Cinta Sholeha

Cinta Sholeha
Calon istri saya


__ADS_3

" Bi , Ha, kenapa, ?" tanya Fatih yang melihat Sholeha menenggelamkan wajahnya pada kedua telapak tangannya.


Dengan sekuat tenaga agar ia tidak meneteskan sedikit pun air mata, ini terlalu sepele untuk di tangisi, Sholeha mengusap ujung matanya kemudian menatap Fatih dengan sejuk dan tersenyum padanya.


" Bibi kok ngantuk ya, pengen tidur" jawabnya asal, dia tau tanggapan Fatih semakin ngawur jika dia terlihat jujur.


" Padahal masih pagi," jawab Fatih tak percaya. Sholeha sampai tidak sadar jika suasana sedikit sepi dan lenggang, kemana larinya semua orang?


Selama itu dia tenggelam dalam pikirannya sendiri sejak tadi.


Hanya tersisa beberapa kerabat yang sejak kemarin membantu dan juga tetangga yang tengah membereskan banyak hal berserakan di mana-mana. Sholeha banyak melewatkan fokusnya pada semua hal, ia sibuk bercengkrama dengan hati dan pikirannya.


" Sholeha, kamu adiknya Mas Rizal kan?" tiba-tiba Rahma menghampirinya dengan membawa sejuta keramahan ke hadapannya. Sholeha sempat terkesima, menatap wanita yang telah membuatnya berkecil hati di hadapan Sholeh, calon suaminya.


" Ha ah iya, saya Sholeha" jawabnya sembari menerima uluran tangan Rahma.


" Aku belum sempat menyapa, kita kenalan lagi di sini ya, maaf".


Ah mengapa senyumnya terlihat sangat menyebalkan, menurut Sholeha.


" Iya ngak masalah Mbak, sudah mau pulang ya?" muncul begitu saja basa-basi itu dari mulut Sholeha. Rahma terlihat celingukan mencari seseorang.


" Ah iya, lagi nunggu Mas Sholeh " kemudian ia berteriak kecil melambaikan tangannya, Sholeha mengikuti arah matanya.


"Di sini Mas!" ucapnya kepada Sholeh yang segera menghampiri Rahma di hadapan Sholeha.


" Nyariin ya, tadi ke belakang dulu" Rahma menuturkan dengan sedikit senyuman menyambut ketibaan Sholeh di hadapannya.


"Aku kira udah duluan Dek" sahut Sholeh dari sebelah Sholeha, mereka berdiri sejajar sekarang.


Jangan tanyakan kabar hati Sholeha, dia juga tidak lagi bisa menjelaskan tentang kesehatannya.


" Belum, nih samperin Sholeha dulu" jawab Rahma meraih jemari Sholeha dengan lembut.


Sholeha menyadari tatapan mata Sholeh berpusat padanya, apa perduli mu? batin Sholeha.


" Ya udah yuk, katanya kamu mau kenalin aku sama calon istrimu! " Rahma mengatakan itu pada Sholeh dengan sedikit nada merayu.


Sholeha bahkan sampai membeliak kan mata tak percaya.Sholeha sengaja diam menunggu apa yang akan dikatakan pada Rahma selanjutnya.


" Aku mau lihat, secantik apa dia?, sampai kamu menyerah menungguku " tambah Rahma kemudian.


Sholeha sangat terkejut, spontan dia melepas jemarinya dari genggaman Rahma. Bagai tersapu ombak pantai selatan, Sholeha hilang tak terlihat dari kenyataan, dia seketika merasa tertampar di hadapan banyak orang, malu dan sangat sakit rasanya. Kali ini dia benar-benar terdiam mematung.


" Kamu bisa aja bercandanya, padahal kamu yang ndak mau sama saya," dengan santainya Sholeh terkekeh menanggapi Rahma.


" Dia cantik kok, tapi kapan-kapan saja ya ketemunya, dia sedang sibuk sekarang" kata Sholeh melihat pada Sholeha, mereka saling menatap tanpa berniat saling menjelaskan.


" Padahal dari tadi kamu puji - puji dia terus, sekarang mau kenalan langsung malah gak boleh, jangan-jangan kamu takut dia cemburu ya?" Rahma menyelidik Sholeh dengan meneliti langsung di kedua mata Sholeh, Sholeha tau dia sedikit bercanda tetapi begitu tidak sopan terdengar oleh telinganya sendiri.

__ADS_1


" Kamu ya - , Sholeh menggantungkan perkataannya. " Dia itu....


Sholeha tiba-tiba menyela tanpa mendengar Sholeh berbicara lebih banyak.


" Mbak aku tinggal dulu ya, masih banyak kerjaan" kata Sholeha meninggalkan keduanya.


Terserah mereka mau apa, Sholeha tidak perduli !


Satu, dua, hingga tiga ia melangkah dan benar-benar menjauh dari keduanya, Sholeha masih punya akal sehat untuk menghindar dari hal buruk yang membuatnya terluka. Dia tidak ada hak untuk memperjelas statusnya di hadapan Rahma, dia sangat tau itu.


Setidaknya mundur dengan sopan adalah pilihan yang terbaik, meskipun sebenarnya tidak rela.


Kemana lagi ia harus bersembunyi, hatinya kini terasa sakit matanya tak sanggup lagi menampung air mata yang telah meluap sejak tadi. Apa iya dia telah jatuh hati kembali, bahkan secepat ini, Sholeha kebingungan dengan hatinya sendiri.


Jika iya mengapa harus sekarang merasa sakitnya, setidaknya dia punya waktu untuk bersiap bersaing dengan Rahma, wanita yang Sholeh sukai. Entah mengapa, padahal ia juga telah mendengar kejujuran Sholeh tentang ini kemarin, tetapi kata suka yang ia gambarkan teryata jauh dari cerita yang sebenarnya. Ini kata suka yang begitu berbeda artinya dari umumnya. Ah ternyata dia lagi yang salah memahami kenyataan kali ini. Sholeha bahkan merasa bodoh setelah mengaku ikhlas dan mengatakan baik-baik saja, teryata dia sakit pada ujungnya.


Sholeha terus berjalan hampir berlari menuju tempat persembunyian, namun tiba-tiba dia berhenti ketika mendengar suara Sholeh memanggilnya, teryata dia menyusulnya.


" Leha, .....


Sholeha menoleh, melihat Sholeh tepat di belakangnya.


" Iya?" jawabnya agak terkejut


" Rahma sangat ingin bertemu denganmu,"


" Kan kamu calon istri saya, "


" Ha , em . Maksudnya?" Sholeha bingung.


" Ayo!" ajak Sholeh dengan cepat.


Sholeha mengikuti langkah pria itu dengan rasa bingung dan terkejut, kenapa seperti ini? Apa aku yang terlalu berpikir buruk pada mereka, atau aku akan salah paham lagi kali ini, apa maksud perkataan Sholeh tadi? semerawut prasangka dalam otaknya terlalu banyak tak terhitung.


"Rahma, !" panggil Sholeh ketika mereka lebih dekat padanya.


Dia berbalik, melihat Sholeha dengan tersenyum." Iya Mas?" jawabnya tenang.


" Em sebenarnya calon istri ku, Sholeha " ucapnya tenang menatap Sholeha yang masih menunduk.


" Ah kamu terlalu bercanda Mas, kalau belum siap kasih tau jangan ajak - ajak Sholeha berbohong dong" Rahma bahkan tertawa kecil, tidak percaya pada Sholeh.


Sholeha menaikan pandangannya, dia menatap wanita di hadapannya cukup lekat, seolah mencari apa penyebab wanita ini tidak mempercayai perkataan Sholeh, seperti dugaannya yang merujuk pada kecemburuan, Sholeha dengan berani ia mencoba mencari kebenaran dari wajah cantik nan anggun itu.


" Ah maaf ya Mbak, saya tidak bermaksud membohongi saya hanya berpikir Mas Sholeh bisa menjelaskan sendiri urusan ini kepada orang-orang terdekatnya"


Sholeha menekan kan ucapannya seolah tidak mau di anggap berbohong, setidaknya ia berusaha mengambil tempat yang baik untuk bersaing.


Di lihatnya wajah Rahma yang terkejut, dan memancarkan kekecewaan dia menatap Sholeh, entah apa maksud dari sorot mata itu, Sholeha tidak lagi mampu mengartikan. kemudian ia melihat Sholeh mengangguk membenarkan perkataan Sholeha.

__ADS_1


" Yang di katakan benar, Rahma" tambahnya kemudian.


Apa ini, dia masih saja bertutur kata lembut pada wanita itu, tidak sedikit pun mau bersikap tegas.


Rahma masih terdiam, dia tampak melihat jemari Sholeha, setidaknya mencari simbol kebenaran dari perkataan Sholeha. Tentu saja ia menemukan cincin yang melingkar di jari manis Sholeha, dia bahkan tidak pernah melepas benda itu meski hatinya belum bisa menerima kala itu.


" Maafkan ucapan ku yang tidak sopan tadi " ucap Rahma kemudian pada Sholeha.


Sholeha tidak berusaha berbohong, menggeleng pun dia enggan " Ah saya memang kalah cantik dan pintar dari mu Mbak, jangan merasa tidak enak begitu" segaris senyum kaku di berikan pada Rahma.


Setelah mengatakan itu Sholeha meninggalkan keduanya yang mengaku sahabat karib. Tidak mau memperpanjang masalah di tengah keramaian Sholeha berusaha menenangkan diri dengan segera bergabung dengan keluarganya, yang sedang duduk bersama di teras rumah.


Segaris senyum ia tampilkan di wajah cantiknya, dia tidak ingin menimbulkan banyak pertanyaan dari orang-orang yang melihatnya.


" Loh ndak ikut antar Rahma Dek?" tanya Ayu.


" Ndak lah Mbak, Leha masih agak meriang" jawabnya sangat lesu.


" Kan sekalian jalan loh Dek, emang kamu ndak mikir aneh-aneh sama mereka?"


Sholeha menatap Ayu, ia mencoba memikirkan perkataanya. Sholeha menggeleng, " Badan ku remuk Mbak" jawabnya asal, bahkan dia sudah melihat sendiri tanpa berpikir aneh-aneh, Sholeha enggan menambah lukanya.


" Ya sudah, lagian Sholeh ndak mungkin antar Rahma pulang "


" Kenapa?" tanya Sholeha cepat.


" Ndak lah Dek, Sholeh masih ada kerjaan habis ini" tambah Rizal membantu Ayu menjawab.


" Kerjaan apa Mas?"


" Ya beresin ini semua toh Dek, enak aja mau pergi gitu aja, Mas mu ini udah wanti-wanti dari tadi. Mosok calon ipar ndak mau di repoti " terlihat sekali jika ia sudah mengancam Sholeh tadi.


" Mas ih, gitu banget sama Mas Sholeh" gerutu Sholeha membela calon suaminya.


Sholeha bahkan mengembungkan wajahnya.


" Saya cukup sadar diri Mas, ndak usah di ancam" Sholeh tiba-tiba menyela.


Dia kemudian duduk di sebelah Sholeha saat ini.


" Guyon loh Leh, ha ha ha" Rizal tau Sholeh tidak akan melakukannya.


Sholeha tidak ingin bertanya apapun pada pria di sebelahnya yang duduk anteng dan tampak santai, dia bahkan mengambil sepotong semangka, memakannya dengan nikmat.


Laki-laki memang hebat ya, sudah membuat hati wanita terbang dan terjatuh dalam satu waktu, dia malah tidak menyadari sikapnya sedikit pun. Atau kali ini masih saja Sholeha yang terlalu banyak berpikir ini dan itu?.


" Maaf ya, dah bikin cemburu" ucap Sholeh lirih pada Sholeha.


*****

__ADS_1


__ADS_2