Cinta Sholeha

Cinta Sholeha
Wedang Jahe


__ADS_3

Sholeh dan Agus pasrah dengan segala apa yang telah terjadi. Mereka terburu-buru mengurus semua data dan transaksi pembelian bahan bangunan, tak menyangka ia merugi besar seperti termasuk tertipu.


Ada sekitar tiga proyek terakhir yang tergolong merugi, bahan bangunan sudah terbeli sedang uangnya tak kembali. Resiko terbesar dari usaha bangunan seperti yang di jalani Sholeh. Jika di pikir, kecerobohan memang faktor utama, tetapi Sholeh tak mungkin tak mengganti segala dana yang sudah terpakai.


" Maaf ya Leh, aku juga kurang cermat memperhitungkan hal-hal seperti ini. Aku pikir proyek seperti ini pasti baik-baik saja " Ujar Agus tak enak hati.


" Sudah lah Gus, kamu juga tidak tau. Semua nya ada di kendali ku, aku memang melakukan kesalahan ini secara murni, terlalu percaya dan tidak berpikir dengan cermat. Jangan salahkan diri sendiri " ucapnya begitu lapang dada.


Sholeh juga sangat tak enak hati pada Agus, sejak tadi dia sibuk meminta maaf karena masalah ini. Jika bukan karena Agus yang menyadari selisih pendapatan dan pengeluaran nya lebih awal. Mungkin saja masalah ini akan menggunung nantinya.


" Saya akan bantu bayar sebisanya ya Bos, yah meskipun secuil dari besarnya jumlah itu " kata Agus lagi.


" Gus, jangan pikirkan itu. Biar aku yang melunasinya, tenang saja. Aku masih bisa buka usaha meski merugi seperti ini " ucap Sholeh merasa optimis.


Agus menatap Sholeh dengan perasan iba, dan juga bangga. Sedemikian berat masalah usahanya, dia tetap tenang dan tetap semangat berusaha.


" Kita minta bantu Dito saja, dia juga banyak uang kan ?" usul Agus tiba-tiba.


Sholeh bergeming, dia juga ada pikiran ke sana, tetapi masih sebatas pilihan terakhir. Dia tau uang ratusan juta bisa di gali di mana dalam waktu satu bulan saja. Jika tidak meminta bantuan, bisa-bisa semua usahanya terjual habis.


Sekarang, sudah larut malam. Sholeh dan Agus masih sibuk memikirkan jalan keluar setelah pulang dari kota tadi. Keduanya memilih menuntaskan permasalahan ini di dalam Ruko yang sudah tutup sejak tadi. Mereka tak menyangka jika akan kembali begadang seperti malam kemarin, Sholeh bahkan belum pulang kerumahnya.


Begitu juga dengan Agus, yang menolak pulang setelah mendapat jalan keluar dari permasalahan ini. Sholeh juga tak menyangka jika Agus bisa sangat pengertian seperti ini.


Dito, temannya yang satu itu memang sudah sangat kaya, perkebunan milik ayahnya juga sangat luas. Sholeh berusaha menimbang semua saran dari Agus. Dalam tempo satu bulan mana bisa ia mengumpulkan uang, belum lagi perjalanan proyek yang masih tertunda.


Sholeh berkali-kali memutar otaknya, dia merasa tak memiliki pilihan selain menjual semua asetnya, tetapi semua itu adalah milik ayah dan ibunya. Dia tak berhak menjual, apa lagi hingga menghentikan usaha impian ayahnya.

__ADS_1


" Ayolah Bos, jika tidak dari mana kita bisa selamat. Ini genting " Ucap Agus, masih terus membujuk.


Sholeh menatap Agus dengan wajah lelahnya, dia juga tidak tega melihat Agus terus merasa bersalah. Dia teringat ada sedikit tabungan pribadi, tetapi uang itu telah ia niat kan untuk ibadah haji ibunya.


Sholeh terus berpikir dengan keras, berusaha berhati-hati agar tak salah mengambil langkah. Dia belum mengiyakan saran Agus, matanya berkali-kali menatap jam malam yang semakin larut.


" Baiklah, kita coba besok pagi Gus. Ini sudah malam pulanglah, kasihan anak istrimu pasti menunggu " kata Sholeh mengakhiri keputusannya.


Sedikit senyum di wajah Agus, pertanda kelegaan sementara telah ia dapatkan. " Kita coba dulu, semoga saja Dito memang benar-benar banyak uang, " ucap Agus sambil tertawa kecil.


Sholeh hanya tersenyum tipis, memang bukan sebuah pertolongan setidaknya Dito menjadi harapan terakhirnya. Tak lama, Agus benar-benar pamit pulang, dengan wajah lusuh dan letih ia meninggalkan ruko.


Sholeh menutup rolling door, dia juga harus pulang. Wajah istrinya itu tak henti-hentinya terbayang sejak tadi. Dia ingin sekali segera menemuinya. Melangkah tanpa ragu, membuka pintu rumah yang tentu saja sudah terkunci, ia merogoh kunci di sakunya. Alasan ia tak pernah mengetuk pintu setiap masuk ke rumah sejak dulu, karena ia sangat sering pulang larut seperti ini.


Sholeh mendorong pintu kamar, lampu yang sudah menggelap dan wajah istrinya yang terlihat samar tengah tertidur begitu damai. Sholeh tak berani mendekat, ia segera membersihkan diri, sebelum rasa kantuk benar-benar menyerangnya.


Sholeh mendekap istrinya dengan hangat, tak memberi tekanan di tubuh mungil itu. " I love you" bisiknya sebelum benar-benar berpindah ke alam mimpinya.


***


Adzan subuh berkumandang, Sholeha menggeliat merasakan tubuh kekar suaminya merangkap dirinya. Dia bahkan tak menyadari kepulangan nya semalam, tangannya terulur meraba rahang tegas nan damai nya.


Sholeha mengingat bagaimana wajah itu tegang pagi tadi, sesekali mengusapnya dengan lembut. " Mas, Mas, subuh dulu yuk. " ucapnya, berusaha membangunkan.


Tidak ada jawaban selain gumaman yang semakin tenggelam lagi, tangan nya mengeratkan dekapan pada Sholeha. " Sebentar aja Mas " bujuk Sholeha.


Tak lama, Sholeh langsung terbangun meninggalkan istrinya yang masih terbaring mengamatinya. " Mas dulu ya, kebelet " katanya beranjak dari ranjang.

__ADS_1


Sholeha bangun menyandarkan punggungnya, diam mendengar pintu kamar mandi yang sepertinya tidak terkunci. Kebiasaan Sholeh yang tak sempat mengunci kamar mandi, dia tak segan sama sekali. " Jangan lama-lama Mas, keburu habis subuh nya " ujar Sholeha sedikit berteriak.


" Barengan aja Yang, Mas sudah kok " jawab Sholeh dari kamar mandi.


Mendengar jawaban suaminya, dia tidak percaya. Salah-salah dia masuk, malah melihat Sholeh yang masih buang hajat. Sholeha beranjak, memilih ke kamar mandi belakang, mengambil air wudhu di sana saja.


Tak sengaja ia bertemu dengan ibunya, ia sudah sangat siap sholat menuju ke ruang sholat seperti biasanya, " Mas mu dah pulang Nduk ?"


" Sudah Buk, tapi ndak tau jam berapa"


" Ya sudah, " jawabnya, meneruskan langkahnya.


***


Sholeh keluar dari kamarnya, sejak subuh tadi ia belum melihat istrinya lagi, entah kemana dia sekarang. Dapur pilihan pertama, dia pasti akan menemukan ia di sana, dan benar saja wanitanya itu sedang mengaduk sesuatu.


" Yang, sedang apa ?" Sholeh melongok ke hadapan istrinya.


" Wedang jahe, buat Mas "


" Mas ngak suka, " ucapnya sangat menolak.


" Aku suka, minum ya. Ini seger banget loh, " Sholeha menyodorkan cangkir yang masih mengepul.


" Mas ndak suka, pedes rasanya " Sholeh mendorong cangkir pelan.


" Mas, minum ya. Sholeha pengen liat Mas minum ini sekarang. Biar sehat badannya " kata Sholeha sangat memaksa.

__ADS_1


***


__ADS_2