Cinta Sholeha

Cinta Sholeha
Box kenangan


__ADS_3

Setelah membereskan semua sudut kamarnya, Sholeha memutuskan istirahat sebentar. Dia duduk bersandar pada kepala ranjang, memandangi ruang kamarnya yang terlihat lebih rapi. Satu box berukuran sedang masih tergeletak di depan pintu, semua kenangan tersusun rapi di dalamnya.


Meskipun tidak semua, Sholeha sengaja menyimpan benda-benda usang dan membuang yang tidak lagi terpakai. Perlahan ia mengusap keringat yang membanjiri dahi, sembari menghembuskan beberapa kali nafasnya.


"Ternyata kamar ku hampir jadi gudang" dia memberikan penilaian sendiri pada ruangan yang telah ia huni dari kecil itu.


Sembari menikmati hembusan angin dari jendela yang terbuka, membuat kedua matanya di serang kantuk yang luar biasa.


Dia tertidur.


Dinding kamar yang terlihat lebih cerah dengan warna cat biru telah menjadi saksi di berbagai suasana hati penghuninya.


Dia yang terkadang tiba-tiba menangis tiada henti, kadang tertawa tanpa ada rasa lelah bahkan saat dia terlelap dengan penuh kedamaian, kini terlihat lebih rapi.


Sholeha anak rumahan yang tak akan pergi jauh dari kamarnya itu selalu menumpahkan keluh kesahnya di dalam ruangan yang tak begitu luas itu. Di paginya yang terkadang tergesa dan di saat malamnya yang terjaga karena hati yang tak karuan.


Entah berapa lama dia tertidur, suara perutnya yang keroncongan membuatnya terbangun, dia merasa lapar. Sholeha terduduk dan masih memindai suasana kamar yang terasa lebih lega dan rapi, ia mengumpulkan kesadarannya.


Beranjaklah ia dari ranjang, sembari mengangkat satu box kenangan usang miliknya. Ketika sampai di depan pintu dapur, ibu melihat Sholeha, dia baru saja keluar dari kamar mandi. Semoga saja dia tidak bertanya banyak hal tentang box yang sedang aku bawa ini, ucapnya dalam hati.


" Kamu bawa apa Nduk?" tanyanya penasaran.


" Ah ini, Sholeha habis beres-beres biar agak rapi dari banyak yang jadi sarang debu apa lagi barang lama semua Bu. Sempit aja rasanya" jelasnya tanpa berbohong.


" Tumben mau berberes, apa sudah inget bentar lagi mau jadi kamar penganten ya? ledek ibu di barengi kekehan.


" Ah Ibu, masih lama Bu Leha menikahnya, tiga bulanan lagi kan?"


" Kata siapa masih lama, kamu pikir setiap harinya tidak berkurang, sekarang saja sudah hampir sepuluh hari loh kamu lamaran dengan Nak Sholeh, hitung saja tinggal berapa hari lagi" ibu bahkan menyuruhnya menghitung hari dari sekarang.


Dia kemudian berlalu meninggalkan Sholeha di dapur. Padahal belum ada tanggal pastinya, ibu sudah wanti-wanti dari sekarang.


Sholeha kemudian memikirkan apa sedekat itu dari hari pernikahannya. Dia bahkan baru saja hendak memulainya sekarang, mengapa seolah dia kalah cepat dengan jadwal pernikahannya sendiri. Jika sekarang hari ke sepuluh dari tiga bulan lamanya berarti kurang lebih hanya hanya delapan puluh hari lagi dia menikah.


Sholeha meneruskan langkahnya ke luar, ada ruang penyimpan di belakang rumah, sejenis gudang. Semoga saja box itu tidak habis dimakan rayap. Meskipun niatnya menyingkir kan kenangan tapi tidak harus dengan menghancurkan barang, di buang kan sayang.


Sholeha menyantap makan siangnya yang sudah terlambat, bahkan perutnya sudah sangat melilit dari tadi. Dengan sedikit lesu ia menyendok sup ayam dan sambal. Mengapa mood nya secepat ini berubah, tadi dia masih semangat sekarang sudah lesu saja.


Di tengah-tengah Sholeha makan, terdengar suara keponakan kesayangannya berlarian dari ruang tamu.


"Assalamualaikum, Nenek " dia berteriak mencari neneknya.


" Waalaikumsalam, Al kesini sama siapa Le?" terlihat ibu menyambut cucunya dengan riang. Lalu terlihat Ayu yang juga datang.


"Sholeha mana Buk,?" terdengar mbak Ayu berada di ruang tengah.


" Lagi makan kayaknya Nduk," jawab ibu sambil menggendong Al ke dapur begitu pun Ayu yang mengikutinya.


Ayu membawa kantong keresek bening yang jelas terlihat ada dua bungkus keripik pisang balado kesukaan adik iparnya.


" Alhamdulillah ya Allah rezeki ku bangun tidur, Mbak bawa in keripik kesukaan ku" tawa Sholeha begitu lebar melihat apa yang dibawa Ayu.


Keripik pisang balado yang selalu ada di rumahnya adalah buatan Ayu kakak iparnya. Jika sudah habis ia akan merengek minta di buatkan segera.

__ADS_1


"Kamu kok baru makan udah sore gini?" Ayu tak menggubris apa yang dikatakan Sholeha.


"Habis beresin barang-barang pemberian mantan heheh" Sholeha memperlihat kan deretan giginya.


" Udah menerima Kang Sholeh yang ganteng itu Dek?" goda Ayu.


" Bisa aja Mbak ini, tapi lagi berusaha kok"


" Harus dong Dek, yang penting di coba pasti bisa!"


Ibu Fatma yang memilih bermain dengan Al di halaman tidak lagi bergabung dengan dua wanita yang terlihat akan bercerita panjang kali lebar, seperti biasanya. Apa lagi melihat Sholeha yang segera menyudahi makan siangnya, dan mencari posisi ternyaman mendengar Ayu bercerita. Usia keduanya yang terpaut hampir tujuh tahun membuat Sholeha merasakan Ayu adalah kakak perempuannya yang sangat ia andalkan.


"Mbak berdua aja sama Al?"


" Sama Mas mu, dia masih di depan ngecek bahan bangunan, eh Dek Mbak baru ingat sesuatu. "


Ayu terlihat menengok kanan dan kiri, memastikan tidak ada orang di sekitarnya.


Membuat Sholeha semakin penasaran.


" Apa sih Mbak?"


"Sholeh mau bangun rumah baru loh,"dia mengedipkan sebelah matanya.


" Rumah baru, perasaan rumahnya masih bagus dan besar Mbak, masa iya masih kurang?" tanyanya tak percaya pada Ayu.


"Iya Dek, kata Mas mu dia mau bangun rumah impian" Ayu tersenyum sangat lebar.


" Masa sih Mbak?" Sholeha tidak terlalu menanggapi Ayu.


Sholeha tidak akan memiliki keberanian seperti itu walau hanya bertanya tentang berita yang baru saja dia dengar. Ini terlalu pribadi menurutnya.


Sholeha lebih fokus memperbaiki hatinya saja untuk Sholeh, dia tidak ingin tertinggal atau pun di tinggalkan. Dia ingin sepenuhnya bertanggung jawab atas pilihannya ini.


" Wong Mas mu yang jadi pemborong ya benar lah Dek" Ayu kembali memberikan penekanan pada ucapan nya.


" Doa in aja biar cepat kelar, tapi bukannya Bapak juga mau renovasi dapur kan Mbak?"


"Iya, renovasi kan bentar toh Dek, habis itu baru lanjut rumah Sholeh"


" Mas Rizal dapat duit banyak dong" celetuknya membuat Ayu spontan memukul pundak Sholeha pelan.


" Jangan keras-keras dek Mas mu tau ntar Mbak malah di omelin"


"Ha ha ha, ya ngak lah Mbak"


" Mas mu suka main rahasia-rahasia an sama si Sholeh Mbak aja suka kesel sama mereka"


" Kok Mbak bisa tau?" Sholeha mulai mencurigai Ayu yang terlihat mencuri dengar alias nguping.


"Kebetulan aja Mbak lagi ada didekat mereka" Ayu sedikit tersenyum membenarkan apa perkataannya.


" Tuh kan Mbak nguping, bisa saja Mbak salah dengar"

__ADS_1


" Sedikit Dek, lagian Sholeh tuh emang pengen buat rumahnya dari lama banget sekitar tiga tahunan yang lalu"


Sholeha hanya manggut-manggut mendengar Ayu bercerita. Dia tidak banyak mendengarkan cerita dari Ayu. Melihat Sholeha yang duduk anteng sambil makan keripik, membuat Ayu gemas dan sedikit kesal padanya.


" Dek kamu tuh ngak penasaran sama ceritanya Mbak ?"


" Ngak ah, takut ndak valid infonya?" jawabnya spontan. Dia tergelak melihat wajah Ayu yang kesal.


Merasa di abaikan Ayu memilih menyusul suaminya di halaman rumah, sepertinya dia belum juga selesai dengan pekerjaannya.


Sholeha tersenyum kecil melihat Ayu yang sedikit merajuk ke padanya. Sholeha percaya dengan semua ucapan Ayu tapi Sholeha tidak ingin banyak tau hal lain sebelum dia mengenal Sholeh dengan baik.


Tidak beberapa lama kemudian, Rizal masuk melihat-lihat ruang dapur yang akan dia renovasi, gayanya yang seperti pemborong handal membuat Sholeha terkesima melihatnya. Kakaknya yang dulu sangat pemalas waktu remaja tidak ia sangka setelah dewasa menjadi pekerja yang sangat berpengalaman.


Bahkan Sholeha tidak pernah melihat kakaknya itu belajar dimana tentang pertukangan. Jangan lupakan pesona ke bapak-bapak an nya yang sangat terlihat membuat Sholeha banyak memikirkan hal yang mungkin terjadi kepadanya juga setalah berkeluarga nanti.


" Kamu kenapa Ja, malah ngelamun gitu?"


Sholeha tergagap kebingungan


" Eh ndak Mas, ngelamun dari mana?"


Rizal hanya melihatnya heran, kemudian pergi.


Setelah menghabiskan setengah bungkus keripik pisang kesukaannya itu Sholeha beranjak menyusul semua orang di teras belakang. Mereka sedang menertawakan tingkah lucu Al yang berlarian mengejar satu ekor itik, anak bebek. Tubuhnya yang gendut menimbulkan gerakan-gerakan aneh yang menambah kesan lucu bagi para orang dewasa di sana. Sholeha pun ikut tertawa padahal dia juga baru bergabung.


Sepertinya semua orang berada di sana, hanya tidak ada Sulaiman dan putra pertama Rizal, Sulaiman pergi setelah Dzuhur tadi mungkin ada keperluan sekolah seperti biasanya. Sedangkan Putra pertama Rizal entah kemana perginya, mungkin asyik ngumpul dengan teman-teman sebayanya di tempat lain.


" Nduk nanti antar ke rumah besan ya, katanya beliau lagi ndak sehat sekalian kamu juga jenguk!"


" Loh Ibu kata siapa ?"


" Ini Mbak mu yang barusan ngomong,"


" Mbak kok ndang cerita ? protesnya pada Ayu.


" Lupa Dek tadi " jawab Ayu santai.


" Ya sudah, kita ke sana sore an aja ya Bu,


masih panas jam segini" usul Sholeha langsung di setujui ibu Fatma.


Sholeha tidak sempat bertanya kabar ibu Nur saat Sholeh menelfon tadi, seharusnya dia ada waktu untuk sekedar menanyakan saja. Dia jadi merasa cemas dan tidak enak sendiri. Meskipun itu bukan kesalahannya dia hanya merasa menyesal.


Sejak dulu sebelum adanya hubungan Sholeh dan Sholeha ibunya memang sering sekali mengunjungi bu Nur saat sakit, sebenarnya ini juga hal yang sudah biasa tetapi Sholeha menganggapnya berbeda sekarang. Hanya dirinya yang baru menyadari jika kedua orang tuanya memang sudah berhubungan baik dengan keluarga Sholeh sejak dulu.


Sholeha juga baru menyadari jika mungkin, sudah sejak lama mereka saling menjodohkan putra putrinya ini.


Untuk sekarang ini, Sholeha bertekad menerima semua takdirnya dengan ikhlas juga ridho, ia akan memulainya dengan hati yang terbuka. Tidak akan menganggap semua ini paksaan dan sebagainya. Berniat membahagiakan kedua orang tuanya Sholeha dengan bahagia pula menjalaninya.


Semoga saja tidak hanya dia yang sedang berjuang dalam hubungan ini, apa lagi mereka saling mengetahui alasan hubungan mereka bisa berlanjut hingga kini.


" Jalani saja dulu" Sholeha bermonolog.

__ADS_1


****


__ADS_2