
Sembari meneruskan perbincangan santainya dengan Rizal, Sholeh beberapa kali melirik ponselnya. Tidak bergetar sekalipun, ia menunggu balasan pesan dari Sholeha. Ah ternyata memang benar, dia pasti marah padanya membalas pesan pun enggan.
" Kamu ini kenapa toh?" tanya Rizal keheranan melihat wajah Sholeh yang kembali kusut.
" Oh itu, eh tidak Mas" ucapnya belepotan.
Rizal hanya menggeleng, mencemooh dengan raut muka yang jenaka, dari tadi ia melihat Sholeh yang grasa grusu tidak karuan, membuatnya yakin ada hal lain dalam perkara menikah. Rizal tetap diam.
" Mas, Adik mu itu kalau marah lama ndak?" ucap Sholeh tiba-tiba.
Rizal langsung tertawa," Kamu lagi di marahin Sholeha tah?"
Sholeh sampai melotot tidak setuju, " Ya enggak lah Mas, tapi dia sedang marah"
" Dia itu ndak bisa marah, sebentar juga baik lagi, nunggu dia hilang keselnya. Ingat ya Leh, dia itu kan tergolong anak yang manja, di puji dikit aja dia bakal lupa sama keselnya!" Rizal mencoba memberikan sedikit saran kepada Sholeh.
Sholeh mengangguk, "Masa iya saya harus memujinya cantik, secara tiba-tiba ya ndak masok lah Mas" ucap Sholeh dengan penekanan logat Jawa yang begitu kental.
Rizal menepuk pundak Sholeh" Ya ndak juga, ya sudah ucapkan kata maaf saja berulang kali, pasti dia iba dengan mu!" tawa Rizal semakin menjadi.
Sholeh merasakan Rizal adalah kakak yang sangat jail pada adiknya dulu, wajar saja Sholeha jadi iba jika mengucapkan maaf nya sampai berulang kali. Sholeh menggeleng, namun sedikit penasaran ingin mencoba pada Sholeha nanti.
" Kamu ndak percaya ya sudah, dia itu ya emang gitu, ndak tega an orangnya."
Sholeh hanya tersenyum menanggapi Rizal. Pada awalnya memang Sholeh yang selalu mendengar banyak cerita tentang Sholeha dari orang-orang terdekatnya, yang kini semakin terbiasa dan sangat senang mendengarnya. Bagi Sholeh wanita yang sangat muda itu adalah bentuk dari kepingan puzzle yang selama ini ia kumpulkan. Terkadang ia sedikit menyadari jika ternyata dia telah menyukainya sejak dulu. Hal pertama yang ia dapat adalah puzzle keceriaan nya dan kini telah menjadi sebidang senyum manis yang tak tergantikan dari otaknya. Sholeh sudah mengunci dalam pikirannya.
Setelah puas memberikan banyak saran Rizal pamit pulang, di depan teras yang begitu tenang itu Sholeh terbenam oleh lamunannya pada Sholeha.
Astagfirullah....
Ucapnya dalam hati, Sholeh bangkit dari duduknya mengalihkan lamunannya yang semakin tidak karuan itu.
Ia menghampiri ibunya yang tengah duduk santai sembari menonton televisi.
" Ada apa le?" tanya Bu Nur, yang menyadari puteranya itu berdiri cukup lama mengamatinya.
Sholeh ikut duduk di sebelah ibunya,
" Kita lamar Sholeha sekali lagi yok buk!"
Tiba-tiba bu Nur mematikan televisi, ia beralih memandang Sholeh dengan sangat lamat.
" Ibu ndak paham." jawabnya tenang.
__ADS_1
" Sholeh ingin cepet nikah aja bu, kelamaan nunggu tiga bulan"
Bu Nur tertawa, " Kenapa, apa sudah ndak sabar. Seingat ibu belum ada sebulan loh sejak kalian lamaran, "
" Bisa ndak Bu?" Sholeha berusaha meminta persetujuan pada ibunya, yang terkesan tidak percaya.
" Ya bisa dong le, kamu bicarakan sama Sholeha aja kalau dia mau !"
Sholeh tampak diam, begitu dalam menyelami pikirannya saat ini.
" Ada apa sebenarnya le? " tanya bu Nur lagi, seolah memahami keresahan anaknya.
" Ndak tau Bu, Sholeh kayak udah mantep aja sama Sholeha, "
" Bukan karena takut di ajak nikah sama Rahma kan?"
" Ndak lah Bu, " jawabnya sangat cepat.
Ibunya tersenyum, memberikan tanda persetujuan akan maksud perkataanya.
***
Setelah menyampaikan maaf nya pada Sholeha, ia sedikit merasa tenang. Di luar dugaannya, Sholeha akan memintanya menikahi Rahma, meski tidak begitu bahasanya ia mengucapkan. Dengan mudahnya Sholeha mengajukan diri akan membatalkan pernikahan, dan membiarkan Sholeh menyelesaikan masa lalunya. Tidak tau kah ia jika Sholeh sudah tidak bisa lagi bersabar ingin segera menghalalkan calon istrinya itu.
Hampir saja Sholeh mengeluarkan energi yang begitu tinggi untuk melawan perkataan Sholeha yang terkesan menghakiminya. Untung saja Sholeh bisa mengkontrol dirinya sendiri saat itu.
" Maaf ya Sholeha" ucapnya dalam hati,
entah untuk kata maafnya itu.
Akhirnya Sholeha menyerah dengan pendapatnya sendiri, mungkin saja ia juga memikirkan kedua orang tuanya.
Duduk berdua saja di teras dengannya membuat Sholeh semakin tak nyaman, beberapa kali ia menengok jalan berharap kedua orang tua Sholeha segera datang.
Selain ingin menyampaikan keinginannya, ia juga tida bisa dalam situasi seperti ini terlalu lama. Jantungnya terlalu tegang sejak tadi.
Tidak lama kemudian emereka datang juga, nafas lega pun terdengar keluar dari mulutnya. Sholeh segera berdiri menyambut kedua calon mertuanya itu.
" Assalamualaikum, loh ada calon mantu Pak" kata bu Fatma ketika baru saja sampai di tepian teras.
Dengan senyumnya yang malu-malu, Sholeh menyalami Sulaiman.
" Sudah lama Le?"Sulaiman sembari melangkah ke luang tamu.
__ADS_1
Sholeha juga mengikuti mereka, namun iya tak bergabung di ruang tamu. Gadis yang jadi bintang utama itu meneruskan langkahnya ke dalam.
Bu Fatma bahkan terlihat mencoba memanggil Sholeha untuk sekedar duduk untuk bergabung, namun Sholeha mencegahnya.
" Kita sudah ngobrol banyak tadi Bu, Sholeh juga sebentar lagi pamit " ucapnya pada bu Nur.
" Maaf ya Nak, anak ibu itu memang sedikit kurang sopan"
" Tidak Bu," Sholeh tersenyum ramah tak masalah.
Sekiranya cukup untuk menanyakan kabar dan banyak hal, Sholeh memberanikan diri menyampaikan niatnya.
" Sebenarnya Sholeh punya keinginan tetapi ndak tau bapak dan ibu setuju atau tidak" katanya dengan hati-hati.
" Katakan saja nak!" perintah Sulaiman penuh kehangNtan.
" Sholeh ingin tanggal akadnya di percepat."
Dengan penuh keramahan keduanya serentak tersenyum dan menyetujui.
" Kita rundingkan besok malam, ajak ibumu
juga ya Le!" bu Nur mengingatkan.
" Tapi Bu, Sholeha belum tau tentang ini?"
" Itu masalah gampang, biar Bapak yang atur. Insyaallah dia juga menyetujuinya"
Sholeh mengangguk, ia percaya dengan ucapan Sulaiman yang sepenuhnya terus memberikan keputusan terbaik untuk putrinya itu. Ia juga beberapa kali membatin mengucap maaf pada Sholeha yang kemungkinan lagi-lagi akan di paksa kehendaknya oleh bapaknya, dan kali ini Sholeh sepenuhnya adalah dalang dari semua ini.
Sholeh begitu bersyukur telah di terima dengan sangat baik oleh keluarga sebaik mereka, di saat ia hampir kehilangan sosok arti dari sebuah keluarga.
Dengan perasaan lega, Sholeh kembali pulang ke rumahnya. Bersiap menceritakan segalanya kepada sang ibu.
Sholeh menyadari satu hal kali ini, dari awal tidak ada penolakan untuk menerima Sholeha, bahkan entah sejak kapan ia menjadi seperti takut kehilangan gadis pilihan ibunya itu. Sebelumnya ia berencana memperbaiki hatinya untuk Rahma, tidak di sangka Sholeha terlebih dahulu datang dengan tiba-tiba dan terkesan tidak sopan karena terbilang memaksa. Yah, Sholeh sedikit mengakui jika dia menyukai garis besar cerita ini.
***
Sepanjang malam itu, Sholeh bahkan terus teringat bagaimana cara Sholeha bersikap begitu tenang menghadapi Rahma ketika di acara khitanan Fatih, cara ia memberikan kesempatan untuk mengejar Rahma bahkan jika itu di posisi Sholeh mungkin dia akan marah atau setidaknya tidak lagi mau bertemu dengannya. Ia berpikir dengan sangat dalam, Sholeha adalah hal yang sangat berharga, Sholeh sempat berpikir kalau Sholeha bisa saja kecewa padanya dan kembali lagi pada mantannya.
Meski hanya sebatas cerita Sholeh cukup tau hubungan Sholeha dan mantan kekasihnya dulu, beberapa orang juga berpendapat jika Sholeha masih mencintai, dan tipe gadis yang setia.
Dari banyaknya cerita-cerita ini Sholeh semakin yakin dan tidak ingin kehilangan kesempatan ini. Tak jarang dia sengaja mencari informasi remeh itu kepada para karyawan toko dan ibunya bahkan langsung pada Rizal.
__ADS_1
Se-niat itu kan dia.
***