
Sholeha terbangun dari tidurnya, meraba sebelahnya yang masih kosong. Ia terduduk begitu saja, berusaha mencari suaminya kembali. Sholeha menyalakan lampu, memastikan kembali di kamar mandi.
Perut Sholeha sedikit melilit, dia baru teringat jika tadi belum sempat mengisi perutnya. Ketika melihat jam, ia menghela nafas, " Sudah sangat malam, kamu belum pulang " gumamnya.
Perlahan ia melangkahkan kaki, berusaha menghilangkan rasa kantuknya, dia harus memakan sesuatu agar perutnya tak melilit. Langkah kakinya terhenti, saat lewat di kamar ibunya, ia membuka pintu memastikan jika ibunya baik-baik saja.
Sholeha kembali menutup pintu, meneruskan langkahnya ke dapur. Sembari memikirkan makan apa di tengah malam seperti ini. Sempat terdiam cukup lama, Sholeha bergerak merebus air. Indomie goreng jadi pilihannya.
Sayangnya Sholeha lupa, tidak memastikan mie nya terlebih dahulu. Ketika air mendidih ia membuka lemari penyimpanan, dia tak menemukan di sana.
Prak...
Tak sengaja, tangannya menyenggol botol kecap dan terjatuh ke lantai. Dari atas hingga ke bawah, kecap dan pecahan botolnya seketika tumpah berserakan di dekat kaki Sholeha. Selain terkejut, ia juga meringis kesakitan.
" Sholeha..." Suara suaminya berat menginterupsi. Sholeha terkejut, tetapi rasa ngilu di jempol kakinya sangat mengganggu, dia berjongkok memeriksanya.
Sholeh yang tergesa itu, dengan cepat langsung membopong istrinya itu pindah duduk di kursi. Dengan keterkejutan Sholeha ia sedikit berteriak, namun tersadar dengan berada di gendongan suaminya yang terlihat sedang kesal.
Masih tetap dengan wajah dinginnya, Sholeh memeriksa kaki istrinya dengan telaten. Ada banyak bercak kecap di sana, dia juga dengan sigap mengambil air, mencuci kaki Sholeha.
Setelah bersih, terlihat luka sayatan beling yang masih mengalirkan sedikit darah, Sholeha meringis saat luka nya di bersihkan. " Perih Mas " menahan isak nya dengan menggigit lengannya.
Sholeh mendongak, " Sebentar sayang... tahan ya " ucapnya sangat lembut.
Wajah yang dingin itu masih ada, tetapi ucapannya berubah sangat lembut, mungkin karena melihat istrinya kesakitan.
" Kamu mau cari apa sih. Ini sudah sangat malam Sholeha ?"
Sholeh berdiri, hendak mencari sesuatu yang bisa menghentikan darah di jempol kaki istrinya. " Aku lapar Mas. Sholeha belum makan" jawab Sholeha di tengah isak nya.
Dengan membawa kotak obat, Sholeh kembali berjongkok mengobati kaki istrinya. Sholeh diam saja, tak lagi banyak bertanya. Sesekali ia mendongak melihat wajah Sholeha yang berlinangan air mata.
" Mau mie ?" tanya Sholeh lagi.
__ADS_1
Sholeha mengangguk, melihat sang suami berjalan mengambil mie instan yang masih di kardus. Dia juga dengan cepat menghidupkan kembali kompor yang sempat ia matikan tadi.
Sholeha terus memperhatikan suaminya, hati nya semakin pilu. Sebab menyadari betapa sudah sangat lama ia tak berada di sini, ia juga mengedarkan pandangan di dapur itu. Tampak beberapa wadah dan stok makanan yang tak tertata rapi seperti saat ia di sini.
Ketimbang diam saja, Sholeha berniat membersihkan kecap dan pecahan botol. Belum sampai berjalan, Sholeh sudah menghentikannya, " Biar Mas aja, kamu makan aja" ucap Sholeh, sembari menyodorkan semangkuk mie.
Dengan mata berkaca-kaca, Sholeha kembali duduk, menatap mie buatan suaminya di tengah malam. Sholeha kembali melihat sang suami yang dengan cekatan membersihkan kecap di lantai.
Meski tak lagi merasa lapar, tetapi Sholeha tak mau suaminya kecewa. Dengan cepat ia menghabiskan mie nya, sembari tak lepas memandang Sholeh yang masih saja diam dengan wajah dinginnya.
Sholeh selesai mengepel, membuang pecahan botol. Dia melihat istrinya yang selesai makan. Tak berniat duduk, ia meneruskan langkahnya.
" Mas, ?" cegah Sholeha meraih tangan suaminya.
Sholeh berbalik, " Duduk sebentar ya, temani aku, menurunkan mie nya" ucap Sholeha begitu pelan.
Seolah tak bisa menolak lagi, Sholeh menuruti sang istri. Ia duduk di samping Sholeha menatap wajahnya yang masih terlihat sembab. Seperti bingung hendak mengatakan apa, dia tetap diam menunggu Sholeha berbicara.
Sholeh menghela nafas, meraih tangan dan wajah Sholeha bersamaan, mengusap air mata yang terus berlinang, " Mas juga salah. Maaf ya " ucapnya begitu lembut.
Tangis itu semakin menjadi, seolah tak bisa lagi terbendung saat di depan sang suami. Tak tahan, Sholeh meraih tubuh kecil yang terus bergetar itu kedalam pelukan. Membiarkan wanitanya menumpahkan segala rasa kesal, sedih dan ketakutan di pundaknya.
Sholeh mengusap punggung istrinya, mengecup pucuk kepala yang telah ia rindukan sejak tadi. Dia tak bermaksud membuatnya menangis sepanjang hari ini.
Sholeha mengurai terlebih dahulu pelukan itu, " Mas, Sholeha bersalah mengatakan menyesal soal tadi. Tolong maaf kan Leha, jangan katakan yang tidak-tidak aku takut Mas, apa lagi yang seperti tadi" ucapnya terbata-bata.
Mengingat amarah suaminya yang mengatakan ingin memberikan kebebasan padanya tadi, sungguh membuatnya sangat ketakutan. Sejak awal dia memutuskan menikah, adalah untuk tidak di tinggalkan. Sholeha bahkan berkali-kali menggelengkan kepala kala mengingatnya.
" Maaf, Mas juga kelepasan tadi. Sudah ya Sayang, jangan menangis. Ini sudah sangat malam, kita tidur ya " bujuk Sholeh pada istrinya.
Sholeha masih betah menatap wajah suaminya, kemudian ia mengangguk setelah merasa suaminya itu terlihat sangat lelah.
Keduanya meninggalkan dapur setelah mematikan lampu. Sholeh langsung menuju kamar mandi, namun ia terkejut saat Sholeha malah mengikuti nya masuk.
__ADS_1
" Mas mau mandi loh, " kata Sholeh keheranan.
Sholeha masuk saja tak perduli, ia dengan santai membasuh wajahnya. " Mandi aja, Leha ndak ganggu, cuma gosok gigi" jawabnya memulai kegiatannya.
Terdengar Sholeh terkekeh, ia melenggang dan menanggalkan pakaiannya. Ia menatap istrinya dari belakang yang sedang santai mencuci wajah nya.
" Yakin nih mau di sini aja ?" tanya Sholeh sebelum benar-benar mengguyur tubuhnya.
Karena Sholeha menutup mata, dengan santai ia menjawab " Mas mandi aja, Leha gak bakal ganggu, " menggosok wajahnya perlahan.
" Cepet ih, Mas ndak mau kamu di sini" titah Sholeh.
Mendengar suara suaminya yang sedikit berbeda, Sholeha segera menuntaskan urusan di wajahnya. Ia membuka mata, dan tak berani menoleh pada suaminya, dia mulai tersadar akan sesuatu.
Sholeha berdehem, " Sebentar, Leha keluar nih " katanya, bergegas keluar.
Sholeh tersenyum melihat tingkah istrinya yang masih saja malu-malu. Padahal benihnya sudah tumbuh di rahimnya.
Sedangkan ibu hamil muda itu sedang mengatur nafasnya, jantungnya berdetak begitu kencang secara tiba-tiba. Pikirannya juga langsung mengarah pada hal yang tidak-tidak. Tanpa sadar ia tersenyum sendiri, merasakan kekonyolan dirinya di tengah malam.
Mendengar gemercik air, Sholeha berpindah ke ranjang. Duduk sebentar menunggu suaminya keluar. Sholeha mengusap perutnya, tersenyum dengan mengatakan banyak hal padanya.
Seharian lelah di dapur, malamnya menangis dan merajuk, lalu malamnya masih tetap menangis, Sholeha menyadari sesuatu. " Kamu buat Ayah Bunda mu perang dingin sayang, lain kali jangan ajak Bunda marah pada Ayah ya" Kata Sholeha sangat pelan.
" Maaf kan Ayah juga ya"
Sholeh tiba-tiba keluar dan terus memeluk istrinya dari belakang, memasukan tangannya ke dalam baju istrinya mengusap perut, ia mendengar semua yang di katakan Sholeha tadi.
" Mas, lepas ih "
Sholeh hanya tertawa, menyadari dirinya yang masih setengah bertelanjang, dengan lilitan handuk di pinggangnya. " Sekalian aja ya Yang, " bisiknya di telinga istrinya.
***
__ADS_1