Cinta Sholeha

Cinta Sholeha
Jasa titip pesan


__ADS_3

Setelah pertemuan jilid dua keluarga inti, sudah di putuskan dengan mantap bahwa akad akan di laksanakan satu bulan dari hari ini, yakni tanggal dua puluh lima bulan depan, Sholeha menghela nafas, dia memang tidak menyesali keputusan ini hanya saja lagi-lagi ia jadi pihak yang terakhir di mintai pendapat. Sholeha tidak marah, semua ini pasti karena semua orang menganggap sikapnya yang plin-plan tidak karuan saat mengambil ke putusan.


Cukup tersenyum saja, berusaha menempatkan hati yang begitu kecil dan lembut ini pada kenyataan yang begitu luas dan begitu baik padanya. Sholeha hanya bisa pasrah, mengharap pertolongan Allah selalu bersamanya kelak. lagi pula ia tidak begitu menyesali menikah dengan Sholeh, pria baik dan tampan itu.


" Sholeha, ?" Sholeha sedikit terkejut, mendengar Sholeh tiba-tiba memanggilnya.


" Iya?"


" Kamu ndak marah?" Sholeh mensejajari nya, sedang Sholeha tengah berjalan menuju dapur di ruang tengah, ia berhenti.


" Mas mau aku marah?"


" Ya ndak usah lah Sholeha, saya suka jika kamu ndak marah"


" Aku suka kok, kenapa harus marah" jawabnya singkat, kemudian ia meneruskan langkahnya dengan cepat. Sholeha hanya berusaha menyembunyikan wajah kepiting rebus nya yang hampir gosong.


Entah apa yang akan di pikirkan Sholeh saat ini, ia terlalu malu jika mengingat apa yang baru saja ia katakan tadi.


" Huh, Ya Allah. " ucapnya sembari memegangi dadanya. " sampai degdegan begini" imbuhnya lagi merasakan debaran jantungnya.


Sholeha berdiri sebentar di depan wastafel cuci piring mengucurkan air dari keran, sekedar mengguyur telapak tangannya untuk menyalurkan dan mengurangi debaran di dadanya.


" Nanti bisa jantungan aku" ia mendumel pada dirinya sendiri.


" Sholeha, Dek. Ngapain kamu?" ujar Ayu yang berdiri tak jauh di belakangnya.


Sholeha menoleh, tiba-tiba tersenyum kaku. " Hah, kenapa mbak?"


" Kamu ini, di tungguin malah melamun. Mana es teh manisnya?" Ayu kini lebih mendekat padanya.


Sholeha terkejut dan memukul kepalnya, ia menoleh es teh manis yang hampir mencair dari gelasnya. " Astagfirullah, lupa aku Mbak. Lama ya nunggu in?" ia nyengir menutupi kesalahan.


Ayu mengambil alih, lagi pula dua cangkir es teh manis itu milik Fatih dan Rizal, mereka sengaja meminta teh yang dingin tadi pada Sholeha ketika semua orang di hidangkan teh hangat .


" Mbak, tolong panggilkan Mas Rizal ke sini ya!" Sholeha teringat untuk bertanya sesuatu pada kakaknya itu.


" Ada apa?"


" Urgent Mbak, hehe" jawabnya santai.


" Ada-ada saja kamu?"


Tidak lama Rizal menemuinya di dapur. Dengan muka yang ber sungut-sungut seolah tak sudi meladeni tingkah adiknya ini. " Ada apa?" ucapnya sedikit ketus.


Sholeha malah tersenyum merayu kakaknya itu, " Mas tadi ngetawain apa sama dia?" ia berubah menekankan perkataanya pada Rizal, seperti nada ancaman.


" Yang mana, kapan?" jawab Rizal malas menjelaskan.


" Ih yang tadi, masa iya dia buang angin tenan?" geram Sholeha menghentakan kecil satu kakinya.


" Owalah, ya ndak lah. Itu tadi mas cuman ledekin dia aja ternyata dia beneran pengen buru-buru menikah " Rizal sedikit tertawa.


" Masa?" mata Sholeha sempat melotot. " ndak percaya aku." imbuhnya lagi.


" Ndak percaya ya sudah, emang itu kenyataannya, lagian nduk apa pun alasannya kalau dia itu dasarnya suka sama kamu ya gitu, meskipun kamu bolak balek ngucap, masa ? pun ndak akan berubah jawabannya ya iya. Kenapa kamu ini?"


" Ndak percaya lah, " jawabnya singkat, merasa di pojokan oleh kakaknya.


" Percaya lah nduk wong sudah di garis kan sama Allah kok" balasnya santai.


" Ih Mas sok tau !"


" Sudah ah jalanin aja, toh kamu nya juga suka kan?" satu kalimat terakhir dari Rizal, akhirnya dia pergi lelah menjawab pertanyaan sang adik.


Sholeha melongo mendengar Rizal mengatakan itu, ya memang sih dia juga senang kali ini tapi apa kentara sekali ?.


Ok tugasnya emang kudu jalani saja.


Suasana yang cukup membahagiakan, setelah banyak pertanyaan dan perasaan yang tak karuan, akhirnya Sholeha menyadari jika semua telah terjadi dan mungkin sebagian doa nya mulai terkabul.


Sholeha kembali ke ruang tamu, duduk bersama keluarga yang sedang membahas rencana-rencana kecil yang akan mereka kerjakan sebelum hari H.


" Kamu yakin Nduk, ndak mau langsung resepsi aja?" bu Nur sekali lagi menanyakan pada Sholeha.


Sholeha tersenyum, " Iya Bu, selama mas Sholeh juga mau"

__ADS_1


Sholeha mengarahkan pandangannya pada sang calon suami, dan mereka bersambut pandang, kemudian Sholeh mengangguk dan tersenyum tanda menyetujui.


" Ya sudah kalau begitu, terserah kalian" ucap bu Nur juga melihat reaksi keduanya.


" Wong mereka ini pengennya cepet nikah aja loh buk, yang lain mah skip aja" gelak tawa Rizal mengiringi ucapannya itu.


Ayu spontan saja memukul pundak suaminya itu dengan keras, " Mas ndak boleh gitu" bisiknya, sedikit melotot.


Hampir semua orang tertawa, hanya Sholeha yang tersenyum dengan malu.


" Ya sudah kalian siapkan segala surat-suratnya dan ya jangan lupa banyak berdoa dan khusus untuk Sholeha, banyakin baca ilmu pernikahan jangan tidur terus nah sama banyakin belajar masak ya !" petuah sang bapak yang di sambut dengan sorakan kecil dari Rizal.


" Bapak, " ucap Sholeha merengut menghentikan kalimat Sulaiman.


" Bapak ngomong bener loh nduk, biar dapat ilmunya harusnya kamu juga kudu ikut kajian pernikahan loh, nanti biar ibuk yang cari kan gurunya" tambah bu Nur dengan begitu lembut membujuk Sholeha.


Dengan menerima banyak saran malam itu, akhirnya Sholeha menurut. Ia tak lagi menolak atau pun membantah, karena memang benar ia harus melakukan itu semua. Ia juga sangat menyadari kedangkalan ilmunya apalagi masalah pernikahan dia tergolong tidak tahu apa-apa.


***


Di sudut ruang tengah yang begitu kacau oleh Fatih dan Al, Sholeha melihat Rizal duduk dengan santai memperhatikan anak-anaknya berlarian dengan tawa yang begitu riang.


"Banyak pikiran Mas?"


Rizal melihat Sholeha yang duduk di sisinya, " Pikiran apa?"


" Ya ndak tau. Mas kok melamun?"


" Masih ndak nyangka kalau Sholeh mau jadi ipar ku." ia menarik nafas, kemudian tersenyum.


" Bisa ya ada pikiran gitu?"


"Ya ada lah, " jawabnya cepat.


" Kira-kira Sholeha pantes ndak sama dia?" Rizal kembali memandang mata Sholeha dengan sangat lekat, mencoba mencari segala yang ada dalam pikiran sang adik.


" Kamu itu sedang mengira - ngira sesuatu yang sudah jelas kamu ndak akan tahu Sholeha, yang akan merasakan pantas atau tidaknya ya bukan kamu. Kepantasan atau kecocokan kan masih perlu banyak belajar ke depannya, coba kamu cari tahu perlahan nanti setelah kalian menikah. Mungkin saja ketemu jawabannya"


" Mas, aku ndak paham" Sholeha menggelengkan kepalanya.


Sholeha tersenyum melihat sikap Rizal yang terlihat begitu ingin menyampaikan pesan dan petuahnya sebagai seorang kakak, Sholeha paham maksudnya hanya saja ia sangat ingin menggoda kakaknya itu agar sedikit mendumel untuk mencarikan suasana yang hampir haru ini.


Setelah Sholeh dan ibunya pulang, semua orang kembali melanjutkan acara berkumpulnya dan berpindah ke ruang keluarga. Tadinya Ayu mengajak semua pasukannya untuk pulang, namun Sulaiman yang meminta agar menginap saja untuk malam ini.


"Nduk yakin ndak mau resepsi sekalian?" tanya bu Fatma yang kedua kali pada Sholeha.


" Ndak usah Bu, nanti saja ya Bu. Aku dengar mas Sholeh juga banyak kesibukan akhir-akhir ini, kasian dia repot."


Dalam pikiran Sholeha hanya tidak ingin merepotkan Sholeh, dan juga keluarganya.


Jika bisa di segerakan akadnya tidak masalah, tetapi kalau resepsinya yang di siapkan dengan tergesa juga percuma, takut tidak sesuai keinginan, lagi pula Sholeha ingin lebih terfokus pada persiapkan hati dengan mengiklaskan apa pun yang telah terjadi sekarang ini.


" Biar ngumumi loh Dek, kamu ndak pengen tah?" imbuh Ayu.


Sholeha mengangguk cepat, " Pengen kok mbak. Bisa di laksanakan setelah akad kan? setidaknya Sholeha bisa beneran cinta dulu sama suami ku." Sholeha bahkan menahan senyumnya di ujung perkataannya.


" Alangkah baiknya jika kalian rundingan lagi nanti nduk, siapa tau nak Sholeh ada pendapat lain" Sulaiman ikut menambahkan.


" Iya Pak. Nanti kita bicarakan lagi" Sholeha mengalah.


Sholeha juga menyadari jika apa yang terus di tanyakan oleh keluarganya tadi juga tidak salah, apa lagi menunda resepsi sama saja harus mengadakan acara dua kali. Sholeha terdiam, dia juga ingin memutuskan sesuai dengan isi hatinya.


" Mah, Mah. Berarti om Sholeh dan bibi akan jadi suami istri ya?" Fatih tiba-tiba menyela pembicaraan.


Rizal terkekeh, " Iya nak, kok pinter anak Ayah."


" Masih sebulan lagi, Insyaallah." jawab Ayu tersenyum.


" Pantas aja Om Sholeh sebut Bibi calon istri" dia tampak berpikir, " tapi bukan mantan pacar kan?" imbuhnya lagi merasa kebingungan.


" Bukan lah nak, mereka ndak pacaran kok bisa jadi mantan" jawab Rizal enteng.


Ayu sontak memelototi Rizal, " Mas. Tidak perlu jawab seperti itu, bukan edukasi baik untuk anak-anak loh ini" suaranya sedikit teredam kegeraman.


" Iya maaf, "

__ADS_1


Sholeha menggeleng heran, melihat keduanya. Mereka ini terlalu rancu sifatnya, yang satu selalu berhati-hati satunya lagi selalu saja sembarangan bicara pada anaknya. Terkadang kejujuran mas nya ini sering di salah artikan.


" Bibi, om Sholeh baik kok. Fatih aja suka, bibi juga harus suka ya, Fatih udah cocok soalnya" tambahnya di sela perdebatan kedua orang tuanya yang tak ia dengar sama sekali.


Kontan semua orang tertawa, tak terkecuali Sholeha yang tidak menyangka keponakannya itu sangat lucu dengan sikapnya yang sok dewasa.


" Ngak bisa yang lain tih?" tanya Sulaiman sembari tertawa.


" Tidak bisa kek, yang lain Fatih ndak suka" jawabnya sangat tegas, sedikit pun tidak ada raut muka anak-anak di wajahnya.


" Pilihan Fatih sepenting itu ya?" tanya Sholeha, masih menahan tawanya.


" Em, soalnya kata om Sholeh Fatih harus katakan ini pada bibi. Kemarin om Sholeh juga bantu Fatih main game. kita sudah sepakat saling bantu sebagai teman, lain kali kita juga saling bantu. Fatih benar kan mah?"


Sholeha ternganga mendengar jawaban Fatih, ternyata se-konyol itu Sholeh.


Sungguh cerita yang menarik, Sholeha sampai tak habis pikir dengan tingkahnya.


" Ya sudah besok katakan pada om mu itu, bibi mu ini sudah tidak bisa pilih lagi selain dia. Nanti bibi buatkan nugget jika Fatih sampaikan ini, bagai mana?"


Dengan riang gembira Fatih menyetujui permintaan Sholeha, dia bahkan berkali-kali memastikan kesungguhan bibinya itu.


" Kalian ada-ada saja?" ujar Sulaiman yang turut mendengarkan sedari tadi.


" Fatih sekarang berada di tim om Sholeh ya bi, ingat jangan main curang membohongi ku dengan sepiring nugget " ucapnya sebelum pergi melanjutkan permainannya.


Sholeha tertawa, apa maksud dari tim Yan mereka buat? ia hanya menggeleng kecil.


" Nduk, Sholeha" panggil Sulaiman di tengah tawa Sholeha yang mulai mereda.


" Iya Pak, ada apa?"


" Maaf ya jika bapak selalu memaksa , bapak hanya ingin yang terbaik untukmu."


Tiba-tiba saja ada nada sendu yang terdengar dari Sulaiman, bukan tidak mungkin jika sebenarnya ia juga menyadari sikap Sholeha yang seperti pasrah pasrah saja .


Sholeha mendekat, duduk lebih dekat dengan sang bapak, dia tau hati orang tuanya kini semakin di rundung kegundahan dan kecemasan, Sholeha juga bisa merasakannya.


" Ndak kok Pak, Sholeha juga mau lakuin ini, seperti apa yang di katakan Mas Sholeh, kita juga berencana hidup kedepannya dengan lebih baik, setidaknya memulai semua dengan pernikahan. Sholeha manut Bapak Ibuk, Sholeha yakin ini yang terbaik." ucapnya begitu hebat, seolah semua baik-baik saja.


" Syukurlah jika seperti itu, Bapak juga doakan yang terbaik untuk kalian, dan ya nduk jika suatu saat Sholeh bertanya tentang mas kawin, katakan saja apa permintaan mu ndak perlu lagi bertanya pada ku, kemarin Sholeh juga sempat bertanya, Bapak minta tanya kan langsung saja padamu."


Ah Sholeha juga baru ingat jika perkara ini belum ia dengar sama sekali sejak pertemuan tadi, mungkin karena Sholeh sudah membahasnya terlebih dahulu dengan bapaknya kemarin. Entah mengapa jika ada pertemuan seperti tadi ada saja yang tertinggal dari pembahasan.Untung saja mereka masih tergolong tetangga dengan posisi rumah yang dekat, sehingga memudahkan mengatur pertemuan ulang.


Ah Sholeha tak menyangka akan secepat ini berada di titik ini, nanti jika sempat Sholeh pasti akan menghubungi terlebih dahulu untuk membahas ini .


" Ah mungkin Mas Sholeh juga terlupa ya pak, sejak tadi ia belum mengatakannya pada ku. " jawabnya begitu tenang.


" Sepertinya juga begitu"


Sulaiman beranjak dari duduknya, ikut bergabung di pojokan bersama kedua cucunya yang sedang asyik menyusun lego seperti kebiasaan mereka di rumah. Sangking cintanya mereka pada lego sampai koleksinya di bagi dua satu di rumahnya dan sebagian lagi ada disini.


"Dek, minta apa kira-kira sama Sholeh?" tanya Ayu tiba-tiba.


" Apa ya Mbak, ?" dia kembali bertanya.


" Ih malah nanya "


" Belum kepikiran apa pun soalnya " Sholeh sedikit tertawa.


" Terserah lah Dek, pikirkan saja!"


" Boleh ngak kalau minta Mas kawinnya sapi betina yang punya anak kembar tiga?" tanya nya yang kemudian mendapat pelototan dari sang ipar.


" Kamu bisa program bayi tabung dulu si sapi Dek, ada-ada saja deh kamu"


Sholeha hanya tertawa, tentu saja dia hanya bercanda, dan tidak mungkin kan ada bayi kembar tiga sapi. Ah kalaupun ada pasti sangat mustahil. Ia juga menggeleng menertawai kekonyolannya sendiri.


" Besok tak coba tanyakan sama Mas Sholeh ya Mbak?" ledek Sholeha pada Ayu yang mulai geram padanya.


" Tanya kan saja padanya, pukul kepalaku jika dia tidak tertawa dek !" ucapnya berapi-api.


" Akan kucoba besok" tantang Sholeha.


***

__ADS_1


__ADS_2