
Sholeh baru ingat telah berhutang penjelasan pada istrinya. Dia ingin menjelaskannya tetapi tidak mungkin jika di tempat umum seperti ini. Telinga orang bisa mendengar dan takut bisa salah paham.
Sayangnya Sholeha pasti sedang penasaran, jika tak di jelaskan sekarang takutnya menimbulkan rasa curiga seperti dulu. Sempat bimbang akhirnya Sholeh memberikan penawaran yang tak mengecewakannya.
" Kita pulang saja dulu ya, Mas masih ada kerjaan sama Agus di toko" bujuknya dengan lembut.
Sholeha terdiam, berusaha keras agar tak menebak-nebak nya sendiri dan berburuk sangka. " Iya deh, terserah".
Sholeh segera membayar dan mengajak Sholeha pulang. Menunda permintaan sang istri seperti ini ternyata tak menguntungkan bagi kesenangannya. Lihat saja, istrinya ini merubah wajah dan senyumnya, seolah kecewa karena tak di beri tahu langsung saat ia bertanya.
Tangan yang melingkar mesra sebelum sampai di warung bakso tadi mengendur, tak hangat seperti pagi tadi. Sholeh Ah, begini rasanya jika sang istri sedang merajuk. Jika di biarkan terlalu lama tak akan baik untuk keberlangsungan dirinya.
Sholeh menambah kecepatan motor itu, agar lebih cepat sampai dan menyelesaikan obrolan tadi. Saat ia fokus berkendara, dari belakang ia mendengar sang istri memanggil, mengurangi kecepatan dan sedikit menepi.
" Kan kita mau beli buah, kok malah ngebut" Sholeha menggerutu.
Sholeh kembali tersadar, dan segera mampir di toko buah yang sedikit terlewat tadi. " Maaf... Yang, lupa" Sholeh nyengir kuda.
Istrinya cuek menyikapi, dia memilih segera turun dan seperti biasa menyapa ibu penjual yang sangat ramah. Kali ini toko itu cukup ramai dan stok buah yang mulai habis. Sepertinya laris manis.
Sholeha memilih jeruk, dan apel. Dari belakang Sholeh menambahkan mangga dan anggur. " Apa lagi yang, mau semangka ndak?" tanya Sholeh.
Sholeha menggeleng, dia sabar menunggu antrean membayar. Sholeha melihat sosok lain di sana. Pria yang mirip dengan ibu pemilik toko, sepertinya dia putranya. Matanya berusaha mengingat, dengan terus memandangnya.
Tiba-tiba saja suaminya berdiri tepat di hadap Sholeha, menghadap pada dirinya.
" Mas, minggir ih. Ngapain?" Sholeha berusaha mendorong tubuh suaminya pelan.
" Dosa yang, Ndak boleh liatin orang gitu." jawab Sholeh pelan, hanya Sholeha yang bisa mendengar.
Sholeha tambah mendelik, " Mas, Leha lagi memastikan itu teman Sholeha pas sekolah dulu atau bukan, bukan liatin yang gimana-gimana" jawabnya tambah kesal.
Tak lama ibu penjual menghampiri mereka, berniat membantu menyelesaikan pembayaran. Dari situ laki-laki yang membuat suami istri itu berdebat, mendekat membantu mengemas.
" Sholeha ya, ?" ucapnya.
Sholeha tersenyum " Iya, kamu Dika kan. Kelas sebelah UKS dulu?"
Yang di sebut namanya tertawa dan saling menyapa. " Iya saya Dika"
" Kalian kenal ya, dia anak bungsu ibu loh nduk. Ibu pikir tidak kenal, karena kita tidak tinggal di sini dulu" jelas sang ibu tak menyangka.
" Iya, kami kenal Bu" Sholeha tersenyum.
Sholeha menghentikan senyumnya ketika sang suami terlihat diam saja dengan wajah datarnya. Sholeha tersadar ada hal yang perlu ia sampaikan.
" Ini kakak mu Ha?" tanya Dika melihat Sholeh. Dia terlebih dahulu penasaran.
Sholeh maju ke depan menjabat tangan Dika " Saya suaminya " tidak ada senyum dan nada yang ramah darinya.
" Ah, maaf Mas. Saya ingat jika Sholeha punya kakak laki-laki dulu" jawab Dika kikuk.
Tak ada pertanyaan lain Dika segera mengemas dan Sholeha juga menyelesaikan pembayaran pada sang ibu. Saling mengucapkan terimakasih, kedua penjual dan pembeli itu berpisah.
Sholeha sempat melihat perubahan suaminya yang tak seperti tadi. Dia hanya menghela nafas, tak mengerti apa yang sedang terjadi.
Sholeha tak menyangka bisa bertemu Dika di sana, padahal sejak lulus dia tidak pernah bertemu lagi. Mungkin saja dia merantau seperti kebanyakan orang, tetapi jika di ingat dia siswa berprestasi bisa jadi dia kuliah di kota. Sholeha masih sibuk dengan dugaan dan perkiraannya dalam diamnya. Tak terasa dia telah sampai di depan rumah saja.
Sholeha membawa buah di tangannya, namun sang suami merebutnya tanpa kata. Tidak kasar, tetapi sedikit aneh sikapnya. Sholeha diam saja, mengikutinya dari belakang tanpa bicara.
" Ya ampun Nduk, kulkasnya masih penuh. Kamu sudah borong lagi" ucap bu Nur menyambut mereka.
" Ah iya kah Buk, tadi Leha habis jajan trus ingat Ibu, kata Mas Ham belikan ibu buah saja biar sehat" Sholeha tertawa, mencoba mendapat persetujuan dari sang suami.
Sholeh hanya ngeloyor melewati Sholeha. Dia berjalan ke kamar, " Ibu, sudah makan?" Sholeha tak ambil pusing pada suaminya.
__ADS_1
" Sudah, baru saja". Bu Nur memeriksa apa saja yang di beli menantunya.
" Leha ke kamar ya Buk"
Bu Nur hanya mengangguk dan tersenyum. Tau jika sang menantu pasti lelah dan ingin beristirahat.
Sholeha bingung melihat suaminya hendak keluar lagi dari kamar. Masih tetap diam meski berpapasan di depan pintu. Dia diam saja, tak berniat menanyainya.
" Katanya mau bicara, eh malah pergi" gumam Sholeha, setelah Sholeh keluar.
***
Sholeh langsung duduk di meja kasir, tak melakukan apapun dengan menopang dagu. Kebetulan saja Agus entah kemana. Rasa kesalnya pada Sholeha yang tersenyum dan memandangi teman sekolahnya tadi membuatnya gerah hati. Bisa-bisanya dia sampai lupa memperkenalkan suaminya sendiri.
" Ngapain di sini Bos, tumben. Katanya mau kencan sama istri?"
" Sudah tadi, makan bakso" jawabnya tampak kesal.
Agus mencoba melihat wajah itu lebih dekat, sampai Sholeh terkejut saat menyadari Agus mengamatinya dengan heran. " Kenapa?" ucap Sholeh terperanjat.
Agus hanya menggeleng heran. Sholeh tak ingin di curigai gagal malam pertama lagi, dia memutuskan berkeliling melihat seisi toko berniat menghilangkan perhatian Agus. " Oh iya Gus, Mas Rizal kemarin konfirmasi dia ada proyek masjid, sekitar satu bulan lagi. Kamu bisa persiapkan bahan dikit-dikit, nanti saya info lagi. Mas Rizal juga belum dapat kontraknya. "
Agus yang setia menemani perjalanan kecilnya menelusuri tumpukan sampel barang di dalam toko itu. " Oh iya Bos, itu tapi inget isi barang di sini juga ya. Kemarin pas renovasi kan banyak yang di kurangi. Bentar lagi tuh lebaran bos, pasti rame pada belanja cat sama alatnya, belum lagi pada renovasi rumah. "
" Udah siap Gus, tinggal di kirim. Satu Minggu lagi mungkin datang barangnya. Trus orderannya jangan lupa di pantau, takut ada yang kelewat". Sholeh berhenti di sebuah lorong rak kuas.
" Gus, kamu tau Dika ndak?" tanya Sholeh tiba-tiba.
" Dika, siapa. Anak siapa?"
" Anaknya yang jual buah, yang tak jauh dari kantor desa" sebutnya, berusaha menjelaskan.
Agus tampak berpikir keras, dan tetap saja menggelengkan kepala tidak tau.
" Malah ngelamun si Bos?" Agus mendekatinya.
" Kenapa?"
Agus menarik nafas, " Ada orderan kloset jongkok, tapi stoknya abis Bos. Sudah lagi otw kan barangnya"
" Sudah, tunggu aja" jawabnya lesu.
Tak ada lagi yang harus ia sampaikan pada Agus, Sholeh pergi dari sana mengacuhkan sapaan beberapa orang di toko yang sedang sibuk berbenah itu. Tak tau harus kemana dia kembali ke kamar.
Otaknya masih memikirkan senyum Sholeha yang menurutnya telah melukai hatinya, tidak terlalu sakit tetapi cukup mengganggu. Belum lagi dia mengingat binar mata laki-laki muda yang sepertinya sangat akrab dengannya.
" Mas, dari mana?" Sholeha baru saja dari dapur, menyiapkan untuk makan malam nanti.
" Dari depan, "
" Ngapain sih cemberut gitu, katanya mau ngomongin soal Mbak Rahma lagi. Kalau ndak jadi ya sudah, ndak usah di tekuk gitu mukanya. Leha ndak maksa juga" Sholeha sangat kesal karena wajah jelek suaminya yang diam saja.
Sholeh baru menyadari jika dia juga masalah yang di gantung pada istrinya ini, wajar saja dia mengomel dan bertambah kesal padanya. Tapi apa boleh buat, dia juga sedang tidak baik moodnya, malas berbicara untuk saat ini.
" Kok gitu ngomongnya, lagian bukan hal yang penting-penting banget, kalau kamu ndak mau tau ya ndak masalah" Sholeh duduk di tepian ranjang.
Sholeha tambah kesal dia menarik kursi dan duduk di depan suaminya ini. Meraih tangannya " Mas ini kenapa, Leha tuh ngak suka di cuekin, di diemin. Kalau belum siap cerita ya udah ngak usah kesel gitu. Tambah kesel tau liat Mas" ucapnya terus terang.
" Kan tadi udah di tegur, ndak usah senyum gitu sama si Dika itu. Malah ngobrol sok asik sampai lupa ngenalin suami sendiri"
Sholeha tak bisa menggambarkan ekspresi wajah laki-laki dewasa yang sedang bertingkah seperti anak kecil. Sholeha tertawa, " Jadi mas ini cemburu, cuman gitu aja Mas Ih. Leha ngak berlebihan kok ngobrolnya, cuma kaget aja dah lama ndak ketemu sama dia, itu aja" Sholeha menangkup wajah suaminya dengan kedua tangannya.
Sholeh berpaling, tak mau di pandang begitu dekat dan merasakan malu karena kekonyolan dirinya sendiri. " Siapa yang cemburu?" katanya pelan.
Sholeha menarik nafas, " Ya Mas kan. Ya sudah maaf deh. Lain kali ndak gitu lagi"
__ADS_1
Sholeha masih tertawa, menggoda Sholeh yang bertingkah lucu hanya karena cemburu. " Kamu juga sampai nangis kan pas cemburu, wajarlah jika Mas gini" celetuk Sholeh di sela tawa istrinya.
" Iya lah, wajar aku nangis. Mas tinggalin aku sendiri, ah sudah lah ndak usah di bahas. Tadi kita hanya makan bakso, kalau lapar makan sekarang aja, Leha dah masak ko"
Sholeh diam saja, membiarkan Sholeha beranjak dan akhirnya dia menyerah. Sholeh menarik tangan sang istri , membiarkan ia terduduk di pangkuannya.
" Maaf yang, kita bicara sebentar ya. Soal Rahma, bukan maksudnya ibunya Rahma."
Sholeha sedikit terkejut, namun tak sampai melompat, dan menyamankan diri di pangkuan sang suami. " Katakan, jika Leha perlu mendengarnya sekarang",
" Selama ini, ternyata dia berada di bawah tekanan Ibunya. Banyak orang yang mengetahui dan katanya memang iya. Jika ibunya itu banyak menipu orang, hutangnya ada di mana-mana. Dan selama ini dia menutupinya dari Mas, entahlah mengapa demikian. Istrinya Agus juga korban dari penipuan ibunya Rahma, Sebab itu juga Ibu sangat melarang mas menikahi Rahma, sebenarnya Mas ndak tau sama sekali tentang masalah ini".
" Mas, katakan jika kasihan padanya?" dengan mata teduhnya, Sholeha menatap Lamat sang suami yang mendekap erat perutnya.
" Iya, tapi hanya simpati. Merasa tidak menyangka dia sesulit itu. "
" Tidak menyesal karena tidak menikahinya kan ?" dengan ketenangan yang cukup mendominasi, Sholeha berubah menjadi sosok dewasa yang penyabar.
Sholeh tersenyum begitu lebar, " Aku tau kamu cemburu lagi, tapi sayangku ini tak perlu meneruskannya karena Mas tidak merasa menyesal sedikit pun. Ini tanda tidak berjodoh, " Sholeh menyentuh dagu Sholeha dengan lembut.
Sholeha tiba-tiba beranjak dari tempat duduk dadakannya, merasakan bahaya mulai mengintainya di sore hari. " Bagus kalau ndak nyesel. Jadi ndak dosa".
Sholeh tertawa lagi, " Rahma itu impiannya Dito, mereka juga saling mencintai" ucapnya lagi sebelum Sholeha meninggalkannya.
" Terserah lah, Leha mau temani Ibu di dapur" Dia berbalik menunjukan wajah setengah tertawa, kabur dari Sholeh.
Sholeh tersenyum " Ya Allah, kamu baik hati dan sangat lucu " ucapnya sangat bersyukur.
Dan edisi cemburu dan hutang penjelasan sudah mereka selesaikan. Jika di lihat untuk hari ini mereka pasti hanya akan bermanja-manja saja sepanjang malam. Apa lagi janji kemarin malam yang ingin mencoba di pagi sebelum subuh tiba, mereka ini terlalu menikmati masa coba-coba yang katanya semakin candu.
***
" Loh, kamu di sini?"
" Aku baru saja sampai, em ini?" Dito menunjuk tulisan di pintu rumah Rahma.
" Iya, aku datang berkemas" jawab Rahma.
Dito sengaja datang ke rumah Rahma, setelah mendapat alamatnya dari Sholeh. Dia tak menyangka jika rumah itu telah di sita sebuah Bank. Belum sampai mencari tau lebih lanjut, Rahma datang dengan ibu Risma.
Dia tampak lebih sehat, hanya beberapa memar yang terlihat membiru.
" Oh, aku bantu berkemas kalau begitu" ucap Dito, dia tidak banyak bertanya.
" Sebenarnya hanya mengambil beberapa pakaian saja, selebihnya sudah di urus ibu. Tapi tidak apa, jika kamu tidak repot" Rahma tersenyum.
Dito memperhatikan cara jalan Rahma yang masih tertatih, dia beralih memapahnya dari bu Risma. Rahma tak menolak, ia menerima perlakuan hangat dari Dito.
" Kita masih bisa masuk, orang yang ambil masih baik hati. Mengizinkan aku ambil baju, kalau tidak aku tidak akan kemari", Rahma sedikit menjelaskan.
Bu Risma membuka pintu, membiarkan keduanya masuk. Dito tau ini sangat memalukan untuk Rahma, tetapi dia tetap biasa saja seolah tak terjadi apa-apa. Dito tetap diam menahan rasa penasaran yang begitu menggebu di hatinya.
" Aku bantu, kamu duduk di sini saja, baju saja atau ada barang yang lainnya" Dito bergegas menuju kamar, yang di kira milik Rahma.
Rahma tersenyum dan kembali memanggil Dito" Biar Bulek saja, kamu cukup temani aku " ucapnya, saat Dito berbalik melihat dirinya.
Dito terdiam di jarak tiga langkah di depan Rahma yang terduduk di sofa ruang tamu, ia tampak sangat menunggu Dito menghampirinya. Sempat mengangguk, perlahan Dito menghampiri Rahma.
" Aku tidak akan bertanya, simpan saja semua penjelasan ini nanti, jika aku bertanya pada mu, Ok." Dito menggenggam tangan Rahma dengan erat.
Rahma menelusuri kedua mata Dito, mata yang begitu ia damba selama ini. Banyak hal yang telah menghukum dirinya hingga terpaksa mengakhirinya dulu.
***
Hai teman-teman pembaca cinta Sholeha, di bab-ba kali ini akan sedikit konflik, jadi tinggalkan saja jejak di komentar jika kurang suka, sebisa mungkin pasti akan di perbaiki. Salam dari penulis......
__ADS_1