Cinta Sholeha

Cinta Sholeha
Perkara mantan


__ADS_3

" Yang lain, bukan. Maksud saya seperti calon pengantin biasanya. Mereka pasti akan sibuk memilih ini itu untuk hari istimewanya kan? kamu mikir apa, Sholeha?" jawab Sholeh tersenyum, seolah memahami maksud isi pikiran Sholeha.


Sholeha tergagap, melihat reaksi Sholeh yang begitu akurat menebak pikirannya. "Tidak, Sholeha sedikit kurang jelas saja maksud mas tadi. " jawabnya sembari menggelengkan kepalanya pelan.


" Jadi, bagaimana tentang resepsi ini?"


" Jika di tunda setelah lebaran ndak papa kan, atau mas punya pendapat lain?" ucapnya kembali bertanya. Sholeh masih tetap tersenyum, tak ubahnya seperti tadi.


" Saya ikut aja, yang terpenting saya nikahin kamu aja dulu" jawabnya begitu enteng. Sholeha bahkan sampai mendelik kecil, kemudian tertunduk malu.


Mengapa dia ini seperti itu, membuat Sholeha merinding saja mendengar ucapannya, dia malah ayem ayem aja duduk di sana tanpa suara. Sholeha ngedumel sendiri dalam hatinya.


" Apa ndak ada jawaban lain?" pertanyaan yang cukup singkat yang bertujuan mengenalnya lebih dalam, pikir Sholeha.


" Iya Sholeha, saya tetap mengikuti keputusanmu saja. Kamu boleh mengikuti semua kata hatimu, untuk hal ini"


Sholeha begitu terpaku, memandang gaya bicara calon suaminya yang begitu santai tak menarik sekali menurutnya. " Ok. Kita tunda saja" putus Sholeha begitu yakin. Begitu juga dengan Sholeh yang hanya sedikit mengangguk.


Belum membahas lebih panjang masalah pernikahan, bu Fatma datang dengan sepiring pisang goreng yang terlihat masih hangat. " Nah ini teman teh mu Le, santai aja ya ndak usah buru-buru pulang. Diskusi sama Sholeha itu perlu banyak waktu, banyak ngeyelnya" seloroh bu Fatma. Ia tidak ikut duduk, hanya berdiri sebentar menunggu tanggapan dari calon mantunya itu.


" Terima kasih Bu, saya kira Sholeha yang harus sabar mendengar saya banyak ngomong" jawab Sholeh begitu sopan. Bu Fatma hanya tertawa kemudian masuk kedalam.


" Oh ya Sholeha, saya ndak memaksa kamu harus pandai masak loh, jangan terlalu memaksa jika belum bisa. Masih ada banyak waktu untuk belajar perlahan ya," senyumnya begitu manis. Tidak, kali ini Sholeha tidak terpesona, dia merasa terpojok oleh perkataannya.


" Mas terdengar sedang mengolok ku sekarang, aku tidak seburuk itu. " jawabnya ketus. Sholeh sampai terkejut dengan perubahan sikap gadis di hadapannya ini.

__ADS_1


" Tidak Sholeha, tidak. " Sholeh tampak menggaruk kepalanya yang tak gatal, salah memilih kata untuk menyampaikan pendapatnya.


" Terserah Mas saja. Jadi apa lagi yang harus di bahas kali ini?" ucapnya lagi sedikit berkurang nada ketusnya.


" Sholeha, saya belum menjelaskan lebih lanjut perkataan saya tadi. Kamu salah paham loh, maksud saya jangan memaksa jadi serba hebat hanya karena hendak jadi istriku, jalani saja sesuai keinginan mu. Saya juga tidak berpikir kamu seburuk apa yang Sholeha simpulkan sendiri saat ini. Saya ndak suka kamu memendam satu kata saja untuk saya, jika tidak suka segera katakan. Saya juga tidak bisa menebak semua pikiran kamu "


Sholeha terdiam, sedikit tersentuh dengan teguran dari Sholeh. Bahasanya yang lugas dan tegas tanpa intonasi yang di tinggikan. Seketika hatinya bagai terguyur air Curug yang begitu jernih dan sejuk, sangat menenangkan. Dalam diamnya kali ini Sholeha berusaha memilih kata, dan mempertimbangkan sikap yang seharusnya ia berikan untuk menanggapi kejujuran Sholeh. Sholeha menanam tekadnya akan mendengar apa kata pria itu jika dia juga bisa memahami dirinya.


" Ok. Sholeha paham, dan maaf Sholeha berlebihan. Sebenarnya saya juga tidak berpikir Mas itu mengejek atau mengolok ku kok, hanya sedikit menyinggung hati ku saja"


Benar saja, Sholeha langsung mengatakan kejujurannya. Padahal tekadnya nanti, setelah Sholeh terlebih dahulu memahami dirinya. Dia berpaling lagi dari hatinya.


Sholeh tersenyum, " Ok. Saya juga minta maaf, lain kali tidak akan memberikan penilaian yang menyinggung seperti tadi" Sholeh menunda diskusi ini dengan menyicipi pisang goreng yang hampir terabaikan. Atau dia juga sedang berpikir apa lagi yang akan ia katakan lagi dengan Sholeha, yang mulai tidak tenang.


Sholeha sampai tak bisa mencari objek lain untuk mengalihkan pikirannya, duduk berdua seperti ini cukup membuatnya salah tingkah ternyata. Jika boleh membandingkan lagi dengan kisahnya yang telah usang bersama Arman dulu, jujur saja Sholeha sangat merasakan jauh berbeda. Atau mungkin karena faktor Sholeh yang sangat dewasa dengan sikap tegasnya, Sholeha merasa diperlakukan sebagai juniornya. Entah lah lagi-lagi dia tidak tau. " Sholeha juga minta maaf, tidak bermaksud marah atau pun apa" timpalnya pada Sholeh.


Sholeh tampak membenahi posisi duduknya, dia juga bersiap meneruskan obrolan ini. Dan satu lagi, sepengetahuan Sholeha dia pria yang begitu gemar bercerita dan teman tongkrongannya banyak dari berbagai kalangan. Wajar saja jika dia terkesan lugas dan pandai mengolah pembicaraan. Hem asal jangan membual saja, tak masalah batin Sholeha berkomentar.


" Pisang gorengnya enak, kamu ndak coba cicip dulu?" ceplosnya begitu saja.


Sholeha menggeleng, dia bahkan terkejut dengan pertanyaan yang ini. Pandai sekali mengurai ketegangan. " Jika resepsinya di tunda, berarti kita membatasi undangannya kan. Apa ndak ingin kawan-kawan mu datang ?" katanya kembali mempertimbangkan poin pertama .


Sholeha menghela nafas, " Aku tidak cukup banyak teman mas, tetapi jika mas hendak mengundang banyak teman mas juga silahkan pertimbangkan, Sholeha bisa mengubah keputusan asal mas yang meminta. " sebuah jawaban yang sangat jelas kembali membebankan kepada Sholeh.


" Ok, kita sepakat hanya mengundang teman terdekat. Selebihnya kerabat saja. Apa ada syarat dari kriteria khusus untuk yang boleh di undang?"

__ADS_1


Sholeha menggeleng, " Mantan juga boleh" pancingnya agar Sholeha mendapat petunjuk masa lalu calon suaminya ini. "Sholeha ndak keberatan" imbuhnya dengan begitu santai, terkesan menantang.


Kini giliran Sholeh yang berkali-kali menggeleng, " Arman boleh kok, jadi tamu VIP kita" jawab Sholeh talak.


Wajah Sholeha cemberut seketika, niatnya dia yang akan memojokkan Sholeh, eh dia lagi yang terpojok." Ok, ndak ada pilih memilih tamu undangan, yang penting jangan terlalu banyak saja. Ntar ndak muat tempatnya" jawab Sholeha mengalah dan berkilah. Terbukti dari sekarang jika pria ini bukan tipe lemah yang suka mengalah pada lawan bicaranya. Sholeha menghela nafas pelan.


" Saya ndak punya mantan Sholeha, mana adil jika kamu undang mantan kamu datang ke acara akad kita?" bagian ini sungguh membuat Sholeha geram, ia sangat tidak suka cara Sholeh memberinya perintah yang halus namun memaksa seperti ini.


" Iya Sholeha ndak undang pas akad, tapi resepsi boleh ya. Bisa penasaran sepanjang jalan jika mantan ku ndak di undang" Sholeha berusaha menawar dengan pintar.


" Terserah kamu, " jawab Sholeh datar-datar saja. Suasana menjadi canggung seketika, Sholeha sempat merasa tidak enak sempat ngeyel seperti ini.


" Apa lagi selanjutnya?" Sholeha memberanikan diri mencairkan suasana.


" Ah iya poin penting. Kamu meminta maskawin apa?" sedikit lesu Sholeh mengatakannya. Perubahan itu terlalu kentara, apa karena membahas mantan dan bagaimana sikap Sholeha yang begitu kekeh menyebut kehadiran yang sangat di khususkan.


" Maskawin?" Sholeha melempar kembali pertanyaan itu.


" Kamu bahkan belum memikirkannya, ini lebih penting dari pada undangan mantan Sholeha" seru Sholeh begitu lembut.


Sholeha mendongak menatap wajah Sholeh yang terlihat lebih serius, ada gurat kecewa yang tak bisa ia terjemahkan." Aku sudah memikirkannya, jika tidak keberatan mas Sholeh yang memilihkannya untukku. Apapun bentuk dan jumlahnya, Sholeha tidak menawar". Sayangnya Sholeh semakin terdiam tiada respon yang menghangatkan seperti tadi. Sholeha tampak ragu untuk memastikan, apa yang ia katakan benar atau memberatkan sang calon suaminya ini.


" Mas?" tegur Sholeha, ia jadi merasa tidak enak. Takut-takut Sholeha kembali menjelaskan jawabannya secara rinci, karena Sholeh yang tak kunjung menjawab. " Apa aku salah -


Sholeh dengan cepat memotong ucapan Sholeha, " Apa kamu tidak sedikit pun berniat menikah dengan ku Sholeha?" Sholeha langsung terdiam, seketika menyadari kesalahannya dalam menjawab pertanyaan kali ini. Matanya berair namun tak mengalir, melihat rahang wajah kecewa dari Sholeh. Sholeha sangat bingung harus bagai mana. " Maaf, bukan itu maksud ku" ucapnya begitu lirih.

__ADS_1


***


__ADS_2