
Pagi sekali, Rizal telah bertamu ke rumah adik iparnya, Sholeha tau suaminya itu sedikit malas menemui Rizal, dia hanya tertawa dengan tingkah konyol Sholeh yang tak bisa lagi di sembunyikan jika di depannya. Menggerutu masalah panggilannya yang tak di gubris dan apa lagi tentang ciumannya yang tak di balas, dia menggerutu tak berkesudahan.
Tak sengaja Sholeha mendengar ponsel suaminya berdering, ada telpon dari teman suaminya, Dito. Dia mengabarkan jika Rahma telah pulang dari rumah sakit, awalnya Dito hendak mengurungkan untuk bercerita, tetapi Sholeha memaksa karena dia sendiri yang akan memberitahu suaminya.
Dari situ lah, Sholeha mengetahui jika Rahma telah pindah dan tidak lagi berada di kota. Dengan sejuta keyakinannya terhadap Sholeh, ia memutuskan untuk memberitahu dan mengajak menjenguknya.
" Kamu dengar dari siapa, ?" jelas saja ada wajah keterkejutan dari Sholeh.
Sholeha menatap kedua binar mata suaminya, mungkin saja dia tak suka dengan usulannya atau tak suka dengan sikapnya, dia berusaha membaca. " Maaf, tadi Mas Dito menelfon Mas. Dan dia yang memberitahu ku", ucap Sholeha pelan.
Sholeh menarik nafas, " Kamu tidak keberatan dengan ini, Mas bisa tidak menjenguknya jika kamu tidak mengizinkan".
" Aku yang meminta, jadi ajak aku menemuinya" jawab Sholeha dengan yakin.
Sholeha tetap tenang menatap sang suami menunggu keputusan apa kiranya yang akan di berikan kepadanya. Bukan masalah cemburu dan keikhlasan, Sholeha hanya sedang menguji dirinya sendiri, bertahan kah hatinya jika berhadapan dengan ketakutannya selama ini. Dia ingin menambah percaya diri.
" Ok, kita ke sana sore nanti" jawab Sholeh tak kalah tenang dari istrinya.
***
Seperti apa yang telah di rencanakan tadi pagi, Sholeh menemani istrinya menemui Rahma. Sebelumnya Sholeh telah menghubungi Dito, dia ingin ada teman bicara saat tiba di sana.
Kali ini Sholeh membawa mobil, karena awan begitu menghitam dan tebal di atas sana. Sebenarnya istrinya yang sederhana itu telah mengeluh tidak perlu dan lebih nyaman mengendari motor. Sepanjang perjalanan Sholeha terlihat begitu tegang dan seperti banyak memikirkan sesuatu.
Sholeh tak berani banyak bertanya, takut-takut jika ia salah kata dan malah melukai hati sang istri. Sholeh hanya kembali teringat kesalahpahaman dulu yang menyebabkan ia memutuskan menikahi Sholeha sesegera mungkin, dia tersenyum singkat.
__ADS_1
Ah iya jika tidak ada masalah di waktu itu mungkin saja mereka belum menikah saat ini, Sholeh sangat bersyukur bisa mengambil keputusan dengan sangat baik menurutnya saat ini.
Halaman yang masih sama sejak kedatangan mereka terakhir kalinya, tetep ada pohon yang begitu rindang dan warna cat tembok yang belum berganti. Sholeh dan istrinya keluar dari mobilnya. Mencoba langsung masuk saja, karena pintu itu terbuka begitu lebar.
Sosok Dito sudah ada di sana, duduk nyaman dengan secangkir kopi. Di temani Rahma yang tampak begitu gembira saat Sholeh dan istrinya memasuki ruang tamu . Wajahnya berseri, tersenyum tanpa henti. Entahlah kali ini senyum itu untuk siapa dan mengapa bisa semanis itu jika hanya iseng.
" Terima kasih sudah datang kesini, padahal aku tidak begitu buruk ke adaan nya" Rahma berucap dengan sedikit terbatuk-batuk.
" Ah tidak Mbak, aku bahkan hendak meminta maaf karena tidak ikut menjenguk mu waktu itu"
Sholeh dan Dito saling pandang, kemudian mereka setuju beranjak tanpa berdiskusi. Keduanya berpindah ke teras rumah, membicarakan ikan koi yang menjadi pusat perhatian mereka, menjauh dari dua wanita itu.
Di ruang tamu yang begitu senyap, Rahma merasa canggung dan bingung menghadapi tamunya yang begitu tampak berbeda kali ini. Dengan semua yang pernah ia lakukan membuat hatinya merasa resah sendiri penuh rasa bersalah.
" Sholeha, untuk sekian kalinya, aku meminta maaf, untuk diriku, Ibuku dan terakhir Bulek ku. Maaf mereka sangat tidak sopan dan banyak melukai hati dan-,
" Tidak ada yang tidak pernah melakukan kesalahan Mbak, semuanya pernah bersalah. Pada dirinya, dan juga orang lain. Satu hal yang pasti, jangan pernah berhenti mengucapkan kata maaf baik pada ku dan kepada Allah, aku memaafkan semuanya. Dengan hati yang terus berusaha ikhlas dan tak mengungkitnya lagi", Sholeha tersenyum.
Tampak Rahma meneteskan air mata, samar tak begitu kentara. Namun tangannya terang-terangan menghapus dari pipinya.
" Terima kasih dengan semua apa yang telah kamu ucapkan tadi, jujur saja aku sendiri terlalu malu mengingat semua kelakuanku pada mu waktu dulu" di tertawa sendiri di ujung kalimatnya.
Sholeha juga tertawa, mencoba menyambut kata hangat yang di coba Rahma untuk mencairkan suasana.
" Sudahlah Mbak, katakan hal lain saja. Aku dengar, tulang mu ada yang retak, apa sudah tidak apa-apa?" Sholeha bahkan duduk lebih dekat menghampiri Rahma.
__ADS_1
Rahma ikut melirik kakinya yang masih sedikit bengkak, dia tersenyum " Tidak tau, tetapi jauh lebih baik dari pada kemarin" .
Sholeha mengucap syukur, begitu juga dengan Rahma yang lebih banyak menceritakan lebih jauh tentang mengapa bisa terjadi kecelakaan hingga keputusannya kembali pulang. Banyak hal yang di tanyakan oleh Sholeha termasuk perkembangan hubungannya dengan Dito, Rahma juga tau jika Sholeha hanya berusaha meminta penjelasan akan perasaannya terhadap suaminya.
" Jika kita berjodoh, pasti akan menikah entah kapan pun itu. Aku tidak sedang mempertahankan apa pun, justru aku sedang bersiap untuk kembali berjuang dengan orang yang dulu, doa kan saja Dito itu jodoh ku ya" Rahma tersenyum begitu manis.
Sholeha terdiam, meski senyumnya itu sangat manis, tetapi Sholeha masih percaya akan kata-kata nya yang jelas tak mau di ancam atau sekedar di ingatkan. Mungkin ini titik terkuat darinya, tak akan menyerah sebelum kalah.
" Ah tentu saja. Doa terbaik, semoga mas Dito bisa kembali berjuang" Sholeha tersenyum dengan kecanggungan yang begitu mencekam.
Sedangkan mereka yang sedang asik berbincang santai mengomentari ikan koi penuh warna itu malah tertawa penuh canda. Dito bahkan menyarankan agar meminta satu ekor dari Rahma, untuk di bawanya pulang.
" Leh, mereka sedang bicara apa ya?"
Sholeh ikut menoleh ke dalam, di mana istrinya tampak betah dan tak terlihat mencarinya. " Entahlah. Namanya juga wanita, dunianya pasti berbeda dengan kita" jawab Sholeh sederhana.
" Apa kamu yakin, jika mereka tidak sedang memperebutkan mu?"
Sholeh kontak menatap Dito dengan wajah kakunya, " Apa maksudmu, buktinya mereka tenang-tenang saja. "
Dito hanya mengedikkan bahu, dia kembali melihat koi yang terus menarik perhatiannya dengan warna cantiknya.
Sholeh jadi berpikir dengan sangat keras, perlu kan ia kembali masuk untuk memastikannya atau biarkan saja. Toh mereka adalah wanita dewasa yang tidak mungkin bertengkar seperti anak kecil.
Merebutkan dirinya? Ada-ada saja si Dito.
__ADS_1
***