Leh, sepertinya bahagia sekali" sambut Rizal ketika Sholeh mendaratkan bokongnya pada kursi kayu.


" Seneng aku Mas," Sholeh mesam-mesem tidak jelas.


" Dapat lotre tah?" desak Rizal ikut tertawa juga.


" Jadi aku buat rumahnya, Ibu sudah kasih izin" jelasnya singkat.


" Alhamdulillah, dapat job aku" jawabnya kegirangan.


Mereka memang sudah membicarakannya cukup lama, benar-benar hanya tinggal menunggu persetujuan dari bu Nur dan menentukan waktunya saja.


"Jadikan disebelah rumahmu yang sekarang?" Rizal memastikan.

__ADS_1


" Iya Mas, biar ndak jauh-jauh dari sampean " candanya sembari tertawa renyah


" Nanti kita bahas lagi lebih lanjut ya Leh, kerjaan ku yang sekarang belum kelar"


Rizal kembali serius membicarakan bisnis.


" Baik lah Mas, jangan terlalu lama nanti keburu aku nikah " tawanya lagi, membuat Rizal spontan menendang pelan kaki Sholeh.


" Kamu kira 3 bulan langsung kelar, kalau mau nikah ya tinggal nikah saja dulu jangan mendesak ku begitu, kamu pikir gampang. Sana pinjam jin yang bangun candi Prambanan biar cepat!" omelnya pada Sholeh yang semakin terkekeh.


Tawa Sholeh belum reda, tiba-tiba saja ia melihat sosok wanita yang baru saja di lamar nya kemarin malam, mendekat ke arahnya. Sepertinya dia mengantar Al pulang setelah dari rumahnya, dia tampak tak menyadari keberadaannya di sana.


Setelah ia mendengar Al berteriak memanggil nama Sholeh, barulah Sholeha terkejut dan mencari keberadaannya.


Mereka saling pandang sesaat, Sholeha memutus terlebih dahulu. Ketika si kecil Al menghampiri Sholeh, Sholeha menemui mas nya dan langsung pamitan pulang.


Mendengar Sholeha akan pulang langsung saja Sholeh menahan dengan beralasan akan mengantarnya sehabis magrib nanti. Bahkan dia mengajak nya menemui ibunya.


Awalnya hanya asal ngomong saja Sholeh akan mengantar Sholeha pulang, tidak disangka Rizal malah mengizinkan. Berhubung hatinya sedang bahagia, dia berusaha berbagi juga pada calon istrinya yang cukup ia kenal. Dia terlihat sedikit cemberut di mata Sholeh, tapi Sholeh meyakini jika sikap itu hanya sesaat dan dia tidak menolak meskipun ia sadar sedikit memaksa tadi.


Bahkan sempat terdengar dia menggerutu pelan. Sholeh hanya tersenyum kecil menanggapi, Sholeha bahkan tak mengetahuinya. Sholeh tetap diam tak ingin menambah kekesalan Sholeha, sepanjang jalan dia hanya fokus mengikuti langkah Sholeha dan mendengarkan kumandang azan.


Sholeh memutuskan pergi ke masjid seperti biasanya, dia tau Sholeha akan lebih nyaman jika hanya bersama dengan ibunya. Ibu nya tidak akan banyak bertanya pada Sholeha, Sholeh bahkan asal saja menyuruh nya masuk kedalam rumah. Selain tak sempat mencari ibu, tapi juga sudah terdengar iqomah di masjid.


Mudah-mudahan saja Sholeha tidak keberatan menunggunya sebentar. Jika tidak mepet dengan waktu magrib mungkin dia tidak terburu-buru seperti ini.


Sebelumnya dia memang ada niat ingin mengajaknya ke rumah meskipun hanya sebentar, dia merasa Sholeha perlu mengenal ibunya secara dekat. Meskipun sepertinya mereka memang sudah dekat. Dan ada sedikit hal yang ingin ia bicarakan dengan Sholeha.


Setelah turun dari masjid, Sholeh bergegas pulang, dia ingat harus mengantar Sholeha pulang. Suasana rumah yang sepi, dia menduga jika Sholeha dan ibunya pasti sedang sholat. Sholeh memilih menunggu di ruang tengah, dia duduk diam tanpa melakukan apa pun.


Terlihat ibu berjalan ke arahnya, dan lihat lah Sholeha, dia sampai sembunyi di balik tubuh ibu. Apa dia se-malu itu kepadanya? di lihatnya ibu juga sampai terkekeh melihat sikap lucu Sholeha. Niatnya dia ingin duduk dulu sebentar, tapi ibu langsung mengomeli nya habis-habisan. Sholeh tau jika ibu hanya bercanda, dia sengaja menyelamatkan calon menantunya itu dari rasa tidak nyaman. Sholeh sampai menyesali ke putusannya mengajak Sholeha ke rumah, belum lagi Sholeha yang terlihat kurang suka dengan keadaan sekarang ini. Sempat berdebat kecil di depan ibunya, hanya karena perkara pulang Sholeh bisa sedikit menyimpulkan jika Sholeha wanita keras kepala tapi pemalu.


Sholeh akhirnya menang dari Sholeha dan mengantarnya pulang, sekalian dia juga ingin menemui pak Sulaiman, calon mertuanya. Mengawalnya dari belakang, ah lucu sekali. Sebenarnya Sholeh hanya tidak mengatakan jika dia juga ada kepentingan lain di rumahnya.


Sholeh hanya tersenyum melihat Sholeha yang merasa di paksa untuk di antar pulang. Sebenarnya dia juga tak seromantis itu. Dia hanya memanfaatkan kesempatan, sekalian jalan saja pikirnya.


Sholeh tau dia telah membuat Sholeha salah paham, sampai-sampai ia mengerucutkan bibirnya tanda tak setuju.


Setelah sampai di rumah, terlihat ia mengubah ekspresinya sedikit ramah, mungkin tidak enak jika dilihat bapaknya.


Tanpa diminta pun Sholeh pasti akan mampir, tak di sangka Sholeha malah menawarkan minum segala. Senyumnya manis sekali, puji Sholeh dalam hati. Ah lagi-lagi dia berubah dengan begitu cepat.

__ADS_1


Karena bapak tiba-tiba kebelakang Sholeh jadi sempat melamun sebelum muncul Sholeha dengan dua cangkir teh hangat. Ternyata yang manis bukan teh hangatnya saja, Sholeha juga terlihat manis hari ini. Hari ini terlalu lama Sholeh memandang gadis ini, dia bahkan sedikit keracunan.


Sholeha tidak langsung pergi, apa ada hal penting? tanyanya dalam hati.


Atau jangan-jangan dia masih tidak terima di antar pulang tadi?. Semakin banyak hal yang dia pikirkan karena Sholeha diam cukup lama. Sholeh sampai gemas memandangnya diam saja, kemudian tak lama dia mengatakan bu kades, ah dia mengatakan soal hubungan yang tersebar kemana-mana. Mungkin paman yang mengatakan pada istrinya, apa Sholeha tidak tau jika pamannya seorang kades, meskipun bukan di desa mereka tinggal. Sholeh kembali tersenyum. Wajar kan jika muncul info dari bu kades?


Setelah mengatakan beberapa kata motivasi untuk menenangkannya, Sholeh justru melihat ke khawatiran di wajah Sholeha. Sepertinya Sholeha salah sangka lagi, lihat lah setelah bapak datang dia langsung kabur tak berpamitan lagi. Dia memang gemar berpikir sendiri, Sholeh menyimpulkan sifat Sholeha yang baru dia ketahui hari ini.


Suliman kembali keluar setelah menuntaskan hajatnya yang mendadak.


" Bapak ndak apa-apa kan, Sholeha bilang sakit perut?" tanya nya memastikan.


" Ndak sakit kok Le, mules biasa habis makan pedes tadi, ayo di minum tehnya! " tawarnya sambil mencomot keripik pisang balado.


" Oh iya Leh, ini bukan buatan Sholeha ya, dia itu tidak pintar dalam urusan membuat makanan, bapak kasih tau sekarang jadi kamu jangan berharap banyak soal perutmu nanti!" selorohnya sambil terkekeh.


Sulaiman memang gemar menceritakan apapun tentang Sholeha selama ini, tak jarang juga dia memuji namun seingat Sholeh calon mertuanya itu malah sering menceritakan apa yang tidak mampu di kerjakan putrinya. Sholeh sampai merasa kenal tanpa mendekat pada calon istrinya itu. Terlihat jika banyak orang menyayanginya, terlebih pribadinya yang penurut dan periang. Sikap orang terdekat nya sangat memahaminya.


"Sholeh cari tau sendiri yak Pak, sepertinya bapak sedikit berbohong " Belanya pada Sholeha.


" Ha ha ha... Kamu memang pantas jadi mantu ku." jawabnya enteng.


Sholeh jadi malu sendiri mendengarnya.


" Oh iya Pak, Sholeh kesini mau kasih tau material nya sudah ada semua, besok mungkin di kirim kesini, kalau ada tambahan biar Sholeh bawa."


Akhirnya Sholeh menyampaikan kepentingannya, nampaknya mode bisnis kembali on.


" Alhamdulillah kalau gitu, ndak ada lagi kok Le, biar nanti Rizal yang cek langsung.


Cuma renovasi ini, mungkin tak seberapa banyak habisnya"


" Oh iya, dan ini sisa uang ya Pak, Sholeh juga kasih nota" dia menyodorkan lipatan kertas.


Tanpa membukanya Suliman langsung mengucapkan terima kasih pada Sholeh. Begitu pun dengan Sholeh, dia juga mengucapkan banyak terima kasih pada Sulaiman. Karena konsumennya calon mertua, jadi dia mengantar sendiri nota pembayaran tanpa meminta mengutus pegawainya, kebetulan dia juga memang sangat menyukai perbincangan santai dengan Sulaiman. Menurutnya asyik dan tidak membosankan.


Dulu sebelum dia melamar Sholeha, ia juga beberapa kali ada kesempatan berbincang bersama dengan Sulaiman. Sebenarnya Sholeh juga tidak menyangka beliau malah memintanya jadi menantu. Yah, akhirnya ia menyetujuinya setalah pertimbangan yang cukup matang, dia yakin meminang Sholeha. Biarpun katanya Sholeha sedang patah hati, Sholeh hanya perlu menunggu dalam hubungan ini, yang semoga tidak diputus sampai menjadi resmi suatu saat nanti,


Apapun hasilnya nanti, mencoba demi kebaikan diri dan juga ibunya ini, Sholeh tak perduli jika sebenarnya dia belum membereskan banyak hal dalam hatinya.


Dia akan melakukannya dengan perlahan toh Sholeha juga sama, berada di satu situasi yang tak cukup berbeda, entahlah Sholeh juga menyimpulkan seperti itu.

__ADS_1


Kira-kira apa jadinya nanti, dia juga tidak tau.


***


__ADS_2