
Suasana kamar yang begitu tenang membuat sang empu bersemangat riang menuju ranjang, ah rasanya begitu lelah hari ini. Tanpa melepas kerudung lebarnya Sholeha terbaring menimpa boneka beruang besar miliknya. Berpindah memeluk kaki boneka dengan erat menyalurkan rasa rindu seolah lama tak bertemu. Dari bibir mungilnya terdengar suara bergumam manja pada benda tak berdaya teman tidurnya selama ini.
Kakinya sedikit berayun di bibir ranjang, menunjukan ada hati yang sedikit berbunga pada wanita itu. Dia bergerak tak beraturan setelah semakin erat memeluk dan menenggelamkan wajahnya pada boneka besar itu.
" Ih aku ini kenapa?" dia sontak terduduk dan tersenyum tidak jelas apa sebabnya.
Sholeha berkali-kali menarik nafas dan membuangnya dengan kasar, ia menghalau berbagai pikiran yang datang mendadak memenuhi otaknya. Dia bosan menanggapi otak gilanya kali ini, sebisa mungkin Sholeha mencari kegiatan yang menghindarkan ia dari melamun.
Sholeha masih duduk berpikir apa yang akan di lakukan saat ini. Pertama ia teringat segera mengganti bajunya yang terasa heboh di kenakan hari ini, dan ya kerudungnya yang begitu kusut di pakai seharian. Sebenarnya apa saja yang ia lakukan sampai berantakan seperti ini? ia menanyakan itu pada bajunya yang tergeletak di lantai " Kacau sekali" ucapnya menggeleng.
Sinar mentari sore masuk melalui celah jendela kamarnya, cukup jelas menunjukan hari yang akan segera berganti. Bersiap mandi pun masih enggan gadis yang merasa hatinya sedang aneh itu pergi melangkah meninggalkan ruang pribadinya itu.
" Ibu dah masak aja?" Sholeha melihat ibunya sedang sibuk di dapur.
" Ndak Nduk, Ibu beresin kulkas ini loh takut ada yang busuk sayurannya" ia mencuci beberapa wadah yang kosong.
Sholeha ikut memilih beberapa sayur yang terlihat layu " Bu, Mas Sholeh nanti mau kesini" ucapnya pelan.
" Kapan?"
" Habis magrib, " Sholeha sembari mencuci wortel yang sedikit terkena daun busuk.
" Bapak tau Nduk? takutnya dia malah ndak pulang-pulang dari masjid."
" Nanti Leha kasih tau"
Sholeha meletakan tiga buah wortel kedalam wadah, dia hendak pergi ke kamar mandi.
" Nduk," panggil ibunya tiba-tiba.
"Iya Bu, " Sholeha kembali mendekat.
" Ibu tau kamu banyak pikiran tentang Rahma, jangan terlalu sedih ya walau bagaimana pun kamu itu sudah di khitbah, di jadikan calon istri sama nak Sholeh jangan berkecil hati melihat Rahma, yang penting kamu percaya jika Sholeh bisa bertanggung jawab kepada mu. Ibu tau kamu sedang belajar menerima perjodohan ini, dan Ibu juga tau jika kalian sedang saling berusaha terhubung untuk melanjutkan keputusan kalian. Jangan terlalu sedih ya Nduk pasrahkan semua pada Allah." tuturnya lembut menasehati sang putri kesayangannya ini. Entah dari mana kemampuan membaca hati dan pikiran anaknya itu.
" Ibu, Leha ndak apa-apa kok. Sholeha hanya perlu belajar menyikapi diri sendiri dan sedikit mencoba memahami Mas Sholeh juga, masih banyak waktu kan?" Sholeha tersenyum seiring tangannya mengusap punggung tangan sang ibu.
" Maaf ya jika Ibu terlalu memaksa" bu Fatma mengusap pundak Sholeha dengan sayang.
" Doa kan saja ya Bu!" ia memeluk erat sang ibu.
Sejak kemarin dia banyak berpikir tentang dirinya sendiri, mengira dan menduga banyak hal yang belum terjadi dia diam berperang dengan otaknya tak menghiraukan sang ibu atau sekedar bercerita. Sholeha sangat menyadari jika ia terlalu tertutup dan ibunya selalu saja bisa menembus benteng dalam dirinya.
Dan lihat lah, hanya dengan sorot mata saja ia sudah berhasil menebak isi pikiran dan hatinya selama ini.
" Ibu emang yang terbaik" ucap Sholeha melepas pelukannya, dia hampir saja meneteskan air matanya.
" Belum mandi kok malah ganti baju" seloroh ibunya pada Sholeha.
" He he he, ndak tau kalau sudah sore. Mandinya malam aja lah buk"
" Kamu ini, sakkarep mu Nduk" Bu Fatma mendesah.
Sholeha mengurungkan ke kamar mandi, ia beralih pada meja makan yang terlihat begitu banyak makanan yang sama saat di rumah Rizal tadi. Ada bungkusan kue-kue basah dan sedikit kerupuk dan keripik. Beragam sekali ya isinya, jiwa memilih dan icip-icip nya bergelora seketika.
" Ibu kita ndak masak?" Sholeha melihat tidak ada lauk untuk makan malam nanti.
__ADS_1
"Masak apa ya, Ibu bingung " bu Fatma ikut bergabung di meja makan.
Sembari memakan satu donat tak bertoping Sholeha tidak menghiraukan jawaban sang ibu.
" Nak Sholeh sukanya apa ya?"
Sholeha tiba-tiba tersedak, melihat ke arah ibunya yang tampak sedang berpikir sangat keras.
"Emang kenapa Bu?" suaranya tak jelas karena mengunyah donat yang memenuhi mulut.
"Ya biar seneng toh makan di sini" jawab ibunya serius.
" Ih Ibu ndak usah lah, ntar dia ndak pulang-pulang"
" Pie toh kamu ini, malah gitu ngomongnya?" ketusnya pada Sholeha.
" Sholeha ndak tau Buk" jawab Sholeha sembari merengut pada ibunya.
Tidak ingin ikut bingung memikirkan soal memasak dia memilih kabur mandi sesegera mungkin. Sikapnya itu berhasil mendapat pukulan kecil dari sang ibu ia yang berlari begitu saja. Menurutnya cukup buat kan teh hangat atau dingin dan tambah satu toples keripik sudah cukup sepertinya. Dia tidak menyangka ibunya seribet itu menyambut kedatangan calon menantunya itu.
Sebenarnya Sholeha cukup menyadari sejak dulu, ia telah di jodohkan dengan pria itu oleh kedua orang tuanya. Hanya saja dulu ia kekeh berpacaran dengan Arman, dia juga tipe wanita setia yang bisa bersabar dari segala hal hingga awet menjalin hubungan dengan Arman.
Oh iya, sebelum berpacaran dengan Arman dia tidak pernah dekat dengan siapapun, awalnya ia juga sangat yakin jika dia akan segera menikah dengan Arman, siapa yang menyangka ia harus menyerah setelah menunggu sekian lama.
Sejak dulu ibunya selalu menasehatinya agar tidak pacaran terlalu lama, oleh karena itu ia selalu meminta Arman segera menikahinya, dia yang terlalu kekeh menunggu Arman menikahinya sehingga ibu dan bapak nya cukup pusing menghadapi sikapnya. Dan akhirnya ia kalah dengan perjuangan itu.
Sholeha bahkan curiga, jika ibunya dan Bu Nur telah berencana sejak ia belum lahir. Meskipun dia tidak terlalu dekat dengan Sholeh atau bu Nur, tapi ibunya ini adalah sahabat yang begitu dekat. Kata orang hubungan mereka sekental darah. Sholeha pun bisa melihat itu, ah sudah lah nurut saja, semoga tidak patah di tengah jalan saja.
***
" Assalamualaikum, " terdengar salam yang begitu sopan dari balik pintu yang tak tertutup dengan sempurna.
Dia menepati janji datang setelah magrib, bahkan dia terlihat sangat rapih dan berseri menyalami bu Fatma.
" Langsung kesini Le?" tanya bu Fatma, melihat Sholeh yang masih lengkap dengan baju koko putih berpadu dengan celana kain hitam, tanda ia juga baru turun dari masjid.
" Iya Bu, takut kemalaman" ia duduk di salah satu kursi kayu jati itu.
" Bapak sebentar lagi pulang" kata Fatma ikut duduk.
Sholeha mendengar tamunya sudah datang, ia bersiap membuatkan teh hangat lemon dan seperti tadi ia rencanakan, dengan menambahkan satu toples keripik pisang balado di atas nampan kecil. Dia dengan telaten menunggu tehnya sedikit larut, agar terlihat lebih cantik saat di hidangkan. Sebenarnya Sholeha yang terlalu sabar atau hanya sedang menunda pertemuan dengan Sholeh saja?
" Nduk !" panggil ibu menemuinya ke dapur.
"Ya Buk?"
" Nak Sholeh pamit, ada telpon dadakan" ucapnya sedikit gugup.
Sholeha segera menemui Sholeh di ruang tamu, dengan sedikit khawatir ia tidak menunda rasa penasarannya untuk bertanya.
" Ada apa Mas?"
Sholeh bahkan telah beranjak akan pergi, dia memegangi ponselnya baru saja ia mengakhiri sebuah panggilan.
" Titip salam aja buat Bapak, maaf ya saya harus melayat" jawabnya sedikit bersedih.
__ADS_1
" Siapa yang meninggal Mas?" Sholeha ikut panik dan cemas.
" Neneknya Rahma, saya harus ke sana segera" tuturnya dengan suara berat, jelas ada raut kegelisahan di wajah itu.
" Innalillahi wa Inna ilaihi Raji'un, "ucap sholeha. " nanti leha sampaikan pada bapak, mas hendak ke sana?"
" Iya, saya tidak bisa menunda" dia bersiap meninggalkan ruang tamu.
Sholeha tidak mungkin banyak bertanya lagi kali ini, dia juga tidak akan mencegah Sholeh pergi.
Dengan seuntai salam ia benar-benar meninggalkan pelataran rumah itu.
Dia melaju dengan sedikit tergesa terlihat oleh Sholeha yang terus melihatnya dari daun pintu. Kemudian sosok ayahnya kembali dari masjid.
" Sholeh sudah datang Nduk?" Sulaiman melongok ruang tamu yang masih sepi.
Keduanya masuk dan bergabung dengan bu Fatma di lingkaran kursi yang bersih berkilau dari khas warnanya kayu jati.
" Sudah datang Pak, tapi ada telpon dadakan sepertinya ada kerabat yang meninggal" jawab ibu, yang kurang tau siapa yang di maksut kerabat yang di sebutkan tadi.
" Kerabat siapa? kok Bapak ndak tau?" Sulaiman pun ikut panik dan bingung.
Semua orang memandang Sholeha yang tampak diam, " Ah itu loh Pak, Bu, Nenek nya mbak Rahma" jelasnya kemudian.
" Rahma, teman Ayu itu?" Suliman masih saja belum paham.
Sholeha mengangguk, karena dia juga tidak tau lebih banyak tentang keluarga Rahma.
" Oh yang kita bertemu di klinik kapan hari itu ya Nduk?" Bu Fatma menambahkan.
" Kayaknya sih iya Bu" jawab Sholeha sembari menyandarkan punggungnya di punggung kursi .
" Emang akrab banget ya Nduk, wajar dia sampai terburu-buru ke sana" Bu Fatma kembali menambahkan pendapatnya untuk memperjelas keadaan Sholeh.
Sedikit kecewa, tapi apalah hendak di kata Sholeh juga tidak akan tahu jika ada kabar duka ini. Sholeha segera mencari ponselnya di kamar, dia ingin tahu lebih jelas dari Ayu. Setidaknya sekedar menanyakan. Ia mengetikan beberapa pesan pada iparnya itu.
Setelah mendapat balasan dari Ayu Sholeha kembali ke ruang tamu menemui orang tuanya.
" Bu, besok Leha layat ya" Sholeha meminta izin.
" Dengan Mbak mu?"
" Iya, Mas Rizal ada kerjaan katanya."
" Iya sudah ibu izin kan"
" Apa ndak di antar saja Nduk?" tanya ayahnya. Karena memang jarak rumah Rahma yang lumayan jauh dari rumah mereka.
" Bisa Pak berdua aja sama Mbak Ayu, dia sering ke sana kok pas jaman sekolah dulu" Sholeha meyakinkan bapaknya.
" Aa sudah kalau gitu".
Berniat hanya memastikan saja, Sholeha malah di paksa oleh Ayu agar mau menemaninya besok. Awalnya dia menolak, tapi Sholeha juga berpikir tidak ada salahnya dia ikut, toh Sholeha juga mengenal Rahma meski belum lama ini.
Sholeha kembali ke dapur, melihat nasib teh hangat lemon tadi yang terlantar di atas meja makan.
__ADS_1
" Kasian kamu, biar aku yang minum" ucapnya pada segelas teh yang mulai mendingin. Dia meminumnya perlahan, sembari merasakan aroma lemon yang begitu menyegarkan. Meski sebenarnya hatinya sedang tidak segar.
***