
Pagi ini kediaman Sulaiman begitu ramai dengan suara kedua cucu laki-lakinya yang sibuk berlarian merebutkan sang kakek untuk di ajaknya bermain. Fatih yang sibuk menggoda adiknya dan Al yang tak berhenti menangis melihat Fatih yang semakin berkuasa memeluk sang kakek. Padahal ada ayahnya juga di sana, mereka seolah tak tertarik lagi dengannya.
Setelah berkumpul tadi malam, keluarga Rizal meneruskan malam di sana, mereka menginap dan setuju pulang setelah sarapan pagi. Selain di ruang tengah yang begitu berantakan, di dapur juga begitu heboh oleh tiga wanita beda generasi yang saling beradu kemampuan di sana. Kemampuan memasak dan juga lainya, terlihat sekali di sana Sholeha lah yang paling junior. Terbukti sejak tadi ia hanya sibuk mencicipi dan mengaduk-aduk sayur yang hampir matang.
Sholeha sampai bersungut-sungut karena habis di goda ibu dan mbak iparnya.
" Dek, nanti pas udah jadi istri harus pintar hibur suami dengan masakan. Biar makin cinta kan dia nya!" Ayu mengedipkan matanya.
Sholeha bahkan sudah memajukan sedikit bibirnya, entah yang ke berapa Ayu menyebutnya " Pas udah jadi istri" sejak mulai memasak tadi. Banyak petuah yang menurut Sholeha cukup berlebihan jika di dengarkan sekarang.
" Mbak ih, Sholeha bisa kok kalau cuman oseng-oseng sayur, atau sekedar goreng-goreng telur. Oh Sholeha juga bisa kok buat puding, tenang aja mas Sholeh ndak akan kelaparan" tegasnya pada Ayu.
Ayu dan bu Fatma sedikit tertawa, "Jadi siap nih jadi istri Sholeh?" tambah Ayu menggoda Sholeha.
Sholeha hanya mesem, sedikit malu mengakui perasaannya, dia juga terpancing oleh banyak kata yang terus-menerus di lempar padanya oleh Ayu dan ibunya.
Acara memasak yang sangat heboh di pagi ini, batin Sholeha.
" Jangan memaksa kalau belum bisa, dulu Mbak juga ndak bisa apa-apa. Untung mertua mbak nih baik banget dek" Ayu memeluk ibu Fatma dari samping dengan tertawa dengan lebar.
" Mertua Sholeha juga baik kok" sambar Sholeha begitu cepat.
Bu Fatma ikut tersenyum, melihat Sholeha yang tak mau kalah sedikitpun dari Ayu.
" Sudah-sudah, malah ribut begini!" ucap Bu Fatma menengahi. " Lagian baik Ibu, Bu Nur dan ibu mertua yang lainnya pasti semua baik kok, jangan takut sama Ibu mertua!" imbuhnya lagi.
" Ada kok Bu yang nakutin" ucap Sholeha.
" Berarti kurang baik aja nasib menantunya" tawanya hangat menghibur kedua anak-anak nya itu untuk mengakhiri perdebatan singkat itu.
Ada ayam kecap dan tumis brokoli tertata rapih di atas meja, dan menyusul yang baru saja di sajikan oleh Ayu ada udang asem manis sebagai menu terakhir. Sarapan yang cukup santai bagi para penduduk desa yang tak begitu mengejar jam kerja itu berlangsung dengan cukup nikmat.
Jarang sekali mereka berkumpul dengan formasi lengkap seperti ini. Kebanyakan saling bertemu satu sama lain membuat mereka tak pernah berpikir untuk menikmati sarapan seperti pagi ini.
" Mah Ayamnya kok keras?" ucap Fatih.
" Fatih bisa ambil yang empuk aja kan, yang itu kasihkan ayah!" ujar Ayu.
Tidak ada sudut meja bundar itu yang terlihat kosong, tak terkecuali Al yang ikut duduk di pangkuan sang nenek yang tengah menyuapinya. Sungguh pemandangan yang indah dan cukup baik untuk penyemangat hari yang baru saja di mulai.
***
Rizal dan anak istrinya pamitan pulang, motor itu melaju meninggalkan pelataran kediaman Sulaiman. Di iringi lambaian tangan sang nenek pada kedua cucunya, mereka terus menghilang di kejauhan. Bagai perpisahan dengan jarak yang begitu jauh bu Fatma sampai lesu merasakan kesepian yang di tinggal oleh mereka.
" Sepi kan jadinya" desah bu Fatma.
Sulaiman tertawa melihat istrinya, " Besok lagi ya Bu, mereka kan juga ingin bermain dengan teman sebayanya. Bosen sama neneknya terus" timpalnya pada istrinya.
Bu Fatma hanya melirik suaminya itu, dia bahkan tak berselera menanggapi obrolan yang sedikit menyalahkannya itu. suasana ramai oleh anak-anak tentu cukup menghibur, di tambah mereka adalah cucu sendiri, wajar jika bu Fatma sedikit kehilangan.
" Kalau mereka tinggalnya di kota atau yang sangat jauh dari kita, bagaimana ya pak. Di tinggal seperti ini saja ibu sudah Pangat rindu lagi?"
Bu Fatma duduk di pinggiran emper rumahnya, masih memandang jejak perginya anak dan cucunya.
" Kita juga ikut mereka, jika Ibu mau"
Bu Fatma tertawa, " Bapak bisa saja, mereka juga ndak bakal ke kota kan, mereka tau ibunya ini tidak suka hidup berjauhan "
Sulaiman juga tertawa, dan ikut duduk menemani sang istri. " Nanti kita minta Sholeha kasih cucu yang banyak, biar tambah rame "
__ADS_1
Sholeha yang mulanya hendak masuk ke dalam, jadi ikut duduk dan menyahuti ayahnya yang sedang menghibur ibunya.
" Kalau Ibu mau Mbak Ayu tak suruh hamil lagi bu, biar nambah banyak. Kan lebih cepat dari pada nungguin anak Sholeha lahir" dia terkikik geli sendiri.
" Lha Bapak juga pengennya dari kamu juga, kalau bisa cucu dari kamu nanti ada empat, dan Ayu nambah dua lagi kan jadi banyak cucu Bapak" ucapnya cukup bersemangat.
" Empat. Ya Allah banyak sekali" jawab Sholeha kebingungan.
" Ndak usah di dengar toh Nduk bapak mu ini, yang penting kamu mau nikah dulu. Masalah yang kayak gitu ndak usah banyak di pikir, ngalir aja ya " bu Fatma menepuk halus pundak Sholeha.
Dari wajahnya yang mulai terlihat bingung, bu Fatma takut ia salah mengira dan terbebani dengan candaan bapaknya.
Sholeha mengangguk, " Leha tau kok Bu. Bapak emang suka menghibur kita dengan cara yang berlebihan" Sholeh sedikit berbisik pada ibunya.
" Berlebihan bagai mana, kalau terkabul doa Bapak kan Ibu juga yang seneng" ucapnya dan beranjak meninggalkan emperan.
Bu Fatma menggeleng melihat tingkah suaminya seolah merajuk tak di bela dan sedikit terkesan manja.
" Nduk nanti antar Ibu pengajian sore ya, di rumahnya ustadzah Aisyah. Kalau jalan pegel kaki Ibu"
" Iya nanti tak antar, Sholeha ndak ada acara apapun kok. Mau tidur aja seharian ini" jawabnya bersemangat.
" Kok masih aja senengnya tidur, ndak bosan-bosan. " omelnya beranjak dari duduknya.
" Mumpung libur loh Bu" ucapnya, mengikuti ibunya masuk.
Bu Fatma tak lagi menyahuti Sholeha, ia meneruskan langkahnya ke dapur mencari keberadaan sang suami. Sholeha memilih masuk ke kamar, dia teringat suatu hal yang belum ia lakukan.
***
" Assalamualaikum, apa kabar?" sahut dari seberang teleponnya. Sholeha sengaja menghubungi Irma sahabatnya, sejak kejadian di warung bakso itu mereka saling menahan untuk tidak saling menyapa.
" Alhamdulillah, aku juga"
" Bisa kita bertemu?"
" Tentu bisa, jika kamu tidak keberatan "
" Syukurlah, aku yang akan ke rumahmu ya" jawab Sholeha berhati-hati.
" Iya boleh, jam berapa?"
" Sebentar lagi ya Ir, aku mau mandi dulu" Sholeha sedikit tertawa di ujung kalimatnya.
" Iya, aku juga" Irma juga sedikit tertawa.
Setelah itu Sholeha mematikan telponnya, dengan hati yang cukup tenang dan bergembira. Dia sangat tidak suka dengan hubungan yang terlalu dingin dan berubah saling benci seperti ini, apa pun alasannya Sholeha juga harus bisa mengembalikan hubungan baik mereka, bagai mana pun Irma adalah sahabatnya sejak dulu.
Sholeha siap bertemu dengan Irma, setelah mendapat izin dari ibunya Sholeha segera pergi menuju rumah sahabatnya itu. Seperti biasa Sholeha berpergian dengan motor kesayangannya, kali ini perjalanan yang sedikit menyenangkan, entah mengapa Sholeha justru bersemangat menemui Irma alih-alih terus membencinya atas ke salahnya.
Matahari yang mulai meninggi menjadi pengiring langkahnya yang begitu mendebarkan, Sholeha tak bohong sebenarnya ia juga sangat canggung dan sedikit bingung ketika berhadapan langsung dengan Irma nanti. Dia mulai menyusun beberapa kalimat yang sekiranya pas untuk ia katakan saat pertama bertemu nanti.
Dari kejauhan nampak Irma yang menunggu kedatanganya di halaman. Ia berdiri seolah tak sabar menyambut ketibaan sahabatnya, kali ini Sholeha juga merasakan ada raut wajah yang begitu hangat menyapanya. Sedikit berkurang rasa debaran bercampur cemas dalam hatinya.
Roda motornya berhenti dengan sempurna, kira-kira hanya berjarak setengah meter dari tempat Irma berdiri menyambutnya, entah benar atau tidak dari jarak sedekat ini Sholeha bisa melihat ada genangan air di mata bening Irma. Bibirnya seolah tertahan agar tak bersuara, jantung Sholeha kembali berdebar, apa kiranya yang akan terjadi?.
Irma menubruk Sholeha memeluknya erat,
" Sholeha, aku....." ucapnya terhenti, teredam tangis di pundak sahabat nya ini.
__ADS_1
" Irma...." Sholeha turut terbenam dalam dekapannya. Seketika air matanya ikut terjun bersamaan dengan hatinya yang mencair, hati yang sejak kemarin masih enggan menerima, hati yang masih menumpuk rasa sakit, hati yang masih mengeras karena kecewa. Satu dekapan hangat ini telah mengubah segala isinya.
Keduanya hanya saling menangisi diri mereka, tak sekata pun terucap kembali di antara mereka berpelukan erat hingga entah berapa lama mereka akan saling melepas. Dalam dekapannya Sholeha merasakan getar tubuh Irma yang tertahan, tubuhnya yang berperawakan kecil dan tinggi itu mengapa semakin terasa keras saja. Apa Irma sakit selama ini? pikir Sholeha.
" Aku kira kesempatan bertemu dengan sudah habis Ha," Irma melepas pelukan dan mengusap ujung matanya yang basah.
Sholeha meraih tangan sahabatnya itu, " Apa maksud mu?. Padahal kamu sendiri sudah sudah tau jika aku tidak bisa marah kepada mu" ucapnya dengan begitu lembut, suaranya yang juga bercampur dengan air mata.
Irma menggandeng tangan Sholeha, mengajak masuk ke dalam rumah. " Kita bicarakan di dalam ya, " sambungnya tak ingin mendengar banyak kata dari Sholeha.
Ketika mereka sampai di ruang tamu, Irma tak berniat menyuruhnya duduk dan kembali menutup pintu.
" Kita bicara di kamar ya, seperti dulu" ujarnya kembali menarik tangan Sholeha lembut.
Pertemanan mereka yang begitu lama, dan kebersamaan yang mereka buat selama ini memang terbilang lebih dari itu semua, keduanya lebih berniat menjadi saudara. Irma yang tak memiliki adik perempuan dan Sholeha yang juga tak memiliki saudara perempuan membuat hubungan ini semakin bergantung.
Suasana ruang yang masih sama, aroma yang sama dan pemilik yang sama, betapa Sholeha merasa rindunya begitu terasa, seolah ia telah lama pergi meninggalkan semua ini.
" Aku sengaja rapihkan tadi, jangan kamu komen berantakan lagi!" ucap Irma, ketika melihat Sholeha yang masih berdiri menatap sekeliling kamarnya.
Sholeha tersenyum mengikuti Irma duduk di bibir ranjang, " Aku berusaha mengingat kapan terakhir masuk kesini. Dan yah, ternyata foto ku masih ada disana" tunjuk Sholeha pada dinding. " Aku pikir kamu sudah membuangnya" tambahnya lagi.
Irma tersenyum, " Selama ini aku hanya marah dan minta maaf pada mu yang di sana, menemui mu begitu malu rasanya dan kamu terlalu tega berpikir begitu, aku tidak akan melupakan kenangan masa kecil kita, meski kamu membenciku." Irma menatap lurus pada gambar yang di ambil mungkin lebih dari sepuluh tahun yang lalu.
" Maaf, aku pikir akan begitu. Kamu dapat jawaban apa darinya?" tanya Sholeha kemudian.
Irma memindahkan pandangannya pada Sholeha, dan terdiam sesaat.
" Dia cuman senyum terus" ucapnya kemudian dengan nada yang begitu sendu.
Sholeha sengaja tertawa, meski terkesan di buat-buat. " Dia mana ngerti bahasa kamu Ir?" kemudian menatap Irma .
Irma tampak tak tertarik pada tawanya, bahkan tiada senyum di wajahnya. Sholeha jadi canggung seketika.
" Sholeha, maaf untuk kesekian kalinya ya, aku tidak tau harus bagaimana. Bahkan aku terlalu malu menemui mu, terserah jika kamu menganggap ku jahat atau apalah aku - ,
Sholeha kemudian dengan cepat memotong perkataan Irma yang terkesan menyalahkan dirinya.
" Irma, aku juga tidak berada di posisi paling benar saat itu. Sejujurnya aku juga pernah ada rasa curiga, namun aku tak mengatakan atau mencari jawaban. Andai saja aku tidak terlalu kaku dan perduli sedikit saja dengan kalian mungkin aku sudah menyelesaikan hubungan itu tanpa ada pertengkaran dengan mu, selama ini aku juga yang paling banyak salah sama kamu" Sholeha mengatakan semuanya dengan begitu tenang, ia menyadari semua masalah berada di kesalahannya yang terlalu acuh.
" Sholeha, apa pun yang kamu ucapkan, salah ku tetap lebih menyakiti mu penghianatan itu cukup kejam kan?" ucap Irma kembali meneteskan air mata.
" Tidak seperti itu, aku juga -,
" Tidak Sholeha. Kamu berhak marah kepada ku, aku bahkan tidak pantas kau temui seperti ini. Malah aku yang tidak tahu diri sekalipun tidak mencari mu untuk sekedar minta maaf" Irma tergugu dalam tangisnya.
Sholeha masih terdiam, membiarkan Irma mengeluarkan seluruh yang mengganjal hatinya selama ini. Sholeha bahkan tampak tak bisa lagi membantah, dan terpaksa mendengar Irma dengan berkali - kali menggelengkan kepalanya, memberi tanda tak membenarkan semua ucapan Irma.
" Kita bisa ulang dari awal, kita perbaiki dari mana awal kesalahpahaman ini terjadi. Kita sudah berteman cukup lama, setidaknya memaafkan salah satu kesalahan dari mu, itu tak mengapa Irma. insyaAllah aku ikhlas dengan semua ini" Sholeha kembali memeluk Irma yang sejak tadi masih saja menangis .
" Kamu baik banget Sholeha" Ucap Irma.
Sholeha kembali tersenyum, menepuk halus punggung tangan Irma.
" Aku selalu saja berburuk sangka padamu, dan sedikit pun tak berusaha percaya jika kamu sebaik ini" tambah Irma .
Sholeha melepas pelukannya, berganti menatap Irma dengan begitu menelisik " jadi, sejak kapan kamu cemburu denganku? ucapnya tiba-tiba.
****
__ADS_1