Cinta Sholeha

Cinta Sholeha
Sesuatu Terjadi


__ADS_3

Sholeh pulang dengan hati yang tenang, dia banyak membicarakan hal-hal pribadi dan urusan pekerjaan. Dito meyakinkan Sholeh, jika bantuan akan terus mengalir untuk menyelamatkan usahanya.


Betapa kebahagian yang tiada tandingnya, memiliki teman kaya yang tak sungkan membantunya. Sholeh semakin tak enak hati pada Dito, tetapi tidak ada pilihan lain selain berterimakasih kepadanya.


Ada obrolan kecil tadi yang menarik, Dito dengan sembarangan mengatakan ingin menggandakan bantuannya hari ini dengan perjodohan anaknya di masa depan. Dito memang gila, bisa-bisanya dia membicarakan ini sedangkan ia sama sekali belum menikah.


Meski hanya guyonan, Sholeh berjanji dalam hatinya, jika Tuhan menghendaki ia mau menjodohkan anaknya dengan anak teman yang begitu berjasa itu.


Sholeh menggelengkan kepalanya tak percaya jika ia berpikir jauh dengan Dito seperti tadi. Apa boleh seperti ini ?


Sholeh melajukan mobilnya, meninggalkan pekarangan Dito yang begitu megah tanpa celah itu. Tak menyangka pertemanan Sholeh sampai di titik ini, ia menghembuskan nafas, memfokuskan diri, meneruskan perjalanan pulangnya.


Sholeh memutar arah, dia teringat jalan menuju soto mbok Jum. Istrinya itu akan sangat bahagia jika ia membelikan satu porsi lengkap dengan bawang gorengnya. Untuk mengganti kesalahannya waktu dulu.


Mbok Jum sampai tersenyum begitu lebar pada Sholeh, karena lumayan lama tak singgah kesana, tentu saja membuatnya sangat bahagia.


" Sudah berapa bulan istrimu hamil Le ?" tanya Mbok Jum.


Sholeh memang menceritakan kehamilan istrinya kapan hari padanya, sangking seringnya ia membeli soto, meski terkadang di tengah hujan lebat.


" Masih muda Mbok, belum genap dua bulan. Mohon do'a nya saja " jawab Sholeh tersipu.


Mbok Jum mengulurkan bungkusan sotonya, " Mbok selalu berdoa baik kepada mu Le, sampaikan salam ku kepada istri mu ya "


" Iya Mbok, tentu saja. Terimakasih " Kata Sholeh tersenyum begitu hangat padanya.


Sebungkus soto buatan Mbok Jum di bawanya dengan begitu bahagia. Dia tidak akan mendapat wajah cemberut istrinya lagi hanya karena tidak ada bawang goreng nya. Dia bahkan membayangkan akan di kecup begitu mesra dengan Sholeha nanti.


Mobil terus melaju, tau di mana ia akan berhenti, menurut sang pengemudi yang tak berhenti tersenyum sejak tadi. Entah mengapa jika bahagia seperti ini, dia terus saja merindukan istrinya dalam kadar yang sangat meningkat.


Sholeh tanpa ragu masuk ke dalam rumah, sembari memanggil istrinya dengan bersemangat. Sampai-sampai ibunya ikut melongok karena keributannya. Bu Nur hanya tersenyum, saat melihat anak dan menantunya saling berpeluk mesra di depan kamarnya, tanpa ragu. Ia kembali ke dalam kamar, tak mau mengganggu kemesraan mereka.


Sholeh langsung menempel pada istrinya, sesekali menciumi pipinya. Sholeha menjerit kegirangan saat soto hangat di berikan kepadanya. Seketika Sholeha melepas pelukan sang suami, mengabaikan dia begitu saja, dengan wajah cemberut nya.


Sholeh mengikuti istrinya yang langsung duduk manis di meja makan, menikmati Soto tanpa menoleh padanya. Dia sampai terheran-heran melihat tingkahnya.

__ADS_1


" Bawang nya ada kan?" tanya Sholeh.


" Ada, tapi dikit. Pengen yang banyak " jawab Sholeha, ia sedikit meniup-niup kuah di sendok nya.


Sholeh tak menghiraukan lagi, dia memilih mengambilkan air putih untuk istrinya, " Mas, kok Ibu ndak di belikan juga ?" kata Sholeha tiba-tiba.


Sholeh nyengir saja, " Lupa, " jawabnya singkat.


" Kalo Ibu pengen juga gimana ?" katanya dengan lesu.


" Mas tanya langsung nanti, kalo Ibu mau Mas beli lagi. "


Sholeha meneruskan makannya, dia benar-benar menyukai soto buatan Mbok Jum. Sayang tempatnya sangat jauh, Sholeha tak sanggup jika harus ke sana.


" Mas, gimana sudah beres?"


Karena terlalu asik memandang wajah istrinya dia sampai lupa bercerita hasil dari pertemuannya tadi. Dia tersenyum lagi, " InsyaAllah akan ada hal baik, kita berdo'a saja." Katanya tanpa ragu.


" Kapan mereka akan menikah, aku dengar mereka sudah bertunangan ?"


" Kenapa, ?" tanya Sholeha penasaran.


Sholeh membenarkan posisi duduknya, lebih mendekat pada istrinya, " Ternyata hutangnya banyak sekali, dan sekarang dia ada di suatu tempat. " Ia menggantungkan kata-katanya.


" Di mana, ?" Sholeha semakin penasaran melihat wajah suaminya yang serius.


" Dia di tangkap, ada yang melaporkan. Ternyata dia menipu orang-orang kota juga Yang, "


" Astagfirullah, Mas. Serius, berapa lama dia di sana ?"


" Mas kurang tau, "


Sholeha terdiam, tak menyangka jika ada cerita yang begitu keras di hidup Rahma. Seketika ia teringat dengan wajah Rahma, " Mas. Apa tidak ada masalah untuk keluarga Mas Dito ?"


Sholeh menatap istrinya, dia juga tidak terpikirkan hal itu. Dia menggeleng, " Sepertinya baik-baik saja " ucap Sholeh pada istrinya.

__ADS_1


Sholeha mengangguk-anggukan kepalanya, sesekali menyesap kuah soto yang sebenarnya sudah mengering sejak tadi.


***


Setelah menemani istrinya makan, Sholeh kembali ke ruko menemui Agus yang sudah pasti sangat menunggunya. Teman seperjuangan nya itu sangat setia, apa pun yang sedang di alaminya.


Berlari kecil dengan kaki jenjangnya, tak sabaran memberikan secercah harapan untuk keberlangsungan hidupnya. Agus bahkan sudah bersiap menunggu cerita bagus dari Bosnya.


" Yakin, pasti bagus ini. " Kata Agus.


" Kita usahakan dulu, jika masih kurang, Dito berjanji akan membantu. Yang penting kita selesaikan pembayaran yang tersisa, menghitung material yang belum terbeli. Setelahnya kita jual cabang yang satu itu, "


" Sayang Bos, kalau dijual "


Sholeh berdecak, " Ndak enak lah kalau mengandalkan Dito, hutang kita sangat besar Gus. Setidaknya separuh saja, agar tak terlalu berat membayarnya "


" O, terserah Bos deh. Lain kali kita hati-hati, agar tak kejadian seperti ini " Kata Agus masih saja terlihat tak enak hati.


Masih berbincang dengan Agus, Sholeh terkejut saat melihat ibunya tergopoh sembari memanggil namanya. Sholeh spontan berdiri dari duduknya, meraih tangan ibunya yang terasa bergetar.


" Le, istri mu " Sholeh langsung berlari ke rumahnya, merasa sesuatu terjadi padanya.


Manusia memang tak tahu urutan jalan cerita hidupnya, setelah bahagia belum tentu sengsara, atau belum juga bahagia kembali sengsara. Atau lain sebagainya perumpamaan, Sholeh bergetar saat melihat istrinya terkulai lemas di depan pintu kamarnya, dia belum tau apa yang terjadi pada istrinya itu.


Dengan sekuat tenaga, ia membopong Sholeha dengan cepat, membawanya ke klinik bersalin. Sholeh tak ingin menduga-duga tentang apa yang sedang terjadi, ia bersabar agar tetap selamat menemui dokter.


Bu Nur yang sigap mengikutinya dari tadi, juga tampak terdiam sesekali mengusap kepala menantunya yang berkeringat, air matanya juga mengalir begitu deras mengiringi mulutnya yang meringis kesakitan dan ketakutan.


" Sabar ya Nduk, sabar, "


" Ibu, ...." Suara Sholeha begitu kecil dan lemah, sembari menangis begitu memilukan.


" Beristighfar lah Nduk, jangan katakan apa pun" kata Bu Nur yang ikut bergetar suaranya.


***

__ADS_1


__ADS_2