
Perihal apa pun dalam kehidupan ini, yang baik dan yang buruk, semua telah tertata rapi dalam tumpukan takdir di setiap manusia. Kehilangan dan mengiklaskan telah menjadi sepasang keharusan yang harus di taati manusia.
Melebur dalam kekeruhan nasib, menyatu dengan kekerasan hidup bukankah satu hal yang telah di garis kan sang pencipta. Cinta yang memudar, kasih sayang yang berkurang semua seakan terjadi begitu saja dengan segala bentuk dan rasanya.
Seperti sepasang kesedihan dan kebahagian yang terus saja datang beruntun dalam kehidupan Sholeh dan istrinya. Kepergian orang tercinta, kehilangan buah cinta dan mengiklaskan kerugian usahanya telah bergulir, di lalui nya penuh dengan kesabaran. Saling menyemangati dan menguatkan, mereka telah melewati perlahan dengan pasti.
Sholeha di nyatakan kehilangan janinnya, entah sudah beberapa bulan yang lalu, dia tak mau terlalu mengingatnya. Dengan keteguhan hatinya, ia telah melaluinya dengan sangat baik. Terus meyakinkan diri sendiri dan suaminya jika semua yang terjadi adalah ujian dalam hidupnya, dia percaya ada manis setelah rasa getir ini.
Dua ruko cabang, telah resmi terjual. Untuk menyelesaikan segala penunggakan usaha suaminya, beberapa bulan terakhir dia juga telah berhenti bekerja. Sholeha lebih banyak meluangkan waktu dengan suaminya yang jauh terguncang dari pada dirinya.
Dengan menekuni satu usaha di depan rumah, keduanya semakin sering bersama mengurus hal kecil bersama-sama, tak terasa sudah banyak purnama yang mereka lewatkan dengan segala cerita.
Seperti Sholeha yang terus berusaha dengan keras menghibur dan meyakinkan suaminya agar kebahagiaan masih ada untuk mereka. Setelah urusan pekerjaan selesai, perlahan kondisi keuangan juga membaik. Dengan saran dari banyak orang terdekatnya, Sholeha memaksa suaminya agar pergi berlibur, seperti bulan madu.
Meski awalnya menolak Sholeh tertarik juga oleh bujukan istrinya yang cukup menggiurkan. Seperti sekarang mereka sudah dua hari menginap di kamar hotel lumayan mewah, di sebuah kota yang terkenal keindahan pantainya.
Malam terakhir setelah mereka puas berkeliling pantai, menikmati kulineran dan sedikit berbelanja untuk sekedar cindera mata. Sholeha baru saja keluar dari kamar mandi, dia bahkan hampir dua jam menghabiskan waktunya hanya berada di dalam sana. Dia benar-benar menikmati fasilitas mewah itu dengan baik, Sholeh sampai terbangun dari tidurnya.
Sholeh memeriksa jam di ponselnya, kemudian menatap istrinya yang terlihat sangat segar dan wangi. Dia berdecak, menggelengkan kepalanya, " Ngapain aja toh Yang, betah sekali di sana ?" ucapnya masih terbaring di tengah ranjang.
Sholeha hanya nyengir kuda, merasa sindiran suaminya memang benar adanya. Bagaimana tidak betah, dia saja hampir ketiduran karena berendam. Masih dengan handuk putih persis baju yang sangat besar di tubuhnya, Sholeha duduk di tepian ranjang, menatap suaminya dengan sangat mesra, " Aku juga merem tadi di sana, " Katanya sembari menepuk pipi Sholeh pelan.
" Ndak usah keluar lagi ya, Mas pengen di kamar aja " kata Sholeh mengambil telapak tangan istrinya, menciumi wanginya sabun mandi.
" Kenapa ? Sayang loh, besok kita sudah pulang "
__ADS_1
Sholeha bahkan belum sempat mencicipi makan malam romantis yang sempat ia agendakan dalam hati.
Sholeh tak menjawab, ia menarik tangan istrinya agar berbaring di sebelahnya. " Mas, mandi dulu. Masih bau asem " kata Sholeha saat suaminya memeluknya dengan erat.
" Halah, kamu suka kan. " Katanya tak perduli, ia malah tenggelam di ceruk leher yang masih sedikit basah dan wangi.
Sholeh terdiam di sana, menikmati kenyamanan yang tak ingin sedikit pun terlewat darinya. " Mas, " Ucap Sholeha dengan sangat manja.
" Hem, "
Tak langsung meneruskan perkataannya, Sholeha memilih meraih wajah suaminya, menatapnya dengan sangat lembut, " Ayu junior sudah lahir, "
Mata Sholeh terbuka, membalas tatapan teduh Sholeha. " Kapan, ?" katanya sangat pelan.
" Tadi, sebelum aku mandi."
" Mas, aku baik-baik saja " kata Sholeha, suaranya tak jelas terredam dada sang suami.
" Mas juga tidak apa-apa, " balas Sholeh begitu tenang, sembari mengusap punggung istrinya lembut.
Memang seperti tidak di rasa, sudah selama itu mereka melalui segalanya bersama. Sholeha juga belum mendapat ganti dari cinta yang pergi waktu itu. Mereka tak bersedih, tetapi rasa pilu itu masih melekat di kedalaman hatinya.
" Bobotnya lumayan besar, Mbak Ayu hampir dioperasi. Untung saja, dia bisa " tambah Sholeha, sembari mengurai pelukan yang terlalu lekat itu.
Sholeh masih setia memandang istrinya, membenarkan surai yang sedikit semburat di wajahnya, " Mas Rizal pasti seneng ya Yang, punya putri kecil " ujar Sholeh begitu dalam.
__ADS_1
Sholeha sempat terdiam, bingung bagaimana menyikapi perasaan suaminya yang tentu saja sedang iri. Tanpa ragu, ia mengecup bibir Sholeh dengan sangat lembut. " Kita bisa membuat yang sama, apa Mas mau ? " ujarnya tersenyum menggoda.
Sholeh tampak berdecak, dia lupa jika istrinya ini semakin berani akhir-akhir ini. Tentu saja, dia akan mengatakan langsung tanpa malu-malu, terlebih jika ia tak kunjung memberi, Sholeha kecilnya itu pasti menyerangnya terlebih dahulu.
" Sekarang? Mas belum mandi " kata Sholeh sengaja menunda.
Wajah polos yang penuh pikiran mesum itu tampak lesu, tak bersemangat saat suaminya berusaha menolaknya. " Terserah lah jika tak mau " ucapnya memajukan bibir ranum yang sangat menggoda kelelakian Sholeh. Dia juga langsung berbalik, memunggungi suaminya itu.
Senyum jahil terbit begitu saja di wajah Sholeh, ia sengaja mengabaikan istrinya yang mungkin saja akan menyerah lebih cepat dari pada biasanya, merajuknya hanya akal-akalan saja.
Dengan santai ia menatap punggung Sholeha yang rapat berbalut handuk, dalam hati Sholeh menghitung seperti detik jam. Begitu sabar menantinya, sesekali tangannya mengusap rahang yang sedikit di tumbuhi bulu.
Tiba-tiba saja ia terperanjat kaget, saat Sholeha langsung menyerang nya dengan ciuman yang begitu dalam menuntut. Menahan tawanya yang bercampur dengan gelora yang muncul begitu saja, Sholeh melayani aksi istrinya dengan sangat lembut.
Keduanya melepas rajutan bibirnya, saling menatap, Sholeh tersenyum kecil melihat sorot mata berkabut dari istrinya, nafasnya begitu memburu seperti tak terbendung lagi hasrat dalam jiwanya. Sholeh mengecup kening Sholeha sangat lembut, " Sabar sayang, Mas katakan akan mandi dulu " dengan sengaja Sholeh menggoda.
" Kelamaan, keburu ngantuk. " Ucap Sholeha dengan ketus.
Dia sudah sengaja melakukan persiapan berjam-jam di dalam kamar mandi tadi, dia sungguh-sungguh tak tahan lagi dengan keinginannya. Apa lagi bisikan-bisik panas dari Irma dan Ayu yang terus memintanya agar menikmati bercinta saat bulan madu seperti saat ini.
Mereka pula yang bergantian membujuknya untuk segera berlibur menikmati waktu berdua saja seperti sekarang ini, tak tanggung-tanggung Ayu bahkan yang mengajarkan selalu bertindak lebih dulu dari pada menunggu seperti selama ini.
Masih dengan rasa sedikit kesalnya, karena Sholeh tak mengerti apa yang ia inginkan, tiba-tiba saja Sholeh sudah mendaratkan sebelah tangannya di dada, membuatnya sedikit memekik geli karena sentuhannya.
" Kita lanjutkan " kata Sholeh dengan serak.
__ADS_1
***